Buka menu utama

Wikipedia:Artikel pilihan/Usulan/Doa yang Ditukar

CATATAN PENUTUP

Artikel ini masih belum memenuhi kriteria AP karena:

  1. Masih banyak struktur kalimat yang perlu diperbaiki
  2. Hierarki judul yang kurang baik sehubungan dengan "tanggapan" dan "dampak" yang tidak ada bedanya
  3. Alur yang melompat-lompat
  4. Detail mengenai puisinya sendiri sangat minim dan kurang spesifik
  5. Terlalu banyak membahas aspek politiknya dan tidak masuk ke puisinya per se
  6. Dugaan riset asli + detail yang tidak perlu pada paragraf mengenai Internet dan media sosial di Indonesia
  7. Penggunaan beberapa kata yang kurang netral tanpa ada tanda kutip

Terima kasih atas pengusulannya dan semoga masukan-masukan di artikel ini bisa bermanfaat untuk memperbaiki mutu artikelnya lebih lanjut.  Mimihitam  7 Maret 2019 02.00 (UTC)

Diskusi di bawah adalah arsip dari pengusulan artikel pilihan. Terima kasih atas partisipasi Anda. Mohon untuk tidak menyunting lagi halaman ini. Komentar selanjutnya dapat diberikan di halaman pembicaraan artikel.

Pencalonan artikel ini dikembalikan kepada pengusulnya.  Mimihitam  7 Maret 2019 02.00 (UTC)


Doa yang DitukarSunting

Pengusul: Hanamanteo (b • k • l) · Status:    Selesai

Dibandingkan dengan puisi-puisi karyanya yang lain, puisi karya Fadli Zon ini menuai lebih banyak tanggapan dari pelbagai kalangan, bahkan terdapat pula unjuk rasa yang menuntuk Fadli meminta maaf kepada Maimun. Pada saat ketika puisi ini masih viral, artikel ini pernah dibaca hingga lebih dari 1.000 pembaca pada sebuah hari. Satu lagi karya saya bertema politik selepas beberapa karya saya bertema serupa berhasil mendapat status AP. Penulisan sudah diupayakan menggunakan pemilihan kata yang netral dan menggunakan sumber-sumber dari portal berita yang tepercaya, tetapi komentar-komentar tetap dielu-elukan bagi mutu artikel yang lebih baik. Hanamanteo Halaman pembicaraan saya 28 Februari 2019 08.00 (UTC)

Menurutku artikel ini mungkin bisa dikembalikan terlebih dahulu karena masih belum memenuhi beberapa kriteria AP. Bagaimana menurut @HaEr48?  Mimihitam  6 Maret 2019 03.54 (UTC)
@Mimihitam: Maaf baru sempat baca sekarang. Setelah membaca dengan hati-hati, aku setuju dengan Mimihitam, artikel ini masih jauh dari kriteria AP dan sebaiknya dikembalikan dulu. Rinciannya aku tulis di bagian "Komentar dari HaEr48" di bawah. Mudah-mudahan berguna. HaEr48 (bicara) 7 Maret 2019 00.53 (UTC)

Komentar dari MimihitamSunting

Sepertinya artikelnya masih perlu diperbaiki lagi penulisannya sebelum bisa diangkat jadi AP. Ada beberapa kalimat yang saya kurang bisa paham maksudnya karena strukturnya kurang baik. Selain itu, penjelasan tentang puisinya sendiri masih kurang komprehensif karena cuma ada satu kalimat (penjelasan tentang puisi yang lain, "Sajak Orang Kaget", malah lebih lengkap, padahal bukan artikelnya). Mungkin bisa diberi seminggu agar ini diperbaiki, kalau tidak terpaksa harus dikembalikan dulu karena belum memenuhi kriteria komprehensif dan ditulis dengan baik.  Mimihitam  28 Februari 2019 15.59 (UTC)

Pembukaan
  • "Puisi ini adalah puisi kedua tahun 2019 yang dikarang Fadli setelah "Ahmad Dhani" dan dan puisi ke-28 yang dikarang sejak 2014" --> sepertinya perlu diganti jadi "puisi kedua yang dikarang Fadli pada tahun 2019".
  • Mungkin "zikir akbar" bisa dikasih pranala buat pembaca yang non-Muslim?
  • " Zikir akbar ini merupakan bagian dari lawatan Joko ke Pondok Pesantren" --> rasanya lebih baik pakai nama pendek "Jokowi" daripada "Joko", karena "Jokowi" lebih dikenal. Semua kata "Joko" di artikel ini juga perlu diganti jadi "Jokowi".
    • Tidak sepakat, karena Joko adalah nama depan dari Joko Widodo. Tokoh lainnya juga hanya ditulis nama depannya, mengapa Joko tidak? Hanamanteo Halaman pembicaraan saya 1 Maret 2019 08.00 (UTC)
      • Tapi itu bukan istilah yang umum dipakai, jadinya terkesan sangat ganjil kalau dibaca "Joko".  Mimihitam  1 Maret 2019 08.31 (UTC)
  • "ke Pondok Pesantren Al-Anwar di Rembang, Jawa Tengah yang" --> butuh koma setelah Jawa Tengah
  • "Sejumlah pihak mempertanyakan penggunaan beberapa kata, termasuk "kau", kepada Fadli, dan dibalas Fadli dengan "makelar doa"."
    • Sepertinya "kepada Fadli" di situ kurang pas, mending dihapus saja.
    • "dibalas Fadli dengan "makelar doa" --> maksudnya apa ya? Yang mengkritik dituduh sebagai makelar doa, atau "kau" mengacu kepada "makelar doa"? Coba diperjelas.
Latar belakang
  • "Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Anwar" --> apakah (ponpes) di situ perlu, sementara di atas sudah disebutkan?
  • " di Sarang, Rembang, Jawa Tengah untuk bertemu " --> butuh koma setelah Jawa Tengah
  • "untuk bertemu dengan pengasuh ponpes tersebut yaitu Maimun Zubair. " --> butuh koma setelah tersebut
    • Tidak perlu, kecuali jika kalimatnya seperti "..., untuk bertemu dengan pengasuh pondok pesantren tersebut, Maimun Zubair" Hanamanteo Halaman pembicaraan saya 1 Maret 2019 08.00 (UTC)
  • "Maimun mengaku gembira atas tatkala mengetahui Prabowo bersedia mencalonkan diri sebagai calon presiden" --> hapus "atas". Ganti "mencalonkan diri" jadi "maju" biar nggak repetitif.
  • "Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy memaklumkan klarifikasi" --> memaklumkan di sini kok agak rancu ya, mungkin bisa jadi mengumumkan?
  • "Maimun memaklumkan faktor usianya" --> memaklumkan di sini maksudnya apa?
    • Saya ganti menjadi "Maimun menyebut faktor usianya yang saat itu sudah mencapai 90 tahunan membuatnya salah mengucapkan doa" Hanamanteo Halaman pembicaraan saya 1 Maret 2019 08.00 (UTC)
  • "Viralnya puisi ini didukung oleh survei Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia pada 2016 yang menyebutkan jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai 132,7 juta orang berbanding jumlah keseluruhan penduduk Indonesia yang mencapai 256,2 juta orang" --> Kalimatnya janggal. Jadi video ini viral gara2 hasil survei Asosiasi tsb???
    • Tiada kaitannya sama sekali. Paragraf ini menjelaskan jumlah pengguna internet di Indonesia, yang secara tidak langsung memengaruhi seberapa viral puisi ini. Bandingkan dengan AP lainnya semisal Saya Indonesia, Saya Pancasila dan ShameOnYouSBY yang juga memuat data serupa. Hanamanteo Halaman pembicaraan saya 1 Maret 2019 08.00 (UTC)
      • Kalau sama sekali tidak ada kaitannya, ya harusnya dihapus saja.  Mimihitam  1 Maret 2019 08.31 (UTC)
        • Tidak sepakat jika harus dihapus, karena paragraf ini berguna untuk memberikan informasi perihal media sosial di Indonesia. Mengingat insiden ini sempat viral di media sosial, maka kiranya perlu diberi gambaran media sosial di Indonesia itu seperti apa. Hanamanteo Halaman pembicaraan saya 6 Maret 2019 02.00 (UTC)
      • @Hanamanteo Maaf, tapi kalau mau pengusulannya lanjut, paragraf ini perlu dihapus, karena kriteria AP terang2an berkata "Memiliki panjang yang pantas, tetap fokus pada topik utama tanpa terlalu menggali rincian yang tak perlu". Kalau nggak mau ya mending dikembalikan saja pengusulannya karena belum memenuhi kriteria AP  Mimihitam  6 Maret 2019 02.12 (UTC)
  • "Jumlah pengguna internet di Indonesia meningkat sebesar 51,8% dalam jangka waktu dua tahun; menurut APJII, jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2014 adalah 88 juta orang,[13] sedangkan menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika jumlah pengguna internet adalah 82 juta orang.[14] Di Facebook, pada 2016, jumlah pengguna di Indonesia mencapai 88 juta pengguna.[15] Sementara itu, di Twitter, pada 2016, jumlah cuitan mencapai 4,1 miliar dengan jumlah pengguna aktif mencapai 77 juta warganet.[16] Pada 2017, Indonesia termasuk ke dalam 5 besar negara dengan jumlah pengguna Twitter terbanyak di seluruh dunia.[17] Di Instagram, pada 2016, jumlah pengguna di Indonesia mencapai 22 juta pengguna.[18]" --> paragraf ini gunanya apa ya?
Puisi
  • "Dalam pernyataannya, Fadli mengatakan bahwa kekagetan Joko ini atas hal yang menurutnya semestinya diketahui presiden bukanlah yang pertama, sembari memberikan contoh berupa kekagetan Joko atas kemacetan yang bisa merugikan hingga triliunan rupiah, kenaikan harga avtur, dll." --> setelah aku baca beberapa kali (terutama yang aku cetak tebal), aku masih nggak ngerti dengan kalimat ini, mohon diperbaiki/dijelaskan.
    • Maksudnya menurut Fadli, kekagetan Joko itu mestinya bukanlah yang pertama kalinya. Fadli menilai Joko seringkali kaget dengan sesuatu. Kutipan asli Fadli: "Saya kira ini bukan kekagetan pertama ya. terlalu banyak kekagetan yang saya lihat dari awal. Kaget kemacetan bisa menimbulkan triliunan rupiah, ada kaget avtur naik tinggi, banyak lah. Itu menunjukkan suatu pemerintahan yang amatir." Hanamanteo Halaman pembicaraan saya 2 Maret 2019 08.00 (UTC)
  • Judul artikelnya adalah "Doa yang Ditukar", tapi kenapa uraian tentang sajak "Sajak Orang Kaget" malah jauh lebih panjang, dan penjelasan tentang Doa yang Ditukar cuma satu kalimat? Penjelasan tentang Doa yang Ditukar perlu dirincikan, dan penjelasan ttg Sajak orang Kaget perlu dikurangi.
  • Mungkin isi puisinya bisa dimasukkan juga supaya pembaca tidak perlu googling lagi. Menurut saya tidak ada salahnya, karena artikel2 ttg lagu kebangsaan juga banyak memasukkan liriknya.
    • Seperti yang disinggung di sini, puisi ini tidak berada dalam domain publik sehingga tidak dapat dimasukkan isi secara keseluruhan baik ke Wikipedia maupun Wikisumber. Hanamanteo Halaman pembicaraan saya 2 Maret 2019 08.00 (UTC)
  • "Isi puisi ini kemudian mendapat tanggapan dari pelbagai pihak...." etc etc perlu dipindahkan ke bagian "Tanggapan" atau "Dampak". Di sini penjelasan tentang puisinya malah sedikit sekali, saya jadi tidak dapat informasi puisi Fadli Zon tentang Doa yang Ditukar itu seperti apa.
    • Memindahkan ke #Tanggapan atau #Dampak justru membuat pembaca menjadi kesulitan untuk membaca artikel ini dengan lancar. Semestinya tetap dimasukkan ke dalam #Puisi. Lagipula bagi saya tiadak masalah jika tanggapan atas puisi ini dibiarkan terpencar-pencar sesuai dengan sasaran tanggapan.
  • "mempertanyakan maksud dari "bandar", "pembisik", "kacung", dan "makelar" yang dijumpai dalam puisi tersebut" --> karena puisinya tidak dijelaskan di artikel ini, saya jadi tidak bisa paham kenapa penggunaan istilah tersebut bisa membuat marah yang lain.
    • Seperti yang sudah dijelaskan di atas, karena teks puisi tidak bisa dimasukkan seutuhnya ke dalam artikel. Pautan teks puisi sudah disertakan di #Pranala luar.
  • "Politikus Partai Golongan Karya Nusron Wahid" --> politikus huruf kecil
    • Tidak sepakat, karena "politikus" ini kemudian diikuti oleh "Partai Golongan Karya" dan "Nusron Wahid", kecuali jika ditulis "politikus" saja tanpa ditulis partai dan nama politikus tersebut.
  • "Politikus Partai Golongan Karya Nusron Wahid menganggap jawaban Fadli tersebut dapat disimpulkan bahwa Maimun bisa digerakkan oleh makelar sembari menilai Fadli telah merendahkan integritas dan kepribadian Maimun." --> yang dicetak tebal strukturnya kurang baik, mohon diperbaiki
  • "menilai Fadli tidak menyasar Maimun dalam puisi ini, tetapi untuk "makelar doa" yang membujuk Maimun merevisi doanya" --> sepertinya preposisinya salah tuh
  • "Majid menganggap walaupun sebetulnya secara pribadi dia tak terpancing dengan puisi ini, tetapi ada saudaranya yang lain yang sempat terpancing dengan puisi ini" --> terpancing ditulis dua kali, mohon diragamkan
  • "walau kemudian bisa diredam agar ditanggapi dengan kepala dingin" --> maksudnya agar di sini apa ya?
  • " menilai bapaknya tidak merasa disalahi atas puisi tersebut" --> merasa disalahi itu apa?
Dampak

Aku jadi bingung, bedanya dampak sama tanggapan apa ya? Isinya dua2nya menggambarkan tanggapan kelompok2 dan orang2 terhadap puisi Fadli Zon. Mungkin keduanya ditambah paragraf yang nyasar di bagian puisi bisa digabung saja?

Sebetulnya saya bisa saja menggabungkan semua tanggapan perihal puisi ini ke dalam satu bagian saja, tetapi karena jika digabung menjadi satu bagian saja menjadi sangat banyak isinya, saya mempertimbangkan untuk memecah menjadi tanggapan penggunaan perkataan tertentu dalam puisi (lihat #Puisi) dan tanggapan puisi secara garis besar (lihat #Tanggapan). #Dampak menyoroti puisi balasan yang dikarang beberapa tokoh politik, unjuk rasa yang digelar, dan upaya pelaporan Fadli ke pihak yang berwenang. Hanamanteo Halaman pembicaraan saya 2 Maret 2019 08.00 (UTC)
"karena jika digabung menjadi satu bagian saja menjadi sangat banyak isinya". Nggak masalah, tolong semuanya digabung jadi satu. Di bagian itu kalau mau kamu strukturkan berdasarkan tokoh/partai /organisasi silakan, tapi supaya sistematis dan tidak terpencar2 agar digabungkan jadi satu.  Mimihitam  2 Maret 2019 13.51 (UTC)
Justru dengan langsung menggabungkan menjadi satu, maka pembaca akan kesulitan membaca artikel ini dengan lancar karena pembaca akan bolak-balik membaca artikel hanya agar dapat mengikuti pembacaan dengan baik. Hanamanteo Halaman pembicaraan saya 6 Maret 2019 02.00 (UTC)
@Hanamanteo Kok malah kesulitan? Justru sekarang malah bingung bedanya tanggapan dan dampak itu apa, dan paragraf terakhir di bagian puisi harusnya masuk tanggapan malah nyasar di situ untuk memperpanjang bagian puisi. Kalau tidak mau digabung, mungkin pengusulannya mending dikembalikan dulu, krn ini bkn menyangkut hal remeh, tapi menyangkut kriteria AP yang tidak terpenuhi: "ditulis dengan baik" dan "sistem hierarki judul yang baik".  Mimihitam  6 Maret 2019 02.12 (UTC)
Tanggapan
  • "Direktur Riset Populi Center Usep S. Ahyar menilai puisi ini membuat suara untuk pasangan Prabowo-Sandiaga di provinsi Jawa Tengah semakin terpuruk." --> terpuruk seperti apa ya? Mohon dijelaskan.
  • "Sandiaga Uno menolak berkomentar perihal puisi ini." --> ada tanggapan dari Prabowo tidak? Bagaimana dengan tanggapan dari Jokowi dan Maaruf Amin, kira2 ada tidak?
  • " dirasa membuat Maimun dan keluarganya merasa tak nyaman" --> mungkin dirasa/merasa bisa diubah supaya tidak repetitif
    • Saya ganti menjadi "..., Fadli menyatakan meminta maaf kepada Maimun karena dampak yang luas dari puisi ini dianggap Fadli membuat Maimun dan keluarganya merasa tak nyaman." Hanamanteo Halaman pembicaraan saya 1 Maret 2019 08.00 (UTC)
Referensi
  • 'Stefanie, Christie (11 Februari 2019). "Tolak Minta Maaf, Fadli Sebut Tak Hina Mbah Moen Lewat Puisi". Diakses tanggal 12 Februari 2019." --> kelupaan ditulis CNN Indonesia tuh

Komentar dari Glorious EngineSunting

  • Artikel ini kenapa nggak disinggung juga sama hubungannya dengan sinetron Putri yang Ditukar, mengingat konsep judul sinetron itu jadi bahan sindiran untuk hal-hal yang dianggap tertukar (Putra yang Ditukar, Saudara yang Ditukar), termasuk mungkin puisi ini.
  • '"Fadli? Man Huwa? Huwa Hayawan Bila Natiq" (Arab: "Fadli? Siapa dia? Dia adalah hewan yang tidak berpikir"') Kalimat ini tolong donk dikasih dikasih keterangan abjad Arabnya
    • Kalau dibandingkan dengan Penjarahan Amorion, sepertinya susah untuk disediakan juga tulisan Arabnya karena keterbatasan papan tik dan juga artikel ini bukanlah terjemahan dari artikel di Wikipedia bahasa lain. Hanamanteo Halaman pembicaraan saya 1 Maret 2019 08.00 (UTC)
  • "Menguatkan pendapat Said, Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini menyebut walaupun Fadli memang tak menyebut nama Maimun dalam puisi ini" Kata "Menguatkan" disini apakah memang maksudnya Zaini tau soal pendapat Said dan berniat ingin menguatkannya atau pernyataannya saja yang dianggap menguatkan namun nggak tau sama sekali soal pernyataan Said ?
    • Kalau dilihat dari sumber, hanya pernyataan Helmy yang dianggap menguatkan pernyataan Said, tetapi sepertinya Helmy tidak tahu pendapat Said sebenarnya itu apa. Hanamanteo Halaman pembicaraan saya 1 Maret 2019 08.00 (UTC)
  • "Bersama Mbah Moen di pesantren Syekh Ahmad bin Muhammad Alawy Al Maliki, Rusaifah, Mekkah. Sy selalu hormat pd beliau n doa beliau utk P @prabowo mudah2an diijabah. Amin." Kalimat ini pake kata nggak baku lho (Sy, pd, n, utk, P @prabowo, mudah2an, diijabah) Tolong pake keterangan [sic]
    • Tidak perlu, itu narasi yang tertulis sebagaimana aslinya. Bandingkan dengan narasi pernyataan Basuki di Wawancara Aiman Witjaksono dengan Basuki Tjahaja Purnama yang ditulis sebagaimana aslinya dengan perkataan yang tak baku ditulis miring. Hanamanteo Halaman pembicaraan saya 1 Maret 2019 08.00 (UTC)
      • Ya tetap ditulis seperti aslinya, tapi [sic] itu gunanya untuk menggarisbawahi kalau ada ejaan yang memang salah/tdk baku di situ, atau kalau ada pernyataan yang terang2an salah. Pemakaian [sic] itu umum kok dalam konteks akademis.  Mimihitam  2 Maret 2019 13.54 (UTC)
        • Rasanya agak janggal bila ditulis "Bersama Mbah Moen di pesantren Syekh Ahmad bin Muhammad Alawy Al Maliki, Rusaifah, Mekkah. Sy [sic] selalu hormat pd [sic] beliau n [sic] doa beliau utk [sic] P [sic] @prabowo mudah2an [sic] diijabah. Amin." Jadi bagaimana? Hanamanteo Halaman pembicaraan saya 6 Maret 2019 02.00 (UTC)
  • "Said menyebutkan bahwa meminta maaf itu tidak berat, tetapi jika Fadli tidak bersedia meminta maaf, maka Fadli akan mendapat kualat dari Allah" Saya lihat di sumbernya: “Tinggal minta maaf saja apa sih beratnya. Kalau tidak mau, ya terserah kalau ingin kualat, tapi paham kualat nggak ya dia," Di kalimat Anda "meminta maaf" langsung ditafsirkan "tidak berat" sementara di kutipannya adalah kalimat tanya "minta maaf saja apa sih beratnya". Ada orang disuruh ngangkat kardus dibilangnya "kardus itu apa sih beratnya ?" langsung ditafsirkan "kardus tersebut tidak berat" gitu ? Trus juga di kalimat Anda "kualat dari Allah" sementara di kutipannya hanya menyebut kata "kualat". Kualat kan bisa "kualat dari orangtua", "kualat dari majikan", dlsb. Kata "Allah" dalam sumber tersebut juga hanya dipakai pada kalimat "Allah menghormati orang yang usianya sudah lebih dari 80 tahun." bukan pada bagian "kualat".
  • "Fadli menilai puisi karangannya digoreng oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk menyebarkan fitnah dan memanipulasi informasi." Kata "digoreng" ini nggak baku lho, di KBBI aja kata "goreng" masih hanya meliputi penyebutan arti harfiah "memasak kering-kering di wajan (kuali) dengan minyak". Mungkin bisa dikasih keterangan [sic]
    • Tidak perlu, cukup diberi petik satu yang menandakan istilah tersebut tidak boleh diterjemahkan secara langsung. Hanamanteo Halaman pembicaraan saya 1 Maret 2019 08.00 (UTC)
  • Bagian "Latar belakang" bisa ditambahi "{{main|Pemilihan umum Presiden Indonesia 2019}}" mungkin juga Kampanye Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam pemilihan umum Presiden Indonesia 2019 sama Kampanye Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam pemilihan umum Presiden Indonesia 2019
  • "Dalam klarifikasinya, Romahurmuziy menyebut video yang beredar dan digunakan kubu Prabowo-Sandiaga sudah disunting." Ini kok nggak dikasih pranala entah ke artikel Sandiaga Uno atau Kampanye Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam pemilihan umum Presiden Indonesia 2019. Pranala ke artikel Sandi juga baru ada pada kalimat setelahnya "Sandiaga Uno menolak berkomentar perihal puisi ini"
  • "Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Arsul Sani menyebut puisi ini semakin membulatkan dukungan kaum Nahdliyin (warga Nahdlatul Ulama) kepada pasangan Joko-Ma'ruf." bagian ini juga nggak dikasih pranala gitu ke artikel Ma'ruf Amin atau Kampanye Joko Widodo-Ma'ruf Amin dalam pemilihan umum Presiden Indonesia 2019

--Glorious Engine (bicara) 1 Maret 2019 00.34 (UTC)

Komentar dari Albertus AdityaSunting

  • "Isi puisi ini kemudian mendapat tanggapan dari pelbagai pihak." kenapa ditulis di bagian puisi alih-alih tanggapan?
  • Tidak ada analisis lebih lanjut tentang puisi itu sendiri di bagian puisi. Saya sependapat dengan Mimihitam yang mempertanyakan tentang sajak terkait yang dijelaskan lebih rinci.
  • "Fadli? Man Huwa? Huwa Hayawan Bila Natiq" yang dalam bahasa Arab itu kalimat ini kan? Templat {{lang-ar}} seharusnya diikuti oleh kata-kata berbahasa Arabanya.
  • Rizka Ananda yang dimaksud ini siapa dan dalam kapasitas apa?
  • Tentang laporan hukum, apakah ada kelanjutannya? Ada atau tidak ada mungkin dapat ditulis sebagai bagian artikel.
  • Tentang dampak dan tanggapan, saya rasa lebih baik dibuat seperti en:Boston Marathon bombing#Reactions atau en:7 July 2005 London bombings#Effects and response

Terima kasih. Albertus Aditya (bicara) 6 Maret 2019 03.45 (UTC)

Komentar dari HaEr48Sunting

Aku komentar dari segi high level dulu, belum termasuk komentar-komentar rinci

  • Dari segi alur, penilaianku artikel ini terasa kurang kohesif. Banyak kalimat-kalimat yang membicarakan rincian-rincian yang menurutku alih-alih menjelaskan topiknya, malah membuat pembaca bingung karena lompat-lompat dan hubungannya tidak jelas. Misalnya, perdebatan menggenai kata "kau" dibahas panjang lebar, padahal tidak dijelaskan apa awal keberatan mengenai kata itu, malah terus saja membahas bantah-bantahan mengenai kata ini.
  • Fokus artikel: Fokus artikel terlihat banyak membahas kejadian-kejadian yang terjadi sebelumnya, tanggapan berbau politik, dan seterusnya. Karena puisi ini mengomentari kejadian berbau politik dan ditulis oleh seorang politikus dan ditanggapi banyak politikus, hal ini memang perlu, tapi menurutku saat ini porsinya terlalu besar sehingga menurutku tidak cocok dengan syarat 4 yaitu "tetap fokus pada topik utama tanpa terlalu menggali rincian yang tak perlu". Lebih spesifik lagi, hal-hal yang bisa diperbaiki:
    • Saat ini detail mengenai isi puisinya sendiri sangat minim dan kurang spesifik. Deskripsi puisi minim sekali, berapa jumlah baitnya, diterbitkan di mana, berapa lama proses menulisnya, dst. sama sekali tidak dibahas. Tidak ada sama sekali analisis dari segi gaya sastra, pola, rima, struktur bait, dan seterusnya yang biasanya adalah salah satu inti dari artikel ensiklopedia tentang puisi. Untuk contoh bagaimana hal ini bisa dilakukan, coba lihat misalnya en:Al Aaraaf atau en:Ode to a Nightingale. Kedua artikel ini hanya berstatus AB tapi malah lebih komprehensif dibanding artikel ini dari segi analisis sastra
    • Tanggapan dan analisis yang ada patut diperbaiki agar (1) porsinya sesuai (2) tidak hanya membahas kontroversi dan politik. Saat ini, sangat berfokus ke tanggapan kontroversi dan politik. Bagian "Dampak", "Tanggapan" dan "Permintaan maaf" berkutat di soal ini semua. Banyak kalimat rinci mengenai tokoh ini mengatakan ini, tokoh itu membantah itu. Bahkan bagian "puisi" sendiri 50% terkait bantah-bantahan di antara berbagai tokoh. Untuk perbandingan, bisa dilihat en:The Satanic Verses yang topiknya adalah sastra yang jauh lebih kontroversial dari "Doa Yang Ditukar", tetapi artikelnya terlihat memberikan porsi yang tepat untuk pembahasan karya, analisis sastra, dsb. Kontroversi juga dibahas, tetapi porsinya tidak berlebihan sehingga mendominasi artikel.
  • Riset asli: Pengaitan viralnya puisi dengan jumlah pengguna twitter atau internet juga agak berbau riset asli, mengingat sumber yang dikutip tidak ada yang mengaitkannya dengan puisi tsb.
  • Kata-kata yang kurang netral dan judgemental seperti "menjijikkan", "olok-olok" (dan masih banyak lagi artikel ini) sebaiknya diparafrase dengan kata-kata yang lebih wajar digunakan di ensiklopedia. Kalaupun harus digunakan verbatim, haruslah menggunakan tanda kutip (dan menurutku jangan berlebihan menggunakan kutipan verbatim). Secara umum, artikel Wikipedia harus menggunakan bahasa yang "dingin" kecuali untuk kutipan verbatim.

Demikian dulu. Sebagai penutup, mohon maaf kalau tanggapanku ini ada yang dirasa keras. Jika ada kesan demikian, itu karena pendapatku pribadi bahwa artikel ini punya masalah besar jika dibandingkan dengan kriteria artikel pilihan, dan tentu sama sekali tidak ada maksud ingin menyerang Bung penulis. Mudah-mudahan saran atau tanggapan di atas berguna, dan harap maklum. HaEr48 (bicara) 7 Maret 2019 00.51 (UTC)


Diskusi di atas adalah arsip. Terima kasih atas partisipasi Anda. Mohon untuk tidak menyunting lagi halaman ini. Komentar selanjutnya dapat diberikan di halaman pembicaraan artikel.