Wresni atau Wrisni (Dewanagari: वृषणि; ,IASTVṛṣṇi, वृषणि) adalah seorang bangsawan Wangsa Yadawa. Wresni lahir sebagai putra sulung Maharaja Madhu dari generasi ke-19 keturunan Yadu (leluhur Yadawa). Para keturunan Wresni disebut Warsneya. Kresna masuk ke dalam percabangan Candrawangsa keturunan Wresni dan dari sanalah ia mendapat nama Warshneya.[1] Rakyat Dwaraka dikenal sebagai Wangsa Wresni.

Lukisan kehancuran kaum Yadawa, karya M.V. Dhurandhar (1922).

Migrasi Wangsa Wresni ke Dwaraka

sunting

Jarasanda, ayah mertua Kamsa, menyerang Mathura dengan pasukan besar; dan walaupun Kresna menghancurkan pasukan raksasa tersebut, asura yang lain, Kalayawan namanya, juga mengepung Mathura dengan pasukan lain yang berjumlah tiga juta setan ganas. Kemudian Kresna berpikir bahwa lebih baik mereka mengungsi ke Dwaraka.[2]

Hancurnya Wangsa Wresni

sunting

Setelah gugurnya Duryodana dalam Mahabharata, Kresna menerima kutukan dari ibu Duryodana (Gandari). Ia sedih meratapi kematian putera-puteranya, kawannya, dan musuhnya; lalu ia sadar bahwa Hari (Kresna) adalah biang keladi semuanya, yang bersembunyi di belakang layar. Kemudian ia mengutuk Kresna agar malapetaka terjadi. Kutukannya adalah: bahwa 36 tahun kemudian Kresna sendiri akan mendapat celaka dan rakyatnya, yaitu Wangsa Wresni, akan hancur. Hal ini akhirnya menjadi kenyataan. Kegilaan menyelimuti rakyat Dwaraka sehingga mereka saling menyerang satu sama lain dan terbunuh, bersama dengan seluruh anak dan cucu Kresna. Hanya para wanita, Kresna, Balarama, dan beberapa ksatria yang masih hidup. Kemudian Balarama pergi ke hutan, sedangkan Kresna mengirim utusan ke kota para Kuru, untuk menempatkan wanita dan kota Dwaraka di bawah perlindungan Pandawa; sesudah itu ia sendiri pergi ke hutan, dimana Balarama menunggunya. Kresna menemukan kakaknya duduk di bawah pohon besar di tepi hutan; ia duduk seperti seorang yogi. Kemudian ia melihat seekor ular besar keluar dari mulut kakaknya, yaitu naga berkepala seribu bernama Ananta, dan melayang menuju lautan. Lautan, sungai suci, dan naga para Dewa datang berkumpul untuk bertemu dengannya. Maka Kresna melihat bahwa kakaknya telah meninggalkan alam manusia, dan sekarang ia mengembara sendirian di hutan. Ia memikirkan kutukan Gandari dan merasa segalanya telah terjadi, dan ia tahu bahwa sudah saatnya ia meninggal. Lalu ia menahan panca indria untuk melakukan yoga dan berbaring di bawah. Kemudian datanglah seorang pemburu dan mengira bahwa Kresna seekor rusa, sehingga ia menembakkan panah dan menembus kaki Kresna. Namun ketika si pemburu mendekat, ia melihat seseorang mengenakan jubah kuning sedang melakukan yoga. Ia merasa dirinya bersalah, kemudian menyentuh kaki Kresna. Kemudian Kresna bangkit dan memberi kebahagiaan kepada si pemburu, kemudian Kresna naik ke surga.[2]

Arjuna pergi ke Dwaraka dan membawa pergi para wanita dan anak-anak Wangsa Wresni, untuk menyebarkannya di sekitar Kurukshetra. Di perjalanan, segerombolan ksatria menyerang rombongan pengungsi tersebut dan membawa kabur sebagian besar wanita. Arjuna menetapkan yang lainnya bersama dengan sisa keturunan Kresna di kota yang baru; namun Rukmini dan istri Kresna yang lainnya menjadi Sati, membakar dirinya sendiri ke dalam api, dan yang lainnya menjadi pertapa atau pendeta. Kemudian air lautan menyerbu dan membanjiri Dwaraka sehingga tidak ada lagi jejak-jejak yang ditinggalkan.[2]

Lihat pula

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ Dr Mahendra Singh Arya, Dharmpal Singh Dudi, Kishan Singh Faujdar & Vijendra Singh Narwar: Adhunik Jat Itihasa (The modern history of Jats), Agra 1998
  2. ^ a b c Sister Nivedita & Ananda K.Coomaraswamy: Myths and Legends of the Hindus and Bhuddhists, Kolkata, 2001 ISBN 81-7505-197-3