Toshiba

perusahaan Jepang

Toshiba Corporation (株式会社東芝, Kabushiki gaisha Tōshiba, bahasa Inggris: /təˈʃbə, tɒ-, t-/[2]) adalah sebuah konglomerat multinasional yang berkantor pusat di Minato, Tokyo. Produk dan jasa dari perusahaan ini meliputi sistem tenaga, industrial, dan infrastruktur sosial, elevator dan eskalator, komponen elektronik, semikonduktor, hard disk drive, pencetak, baterai, pencahayaan, serta solusi teknologi informasi, seperti kriptografi kuantum.[3][4] Perusahaan ini dulu merupakan salah satu produsen komputer pribadi, elektronik konsumen, perabot rumah, dan alat kesehatan terbesar di dunia. Sebagai sebuah produsen semikonduktor dan pencipta memori kilat, Toshiba pun merupakan salah satu dari sepuluh produsen chip terbesar di dunia, hingga unit bisnis memori kilatnya dipisah ke Toshiba Memory, yang kemudian menjadi Kioxia, pada akhir dekade 2010-an.[5][6][7]

Toshiba Corporation
Nama asli
株式会社東芝
Nama latin
Kabushiki gaisha Tōshiba
Sebelumnya
Tokyo Shibaura Electric Co., Ltd. (Nama berbahasa Inggris 1939–1979; Nama berbahasa Jepang 1939–1984)
Publik KK
Kode emiten
IndustriKonglomerat
Didirikan11 Juli 1875; 146 tahun lalu (1875-07-11)
PendiriTanaka Hisashige (untuk jalur Tanaka Seisakusho)
Kantor
pusat
Wilayah operasi
Seluruh dunia
Tokoh
kunci
  • Satoshi Tsunakawa​ (presiden dan CEO interim)
Produk
Pendapatan¥3,693 triliun (2019)[1]
¥35,4 milyar (2019)[1]
¥1,01 triliun (2019)[1]
Total aset¥4,297 triliun (2019)[1]
Total ekuitas¥1,456 triliun (2019)[1]
Karyawan
141.256 (2019)[1]
Anak
usaha
Daftar anak perusahaan Toshiba
Situs webtoshiba.co.jp

Nama Toshiba berasal dari penggabungan antara Tokyo Shibaura Denki K.K. (didirikan pada tahun 1939), Shibaura Seisaku-sho (didirikan pada tahun 1875), dan Tokyo Denki (didirikan pada tahun 1890). Nama perusahaan ini resmi diubah menjadi Toshiba Corporation pada tahun 1978. Perusahaan ini melantai di Tokyo Stock Exchange (merupakan salah satu komponen dari indeks Nikkei 225 dan TOPIX hingga bulan Agustus 2018), Nagoya Stock Exchange, dan London Stock Exchange.

Sebagai sebuah perusahaan teknologi dengan sejarah yang panjang dan bisnis yang beragam, Toshiba juga merupakan sebuah merek perabot di Jepang dan telah lama dilihat sebagai simbol kehebatan teknologi Jepang. Reputasi perusahaan ini menurun pasca sebuah skandal akuntansi pada tahun 2015 dan bangkrutnya Westinghouse pada tahun 2017, yang memaksa perusahaan ini untuk menutup sejumlah unit bisnisnya yang kurang menguntungkan, sehingga menyebabkan perusahaan ini keluar dari pasar ritel.[8][9][10]

SejarahSunting

Tanaka SeisakushoSunting

Tanaka Seisakusho (田中製作所, Tanaka Engineering Works) adalah perusahaan pertama yang didirikan oleh Tanaka Hisashige, salah satu insinyur paling produktif selama periode Edo / Tokugawa. Didirikan pada tanggal 11 Juli 1875,[11][12] Tanaka Seisakusho merupakan perusahaan asal Jepang pertama yang memproduksi peralatan telegraf. Tanaka Seisakusho juga memproduksi switch, serta berbagai macam peralatan listrik dan komunikasi. Tanaka Seisakusho lalu diwariskan ke anak angkat Tanaka, dan kemudian menjadi separuh dari Toshiba yang masih eksis hingga saat ini. Sejumlah pekerja yang pernah bekerja di Tanaka Seisakusho atau pernah mendapat bimbingan Tanaka di pabrik Kubusho (Kementerian Industri) kemudian juga menjadi pionir pada bidangnya masing-masing, seperti Miyoshi Shōichi yang membantu Fujioka memproduksi generator tenaga pertama di Jepang dan mendirikan Hakunetsusha untuk memproduksi bohlam; Oki Kibatarō, pendiri Oki Denki (Oki Electric Industry); serta Ishiguro Keizaburō, salah satu pendiri Anritsu.[13]

Setelah Tanaka meninggal pada tahun 1881, sebagian saham Tanaka Seisakusho dipegang oleh General Electric, dan Tanaka Seisakusho pun mulai memproduksi torpedo dan ranjau sesuai permintaan dari Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Tanaka Seisakusho pun menjadi salah satu perusahaan manufaktur terbesar pada saat itu. Namun, setelah Angkatan Laut mulai memakai sistem lelang dan kemudian membangun pabriknya sendiri, produksi Tanaka Seisakusho pun menurun drastis dan Tanaka Seisakusho mulai merugi. Kreditur utama Tanaka Seisakusho, Mitsui Bank, akhirnya mengambil alih Tanaka Seisakusho pada tahun 1893 dan mengubah nama Tanaka Seisakusho menjadi Shibaura Seisakusho.[13]

Shibaura SeisakushoSunting

Shibaura Seisakusho (芝浦製作所, Shibaura Engineering Works) adalah nama baru dari Tanaka Seisakusho, setelah dinyatakan insolven pada tahun 1893 dan diambil alih oleh Mitsui Bank.

Pada tahun 1910, Shibaura Seisakusho membentuk sebuah kemitraan dengan General Electric asal Amerika Serikat, yang sebagai ganti dari teknologi yang diberikan, menguasai sekitar seperempat saham Shibaura. Dengan investasi tersebut, GE pun memiliki saham Tokyo Denki dan Shibaura Seisakusho, yang memiliki jajaran produk peralatan listrik ringan dan berat yang saling melengkapi. Pada tahun 1939, Tokyo Denki dan Shibaura Seisakusho resmi digabung untuk membentuk Tokyo Shibaura Denki (kini Toshiba). Hubungan Toshiba dengan GE tetap terjalin hingga perang dimulai, dan pasca perang, hubungan tersebut kembali dijalin pada tahun 1953, dengan GE memegang 24% saham Toshiba. Namun, tingkat kepemilikan saham GE atas Toshiba terus menurun sejak saat itu.[13]

Hakunetsusha (Tokyo Denki)Sunting

Hakunetsusha (白熱舎) adalah sebuah perusahaan yang didirikan oleh Shōichi Miyoshi dan Fujioka Ichisuke, dua pionir industri Jepang selama periode Edo / Tokugawa. Hakunetsusha fokus pada produksi bohlam lampu.

Hakunetsusha didirikan pada tahun 1890 dan mulai menjual bohlam yang menggunakan filamen bambu. Namun, pasca dibukanya hubungan perdagangan dengan Barat melalui perjanjian tidak adil, Hakunetsusha pun menghadapi kompetisi ketat dari perusahaan asal luar Jepang. Bohlam buatan Hakunetsusha sekitar 60% lebih mahal daripada bohlam impor, padahal kualitasnya lebih buruk. Hakunetsusha berhasil bertahan karena adanya ledakan permintaan pasca Perang Tiongkok-Jepang Pertama pada tahun 1894–95 dan Perang Rusia-Jepang pada tahun 1904–05, namun setelah itu, kondisi keuangan perusahaan ini memprihatinkan.

Pada tahun 1905, nama Hakunetsusha diubah menjadi Tokyo Denki, dan mulai menjalin kolaborasi keuangan dan teknologi dengan General Electric asal Amerika Serikat. General Electric lalu mengakuisisi 51% saham Tokyo Denki dan menyediakan teknologi untuk memproduksi bohlam. Peralatan produksi dibeli dari GE dan Tokyo Denki pun mulai menjual produknya dengan merek GE.

Pada tahun 1939, Tokyo Denki dan Shibaura Seisakusho digabung untuk membentuk Tokyo Shibaura Denki (kini Toshiba).

1939 - 2000Sunting

Toshiba didirikan pada tahun 1939 melalui penggabungan antara Shibaura Seisakusho[14] dan Tokyo Denki. Shibaura Seisakusho didirikan dengan nama Tanaka Seisakusho oleh Tanaka Hisashige pada bulan Juli 1875 sebagai produsen peralatan telegraf pertama di Jepang.[13] Pada tahun 1904, nama perusahaan tersebut diubah menjadi Shibaura Seisakusho. Sepanjang dekade pertama pada abad ke-20, Shibaura Seisakusho menjadi produsen peralatan listrik berat besar seiring modernisasi Jepang selama periode Meiji. Tokyo Denki didirikan dengan nama Hakunetsusha pada tahun 1890 dan menjadi produsen lampu pijar listrik pertama di Jepang. Hakunetsusha kemudian mulai memproduksi barang konsumen lain, dan pada tahun 1899, nama Hakunetsusha diubah menjadi Tokyo Denki. Penggabungan antara Shibaura dan Tokyo Denki membentuk sebuah perusahaan baru yang diberi nama Tokyo Shibaura Denki ( 電気). Tokyo Shibaura Denki kemudian biasa disebut sebagai Toshiba, dan pada tahun 1978, Tokyo Shibaura Denki resmi mengubah namanya menjadi Toshiba Corporation.

 
Paviliun Toshiba di Expo '85.

Toshiba lalu berkembang pesat melalui pertumbuhan organik dan akuisisi, dengan membeli industri rekayasa berat dan industri primer pada dekade 1940-an dan 1950-an. Anak usaha yang dibentuk oleh Toshiba meliputi Toshiba Music Industries/Toshiba EMI (1960), Toshiba International Corporation (dekade 1970-an), Toshiba Electrical Equipment (1974), Toshiba Chemical (1974), Toshiba Lighting and Technology (1989), Toshiba America Information Systems (1989), dan Toshiba Carrier Corporation (1999).

Toshiba bertanggung jawab atas sejumlah hal pertama di Jepang, seperti radar (1912), komputer digital TAC (1954), televisi transistor, CRT berwarna[15] dan oven gelombang mikro (1959), videofon berwarna (1971), pengolah kata Jepang (1978), sistem MRI (1982), komputer pribadi laptop (1986), NAND EEPROM (1991), DVD (1995), komputer pribadi sub-notebook Libretto (1996), dan HD DVD (2005).

Pada tahun 1977, Toshiba mengakuisisi Semp (Sociedade Eletromercantil Paulista) asal Brazil. Semp Toshiba kemudian dibentuk melalui penggabungan antara bisnis milik Semp dan Toshiba di Amerika Selatan.

 
Pada tahun 1950, nama Tokyo Shibaura Denki diubah menjadi Toshiba. Logo ini digunakan mulai tahun 1950 hingga 1969. Logo ini kemudian juga digunakan pada produk cakram keras.[16]
 
Logo Toshiba mulai tahun 1969 hingga 1984.[17]
 
Logo Toshiba mulai tahun 1984.[17]

Pada tahun 1987, Tocibai Machine, anak usaha Toshiba, dituduh secara ilegal menjual mesin milling CNC yang digunakan untuk memproduksi baling-baling kapal selam senyap ke Uni Soviet, sehingga melanggar perjanjian CoCom, sebuah embargo internasional dari sejumlah negara untuk negara COMECON. Skandal Toshiba-Kongsberg melibatkan anak usaha Toshiba dan Kongsberg Vaapenfabrikk asal Norwegia. Insiden tersebut pun menegangkan hubungan antara Amerika Serikat dan Jepang, sehingga menyebabkan penahanan dan penuntutan terhadap dua orang eksekutif senior, serta pengenaan sanksi kepada perusahaan ini dari kedua negara.[18] Senator John Heinz asal Pennsylvania menyatakan bahwa "Apa yang Toshiba dan Kongsberg lakukan menebus keamanan Amerika Serikat dengan harga $517 juta."

2000 - 2010Sunting

Pada tahun 2001, Toshiba meneken kontrak dengan Orion Electric, salah satu produsen dan pemasok elektronik video ritel OEM terbesar di dunia, untuk memproduksi dan memasok produk TV dan video ritel ke Toshiba guna memenuhi permintaan dari Amerika Utara. Kontrak tersebut akhirnya diakhiri pada tahun 2008.

Pada bulan Desember 2004, Toshiba mengumumkan bahwa mereka akan berhenti memproduksi televisi CRT rumahan tradisional. Pada tahun 2005, Matsushita Toshiba Picture Display Co. Ltd. (sebuah joint venture antara Panasonic dan Toshiba yang dibentuk pada tahun 2002[19]) berhenti memproduksi CRT di pabriknya di Horseheads, New York. Setahun kemudian, pada tahun 2006, Matsushita Toshiba Picture Display menghentikan kegiatan produksi dari pabriknya di Malaysia, setelah mengalami kerugian besar.[20][21][22] Pada tahun 2006, Toshiba menghentikan penjualan TV CRT di Jepang[23] dan produksi TV plasma rumahan. Untuk memastikan kompetitivitasnya di sektor layar dan televisi digital layar datar, Toshiba berinvestasi pada teknologi layar baru yang disebut SED. Teknologi tersebut akhirnya tidak pernah dijual ke masyarakat umum, karena harganya tidak dapat bersaing dengan LCD. Sebelum Perang Dunia II, Toshiba merupakan anggota dari zaibatsu Mitsui Group. Saat ini, Toshiba merupakan anggota dari keiretsu Mitsui, dan masih memiliki pengaturan preferensial dengan Mitsui Bank dan anggota lain dari keiretsu Mitsui. Keanggotaan di dalam keiretsu secara tradisional berarti loyalitas ke anggota lain dari keiretsu. Loyalitas tersebut hingga berupa bir yang diminum oleh para pegawai, yang dalam kasus Toshiba adalah bir buatan Asahi.

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e f "Toshiba Financial Statements" (PDF). Toshiba Corporation. Diakses tanggal 10 May 2019. 
  2. ^ Jones, Daniel (2003) [1917], Peter Roach; James Hartmann; Jane Setter, ed., English Pronouncing Dictionary, Cambridge: Cambridge University Press, ISBN 3-12-539683-2 
  3. ^ "TOSHIBA GROUP MANAGEMENT ORGANIZATION CHART" (PDF). Toshiba Corp. 2020-04-01. 
  4. ^ "Toshiba to launch quantum cryptography services this year". Nikkei Asian Review (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-07-27. 
  5. ^ Walton, Justin. "The world's top 10 semiconductor companies". Investopedia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-09-14. 
  6. ^ "Toshiba Science Museum : World's First NAND Flash Memory". toshiba-mirai-kagakukan.jp. Diakses tanggal 2020-07-16. 
  7. ^ "The History Of Our Memory|Innovation story|KIOXIA #FutureMemories". KIOXIA #FutureMemories (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-07-16. 
  8. ^ "Toshiba files unaudited results and says future is in doubt". BBC News. 11 April 2017. Diakses tanggal 11 April 2017. 
  9. ^ Soble, Jonathan (2015-07-21). "Scandal Upends Toshiba's Lauded Reputation". The New York Times (dalam bahasa Inggris). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 2020-07-11. 
  10. ^ Mochizuki, Takashi (2018-06-05). "Toshiba to Close the Book on Its Laptop Unit". Wall Street Journal (dalam bahasa Inggris). ISSN 0099-9660. Diakses tanggal 2020-07-27. 
  11. ^ "Toshiba chief executive resigns over scandal". BBC News (dalam bahasa Inggris). 2015-07-21. Diakses tanggal 2021-06-14. 
  12. ^ "Toshiba Science Museum : Tokyo Period". toshiba-mirai-kagakukan.jp. Diakses tanggal 2021-06-14. 
  13. ^ a b c d Odagiri, Hiroyuki (1996). Technology and Industrial Development in Japan. Clarendon Press, Oxford. hlm. 158. ISBN 0-19-828802-6. 
  14. ^ Corporate History | Shibaura Mechatronics Corporation. Shibaura.co.jp. Retrieved on 26 July 2013.
  15. ^ "Toshiba : Press Releases 21 December, 1995". www.toshiba.co.jp. 
  16. ^ "Toshiba : History of Toshiba's Corporate Logo". www.toshiba.co.jp (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2017-01-26. 
  17. ^ a b "Toshiba : History of Toshiba's Corporate Logo". www.toshiba.co.jp. Diakses tanggal 25 February 2016. 
  18. ^ Seeman, Roderick (April 1987). "Toshiba Case—CoCom – Foreign Exchange and Foreign Trade Control Revision". The Japan Lawletter. Diarsipkan dari versi asli tanggal 27 September 2007. Diakses tanggal 18 September 2007. 
  19. ^ Administrator, System (13 October 2002). "Consolidating CRTs". 
  20. ^ Williams, Martyn (27 July 2006). "Panasonic-Toshiba venture to shut Malaysia CRT plant". Network World. 
  21. ^ Staff, C. I. O. (27 July 2006). "Panasonic-Toshiba Venture to Shutter Malaysia CRT Plant". CIO. 
  22. ^ "Hitachi, Matsushita, Toshiba cement LCD venture plan | ITworld". www.itworld.com. 
  23. ^ "Toshiba to end CRT TV sales in Japan, rebrand LCD range". ARN. 

Pranala luarSunting