Adam

manusia pertama menurut agama-agama Abrahamik

Adam (Ibrani: אָדָם, bahasa Arab: آدَم, translit. ʾĀdam‎, berarti tanah, manusia, atau cokelat muda) adalah tokoh dari Kitab Kejadian dan Al-Qur'an. Meskipun keyakinan penciptaan[1] menurut agama Abrahamik kerap dipandang meyakini Adam sebagai manusia pertama, tetapi nyatanya tidak semuanya demikian, seperti kelompok Ahmadiyyah yang meyakini bahwa Adam bukanlah manusia pertama yang hidup di bumi.

Adam
آدمאָדָם
Adem (Adam)1.png
Kaligrafi Adam 'alaihis-salam (keselamatan atasnya)
Tempat peristirahatan
Gelar
Suami/istriHawa
Anak

Adam diciptakan oleh Allah dari tanah dan tinggal di surga atau taman eden, tetapi kemudian diusir dari sana karena memakan buah terlarang. Bersama Hawa, Adam kemudian memiliki beberapa anak, di antaranya adalah Qabil/Kain, Habil, dan Syits/Set.

KisahSunting

Dalam Al-Qur'an, kisah Adam termaktub dalam surah Al-Baqarah (2): 30-39, Al-A'raf (07): 11-25, Al-Hijr (15): 26-44, Al-Isra' (17): 61-65, Thaha (20): 115-126, dan Shad (38): 67-88, sedangkan kisah Adam dalam Tanakh dan Alkitab termuat pada Kitab Kejadian pasal 2-5.

Sebelum penciptaan AdamSunting

Dalam Al-Qur'an, kisah penciptaan Adam diawali dengan percakapan antara Allah dan malaikat. Allah menyatakan hendak menciptakan manusia yang berperan sebagai khalifah (wakil, penerus) di bumi, tetapi malaikat memandang bahwa mereka yang lebih pantas menerima peran tersebut karena mereka selalu bertasbih pada Allah, sedangkan manusia dipandang hanya akan merusak bumi dan menumpahkan darah di sana.[2]

Alkitab tidak menyertakan percakapan ini. Kisah Adam dalam Kejadian diawali dengan Allah menciptakan alam semesta, termasuk hewan dan tumbuhan. Allah menciptakan alam semesta beserta isinya dalam enam hari. Pada hari ketujuh, Allah berhenti dan menguduskan hari tersebut.[3]

Penciptaan AdamSunting

Sumber Al-Qur'an dan Kejadian sama-sama menyebutkan Adam dibentuk dari tanah.[4][5] Dalam Kejadian disebutkan bahwa manusia dibentuk sesuai gambar dan rupa Allah agar dapat menguasai binatang-binatang ternak, juga hewan-hewan di laut dan udara.[6] Alkitab menyebutkan bahwa Adam diciptakan pada hari keenam.[7]

 
Lukisan mural Creazione di Adamo karya Michelangelo di atap Kapel Sistine di Vatikan yang menggambarkan peristiwa penciptaan Adam
Usia dalam Alkitab
Nama Umur (Masoret) Umur (LXX)
Metusalah 969 969
Yared 962 962
Nuh 950 950
Adam 930 930
Set 912 912
Kenan 910 910
Enos 905 905
Mahalaleel 895 895
Lamekh 777 753
Sem 600 600
Eber 464 404
Kenan 460
Arpakhsad 438 465
Selah 433 466
Henokh 365 365
Peleg 239 339
Rehu 239 339
Serug 230 330
Ayub 210? 210?
Terah 205 205
Ishak 180 180
Abraham 175 175
Nahor 148 304
Yakub 147 147
Esau 147? 147?
Ismael 137 137
Lewi 137 137
Amram 137 137
Kehat 133 133
Laban 130+ 130+
Debora 130+ 130+
Sara 127 127
Miryam 125+ 125+
Harun 123 123
Ribka 120+ 120+
Musa 120 120
Yusuf 110 110
Yosua 110 110

Dalam hadits disebutkan bahwa Adam tercipta dari tanah yang diambil dari berbagai penjuru bumi, sehingga keturunannya memiliki berbagai warna kulit.[8] Saat peniupan roh ke tanah yang menjadi jasad Adam, roh mulai masuk dari kepala dan Adam bersin pada saat itu. Saat roh masuk melalui matanya, Adam langsung melihat buah-buahan surga. Saat roh tersebut masuk ke kerongkongannya, dia jadi menginginkan buah-buahan tersebut. Roh belum sampai kakinya saat Adam bergegas hendak mengambil buah-buahan tersebut.[9] Hadits lain menerangkan bahwa Adam diciptakan pada hari Jum'at.[10]

Adam, malaikat, dan iblisSunting

Adam kemudian diajarkan nama-nama. Dijelaskan dalam Kejadian bahwa Adam diajarkan memberi nama hewan-hewan ternak, binatang hutan, dan burung-burung.[11]

Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Adam diajarkan nama-nama semuanya.[12] Ibnu Abbas menjelaskan bahwa maknanya adalah Adam diajarkan nama-nama yang banyak dikenal manusia, seperti binatang, tanah, lembah, lautan, gunung, unta, himar, dan sebagainya. Mujahid menyatakan bahwa yang dimaksud adalah nama binatang melata, burung, dan segala sesuatu. Hal ini senada dengan Sa'id bin Jubair, Qatadah, dan yang lainnya. Ar-Rabi' mengatakan bahwa yang dimaksud adalah nama-nama malaikat, sedangkan 'Abdurrahman bin Zaid menyatakan nama-nama keturunannya. Ibnu Katsir berpendapat bahwa yang dimaksud adalah nama-nama binatang beserta tingkah lakunya, baik yang kecil maupun yang besar.[13]

Al-Qur'an mengisahkan bahwa Allah kemudian memerintahkan para malaikat untuk menyebut nama-nama hal yang ditunjuk, tetapi mereka tidak dapat melakukannya. Adam diberi perintah serupa dan dapat menyebutkan nama-namanya.[14] Bagian para malaikat yang tidak mampu menyebutkan nama-nama tersebut tidak terdapat dalam Kitab Kejadian.

Setelahnya, Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Para malaikat kemudian bersujud, tetapi iblis menolak karena merasa bahwa dirinya yang tercipta dari api lebih mulia dari manusia yang diciptakan dari tanah.[15] Atas penolakannya, Allah mengutuk iblis dan mengusirnya dari surga.[16][17] Iblis kemudian meminta penangguhan, tidak bisa mati dan tidak diazab sampai hari kiamat.[18] Sebagian pendapat menyatakan bahwa permohonan iblis diterima sebagai balasan atas amal baik dan ketaatan yang dia lakukan sejak sebelum Adam diciptakan, yang membuatnya dapat tinggal di surga.[19] Beberapa menyatakan bahwa iblis, dulunya bernama Azazil, sebelumnya adalah pemimpin para malaikat sehingga dia tinggal di surga. Pendapat lain menyatakan bahwa iblis termasuk bangsa jin yang membuat kerusakan di bumi sehingga para malaikat menahannya.[20] Kejadian tidak mengisahkan perintah sujud kepada Adam dan pengusiran iblis.

Penciptaan HawaSunting

Kejadian menyebutkan bahwa saat Adam tidur, Allah mengambil salah satu tulang rusuknya dan menciptakan seorang manusia berjenis kelamin perempuan.[21] Adam menamai perempuan itu Hawa, sebab dia menjadi ibu bagi semua yang hidup.[22]

Penciptaan Hawa tidak dikisahkan secara jelas dalam Al-Qur'an dan namanya juga tidak disebutkan secara tersurat. Namun ayat Al-Qur'an yang menyatakan bahwa manusia diciptakan "dari diri yang satu dan Allah menciptakan pasangannya dari dirinya"[23] ditafsirkan sebagai penciptaan Hawa yang berasal dari bagian Adam. Dalam hadits juga disebutkan bahwa wanita tercipta dari tulang rusuk.[24]

Pohon terlarangSunting

Dalam surga atau taman eden, disebutkan bahwa Adam dan Hawa dapat memakan buah dari pohon mana saja, tetapi Allah melarang mereka memakan buah dari salah satu pohon. Dalam Al-Qur'an disebutkan peringatan bahwa Adam akan tergolong orang yang zalim bila mendekati pohon tersebut,[25] sementara Kejadian menjelaskan bahwa Adam akan mati.[26]

Kejadian mengisahkan bahwa ular kemudian membujuk Hawa untuk memakannya dan menyatakan bahwa jika mereka memakan buah terlarang tersebut, mereka akan menjadi seperti Allah dan mengetahui yang baik dan buruk. Hawa kemudian memakannya. Adam kemudian terbujuk oleh Hawa dan memakan buah tersebut.[27]

Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa setan yang membujuk Adam dan Hawa untuk memakan buah tersebut. Setan membujuk dengan menyatakan bahwa mereka dilarang memakan buah tersebut karena nanti mereka akan menjadi malaikat atau menjadi kekal.[28] Buah khuldi (keabadian) yang kerap dianggap sebagai nama dari buah terlarang tersebut adalah nama yang digunakan setan untuk membujuk Adam dan Hawa agar memakannya.[29] Al-Qur'an menjelaskan bahwa keduanya kemudian mencicipi buah tersebut, tanpa menyebutkan pihak yang pertama kali memakannya.[30]

Menurut Kejadian, sejak awal Adam dan Hawa tinggal di taman eden dalam keadaan telanjang, tetapi mereka tidak merasa malu.[31] Setelah memakan buah terlarang, mereka menjadi sadar akan ketelanjangan mereka dan kemudian membuat cawat dari dedaunan.[32] Dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa Adam dan Hawa mengenakan pakaian saat di surga, tetapi pakaian mereka terlepas saat memakan buah terlarang tersebut.[33][34]

Kejatuhan manusiaSunting

Setelah Adam dan Hawa memakan buah terlarang, Kejadian memusatkan kisah pada hukuman dan konsekuensi dari penyimpangan yang telah dilakukan. Di hadapan Allah, Adam menyalahkan Hawa atas kesalahannya memakan buah terlarang tersebut. Hawa kemudian menyalahkan ular atas kejadian tersebut. Allah kemudian mengutuk ular dan membuatnya berjalan menggunakan perut seumur hidup, menghukum Hawa dengan memberikan kepayahan saat mengandung dan melahirkan dan membuat suaminya berkuasa atasnya, dan menghukum Adam dengan menjadikannya bersusah payah mencari rezeki dari tanah sampai dia sendiri kembali menjadi tanah.[35]

Dalam Al-Qur'an, kisah kejatuhan Adam berpusat pada pertaubatan Adam dan Hawa atas kesalahan yang telah diperbuat.[36][37] Tidak ada perincian mengenai hukuman yang masing-masing diterima sebagaimana yang dijabarkan dalam Kejadian. Mereka berdua kemudian dikeluarkan dari surga.[38] Meski tidak tercantum dalam Al-Qur'an, banyak Muslim meyakini bahwa Adam dan Hawa diturunkan di tempat terpisah[39] dan mereka akhirnya bertemu kembali di Jabal Rahmah, Arafah.

Dua putra AdamSunting

Kejadian menyebutkan bahwa Adam dan Hawa kemudian memiliki seorang anak laki-laki bernama Kain (Qabil dalam sumber Islam). Pada kehamilan selanjutnya, Hawa kembali melahirkan anak laki-laki, diberi nama Habel (Habil dalam sumber Islam). Kain menjadi petani dan Habel menjadi penggembala. Setelah beberapa waktu, keduanya mempersembahkan kurban. Kain mempersembahkan sebagian hasil panennya, sedangkan Habel anak sulung kambing dombanya. Korban Habel diterima Allah, tidak dengan milik Kain. Hal ini membuat Kain marah. Kemudian saat mereka berada di padang, Kain membunuh Habel. Allah kemudian mengutuk Kain untuk menjadi pelarian dan mengembara di muka bumi. Namun Kain takut akan ada orang yang membunuhnya, sehingga kemudian Allah memberikan tanda pada Kain agar dia tidak dibunuh.[40] Istri Kain kemudian mengandung dan melahirkan anak laki-laki bernama Henokh.[a] Kain kemudian membangun kota dan menamakannya sesuai nama anaknya.[41]

Al-Qur'an juga mengisahkan bagian ini, tetapi lebih menitikberatkan pada hikmah dan pelajaran dari kisah tersebut daripada rincian kejadiannya. Al-Qur'an tidak menyebutkan nama mereka secara tersurat, berikut pekerjaan dan jenis kurban yang mereka berikan. Titik tekan cerita ada pada nasihat Habil pada Qabil tentang rasa takutnya pada Allah sehingga dia tidak mau melakukan dosa pembunuhan, meski Qabil berusaha membunuhnya. Pada akhirnya Qabil benar-benar membunuh Habil. Kemudian Allah mengutus burung gagak untuk mengajari Qabil cara mengebumikan jasad saudaranya.[42]

Dalam sumber Sunni, di antaranya dalam karya Ibnu Katsir, disebutkan bahwa peristiwa pembunuhan Habil diawali dengan pernikahan Qabil dan Habil. Dikatakan bahwa Hawa selalu melahirkan sepasang anak, satu laki-laki dan satu perempuan, pada tiap kelahiran. Setelah dewasa, Qabil dinikahkan dengan saudari kembar Habil, sedangkan Habil dinikahkan dengan saudari kembar Qabil. Qabil tidak menerima karena dia ingin menikahi sendiri saudari kembarnya. Adam kemudian memerintahkan mereka agar mempersembahkan kurban sebagai penyelesaian. Habil berkurban dengan unta betina yang gemuk, sementara Qabil mempersembahkan padi yang jelek. Api dari langit kemudian menyambar kurban Habil yang menjadi tanda bahwa kurbannya diterima.[43]

Sumber Syiah menyatakan bahwa perselisihan Qabil dan Habil bukan karena pernikahan, tetapi karena Habil diterima kurbannya dan diangkat sebagai penerus Adam. Terkait pernikahan, dikatakan bahwa Allah mengutus bidadari untuk menjadi istri dari putra-putra Adam.

Wujud AdamSunting

Sebuah hadits menyebutkan bahwa "Allah menciptakan Adam menurut bentuknya."[44] Ibnu Hajar al-'Asqalani menyatakan bahwa maksudnya adalah tidak ada seorangpun yang menyamai Adam dalam bentuknya.[45] Dalam hadits yang sama juga dijelaskan bahwa Adam memiliki tinggi 60 hasta. Setelah Adam, perawakan manusia semakin mengecil hingga sekarang.[44][46]

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Yusuf dikaruniai separuh ketampanan.[47] Sebagian ulama menafsirkan bahwa maksudnya adalah Yusuf dikaruniai separuh dari ketampanan Adam, karena Allah menciptakan Adam dengan tangan-Nya sendiri sehingga Adam merupakan sosok manusia yang paling tampan. Hal ini juga berlaku bagi Hawa yang diyakini merupakan wanita paling cantik.[48]

Dalam literatur Rabinik, disebutkan bahwa kulit Adam adalah pakaian yang terang, bersinar seperti kukunya. Saat Adam berdosa, cahayanya lenyap dan dia menjadi tampak telanjang. (Targum Yer. Gen. iii. 7; Bereshith Rabba xi.).[49]

Surga tempat AdamSunting

 
The Garden of Eden karya Thomas Cole (sekitar 1828)

Terdapat perbedaan pendapat mengenai surga atau taman eden yang ditempati Adam sebelum memakan buah terlarang. Satu pendapat bahwa itu adalah surga abadi yang sama dijanjikan untuk umat beriman di akhirat, sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa surga tersebut ada di dunia.

Dalam Al-Qur'an, ada beberapa istilah yang digunakan untuk merujuk pada surga. Surga dalam kisah Adam dan Hawa merupakan terjemahan dari kata jannah (bahasa Arab: جنّة‎) yang secara harfiah bermakna "kebun" atau "taman". Kebanyakan ulama menyatakan bahwa surga yang ditinggali Adam dan Hawa adalah surga abadi.[50]

Dalih para ulama yang berpendapat bahwa surga yang ditempati Adam bukanlah surga abadi, tetapi surga/taman yang ada di dunia:[51]

  • Iblis, setelah diusir, masih dapat membujuk Adam dan Hawa yang ada di dalam surga untuk memakan buah terlarang
  • Riwayat[52] yang menyatakan bahwa saat menjelang ajal, Adam memerintahkan anak-anaknya mengambil buah anggur dari surga. Tentu perintah itu mustahil dilaksanakan jika surga yang dimaksud adalah surga abadi
  • Adam diciptakan dari tanah, tapi tidak disebutkan dia diangkat ke langit
  • Adam sejak awal diciptakan untuk tinggal di bumi, sebagaimana yang Allah sampaikan pada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan khalifah di bumi

Untuk perihal ayat yang menyatakan bahwa Adam diturunkan dari surga, belum tentu itu menunjukkan turun dari langit. Sangat mungkin turun yang dimaksud serupa dengan ayat[53] yang menjelaskan Nuh yang turun dari perahu.[54]

Dalam Talmud dan Yahudi Kabbalah,[55] terdapat dua jenis tempat spiritual yang bernama taman eden, yakni Taman Eden bawah, yang memiliki kesuburan melimpah dan Taman Eden atas, tempat tinggal orang-orang yang benar dan jiwa-jiwa abadi. Adam dikatakan tinggal di Taman Eden bawah, sedangkan Taman Eden atas tidak terlihat oleh mata.[55]

Berdasar rincian mengenai taman eden dalam Kejadian 2: 10-14, terdapat beberapa tempat yang dianggap sebagai lokasinya,[56] yakni tempat sumber mata air sungai-sungai, kepala Teluk Persia, di Mesopotamia selatan tempat sungai Tigris dan Eufrat menuju ke laut,[57] dan Dataran Tinggi Armenia.[58][59][60][61] Arkeolog Britania David Rohl berpendapat di Iran dan di sekitar Tabriz.[62]

LilithSunting

Dalam literatur Rabinik disebutkan bahwa istri pertama Adam bukanlah Hawa, tetapi Lilith. Adam dan Lilith diciptakan bersama-sama dari tanah. Namun terjadi perselisihan di antara keduanya karena Lilith tidak mau patuh pada Adam, sehingga Lilith pergi meninggalkan Adam. Setelahnya, Allah menciptakan pasangan baru untuk Adam dari tulang rusuk Adam sendiri. Legenda ini berkembang secara luas selama Abad Pertengahan, dalam tradisi Aggadah, Zohar, dan mistisisme Yahudi.[63][64]

Keterangan mengenai Lilith tidak terdapat dalam Al-Qur'an dan Alkitab secara tersurat, tetapi sebagian menyandarkan keberadaannya menggunakan Kejadian 1: 27 yang mengesankan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan bersamaan dan perempuan yang disebut dalam ayat ini dianggap adalah Lilith. Ini berbeda dengan Kejadian 2: 22 yang menyebutkan bahwa seorang perempuan diciptakan dari tulang rusuk, yang secara umum telah diketahui bahwa perempuan ini adalah Hawa.

Makhluk cerdas sebelum AdamSunting

Ada beberapa gagasan dan pendapat, disebut pra-Adamit, yang menyatakan bahwa terdapat manusia (atau makhluk cerdas lain) yang hidup sebelum Adam. Pada masa Islam awal, sudah menjadi kepercayaan umum bahwa manusia adalah penerus makhluk cerdas di bumi seperti jin dan hinn.[b] Meski jin diterima secara umum sebagai makhluk cerdas sebelum manusia, gagasan mengenai manusia lain yang sudah ada sebelum Adam masih menjadi perdebatan. Pada pertengahan abad kesembilan, sebuah gagasan muncul yang menyatakan bahwa Allah menciptakan banyak Adam dan masing-masingnya memimpin era yang berlangsung selama 50.000 tahun. Gagasan ini dianggap bid'ah oleh kebanyakan Muslim, tetapi diterima secara luas oleh aliran Ismailiyah dan Sufi.[68] Menurut aliran Ahmadiyah, Adam bukanlah manusia pertama di dunia, tetapi ketika umat manusia muncul, menyebar ke seluruh dunia, dan mengembangkan kemampuan untuk menerima wahyu, Allah mengirim Adam ke setiap peradaban.[69]

Pada dan setelah Abad Pencerahan, keberadaan manusia pra-Adam mulai diterima secara luas di Eropa dan menantang narasi penciptaan menurut Alkitab. Setelahnya, gagasan pra-Adamit diterima dan bersanding dengan keyakinan penciptaan Alkitab dengan aura supremasi kulit putih. Dikatakan bahwa manusia kulit putih adalah keturunan Adam, sedangkan ras lain merupakan keturunan manusia pra-Adam.[70] Keturunan manusia pra-Adam dipandang tidak memiliki jiwa, amoral, jelek, dan seperti monster. Hal ini menjadikan pernikahan antara ras kulit putih dan kulit hitam dipandang sebagai hujatan kepada Tuhan.[71]

Dosa asalSunting

Dalam doktrin Kristen, peristiwa Adam dan Hawa yang memakan buah terlarang memicu yang kemudian disebut dosa asal. Katekismus Gereja Katolik (KGK) 377 menuliskan yang intinya bahwa awalnya manusia diciptakan sempurna, seluruh kodratnya utuh dan teratur, bebas dari kecenderungan jahat yang membuatnya terikat pada kenikmatan inderawi.[72] Namun Adam dan Hawa yang memakan buah terlarang membuat kodrat manusia yang sempurna tersebut rusak, karunia keadilan dan kesucian dari Allah yang terdapat dalam diri manusia menjadi berkurang dan kekurangan ini menurun pada keturunan mereka. Kekurangan tersebut yang dinamakan "dosa asal" (KGK 416-417).[73] Dosa asal tersebut mengakibatkan kodrat manusia rusak dan melemah dari yang seharusnya, tetapi kodratnya tidak sepenuhnya rusak (KGK 405).[73]

Dosa asal yang dilakukan manusia pertama mengakibatkan manusia kehilangan:[74]

  • Rahmat kekudusan
  • Empat berkat yang terdiri dari:
  1. keabadian, yakni manusia diyakini diciptakan bersifat abadi dan dosa asal membuat manusia dapat mengalami kematian.
  2. tidak adanya penderitaan
  3. pengetahuan akan Tuhan
  4. keutuhan, yaitu harmoni antara nafsu kedagingan dan akal budi. Hilangnya berkat keutuhan menyebabkan manusia kesulitan menundukkan keinginan dagingnya pada akal budinya, sehingga manusia memiliki kecenderungan untuk berbuat dosa atau konkupisensi (KGK 405-418).[73]

Doktrin dosa asal ini tidak ditemukan dalam ajaran Yahudi arus utama. Meskipun sebagian Yahudi Ortodoks menyalahkan Adam dan Hawa atas kerusakan di dunia dan beberapa guru Yahudi di Babel[75] percaya bahwa kematian merupakan hukuman pada manusia lantaran dosa Adam, hal itu bukan pandangan mayoritas Yahudi sekarang. Yahudi modern mengajarkan bahwa manusia lahir dalam keadaan bebas dan suci, dan berbuat dosa atas pilihan mereka sendiri.[76]

Dalam Islam juga tidak ditemukan adanya kepercayaan ini.[77][78] Di Al-Qur'an disebutkan bahwa meski bersalah, Adam dan Hawa bertaubat dan telah menerima pengampunan.[79][80][81]

Lihat pulaSunting

CatatanSunting

  1. ^ Henokh putra Kain merupakan orang yang berbeda dengan Henokh putra Yared yang kerap disamakan dengan Nabi Idris dalam sumber Islam.
  2. ^ Hinn (bahasa Arab: حنّ‎) adalah makhluk cerdas ghaib purba dalam cerita masyarakat Arab. Hinn berbeda dengan jin, setan, atau malaikat, dan diyakini sudah hidup sejak sebelum Adam diciptakan.[65] Keberadaan hinn diakui oleh umat Druze,[66] berikut bersama jenis makhluk lain yang bernama binn, timm, dan rimm.[67] Sebagian menyatakan bahwa, berbeda dengan jin yang masih ada hingga sekarang, bangsa hinn sudah punah.

RujukanSunting

  1. ^ Womack 2005, hlm. 81, "Creation myths are symbolic stories describing how the universe and its inhabitants came to be. Creation myths develop through oral traditions and therefore typically have multiple versions."
  2. ^ Al-Baqarah (02): 30
  3. ^ Kejadian 1: 1-31
  4. ^ Al-Hijr (15): 26
  5. ^ Kejadian 2: 6
  6. ^ Kejadian 1: 26
  7. ^ Kejadian 1: 26-31
  8. ^ "Allah menciptakan Adam dari segenggam (tanah) yang Dia genggam dari seluruh penjuru bumi. Maka anak keturunan Adam sesuai dengan bagian tanah yang ada. Ada yang berkulit putih, merah, hitam, atau berkulit antara warna-warna itu. Kemudian ada yang buruk, baik, mudah, sedih, dan ada yang campuran daripada itu semua." (HR. Ahmad (4/400))
  9. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 48.
  10. ^ Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Hari paling baik saat matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintaannya.” (HR. Muslim)
  11. ^ Kejadian 2: 19-20
  12. ^ Al-Baqarah (02): 31
  13. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 9-10.
  14. ^ Al-Baqarah (02): 32–33
  15. ^ Al-A'raf (07): 12
  16. ^ Al-A'raf (07): 13
  17. ^ Al-Hijr (15): 34-35
  18. ^ Al-Hijr (15): 36-38
  19. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 17.
  20. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 15.
  21. ^ Kejadian 2: 21-24
  22. ^ Kejadian 3: 20
  23. ^ An-Nisa' (04): 01
  24. ^ "Bersikaplah yang baik kepada wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian paling atas. Jika kalian luruskan dengan keras, akan patah. Sebaliknya, jika kalian biarkan akan selalu bengkok. Karena itu, bersikaplah yang baik kepada wanita." (HR. Bukhari 3331 & Muslim 1468)
  25. ^ Al-Baqarah (02): 35
  26. ^ Kejadian 3: 4
  27. ^ Kejadian 3: 1-6
  28. ^ Al-A'raf (07): 20
  29. ^ Thaha (20): 120
  30. ^ Al-A'raf (07): 22
  31. ^ Kejadian 2: 25
  32. ^ Kejadian 3: 7
  33. ^ Al-A'raf (07): 27
  34. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 29-30.
  35. ^ Kejadian 3: 14-19
  36. ^ Al-Baqarah (02): 37
  37. ^ Al-A'raf (07): 23
  38. ^ Al-A'raf (07): 24
  39. ^ Wheeler, Brannon M. (2001). Introduction to the Quran : stories of the prophets. New York: Continuum. ISBN 978-0-8264-4957-3. 
  40. ^ Kejadian 4: 1-16
  41. ^ Kejadian 4: 17
  42. ^ Al-Ma'idah (05): 27-31
  43. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 64.
  44. ^ a b Diriwayatkan dari Abu Huraira, Nabi berkata: “Allah menciptakan Adam dan tingginya 60 hasta. Kemudian Ia berkata, ‘Pergilah dan berilah salam kepada para malaikat dan dengarkanlah bagaimana mereka memberi salam kepadamu, karena itu akan menjadi salam bagimu dan salam bagi keturunanmu’. Ia berkata, `Al-salaamu `alaykum (damai besertamu).’ Mereka berkata, `Al-salaamu `alaykum wa rahmat-Allaah (damai ada atasmu dan kemurahan Allah).’ Maka mereka menambahkan kata-kata `wa rahmat Allaah.’ Dan setiap orang yang memasuki firdaus akan memasukinya dalam bentuk/wujud Adam. Orang senantiasa menjadi semakin pendek hingga sekarang”. Imam Bukhari no. 3336 juga no.246; Muslim 7092, juga al-Haafiz ibn Hajar di Fath al-Baari (6/367)
  45. ^ Al-Qarni 2006, hlm. 60.
  46. ^ Al-Qarni 2006, hlm. 59-61.
  47. ^ HR. Muslim (162/259) dari hadits Anas
  48. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 349.
  49. ^ JewishEncyclopedia.com - ADAM
  50. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 21.
  51. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 21-25.
  52. ^ HR. Ahmad (5/136)
  53. ^ Hud (11): 48
  54. ^ Ibnu Katsir 2014, hlm. 25.
  55. ^ a b Gan Eden – JewishEncyclopedia; 02-22-2010.
  56. ^ Wilensky-Lanford, Brook (2012). Paradise Lust: Searching for the Garden of Eden. Grove Press. 
  57. ^ Hamblin, Dora Jane (May 1987). "Has the Garden of Eden been located at last? (Dead Link)" (PDF). Smithsonian. 18 (2). Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 9 Januari 2014. Diakses tanggal 8 Januari 2014. 
  58. ^ Zevit, Ziony. What Really Happened in the Garden of Eden? 2013. Yale University Press, hlm. 111.
  59. ^ Day, John. Yahweh and the Gods and Goddesses of Canaan. 2002. Sheffield Academic Press, hlm. 30.
  60. ^ Duncan, Joseph E. Milton's Earthly Paradise: A Historical Study of Eden. 1972. University Of Minnesota Press, hlm. 96, 212.
  61. ^ Scafi, Alessandro. Return to the Sources: Paradise in Armenia, in: Mapping Paradise: A History of Heaven on Earth. 2006. London-Chicago: British Library-University of Chicago Press, hlm. 317-322
  62. ^ Cline, Eric H. (2007). From Eden to Exile: Unraveling Mysteries of the Bible. National Geographic. hlm. 10. ISBN 978-1-4262-0084-7. 
  63. ^ Schwartz, Howard (2006). Tree of Souls: The Mythology of Judaism. Oxford University Press. hlm. 218. ISBN 978-0-19-532713-7. 
  64. ^ Kvam, Kristen E.; Schearing, Linda S.; Ziegler, Valarie H. (1999). Eve and Adam: Jewish, Christian, and Muslim Readings on Genesis and Gender. Indiana University Press. hlm. 220–1. ISBN 978-0-253-21271-9. 
  65. ^ Franz Rosenthal Knowledge Triumphant: The Concept of Knowledge in Medieval Islam Brill Archive 1970 page 152
  66. ^ Ebied, R. Y. and Young, M. J. L., “Ḥinn”, in: Encyclopaedia of Islam, Second Edition, Edited by: P. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel, W.P. Heinrichs. Consulted online on 13 January 2020 <http://dx.doi.org/10.1163/1573-3912_islam_SIM_8622> Erste Online-Erscheinung: 2012 Erste Druckedition: ISBN: 9789004161214, 1960-2007
  67. ^ Ebied, R. Y. and Young, M. J. L., “Binn”, in: Encyclopaedia of Islam, Second Edition, Edited by: P. Bearman, Th. Bianquis, C.E. Bosworth, E. van Donzel, W.P. Heinrichs. Consulted online on 13 January 2020 <http://dx.doi.org/10.1163/1573-3912_islam_SIM_8419> Erste Online-Erscheinung: 2012 Erste Druckedition: ISBN: 9789004161214, 1960-2007
  68. ^ Patricia Crone Islam, the Ancient Near East and Varieties of Godlessness: Collected Studies in Three Volumes, Band 3 BRILL 2016 ISBN 978-9-004-31931-8 page 230-231
  69. ^ "Man Lived on Earth Even Before the Advent of Adam". Al Islam. 2000-02-16. 
  70. ^ Barkun 1996, hlm. 153.
  71. ^ Colin Kidd, The Forging of Races: Race and Scripture in the Protestant Atlantic World, 1600 – 2000, 2006, hlm. 150
  72. ^ (Inggris) "Man", Catechism of the Catholic Church, Holy See 
  73. ^ a b c (Inggris) "The Fall", Catechism of the Catholic Church, Holy See 
  74. ^ "Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 1) ?". katolisitas.org. 
  75. ^ Babylonian Talmud. Tractate Shabbat 55b.
  76. ^ Kolatch, Alfred J. (1989). "Judaism's Rejection Of Original Sin". The Jewish Book of Why/The Second Jewish Book of Why. Jewish Virtual Library. New York: Jonathan David Publishers – via American-Israeli Cooperative Enterprise. Sementara ada beberapa guru Yahudi di zaman Talmud yang percaya bahwa kematian adalah hukuman yang ditanggung atas manusia karena dosa Adam, pandangan dominan adalah bahwa manusia berdosa karena ia bukan makhluk yang sempurna, dan bukan, seperti yang diajarkan agama Kristen, karena ia adalah secara inheren berdosa. 
  77. ^ "Islamic beliefs about human nature". ReligionFacts. 20 November 2016. Diakses tanggal 24 January 2017. 
  78. ^ "Repentance - Oxford Islamic Studies Online". www.oxfordislamicstudies.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-08-25. 
  79. ^ Al-Baqarah (02): 37
  80. ^ John L. Esposito (2004). The Oxford dictionary of Islam. Oxford University Press. p. 295
  81. ^ "Adam - Oxford Islamic Studies Online". www.oxfordislamicstudies.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-08-25. Manusia pertama. Diciptakan untuk menjadi wakil Allah (pelayan) di bumi. Al-Quran mencatat kejatuhan Adam dari kasih karunia sebagai akibat dari ketidaktaatan pada perintah-perintah Allah, tetapi, tidak seperti tradisi Kristen, kejatuhan itu tidak disertai “dosa asal” yang diturunkan kepada seluruh umat manusia. Tuhan memaafkan Adam ketika dia bertobat dan berbalik dari ketidakpercayaan. 

Daftar pustakaSunting

Pranala luarSunting