Stasiun Babat

stasiun kereta api di Indonesia

Stasiun Babat (BBT) adalah stasiun kereta api kelas I yang terletak di Babat, Babat, Lamongan. Stasiun yang terletak pada ketinggian +7 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi VIII Surabaya dan merupakan stasiun KA yang lokasinya paling barat di Kabupaten Lamongan. Walaupun bangunan stasiun ini lebih besar daripada Stasiun Lamongan, kereta api yang melintas lebih banyak yang berhenti di Lamongan.

Stasiun Babat

LiveryPapanStasiun 2020.svg

PapanNamaStasiun BBT.png
  • Singkatan: BBT
  • Nomor: 4407
Stasiun Babat 2020.jpg
Tampak depan Stasiun Babat, 2020
LokasiJalan Stasiun Babat
Babat, Babat, Lamongan, Jawa Timur 62271
Indonesia
Koordinat7°06′22″S 112°10′08″E / 7.106112°S 112.168761°E / -7.106112; 112.168761Koordinat: 7°06′22″S 112°10′08″E / 7.106112°S 112.168761°E / -7.106112; 112.168761
Ketinggian+7 m
OperatorDaerah Operasi VIII Surabaya
Letak dari pangkal
Jumlah peron4 (satu peron sisi yang rendah dan tiga peron pulau yang tinggi)
Jumlah jalur7 (jalur 3 dan 4: sepur lurus)
Informasi lain
KlasifikasiI[2]
Operasi layanan
Stasiun sebelumnya Layanan lokal/komuter Stasiun berikutnya
Bowerno
ke arah Bojonegoro
Ekonomi Lokal Bojonegoro
Bojonegoro–Surabaya Pasarturi–Sidoarjo, p.p.
Pucuk
ke arah Sidoarjo
Layanan
Jayabaya, Harina, Gumarang, Dharmawangsa, Sancaka Utara, Kertajaya (reguler & tambahan), Maharani, Ambarawa Ekspres, Ekonomi Lokal Bojonegoro, dan Parcel ONS (over-night service)
Fasilitas dan teknis
Tipe persinyalan
Pemesanan tiketSistem tiket daring, melayani pemesanan langsung di loket. Terdapat fasilitas ala bandara berupa check-in mandiri untuk pencetakan boarding pass khusus keberangkatan KA jarak jauh/menengah.
Lokasi pada peta
Stasiun Babat berlokasi di Indonesia
Stasiun Babat
Stasiun Babat
Lokasi di Indonesia

Kereta api penumpang yang melintas langsung/tidak berhenti di stasiun ini adalah KA Argo Bromo Anggrek dan Sembrani.

SejarahSunting

Generasi pertamaSunting

Pada tanggal 1 September 1897, Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) mendapat konsesi izin pembangunan jalur kereta api baru. Jalur ini akan menghubungan Stasiun Gundih yang sudah ada sebelumnya dengan calon stasiun baru NIS di Surabaya (kini Stasiun Pasarturi).[3] Dengan berbekal konsesi tersebut, NIS mulai membangun jalurnya dengan sepur sempit 1.067 mm. Mengingat terbatasnya dana dan biaya, semua stasiun dan perhentian yang terletak di lintas tersebut sangat sederhana dan terbuat dari kayu, termasuk Stasiun Babat. Stasiun ini diresmikan berbarengan dengan peresmian lintas Babat–Lamongan pada tanggal 15 Agustus 1900 dan pada 1 Februari 1903, jalur kereta api Gundih–Surabaya telah selesai dibangun.[4][5]

Pada Senin, 12 Januari 1914, koran Algemeen Handelsblad memberitakan bahwa Stasiun Babat generasi pertama akan dirombak guna mendukung kelancaran angkutan barang dan persiapan pembangunan jalur cabang ke Merakurak.[6]

Generasi keduaSunting

Bangunan Stasiun Babat generasi pertama kemudian diperbesar dengan mengganti kanopi kecil dengan kanopi pelana—serupa kanopi di Stasiun Lempuyangan, Stasiun Bojonegoro, dan Stasiun Surabaya Pasarturi—serta mengubah bangunan yang sebelumnya semipermanen menjadi permanen.

Kemungkinan, bangunan stasiun generasi kedua ini mulai dipergunakan pada kisaran tahun 1920-an. Adapun buktinya, yaitu memiliki fisik yang cenderung serupa dengan stasiun-stasiun NIS lainnya yang juga diresmikan pada dekade tahun 1920-an, seperti Stasiun Tuban dan Stasiun Wonogiri. Stasiun-stasiun tersebut memiliki kemiripan di struktur atapnya, bangunan utama, dan adanya kanopi yang menaungi teras depan dan peron sisi.

Hingga kini, bangunan Stasiun Babat generasi kedua ini masih tetap dipertahankan.

Bangunan dan tata letakSunting

 
Sisi barat halaman depan Stasiun Babat, 2019
 
Kereta api Ambarawa Ekspres saat meninggalkan Stasiun Babat, 2020. Terdapat peron baru di antara jalur 4 dan 5 dari kejauhan.

Awalnya, stasiun ini menggunakan sistem persinyalan mekanik dan memiliki enam jalur kereta api dengan jalur 3 merupakan sepur lurus ditambah dua sepur badug yang mengarah ke gudang di sebelah barat stasiun, satu sepur badug masing-masing di sisi timur laut dan barat daya stasiun, serta satu sepur badug yang terdapat di antara jalur 3 dan 4 eksisting. Setelah jalur ganda pada segmen mulai stasiun ini hingga Stasiun Bojonegoro resmi dioperasikan pada pertengahan April 2014[7] dan kemudian hingga Stasiun Kandangan pada awal Mei 2014[8], jumlah jalurnya bertambah menjadi tujuh. Sepur badug di area tengah tersebut diubah menjadi jalur 4 yang baru sebagai sepur lurus untuk arah Surabaya, jalur 3 dijadikan sebagai sepur lurus untuk arah Semarang saja. Selain itu, sistem persinyalannya telah diganti dengan sistem persinyalan elektrik.

Sejak November 2019, terdapat peron pulau baru yang terletak di antara jalur 4 dan 5 yang baru serta peron pulau yang terletak di antara jalur 2 dan 3 sudah dipanjangkan, sehingga jumlah peron di stasiun ini kini berjumlah empat buah: satu peron sisi dan tiga peron pulau. Stasiun ini juga memiliki dipo lokomotif dan pemutar rel, tetapi sudah lama tidak dipakai lagi.

Dahulu di sebelah barat stasiun ini terdapat jalur cabang yang akan berakhir di Tuban (dari jalur 1) dan Jombang (dari jalur 5), tetapi kedua jalur cabang tersebut sudah dinonaktifkan. Berdasarkan Perpres No. 80 Tahun 2019, jalur menuju Tuban hingga Merakurak ini direncanakan akan kembali diaktifkan supaya mendukung pemerataan dan percepatan pembangunan di sekitar wilayah Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan).[9] Selain itu, rencana reaktivasi jalur ini juga tercantum dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional tahun 2018.[10]

Layanan kereta apiSunting

PenumpangSunting

Kelas campuranSunting

Kelas ekonomi premiumSunting

Kelas ekonomi plusSunting

Ambarawa Ekspres, tujuan Semarang dan tujuan Surabaya

Lokal/komuter ekonomiSunting

Ekonomi Lokal Bojonegoro, tujuan Bojonegoro dan tujuan Surabaya bersambung Sidoarjo

BarangSunting

Parcel ONS (over-night service), tujuan Jakarta dan tujuan Surabaya

Papasan dan persusulanSunting

KA Dharmawangsa tujuan Surabaya (KA 136) berpapasan dengan KA Sembrani tujuan Jakarta (KA 81) yang melintas langsung.

Jadwal kereta apiSunting

Berikut ini adalah jadwal kereta api penumpang yang berhenti di Stasiun Babat per 1 April 2020 (revisi Gapeka 2019).

  • KA reguler
No. KA KA Tujuan Kelas Tiba Berangkat
256A Kertajaya Surabaya Pasarturi (SBI) Ekonomi Premium 00.17 00.20
134 Gumarang Eksekutif & Bisnis 01.49 01.52
114/115 Jayabaya Surabaya Pasarturi (SBI) bersambung Malang Kotabaru (ML) Eksekutif & Ekonomi Plus 02.57 03.00
265 Maharani Semarang Poncol (SMC) Ekonomi Premium 07.02 07.05
165/168/169 Sancaka Utara Gambringan (GBN) bersambung Solo Balapan (SLO)-Kutoarjo (KTA) Eksekutif & Bisnis 08.04 08.07
131/130 Harina Surabaya Pasarturi (SBI) Eksekutif & Ekonomi Premium 08.31 08.34
268 Ambarawa Ekspres Ekonomi Plus 11.23 11.26
476/477 Ekonomi Lokal Bojonegoro Bojonegoro (BJ) Lokal Ekonomi 12.18 12.20
267 Ambarawa Ekspres Semarang Poncol (SMC) Ekonomi Plus 14.16 14.19
478/479 Ekonomi Lokal Bojonegoro Surabaya Pasarturi (SBI) bersambung Sidoarjo (SDA) Lokal Ekonomi 14.27 14.29
266 Maharani Surabaya Pasarturi (SBI) Ekonomi Premium 15.17 15.20
116/113 Jayabaya Jakarta Pasar Senen (PSE) Eksekutif & Ekonomi Plus 15.31 15.34
133 Gumarang Eksekutif & Bisnis 16.35 16.38
129/132 Harina Cikampek (CKP) bersambung Bandung Hall (BD) Eksekutif & Ekonomi Premium 17.51 17.54
136 Dharmawangsa Surabaya Pasarturi (SBI) Eksekutif & Ekonomi 18.26 18.29
255A Kertajaya Jakarta Pasar Senen (PSE) Ekonomi Premium 22.07 22.10
170/167/166 Sancaka Utara Surabaya Pasarturi (SBI) Eksekutif & Bisnis 23.27 23.30
135 Dharmawangsa Jakarta Pasar Senen (PSE) Eksekutif & Ekonomi 23.36 23.39
  • KA tambahan (beroperasi pada masa lebaran dan natal-tahun baru; terkadang juga pada hari libur nasional atau akhir pekan tertentu)
No. KA KA Tujuan Kelas Tiba Berangkat
7014 Kertajaya Tambahan Surabaya Pasarturi (SBI) Bisnis & Ekonomi Plus 16.04 16.07
7013 Jakarta Pasar Senen (PSE) 22.50 22.53

GaleriSunting

ReferensiSunting

  1. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  2. ^ Data Stasiun Kereta Api (2017), Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.
  3. ^ Handinoto. (1996). Perkembangan kota dan arsitektur kolonial Belanda di Surabaya, 1870-1940 (edisi ke-Ed. 1., cet. 1). Yogyakarta: Diterbitkan atas kerjasama Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Kristen PETRA Surabaya dan Penerbit ANDI Yogyakarta. ISBN 9795333739. OCLC 38898570. 
  4. ^ Archiv Für Eisenbahnwesen. 58. 1935. 
  5. ^ Reitsma, Steven Anne (1928). Korte Geschiesdenis der Nederlandsch-Indische Spoor en Tramwegen. Weltevreden: G. KOLFF & Co. hlm. 119. 
  6. ^ "Uit Tjepoe schrijft men aan het N. v. d. D. v. N.-I-:". Algemeen Handelsblad. 12-01-1914. hlm. 10. 
  7. ^ Aziz, Abd (2014-04-22). "Rel jalur ganda Surabaya-Bojonegoro tersambung 55 km". Antara News. Diakses tanggal 2020-04-18. 
  8. ^ "Rel Ganda Tersambung, Bulan Depan Kereta Ditambah". Tempo.co. 2014-05-09. Diakses tanggal 2020-04-19. 
  9. ^ Lampiran Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 80 Tahun 2019 Tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gresik – Bangkalan – Mojokerto, Surabaya – Sidoarjo – Lamongan, Kawasan Bromo - Tengger - Semeru, Serta Kawasan Selingkar Wilis dan Lintas Selatan
  10. ^ Rencana Induk Perkeretaapian Nasional 2018 (PDF). Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan. 2018. 

Pranala luarSunting

(Indonesia) Situs resmi KAI dan jadwal kereta api tahun 2019

Stasiun sebelumnya   Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Bowerno
ke arah Gambringan
Gambringan–Surabaya Pasarturi Gembong
Tangkir
ke arah Merakurak
Merakurak–Babat Terminus
Terminus Babat–Jombang Nguwok
ke arah Jombang