Buka menu utama

Tagab Obang adalah seorang tokoh pejuang perlawanan rakyat terhadap kekuasaan Belanda dalam Perang Banjar di daerah Margasari (Kabupaten Tapin) Kalimantan Selatan.

Pada saat itu sedang memuncaknya perlawanan rakyat Banjar. Seluruh wilayah Kesultanan Banjar bergolak melawan Belanda. Belanda kemudian mengeluarkan pengumuman penghapusan Kesultanan Banjar tertanggal 11 Juni 1860 yang ditanda tangani oleh Residen Surakarta Frederik Nicolaas Nieuwenhuijzen yang merangkap Komisaris Pemerintahan Belanda untuk Afdeling Selatan dan Timur Borneo. Sejak itu Belanda seolah-olah menyelesaikan persoalan dalam negerinya sendiri bukan berhadapan dengan suatu bangsa yang berperang mengembalikan kemerdekaan bangsanya. Sejak itu Belanda mulai mengatur aparat pemerintahannya di daerah-daerah Kesultanan Banjar.

Daerah-daerah yang telah dikuasai Belanda ditetapkan Kepala-Kepala Distrik baru. Salah satu distrik yang baru dikuasai itu adalah di distrik Margasari. Kepala Distrik Margasari waktu itu ialah Kiai Jaya Di Pura. Kiai (wedana) ini banyak membantu perjuangan rakyat dengan cara membantu bahan makanan dan juga informasi tentang aktivitas serdadu Belanda.

Akhirnya sikap Kiai Jaya Di Pura yang pro perjuangan rakyat ini diketahui Belanda sehingga dia diganti sebagai Kiai (wedana) dengan Kiai baru yang mempunyai loyalitas tinggi terhadap Belanda. Pada tanggal 14 Desember 1861 dilakukan timbang terima jabatan Kiai Margasari dengan Kiai (wedana) baru Kiai Sri Kedaton. Pada tanggal 14 Desember 1861 Controleur Fuijck datang ke daerah Margasari dikawal 5 orang serdadu. Pada malam hari tanggal 16 Desember 1861, Controleur Fuijck dan pengawalnya dibunuh dan rumahnya dibakar.

Mendengar berita yang menyedihkan ini Residen Gustave Marie Verspijck mengirim Letnan Croes dengan 20 orang serdadu ke daerah Margasari. Letnan Croes mengejar pembunuh dengan menggunakan 5 buah jukung (perahu) ke Sungai Jaya anak Sungai Negara. Mereka berangkat pukul 11.00 siang. Para pejuang dibawah pimpinan Tagab Obang sudah menunggu di sungai sempit itu. Letnan Croes disergap para pejuang dengan cara tiba-tiba dan terjadilah pergumulan di dalam perahu dan di sekitar sungai sempit itu. Tiga jam kemudian perahu itu kembali dengan membawa mayat Letnan Croes dan 14 orang serdadunya yang telah menjadi mayat, 8 orang di antaranya orang Eropa. Letnan Croes terkulai tangannya kena parang bungkul dan kemudian ditombak dengan serapang (trisula). Berita duka ini disampaikan kepada Residen Gustave Verspijck yang sedang bergembira karena kemenangannya menghancurkan perjuangan rakyat Banjar yang ketika itu berada di rumah Asisten Residen di Martapura. Residen Verspijck segera kembali ke Banjarmasin dan memerintahkan kapal perang Boni dan Celebes mengejar para pembunuh tersebut.

RujukanSunting

  • M. Gazali Usman, Kerajaan Banjar: Sejarah Perkembangan Politik, Ekonomi, Perdagangan dan Agama Islam, Banjarmasin: Lambung Mangkurat Press, 1994.