Utuy Tatang Sontani

Utuy Tatang Sontani (1 Mei 1920 – 17 September 1979) adalah seorang sastrawan (penulis dan dosen ilmu bahasa) Indonesia.

Utuy Tatang Sontani
Potret ca. Th 1955
Potret ca. Th 1955
Lahir(1920-05-31)31 Mei 1920
Bendera Belanda Cianjur, Jawa Barat, Hindia Belanda
Meninggal17 September 1979(1979-09-17) (umur 59)
Bendera Uni Soviet Moskwa, Uni Soviet
Pekerjaansastrawan, dosen
BahasaIndonesia, Sunda
Kebangsaan Indonesia
Genrenovel, cerpen, drama, autobiografi
Temaorang awam
Aliran sastra45
Karya terkenalOrang-orang Sial

Pendidikan dan Karier[1]Sunting

Dia pernah bersekolah di Taman Dewasa, Bandung.

Dia pernah bekerja di RRI Tasikmalaya, Balai Pustaka, Jawatan Pendidikan Masyarakat (Bagian Naskah dan Majalah), Jawatan Kebudayaan Kementerian PP & K, dan Lembaga Bahasa dan Kesusastraan Indonesia.

Dia adalah anggota Pimpinan Pusat Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) (1959–1965).

Terseret Arus Politik ZamanSunting

Utuy diutus oleh pemerintah Indonesia pada 1958 sebagai salah seorang wakil Indonesia dalam Konferensi Pengarang Asia-Afrika di Tashkent, Uzbekistan. Ketika hubungan politik Indonesia-Uni Soviet semakin mesra, banyak karya pengarang Indonesia yang diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Rusia, termasuk karya Utuy, Tambera, yang dianggap mencerminkan semangat revolusi dan perjuangan rakyat. Sementara itu, Orang-Orang Sial hanya terbit di Tallin, dalam bahasa Estonia karena dianggap terlalu pesimistik dan hanya mengungkapkan sisi gelap revolusi.

Pada 1 Oktober 1965 Utuy bersama sejumlah pengarang dan wartawan Indonesia menghadiri perayaan 1 Oktober di Beijing atas undangan pemerintah Tiongkok. Pecahnya G30S pada 1965 di Indonesia membuat mereka terlunta-lunta di tanah asing. Sebagian orang Indonesia yang terdampar di Tiongkok akhirnya memutuskan untuk meninggalkan negara itu setelah pecah Revolusi Kebudayaan pada 1966. Lalu, mereka pergi ke Eropa Barat dengan menumpang kereta api Trans Siberia. Sebagian dari penumpang ini berhenti di Moskwa, termasuk Utuy dan sejumlah kawannya, Kuslan Budiman, Rusdi Hermain, dan Soerjana, wartawan Harian Rakjat.

Pindah ke MoskwaSunting

Kedatangan Utuy di Moskwa pada 1971 disambut hangat oleh pemerintah Uni Soviet dan masyarakat ilmiah di sana, terutama karena nama Utuy sudah dikenal luas lewat karya-karyanya dan kehadirannya dalam Konferensi Pengarang Asia-Afrika pada 1958. Utuy diminta mengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di Institut Negeri-Negeri Asia dan Afrika, y.i. sebuah fakultas Universitas Negeri Moskwa M. V. Lomonosov, dan sempat pula menghasilkan sejumlah karya tulis. Ia menyusun sekurang-kurangnya empat buah novel dan tiga otobiografi. Salah satu novelnya yang ditulisnya dan diterbitkan di Moskwa adalah Kolot Kolotok. Novel ini hanya dicetak terbatas untuk bahan studi di Jurusan Indonesia, Universitas Negari Moskwa. Pengalaman hidup di pengasingan di RRT dan di Rusia dituliskannya dalam otobiografi Di Bawah Langit Tak Berbintang.

Utuy dan Akhir PerjalananSunting

Hidup bertahun-tahun di negeri orang dan berpisah dengan keluarga membuat Utuy kesepian. Hidupnya diisi dengan mencurahkan kerinduannya terhadap keluarga dan Tanah Air dengan menulis karya-karyanya. Tahun 1979, kabar duka datang dari Moskwa. Utuy meninggal dan dimakamkan di Moskwa, Rusia. Sebagai penghormatan, nisannya ditempatkan sebagai nisan pertama di pemakaman Islam pertama di Moskwa. Kondisi makam Utuy saat ini dalam kondisi yang tidak terawat, sebab tidak sering dikunjungi oleh kerabatnya.

KaryaSunting

Karyanya yang pertama adalah Tambera (versi bahasa Sunda 1937) sebuah novel sejarah yang berlangsung di Kepulauan Maluku pada abad ke-17. Novel ini pertama kali dimuat dalam koran daerah berbahasa Sunda Sipatahoenan dan Sinar Pasundan pada tahun yang sama. Setelah itu, Utuy menerbitkan kumpulan cerita pendeknya, Orang-orang Sial (1951), yang diikuti oleh cerita-cerita lakonnya yang membuatnya terkenal. Lakon pertamanya (Suling dan Bunga Rumahmakan, 1948) ditulis sebagaimana lakon ditulis, tetapi selanjutnya ia menemukan cara menulis lakon yang unik, yang bentuknya seperti cerita yang enak dibaca. Selain itu, ia pernah menerjermahkan karya sastra.

Pada masa Orde Baru, sama seperti para penulis yang mendapatkan stigma komunis, karya-karya Utuy dilarang beredar oleh pemerintah.

Selain ke dalam bahasa Rusia dan Estonia, karya-karya Utuy juga diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, mis. bahasa Inggris, Mandarin, Tagalog, dll.

Novel dan kumpulan ceritaSunting

  • Tambera (1948)
  • Orang-orang Sial: sekumpulan tjerita tahun 1948-1950 (1951)
  • Selamat Djalan Anak Kufur (1956)
  • Segumpal Daging Bernyawa (1961)
  • Si Kampeng (1964)
  • Si Sapar: sebuah novelette tentang kehidupan penarik betjak di Djakarta (1964)
  • Kolot Kolotok
  • Di bawah langit tak berbintang (2001)
  • Menuju Kamar Durhaka (2002)

DramaSunting

  • Suling (1948)
  • Bunga Rumah Makan: pertundjukan watak dalam satu babak (1948)
  • Awal dan Mira: drama satu babak (1952)
  • Manusia Iseng (1953)
  • Sajang Ada Orang Lain (1954)
  • Di Langit Ada Bintang (1955)
  • Sang Kuriang: opera dua babak (1955)
  • Selamat Jalan Anak Kufur (1956)
  • Si Kabajan: komedi dua babak (1959)
  • Tak Pernah Mendjadi Tua (1963)
  • Manusia Kota: empat buah drama (1961)

TerjemahanSunting

Selusin Dongeng karya Jean de la Fontaine (1949)[2]

PenghargaanSunting

Utuy mendapatkan Hadiah Sastra Nasional BMKN pada 1953 atas dramanya Awal dan Mira. Atas dramanya yang lain, Saat yang Genting, ia mendapatkan Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957/1958.[1]

Kajian tentang UtuySunting

Karya Utuy pernah dikaji H.B. Jassin dalam Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei II (1967; hlm. 153-177).[2]

ReferensiSunting

  1. ^ a b Dewan Redaksi Ensiklopedi Sastra Indonesia. (2004). Ensiklopedi Sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu. ISBN 9799012120 hlm. 826
  2. ^ a b Dewan Redaksi Ensiklopedi Sastra Indonesia. (2004). Ensiklopedi Sastra Indonesia. Bandung: Titian Ilmu. ISBN 9799012120 hlm. 827

Pranala luarSunting