Sumpit

Alat makan dari Asia Timur

Sumpit atau sepit (Hanzi: 筷子 kuàizi) adalah alat makan yang berasal dari Asia Timur, berbentuk dua batang kayu sama panjang yang dipegang di antara jari-jari salah satu tangan. Sumpit digunakan untuk menjepit dan memindahkan makanan dari wadah, dari piring satu ke piring lain atau memasukkan makanan ke dalam mulut. Sumpit bisa dibuat dari bahan seperti bambu, logam, gading, dan plastik yang permukaannya sudah dihaluskan atau dilapisi dengan bahan pelapis seperti pernis atau cat supaya tidak melukai mulut dan terlihat bagus.

Sumpit di atas sandaran sumpit

Dalam bahasa Mandarin umumnya digunakan adalah kuàizi (Tiongkok: 筷子). Huruf pertama (筷) kuài memiliki bunyi yang sama dengan 'cepat' (快), dan kemudian ditambahkan tulisan 'bambu' (竹).

Dalam Tiongkok kuno digunakan karakter zhu (箸), sudah sangat lama karakter ini digunakan, sampai akhirnya digantikan oleh pengucapan kuài (快) yang berarti cepat. Huruf ini kadang kala masih digunakan dalam penulisan.

Sumpit digunakan di banyak negara di seluruh dunia untuk menikmati makanan khas Asia Timur. Di beberapa negara Asia Tenggara, sumpit merupakan alat makan utama yang sama halnya seperti sendok dan garpu. Di Indonesia, pilihan sendok-garpu atau sumpit disediakan di rumah makan yang menyediakan masakan Tionghoa, masakan Korea, masakan Jepang, masakan Vietnam, masakan Thailand hingga penjual bakso atau pangsit di pinggir jalan.

Ciri khas

sunting
 
Sumpit logam dari Korea

Kualitas bahan dan bentuk sumpit bisa bermacam-macam, tetapi sumpit umumnya terdiri dari sepasang tongkat pendek dan lurus yang mempunyai panjang yang sama. Di bagian pangkal sumpit kadang-kadang diberi hiasan dengan motif dekorasi atau gambar yang menarik agar pasangan sumpit tidak saling tertukar. Hiasan pada pangkal sumpit juga berfungsi sebagai pembeda bagian pangkal dengan bagian ujung sumpit. Bagian ujung sumpit digunakan untuk menjepit makanan sewaktu jari-jari tangan memegang bagian pangkal sumpit.

Sumpit di berbagai negara

sunting
 
Sumpit dari plastik dan sumpit sekali pakai waribashi

Panjang sumpit berbeda-beda bergantung pada negara asal sumpit. Sumpit dari Tiongkok biasanya lebih panjang dari sumpit Korea atau Jepang, dengan diameter bagian pangkal dan bagian ujung yang hampir sama. Bagian ujung sumpit tidak dibuat runcing agar tidak digunakan untuk menusuk makanan. Batang sumpit dari Tiongkok lebih berbentuk segi empat panjang supaya tidak mudah tergelincir dari meja. Plastik merupakan bahan pembuat sumpit yang populer di Tiongkok.

Sumpit Korea umumnya terbuat dari bahan logam dan lebih ceper dibandingkan sumpit dari Jepang dan Tiongkok. Sumpit dari Jepang sebagian besar terbuat dari kayu, lebih pendek dibandingan sumpit dari Korea atau Tiongkok dan mempunyai ujung sumpit yang langsing. Bagian ujung yang sangat langsing pada sumpit Jepang dimaksudkan untuk mengangkat tulang dari daging sewaktu orang Jepang makan ikan. Bagian ujung sumpit adakalanya dibuat berulir agar makanan yang dijepit tidak jatuh.

Bambu dan kayu merupakan bahan pembuat sumpit sekali pakai yang banyak disediakan di restoran termasuk restoran-restoran di Indonesia. Waribashi (割箸, sumpit belah) adalah sebutan untuk sumpit sekali pakai asal Jepang berbentuk sepotong kayu ringan yang diberi belahan di tengahnya tetapi tidak dibelah sampai putus. Pemakai bisa membelah sendiri waribashi menjadi sepasang sumpit yang siap digunakan. Waribashi biasanya disediakan di restoran Jepang atau disisipkan sewaktu membeli paket makanan yang disebut bentō.

Di beberapa negara Asia Timur, sumpit yang panjangnya sekitar satu setengah kali sumpit untuk makan dipakai untuk memasak di dapur. Sumpit dapur digunakan untuk pekerjaan menumis dan menggoreng di dalam minyak yang banyak. Tempura digoreng dengan menggunakan sumpit dapur tebal dari bahan kayu atau bahan logam.

Sejarah

sunting

Sumpit pertama ditemukan di Cina sebelum Dinasti Shang (1766–1122 SM) dan paling mungkin adalah periode awal pembentukan Dinasti Xia atau sekitar 9000 tahun yang lalu. Penemuan pertama adalah berupa enam pasang sumpit yang terbuat dari perunggu, sepanjang 26 cm dan lebar 1,1 sampai 1,3 cm, digali dari Reruntuhan Yin, di daerah Henan dan perkiraan berasal dari tahun 1200 SM; sumpit ini diduga digunakan sebagai alat masak. Catatan pertama yang menyatakan bahwa sumpit pertama kali digunakan untuk makan adalah dalam Han Feizi, sebuah teks yang dibuat oleh Han Fei (280–233 SM).

Sumpit pertama kali mungkin digunakan untuk memasak, mengatur api, atau menyajikan sajian dalam bentuk sekali lahap, dan bukan sebagai peralatan makan. Sumpit digunakan sebagai perlengkapan makan pada masa Dinasti Han.

Di dalam masyarakat Tionghoa, makan bersama dianggap sebagai sarana mempererat tali persaudaraan dan kesempatan berkumpul dengan sanak keluarga dan teman-teman, sehingga penggunaan alat makan yang tajam harus dihindari.

Pada zaman dulu, gading gajah sering digunakan untuk membuat sumpit mahal di Tiongkok. Pengguna sumpit dari gading gajah adalah kalangan pejabat tinggi dan orang berada. Sumpit dari perak pernah digunakan istana kaisar di Tiongkok untuk mendeteksi racun yang mungkin dibubuhkan pada makanan. Sumpit akan berubah warna akibat reaksi kimia jika makanan telah diberi racun.

Pada abad ke-6 atau abad ke-8 Masehi, sumpit sudah merupakan alat makan yang umum bagi suku Uigur yang tinggal wilayah stepa Mongolia[1]

Di Thailand, sumpit hanya digunakan untuk makan mi dan sup setelah Raja Rama V memperkenalkan alat makan dari Barat pada abad ke-19.

Cara memegang sumpit

sunting
 
Seorang wanita sedang makan dengan menggunakan sumpit

Sumpit bisa dipegang dengan tangan kiri atau tangan kanan tergantung pada kebiasaan orang.

  1. Batang sumpit pertama dipegang seperti memegang pensil yang dijepit di antara ibu jari, telunjuk, dan jari tengah.
  2. Batang sumpit kedua diletakkan di antara jari tengah dan jari manis.
  3. Pastikan kedua batang sumpit dalam keadaan sejajar.
  4. Posisi kedua batang sumpit bisa dianggap benar jika bisa batang sumpit pertama bisa melakukan gerakan ke atas dan ke bawah secara berulang-ulang, sementara batang sumpit kedua dalam keadaan diam.

Di sebagian besar negara-negara Asia Timur, sumpit juga bukan satu-satunya alat makan yang ada di atas meja. Di Tiongkok dan Korea misalnya, sumpit digunakan bersama-sama dengan sendok dan sendok bebek. Dalam menikmati masakan Jepang, orang Jepang biasanya hanya memerlukan sumpit sebagai satu-satunya alat makan, walaupun sendok dan alat makan lainnya juga digunakan sesuai dengan makanan yang dihidangkan.

Etiket

sunting

Secara garis besar etiket penggunaan sumpit berlaku di semua negara walaupun ada perbedaan di sana-sini bergantung pada negara dan daerahnya.

  • Sumpit biasanya tidak ikut diayun-ayunkan bersama gerakan tangan ketika sedang berbicara, dipukul-pukulkan ke meja atau digunakan untuk mendorong piring dan mangkuk.
  • Sumpit biasanya tidak dipakai untuk memilih-milih apalagi mengacak-acak makanan di piring lauk, dan makanan dilarang dikembalikan lagi kalau sudah diambil.
  • Sumpit biasanya tidak digunakan untuk menusuk makanan seperti ketika menggunakan garpu, walaupun boleh saja digunakan untuk membelah sayur-sayuran atau kimchi yang masih berukuran besar.
  • Sumpit biasanya tidak diletakkan begitu saja di atas meja, melainkan di atas serbet, di atas sandaran sumpit atau di atas mangkuk.
  • Di Tiongkok dan Jepang, sumpit dipegang di bagian tengah dan digunakan secara terbalik (bagian pangkal sumpit dijadikan bagian ujung sumpit) sewaktu memindahkan makanan dari piring makanan ke mangkuk nasi tetapi bukan ke mulut. Di Korea cara memindahkan makanan dengan bagian pangkal sumpit justru dianggap tidak higienis.
  • Mangkuk nasi boleh-boleh saja diangkat sampai ke depan mulut, tetapi di Korea mangkuk nasi harus tetap berada di atas meja.
  • Sumpit dianggap tabu untuk ditusukkan berdiri di dalam mangkuk berisi nasi karena menyerupai hio yang dinyalakan untuk mendoakan arwah orang yang meninggal.

Berbagai perbedaan tentang etiket penggunaan sumpit di berbagai negara bisa dilihat di wikipedia bahasa Inggris.

Referensi

sunting
  • Abe Masamichi, Hashi no hanashi: hashi to shoku no bunka-shi, Horupu shuppan, Juli 1993, ISBN 4-593-53426-7
  • Isshiki Hachirō, Hashi, Kara bukksu, Hoikusha, November 1991, ISBN 4-586-50816-7
  • Isshiki Hachirō, Hashi no bunka-shi: sekai no hashi, nihon no hashi, Ocha no mizu shobō, Desember 1990, ISBN 4-275-01406-5, edisi revisi: Januari 1993, ISBN 4-275-01491-X, cetakan baru: Agustus 1998, ISBN 4-275-01731-5
  • Isshiki Hachirō, Nihonjin wa naze hashi o tsukau ka, Ōtsuki shoten, November 1987, ISBN 4-272-60026-5
  • Egashira Masae, Hashi no hanashi, JDC, Desember 1987, ISBN 4-272-60026-5
  • Kogura Akiko (ed.), Hashizukai ni jushin ga tsuku hon: utsukushii hashi sahō wa wa no kokoro, Riyon sha, Januari 2006, ISBN 4-576-05221-7
  • Takahashi Ryūta, Kyūkyoku no ohashi, Sanseidō, Desember 2003, ISBN 4-385-36192-4
  • Mukai Yukiko, Hashimoto Keiko, Hashi mono to ningen no bunka-shi, Hōsei daigaku shuppan kyoku, November 2001,ISBN 4-588-21021-1

Pranala luar

sunting