Stasiun Merakurak (MKR) adalah stasiun kereta api nonaktif yang terletak di Sambonggede, Merakurak, Tuban. Stasiun ini dahulu merupakan stasiun paling ujung (terminus) serta paling utara dari jalur kereta api Merakurak–Babat, serta merupakan stasiun kereta api paling utara di Kabupaten Tuban. Stasiun ini kini termasuk dalam Wilayah Aset VIII Surabaya.

Stasiun Merakurak
  • Singkatan: MKR
  • Nomor: 4301
Stasiun Merakurak, 2019.jpeg
Stasiun Merakurak
AlamatJalan Pemuda
Sambonggede, Merakurak, Tuban
Jawa Timur 62355
Koordinat6°52′48″S 111°59′09″E / 6.880045°S 111.985786°E / -6.880045; 111.985786Koordinat: 6°52′48″S 111°59′09″E / 6.880045°S 111.985786°E / -6.880045; 111.985786
Letakkm ? lintas BabatTubanMerakurak[1]
OperatorNederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij, Eksploitasi Jawa Timur
Sejarah
Dibuka1 Agustus 1920
Ditutup1 November 1935
Nama sebelumnyaMerak-Oerak
Layanan
-
SARS-CoV-2 illustration (10).jpgPeringatan COVID-19: Tidak semua kereta api yang disebutkan di sini dijalankan pada masa-masa normal baru. Calon penumpang dimohon memeriksa daftar kereta api yang dijalankan di KAI Access atau kanal eksternal lain sebelum keberangkatan. Calon penumpang diharapkan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku saat menggunakan kereta api. Untuk informasi lebih lanjut, lihat Pandemi COVID-19 di Indonesia#Perkeretaapian.
Tampak samping jembatan kereta api di sebelah timur Stasiun Merakurak.

Stasiun ini dulunya dilengkapi dengan rumah persinyalan, dan rumah dinas. Namun, untuk rumah persinyalannya kini sudah tinggal puing reruntuhannya saja. Sedangkan untuk rumah dinasnya masih berdiri kokoh. Selain itu, di sebelah timur stasiun juga masih terdapat bekas jembatan kereta api yang kini dimanfaatkan warga untuk menyeberangi sungai.

SejarahSunting

Stasiun ini diresmikan penggunaannya oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) bersamaan dengan selesainya jalur kereta api Merakurak–Babat pada tanggal 1 Agustus 1920.[2][3][4] Stasiun ini unik, karena menjadi bagian dari jalur kereta api yang belum selesai dikerjakan. Dahulu NIS pernah membuat masterplan untuk membangun jalur kereta api dari Babat menuju Tuban dan berakhir di Jenu. Namun, realitanya NIS hanya mampu membangunnya sampai Merakurak saja.

Segmen Merakurak–Tuban digadang-gadang sebagai segmen termuda diantara segmen lainnya di Jalur kereta api Merakurak–Babat. Segmen ini hanya mampu bertahan 15 tahun saja sejak resmi dibuka. Selanjutnya, per 1 November 1935 segmen ini telah resmi dinonaktifkan. NIS menganggap bahwa Segmen Merakurak–Tuban ini tidak pernah menghasilkan keuntungan.[5][6] Meskipun demikian, NIS masih menaruh harapan untuk dapat membuka dan mengoperasikan segmen ini lagi di kemudian hari.[7]

Bangunan Stasiun Merakurak yang ada saat ini bukanlah bangunan aslinya, karena telah dirombak dan pernah dipergunakan sebagai Koramil 0811/04 Merakurak. Semenjak Koramil tersebut pindah, bekas bangunannya menjadi kosong. Kini aset stasiun sepenuhnya dikuasai oleh PT Kereta Api Indonesia.

ReaktivasiSunting

Berdasarkan Perpres No. 80 Tahun 2019, Jalur kereta api Merakurak–Babat rencananya akan diaktifkan kembali guna mendukung pemerataan dan percepatan pembangunan di sekitar wilayah Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan).[8] Selain itu, rencana reaktivasi jalur ini juga tercantum dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional tahun 2018.[9]

GaleriSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  2. ^ Reitsma, S. A. (1920). Indische spoorweg-politiek. Landsdrukkerij. 
  3. ^ Teeuwen, Dirk. "Trains in Dutch East-Indies[1], a fascination.pdf" (PDF). www.indonesia-dutchcolonialheritage.nl. Diakses tanggal 2018-09-03. 
  4. ^ Arsip Nasional RI (1977). Memori Serah Jabatan, 1921-1930: Jawa Tengah. Jakarta: Arsip Nasional RI. hlm. 85. 
  5. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :3 Desember 1935
  6. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama :26 Mei 1936
  7. ^ "Wijzigingen der Spoor- en Tramwegen in Nederlandsch-Indie tijdens het bestaan van Spoor- en Tramwegen". Spoor- en Tramwegen. Den Haag: Moorman' Periodieke Pers N.V. 18 Desember 1939. Diakses tanggal 5 April 2020. 
  8. ^ Lampiran Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 80 Tahun 2019 Tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gresik – Bangkalan – Mojokerto, Surabaya – Sidoarjo – Lamongan, Kawasan Bromo - Tengger - Semeru, Serta Kawasan Selingkar Wilis dan Lintas Selatan
  9. ^ Rencana Induk Perkeretaapian Nasional 2018 (PDF). Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan. 2018. 
Stasiun sebelumnya     Lintas Kereta Api Indonesia   Stasiun berikutnya
Terminus Merakurak–Babat
Mondokan
menuju Babat