Tatiek Maliyati

pemeran perempuan asal Indonesia

Tatiek Maliyati (lahir 10 November 1934) adalah pemeran dan penulis skenario Indonesia.[1]

Tatiek Maliyati
Lahir10 November 1934 (umur 86)
Bendera Hindia Belanda Surabaya, Hindia Belanda
PekerjaanAktris, penulis skenario, pengajar
Suami/istriWahyu Sihombing
Anak

Pada tahun 2020, ia dianugerahi Lifetime Achievement dari Festival Film Indonesia berkat kontribusi dan dedikasinya bagi perfilman Indonesia.[2] Sebelumnya pada tahun 2017, ia menerima penghargaan yang sama dari Festival Film Bandung.[3]

Kehidupan awal dan karierSunting

Tatiek lahir di Surabaya, 10 November 1934, beragama Islam. Ia menempuh pendidikan Sekolah Lanjutan (SLA), kemudian melanjutkan ke Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) pada tahun 1956 hingga 1960. Ia juga belajar teater pada Department of Drama-Fine Arts, Carnegie-Tech, Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat pada 1960 hingga 1961. Sebelum terjun ke dunia film, ia dikenal sebagai pemain sandiwara ATNI. Untuk pertama kalinya ia bermain di atas panggung lewat Keluarga Gerilya.[1] Selanjutnya, ia turut membintangi beberapa cerita sandiwara, antara lain Pintu Tertutup, Sang Ajah (1960), dan lain sebagainya.[4]

Dunia film dimasukinya pada tahun 1957, bermain dalam film produksi Safina-Persari bertajuk Anakku Sajang. Pada tahun 1958, ia bermain bersama aktor yang lebih dulu terkenal, Menzano lewat produksi Perfini Djendral Kantjil. Di tahun berikutnya, ia bermain dalam film Titian Serambut Dibelah Tudjuh (1959) dan Balada Kota Besar (1963).[1] Sedang dalam film Asrama Dara (1958), Iseng (1959), Mak Tjomblang (1960), dan Impian Bukit Harapan (1964) ia hanya berperan sebagai Pemeran Pembantu.[4]

Pada tahun 1969, ia memimpin produksi film keempat dari DPFN, Nyi Ronggeng. Dia menulis skenario yang salah satunya adalah dalam film Cinta Abadi (1976). Ia pernah masuk dalam nominasi Piala Citra untuk Skenario Terbaik Festival Film Indonesia 1981 dalam film Jangan Ambil Nyawaku (1981). Tatiek juga merupakan Ketua Dewan Juri pada Festival Film Indonesia 1983 dan Festival Film Indonesia 1992.[1][5] Ia bersama Wahyu Sihombing menciptakan serial televisi Losmen. Serial ini sempat berjaya dengan 31 episode dan juga menjadi cikal bakal sinetron drama di Indonesia.[6]

Di luar dunia film, Tatiek mengajar sebagai dosen Seni Peran dan Penulisan Naskah Drama di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) sejak 1970 hingga sekarang,[7] selain menjabat sebagai Komisaris rumah produksi PT Wahyutama Audio Visual dan PT. Sirapitulas Graha Sinema.[1] Selain mengajar ia memberikan kursus-kursus seni peran, antara lain di Yayasan Artis Film Indonesia sejak tahun 1970-1980. Ia mengisi acara Bina Drama di TVRI tahun 1979 sampai dengan tahun 1990. Tahun 1995 sampai dengan 1999 ia menjadi anggota Lembaga Sensor Film (LSF). Kemudian tahun 1999-2002 ia menjadi ketua merangkap anggota lembaga tersebut.[8]

Penghargaan dan pengakuanSunting

Pada tahun 1990, Tatiek menerima Piagam Penghagaan Direktorat Televisi sebagai Penulis Skenario atas karya serial Dokter Sartika yang ditayangkan TVRI. Serial ini ditayangkan tahun 1989-1990. Di tahun yang sama, ia menerima Penghargaan Perfilman Suryo Sumanto dari Dewan Film Nasional,[1] atas jasa-jasa yang dapat dijadikan suri teladan dalam pembinaan, pembangunan dan pengembangan perfiman Indonesia.[8]

Pada tahun 1992, ia menerima Piagam Penghargaan Menteri Penerangan selaku Ketua Dewan Film Nasional serta sebagai ketua merangkap anggota dewan juri Festival Film Indonesia 1992. Lalu tahun 1993, ia dianugerahi penghargaan Third Asean Awards Cultures, Communication and Literary Works, for Distinguished Achievements in Performing Arts. Penghargaan ini diberikan pada 9 Oktober 1993 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam.[8]

Pada tahun 1996, Tatiek menerima Piagam Hadiah Seni Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, atas prestasi yang luar biasa dalam bidang seni teater modern berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia tanggal 7 Mei 1976 No. 23 serta Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 13 Juli 1997 No. 0265/M/1977. Tiga tahun kemudian ia menerima anugerah Panasonic Awards 1999 sebagai Legenda atas karya sinetron Losmen.[8]

Pada tahun 2006, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menanugerahi Tatiek Anugerah Budaya 2006 karena dianggap membantu dalam membina, mengembangkan, dan melestarikan seni budaya di provinsi tersebut.[8]

Pada tahun 2014, Tatiek meraih Anugerah Tanda Kehormatan Kelas Satyalancana Kebudayaan dari Kementerian Kebudayan dan Pariwisata. Di tahun yang sama sebagai hadiah ulang tahun Tatiek ke-80, sejumlah anak didik Tatiek meluncurkan buku berjudul Tatiek Maliyati WS Ibu Para Aktor. Peluncuran buku dilaksanakan pada 22 November 2014, di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta. Acara ini dihadiri Rektor Institut Kesenian Jakarta Wagiono Soenarto, beberapa pengajar, dan mahasiswa, serta para alumnus yang merupakan seniman atau pekerja seni.[9]

Tahun 2017, Federasi Teater Indonesia menganugerahi Tatiek sebagai Abdi Abadi FTI 2017.[10] Setahun kemudian Tatiek dianugerahi Lifetime Achievement dari Festival Film Bandung bersama aktor dan komedian Indro Warkop.[3][11]

Pada tahun 2020, ia dianugerahi Lifetime Achievement dari Festival Film Indonesia berkat kontribusi dan dedikasinya bagi perfilman Indonesia. Penghargaan ini disampaikan oleh aktris Christine Hakim, yang dalam pengantarnya menyebut Tatiek sebagai "Ibu dan Guru dari Para Aktor dan Aktris".[2][12]

Kehidupan pribadiSunting

Tatiek menikah dengan sutradara Wahyu Sihombing. Dari pernikahannya tersebut, ia dikaruniai 4 orang anak yakni Ronggur Sihombing, Jonggi Sihombing, Danton Sihombing dan Tiur Sihombing.[1] Ronggur dan Jonggi berprofesi sebagai sutradara, sementara Danton merupakan perancang grafis yang juga menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta 2020-2023.[13]

FilmografiSunting

FilmSunting

SinetronSunting

Nominasi dan penghargaanSunting

Tahun Penghargaan Kategori Karya yang dinominasikan Hasil
2017 Festival Film Bandung Lifetime Achievement Award N/A Menang
2020 Festival Film Indonesia Penghargaan Seumur Hidup N/A Menang

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e f g "Tatiek Maliyati". Encyclopedia Jakarta Tourism. 6 Juli 2018. Diakses tanggal 17 Januari 2021. 
  2. ^ a b Awaliyah, Gumanti (6 Desember 2020). "Tatiek Maliyati Dianugerahi Penghargaan Lifetime Achievement". Republika. Diakses tanggal 17 Januari 2021. 
  3. ^ a b "Selamat Ibu Tatiek Maliyati mendapatkan penghargaan Lifetime Achievement di #PuncakFFB2017". SCTV on Facebook. 22 Oktober 2017. Diakses tanggal 17 Januari 2021. 
  4. ^ a b "Film info - Tatiek Maliyati W. S." Indonesian Film Center. Diakses tanggal 17 Januari 2021. 
  5. ^ "Tatiek Maliyati Berkiprah di Film Sepanjang Hayat". nu.or.id. 27 Maret 2014. Diakses tanggal 17 Januari 2021. 
  6. ^ Rantung, Revi C. Setiawan, Tri Susanto, ed. "Serial Legendaris "Losmen" Diangkat ke Layar Lebar". Kompas.com. 
  7. ^ "Profil Dosen - Tatiek Maliyati". profildosen.com. Diakses tanggal 17 Januari 2021. 
  8. ^ a b c d e "Tatiek Maliyati: Sineas Berbakti". nu.or.id. 29 Maret 2014. Diakses tanggal 17 Januari 2021. 
  9. ^ Yuliastuti, Dian (24 November 2014). "Ultah ke-80, Buku Tatiek Maliyati W.S. Dirilis". Tempo.co. Diakses tanggal 17 Januari 2021. 
  10. ^ Sudarwan, Ilman A. (28 Desember 2017). "FTI XII 2017 Anugrahkan Penghargaan Kepada Empat Tokoh Perempuan". Bisnis.com. Diakses tanggal 17 Januari 2021. 
  11. ^ Soejoethi, Istihanah (22 Oktober 2017). "Dapat Penghargaan di FFB 2017, Indro Warkop: Ini Bukan untuk Saya". Liputan6.com. Diakses tanggal 17 Januari 2021. 
  12. ^ "FFI 2020 Alhamdulillah Lifetime Achievement Award untuk Ibu Mertuaku Malam Anugerah Piala Citra 2020". Tia Monica family on Youtube. 5 Desember 2020. Diakses tanggal 17 Januari 2021. 
  13. ^ "Pengukuhan Anggota DKJ Periode 2020-2023". Dewan Kesenian Jakarta. Diakses tanggal 17 Januari 2021. 

Pranala luarSunting