Buka menu utama

USS Lexington (CV-2)

Kapal induk kelas Lexington Angkatan Laut Amerika Serikat

USS Lexington (CV-2), (Julukan: "Lady Lex"),[1] merupakan sebuah kapal induk yang dibangun untuk Angkatan Laut Amerika Serikat pada tahun 1921. Ia awalnya dirancang sebagai kapal penjelajah tempur sebelum Traktat Angkatan Laut Washington mengubah dirinya menjadi kapal induk, sehingga pada 1925 kapal ini baru selesai dibangun dan diperkenalkan ke publik, memasuki masa dinas pada tahun 1928 bersama Saratoga di wilayah Pasifik. Julukannya adalah Lady Lex. Keduanya pula menjadi tulang punggung bagi Angkatan Laut Amerika Serikat kala itu dengan rancangan strategi untuk serangan dari kapal induk, latihan para pilot serta simulasi perang.

USS Lexington (CV-2) leaving San Diego on 14 October 1941 (80-G-416362).jpg
Foto Lexington dari atas udara 14 Oktober 1941
Karier (Amerika Serikat)
Nama: USS Lexington
Asal nama: Pertempuran Lexington
Dipesan:
  • 1916 (kapal penjelajah tempur)
  • 1922 (kapal induk)
Pembangun: Fore River Ship and Engine Building Co., Quincy, Massachusetts
Pasang lunas: 8 Januari 1921
Diluncurkan: 3 Oktober 1925
Dibaptis: Mrs. Theodore Douglas Robinson
Mulai berlayar: 14 Desember 1927
Reklasifikasi: Menjadi kapal induk pada 1 Juli 1922
Dicoret: 24 Juni 1942
Identifikasi: Nomor lambung: CC-1, kemudian CV-2
Julukan: "Lady Lex", "Gray Lady"
Nasib: Tenggelam saat Pertempuran Laut Koral pada 8 Mei 1942
Catatan: Bangkainya ditemukan pada 4 Maret 2018

Selama periode antarperang, dan berkat propeler turbo elektrik yang kala itu amat canggih, kapal ini menolong wilayah Tacoma, Washington dari bencana kekeringan parah dengan cara menyuplai listriknya dari tahun 1929 sampau 1930. Tahun 1931, ia menuju Managua, Nikaragua yang dilanda gempa bumi. Saat Perang Pasifik pecah, Lady Lex membawa sejumlah pesawat pemburu menuju Kepulauan Midway. Berbagai misi pun sempat akan dijalankan, tetapi keraguan komando Angkatan Laut Amerika Serikat ditambah dengan kemajuan Jepang yang impresif, hilangnya Kepulauan Wake dan sejumlah gugus pulau lainnya dan kekuatan Jepang yang masih terlalu kuat, memaksa dirinya harus bersabar. Lexington dikirim ke Laut Koral pada bulan berikutnya untuk memblokade semua usaha Jepang untuk maju dari wilayah tersebut. Kapal ini sempat terlihat oleh pesawat pencari milik Jepang ketika mendekati Rabaul, Britania Baru, tetapi pesawat yang diangkut oleh Lexington berhasil menembak jatuh sebagian besar pesawat pembom maritim yang dikirim oleh Jepang untuk menyerangnya. Bersama dengan kapal induk Yorktown, kapal ini sukses menyerbu kapal barang Jepang di perairan timur Papua Nugini pada awal Maret.

Lexington sempat diperbaiki di Pearl Harbor pada akhir bulan dan berkumpul bersama Yorktown di Laut Koral pada awal Mei. Beberapa hari kemudian Angkatan Perang Jepang melancarkan Operasi Mo, invasi Port Moresby, Papua Nugini, dan dua dua kapal induk Amerika Serikat dikirim untuk mencegat pasukan invasi tersebut. Pasukan tersebut berhasil menenggelamkan kapal induk ringan Shōhō pada tanggal 7 Mei selama periode Pertempuran Laut Koral, tetapi tidak bertemu dengan pasukan utama AL jepang yaitu kapal induk Shōkaku dan Zuikaku sampai esok harinya. Pesawat tentengan Lexington dan Yorktown berhasil membuat Shokaku rusak parah, tetapi pesawat-pesawat Jepang berhasil melumpuhkan Lexington. Campuran dari bensin penerbangan di dalam tanki bahan bakar belakang kapal ini (yang memanjang dari tanki di lunas kapal sampai ke dek hangar) terbakar, menyebabkan ledakan beruntun dan kebakaran yang tak bisa dikendalikan. Lexington akhirnya ditenggelamkan oleh sebuah perusak Amerika pada malam hari tanggal 8 Mei untuk mencegah penangkapan kapal tersebut. Bangkai kapal Lexington akhirnya ditemukan pada bulan Maret 2018 oleh sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh Paul Allen, menemukan kapal tersebut sekitar 430 mil laut (800 km) Timur Laut pantai Australia di Laut Koral.

2 bom dan 2 torpedo ditambah dengan ledakan yang masif sudah cukup untuk menenggelamkan sang Lady Lex, kekalahan yang sangat telak bagi Amerika Serikat dan kejutan bagi Jepang (sekaligus menjadi kapal yang pertama tenggelam dari kubu Amerika Serikat). Namun, setidaknya adiknya, Saratoga dapat bertahan hingga dirinya dijadikan korban keganasan oleh negaranya sendiri.

Rancang BangunSunting

 
Lexington sedang dibangun diatas slipway, tahun 1925
 
Lexington sedang dalam perjalanan dari galangan kapalnya di Quincy ke Depo Kapal Boston pada Januari 1928

Lexington merupakan Kapal AL Amerika Serikat yang dinamai berdasarkan Pertempuran Lexington yang terjadi pada tahun 1775.[2] Kapal ini pertamakalinya dibuat tahun 1916 sebagai Kapal Penjelajah Tempur kelas-Lexington , tetapi pembuatannya ditunda sehingga pembuatan kapal-kapal yang saat itu lebih penting seperti kapal anti kapal selam dan kapal dagang, yang dibutuhkan untuk memastikan perjalanan material dan personel yang aman selama perjalanan ke Eropa pada masa kampanye U-boat. Setelah perang tersebut selesai, kapal ini dirombak besar-besaran, sebagian alasannya mengacu pada pengalaman dari AL Britania.[3] Kapal ini diberikan nomor lambung CC-1, Lexington disiapkan untuk perombakan pada tanggal 8 Januari 1921 di Perusahaan Galangan Kapal Fore River di Quincy, Massachusetts.[2]

Penemuan bangkai kapalSunting

Pada 4 Maret 2018, kapal penelitian RV Petrel menemukan bangkai kapal Lexington selama ekspedisi menuju Laut Karang yang dipimpin oleh Paul Allen. Bangkai kapal terletak pada 2 mil (3 km) di bawah permukaan dan 430 mil laut (800 km) dari tepi pantai Queensland.[4][5][6] Sebuah kendaraan bawah laut yang dikendalikan dengan pengendali jarak jauh mengonfirmasi identitas bangkai kapal tersebut dengan menemukan plang nama di buritan. Bangkai kapal itu terpecah menjadi tiga bagian, dengan posisi bagian utama berdiri tegak. Bagian haluan dan buritannya terletak satu mil ke arah barat, dan berseberangan satu sama lain, dengan jembatan yang terbentang di antara bagian-bagian haluan dan buritan. Pesawat-pesawat terbangnya terletak jauh ke barat, semuanya dalam keadaan yang baik. Pesawat tersebut terdiri dari tujuh Devastator, tiga Dauntless, dan sebuah Wildcat.[7]

ReferensiSunting

  1. ^ Groom, hlm. 203
  2. ^ a b "Lexington IV". Dictionary of American Naval Fighting Ships. Navy Department, Naval History and Heritage Command. Diakses tanggal 19 January 2017. 
  3. ^ Friedman 1984, pp. 88, 91, 94, 97–99
  4. ^ "USS Lexington: Lost WW2 aircraft carrier found after 76 years". BBC News. 6 March 2018. Diakses tanggal 6 March 2018. 
  5. ^ "VIDEO: Billionaire Paul Allen Finds Lost World War II Carrier USS Lexington". USNI News. 5 March 2018. 
  6. ^ "Wreck of Aircraft Carrier USS Lexington Located in Coral Sea After 76 Years". PaulAllen.com. 5 March 2018. Diakses tanggal 6 March 2018. 
  7. ^ LaGrone, Sam (5 March 2018). "Billionaire Paul Allen Finds Lost World War II Carrier USS Lexington", USNI News, United States Naval Institute.

Daftar pustakaSunting

  • Anderson, Richard M.; Baker, Arthur D. III (1977). "CV-2 Lex and CV-3 Sara". Warship International. Toledo, OH: International Naval Research Organization. XIV (4): 291–328. ISSN 0043-0374. 
  • Brown, J. D. (2009). Carrier Operations in World War II. Annapolis, Maryland: Naval Institute Press. ISBN 978-1-59114-108-2. 
  • Friedman, Norman (1983). U.S. Aircraft Carriers: An Illustrated Design History. Annapolis, Maryland: Naval Institute Press. ISBN 0-87021-739-9.  (Google Books link)
  • Friedman, Norman (1984). U.S. Cruisers: An Illustrated Design History. Annapolis, Maryland: Naval Institute Press. ISBN 0-87021-718-6. 
  • Groom, Winston (2005). 1942: The Year That Tried Men's Souls. New York: Atlantic Monthly Press. ISBN 0-87113-889-1. 
  • Herts, Dylan. Fleet Problem XIII & Grand Joint Exercise No. 4: Reconsidering Aircraft Carrier Doctrine. 
  • James, Robert (2003). "Afterword: A Clean Sweep". Dalam Heinlein, Robert A. For Us, The Living: A Comedy of Customs. New York: Scribner. ISBN 0-7432-6157-7. 
  • Johnston, Stanley (1942). Queen of the Flat-Tops: The U.S.S. Lexington and the Coral Sea Battle. New York: E. P. Dutton. OCLC 560099. 
  • Lundstrom, John B. (2006). Black Shoe Carrier Admiral: Frank Jack Fletcher at Coral Sea, Midway, and Guadalcanal. Annapolis, Maryland: Naval Institute Press. ISBN 1-59114-475-2. 
  • Lundstrom, John B. (2005). The First Team: Pacific Naval Air Combat from Pearl Harbor to Midway. Annapolis, Maryland: Naval Institute Press. ISBN 1-59114-471-X. 
  • Nofi, Albert A. (2010). To Train the Fleet for War: The U.S. Navy Fleet Problems. Naval War College Historical Monograph. 18. Newport, Rhode Island: Naval War College Press. ISBN 978-1-884733-69-7. 
  • Patterson, William H. (2010). Robert A. Heinlein: In Dialogue with His Century. Volume 1, 1907–1948 Learning Curve. New York: Tom Doherty Associates Book. ISBN 978-0-7653-1960-9. 
  • Polmar, Norman; Genda, Minoru (2006). Aircraft Carriers: A History of Carrier Aviation and Its Influence on World Events. Volume 1, 1909–1945. Washington, D.C.: Potomac Books. ISBN 1-57488-663-0. 
  • Prange, Gordon W.; in collaboration with Donald M. Goldstein and Katherine V. Dillon (1981). At Dawn We Slept: The Untold Story of Pearl Harbor. New York: McGraw-Hill. ISBN 0-07-050669-8. 
  • Stern, Robert C. (1993). The Lexington Class Carriers. Annapolis, Maryland: Naval Institute Press. ISBN 1-55750-503-9. 
  • Stille, Mark (2009). The Coral Sea 1942: The First Carrier Battle. Campaign. 214. Oxford, UK: Osprey Publishing. ISBN 978-1-84908-106-1. 
  • Stille, Mark (2005). US Navy Aircraft Carriers 1922–1945: Prewar Classes. New Vanguard. 114. Oxford, UK: Osprey Publishing. ISBN 1-84176-890-1. 

Pranala luarSunting