Buka menu utama
Bantuan · Komunitas · Portal · Isi pilihan · ProyekWiki · Permintaan artikel · Pengusulan
Bintang ini melambangkan daftar pilihan di Wikipedia.
Daftar pilihan adalah daftar-daftar terbaik di Wikipedia, yang ditentukan oleh komunitas. Sebelum dimasukkan ke dalam daftar ini, daftar-daftar tersebut dinilai dan dibahas di Wikipedia:Daftar pilihan/Usulan, untuk memastikan keakuratan, kenetralan, kelengkapan, dan gaya penulisan, berdasarkan Wikipedia:Kriteria daftar pilihan.

Saat ini terdapat 368 daftar pilihan dari 500.798 artikel di Wikipedia, yang berarti ada satu daftar pilihan untuk setiap 1.361 artikel di Wikipedia.

Daftar yang berhasil mendapatkan status daftar pilihan akan diberikan bintang (Fairytale bookmark gold.svg) pada pojok kanan atasnya. Selain itu, apabila suatu daftar merupakan daftar pilihan di Wikipedia bahasa lain, akan diberikan bintang pada pranala interwiki di sisi kiri bawah daftar.

Hapus tembolok

Daftar pilihan:

Christine Hakim

Penghargaan FFI untuk Pemeran Utama Wanita Terbaik adalah sebuah penghargaan yang diberikan di Festival Film Indonesia (FFI) kepada para pemeran utama wanita Indonesia atas prestasi mereka dalam peran-peran utama. Aktris paling diakui di FFI adalah Christine Hakim (gambar), yang memenangkan enam penghargaan dari sepuluh nominasi yang dimulai dengan Cinta Pertama pada 1974; peraihan penghargaan tersebut membuatnya tetap berakting meskipun awalnya berniat menjadi arsitek atau psikolog. Empat aktris lainnya yang memenangkan Penghargaan FFI berganda: Jenny Rachman, Lydia Kandou, Meriam Bellina, Mieke Wijaya, dan Tuti Indra Malaon. Empat aktris – Jajang C. Noer, Nurul Arifin, Paramitha Rusady, dan Zoraya Perucha – meraih tiga nominasi tanpa kemenangan. Empat film memiliki anggota pemeran berganda yang meraih nominasi. Diantara film-film tersebut, hanya Mengejar Mas-Mas yang meraih sebuah kemenangan, dengan Dinna Olivia meraih penghargaan tersebut. Hingga 2013 Dian Sastrowardoyo adalah satu-satunya aktris yang memenangkan satu nominasi dalam tahun tunggal; dalam acara tahun 2004, ia memenangkan Penghargaan FFI untuk Ada Apa dengan Cinta? dan meraih sebuah nominasi untuk Pasir Berbisik. (Selengkapnya...)


Pada April 2018, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2017. BPS menyatakan bahwa pada tahun 2017, IPM Indonesia mencapai angka 70,81 atau tumbuh sebesar 0,90% dibandingkan tahun 2016. Menurut standar UNDP dan BPS, IPM tersebut dikategorikan tinggi, tidak berubah sejak memasuki kategori tersebut pada 2016 lalu. Peningkatan terjadi di semua dimensi, baik dimensi kesehatan, pendidikan, maupun pemenuhan kebutuhan hidup masyarakat. IPM tahun tersebut pun disebut-sebut melampaui target APBN dan berperan sebagai penegasan upaya pemerintah selama ini. Jika dilihat dari masing-masing komponen, bayi yang lahir pada 2017 memiliki harapan hidup hingga 71,06 tahun; meningkat 0,16 tahun atau 0,23% dari bayi yang lahir pada tahun sebelumnya. Pada dimensi pendidikan, terjadi peningkatan rata-rata lama sekolah orang berusia 25 tahun ke atas menjadi 8,1 tahun (kelas 9) atau lebih lama 0,15 tahun dan terjadi pula peningkatan harapan anak berumur 7 tahun untuk mendapat pendidikan menjadi 12,85 tahun (diploma I); lebih lama 0,13 tahun. Pengeluaran per kapita pun meningkat 244 ribu rupiah menjadi 10,66 juta rupiah per tahun. (Selengkapnya...)

G. Kruger

Dua puluh dua orang diketahui pernah memproduksi film fiksi di Hindia Belanda antara tahun 1926, ketika L. Heuveldorp merilis Loetoeng Kasaroeng, film yang pertama kali dibuat di koloni ini, dan tahun 1949, ketika Belanda secara resmi mengakui kedaulatan Indonesia pasca revolusi empat tahun yang membubarkan Hindia Belanda. Bersama-sama, mereka memproduksi sekitar 93 film pada masa itu. Empat di antaranya masih aktif pada tahun-tahun setelah merdeka. Semua produsernya laki-laki. Produser film pertama di koloni ini, Heuveldorp dan G. Kruger (gambar), adalah keturunan Eropa atau campuran. Jejak mereka diikuti oleh pebisnis Tionghoa Tjan Tjoen Lian dan Liem Goan Lian pada tahun 1928, yang mulai mengerjakan Lily van Java namun segera dibatalkan, dan digantikan oleh David Wong. Pada tahun 1930, produser Tionghoa telah mendominasi industri film di koloni ini. Produser paling aktif, The Teng Chun, merilis film perdananya tahun 1931 yang berjudul Boenga Roos dari Tjikembang; ia kemudian memproduksi 27 film lain sebelum merdeka. (Selengkapnya...)

Pengusulan daftar pilihanSunting

Lihat pulaSunting