Buka menu utama

Mayor Jenderal KKO (Purn.) Winanto, (lahir di Solo, Jawa Tengah , 6 Maret 1935 – meninggal di Jakarta Pusat , 2 September 2012 pada umur 77 tahun) adalah Salah satu Perwira Tinggi Korps Marinir TNI AL alumni Akademi Angkatan Laut angkatan VI 1956-1959 (1056/P) yang berasal dari satuan khusus yaitu Intai Amfibi Korps Komando AL. peran penting yang pernah dilakukan dalam pengabdiannya sebagai prajurit KKO adalah menjadi Komandan Tim dalam memimpin pengangkatan jenazah para Pahlawan Revolusi dari sebuah sumur tua di kawasan Lubang Buaya Jakarta Timur, yang dibunuh oleh kekejaman pemberontakan Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia G30S/PKI.

Mayor Jenderal KKO (Purn.)
Winanto
Winanto KKO.jpg
Mayjen (KKO) Winanto
Informasi pribadi
Lahir(1935-03-06)6 Maret 1935
Bendera Belanda Solo, Hindia Belanda
Meninggal dunia2 September 2012(2012-09-02) (umur 77)
Bendera Indonesia Jakarta Pusat
PasanganNy. Prof. Dr. Sri Subekti Winanto, Drg., Sp. KG. (K)
Alma materAkademi Angkatan Laut (1959)
Dinas militer
Pihak Indonesia
Dinas/cabangLambang TNI AL.png TNI Angkatan Laut
Masa dinas1959–1990
PangkatPdu laksdatni staf.png Mayor Jenderal TNI
SatuanKKO (Taifib)

Winanto, memimpin langsung pengangkatan para jenazah kekejaman G30S/PKI pada sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur. Ia yang ketika itu adalah seorang Perwira Kompi Intai Para Amfibi atau (Kipam KKO) kini Batalyon Intai Amfibi Korps Marinir berpangkat Kapten KKO, bersama delapan anak buahnya dengan menggunakan peralatan selam, berhasil masuk ke sumur tua untuk mengangkat para jenazah yang telah dalam kondisi membusuk antara lain jenazah Letjen TNI Achmad Yani, Mayjen TNI Siswondo Parman, Mayjen TNI Suprapto, Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Harjono, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo, Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan, dan Lettu Czi Pierre Tendean.[1]

Daftar isi

Kapten KKO Winanto angkat jenazah Pahlawan RevolusiSunting

Sebenarnya jenazah sudah ditemukan sejak tanggal 3 Oktober 1965, atas bantuan Polisi Soekitman dan masyarakat sekitar. Peleton I RPKAD yang dipimpin Letnan Sintong Panjaitan segera melakukan penggalian. Tapi mereka tak mampu mengangkat jenazah karena bau yang menyengat. Mayor Jenderal TNI Soeharto pun memerintahkan penggalian dihentikan pada malam hari. Penggalian akan kembali dilanjutkan keesokan harinya. Dalam buku Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando yang ditulis wartawan senior Hendro Subroto, dilukiskan peristiwa seputar pengangkatan jenazah. Kala itu Sintong berdiskusi dengan Kopral Anang, anggota RPKAD yang dilatih oleh Komando Pasukan Katak TNI AL. Kopral Anang mengatakan peralatan selam milik RPKAD ada di Cilacap, Jawa Tengah hanya KKO yang punya peralatan selam di Jakarta.[2]

Singkat cerita, KKO meminjamkan peralatan selam tersebut. Tanggal 4 Oktober, 47 tahun lalu, Tim KKO dipimpin oleh Komandan KIPAM KKO-AL Kapten KKO Winanto melakukan evakuasi jenazah Pahlawan Revolusi. Satu persatu pasukan KKO turun ke dalam lubang yang sempit itu. Pada pukul 12.05 WIB, anggota RPKAD Kopral Anang turun lebih dulu ke Lubang Buaya. Dia mengenakan masker dan tabung oksigen. Anang mengikatkan tali pada salah satu jenazah. Setelah ditarik, yang pertama adalah jenazah Lettu Czi Pierre Tendean, ajudan Jenderal TNI AH Nasution. Pukul 12.15 WIB Serma KKO Suparimin turun, dia memasang tali pada salah satu jenazah, tetapi rupanya jenazah itu tertindih jenazah lain sehingga tak bisa ditarik. Lalu giliran Prako KKO Subekti yang turun pukul 12.30 WIB. Dua jenazah berhasil ditarik, Mayjen S Parman dan Mayjen Suprapto. Pukul 12.55 WIB, Kopral KKO Hartono memasang tali untuk mengangkat jenazah Mayjen MT Haryono dan Brigjen Sutoyo.

Pukul 13.30 Serma KKO Suparimin turun untuk kedua kalinya. Dia berhasil mengangkat jenazah Letjen Ahmad Yani. Dengan demikian, sudah en am jenazah pahlawan revolusi yang ditemukan.Sebagai langkah terakhir, harus ada seorang lagi yang turun ke sumur untuk mengecek apakah sumur sudah benar-benar kosong. Tapi semua penyelam KKO dan RPKAD sudah tak ada lagi yang mampu masuk lagi. Mereka semua kelelahan. Bahkan ada yang keracunan bau busuk hingga terus muntah-muntah. Maka Kapten KKO Winanto sebagai komandan terpanggil melakukan pekerjaan terakhir itu. Dia turun dengan membawa alat penerangan. Ternyata benar, di dalam sumur masih ada satu jenazah lagi. Jenazah Brigjen DI Panjaitan. Dengan demikian lengkaplah sudah jenazah enam jenderal dan satu perwira pertama TNI AD yang hilang diculik G30S/PKI.[3]

WafatSunting

Mayjen KKO (Purn) Winanto wafat pada hari Minggu, 2 September 2012 pukul 22.15 WIB dalam usia 77 tahun di kediamannya JL. Pramuka no. 7, Kompleks TNI AL, Jakarta Pusat. Jenazah Almarhum Winanto telah dimakamkan di Pemakamam San Diego Hill, Karawang Jawa Barat, pada hari Senin 3 September 2012 pukul 13.00 secara Militer dengan Inspektur Upacara Komandan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut Seskoal Laksamana Muda TNI Arief Rudianto, SE. Almarhum Winanto meninggalkan seorang istri Prof. Dr. Sri Subekti Winanto, Drg., Sp. KG. (K) Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta.[4]

Pendidikan MiliterSunting

Karier MiliterSunting

Tanda JasaSunting

ReferensiSunting

Jabatan militer
Didahului oleh:
Mayjen (KKO) Edy Hidrosin
Gubernur AAL
1988 - 1990
Diteruskan oleh:
Laksda TNI Tonny Soekaton