Stasiun Majalaya (MJA) adalah stasiun kereta api nonaktif kelas III/kecil yang berada di Majalaya, Majalaya, Bandung. Stasiun ini termasuk dalam Wilayah Aset II Bandung.

Stasiun Majalaya
  • Singkatan: MJA
  • Nomor: -
AlamatMajalaya, Majalaya, Bandung
Jawa Barat
Letakkm 29+222 lintas Bandung-Cikudapateuh-Dayeuhkolot-Majalaya[1]
OperatorDaerah Operasi II Bandung
Informasi lain
Kelas stasiunIII/kecil[2]
Sejarah
Dibuka3 Maret 1922
Ditutup1942
Layanan
-
SARS-CoV-2 illustration (10).jpgPeringatan COVID-19: Tidak semua kereta api yang disebutkan di sini dijalankan pada masa-masa normal baru. Calon penumpang dimohon memeriksa daftar kereta api yang dijalankan di KAI Access atau kanal eksternal lain sebelum keberangkatan. Calon penumpang diharapkan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku saat menggunakan kereta api. Untuk informasi lebih lanjut, lihat Pandemi COVID-19 di Indonesia#Perkeretaapian.

Kini bangunan stasiun berubah menjadi kios, sedangkan emplasemennya kini menjadi Pasar Majalaya.

SejarahSunting

Asal usul stasiun ini berawal dari keinginan Belanda mengincar produk-produk perkebunan dari wilayah Bandung Selatan, sehingga dibutuhkan suatu transportasi terpadu yang lebih murah dan cepat. Pengangkutan dengan pedati sudah tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan karena membutuhkan biaya yang besar.[3][4]

Oleh karena itu, dibangunlah jalur dari Bandung menuju Ciwidey dan dibuat pula percabangannya menuju Majalaya. Jalur menuju Majalaya dibuka pada tanggal 3 Maret 1922.[5] Jalur yang menuju Majalaya ini dinonaktifkan karena dibongkar oleh pekerja romusa Jepang pada tahun 1942.[6]

Rencana jalur Shortcut Cicalengka–MajalayaSunting

Asal-usul proyek pembangunan shortcut atau jalur pintas Majalaya–Cicalengka ini sangat kurang jelas. Meski begitu, Iman Subarkah menyatakan dalam bukunya yang berjudul Sekilas 125 Tahun Kereta Api Kita bahwasannya pembangunan lintas ini dimaksudkan untuk menghubungkan Stasiun Majalaya yang berada di lintas Dayeuhkolot–Majalaya dengan Stasiun Cicalengka yang berada di lintas Padalarang–Kasugihan. Dengan begitu, maka daerah Bandung Selatan akan terkoneksi dengan daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur melalui kereta api. Bahkan, ketika itu beliaulah yang diberi tugas untuk mengawasi pelaksanaan pembangunan jalur shortcut ini.[7]

Awalnya tahun 1942, Jepang sempat memiliki konsep akan adanya jalur shortcut yang menghubungkan Cicalengka dengan Majalaya tanpa harus memutar jauh melalui Bandung dan Dayeuhkolot. Akan tetapi, Jepang tidak kunjung merealisasikan niat tersebut. Hingga Juni 1945, Jepang mengerahkan ribuan tahanan perangnya yang berasal dari kamp di daerah Cimahi ke Majalaya dengan menggunakan kereta api. Seluruh tahanan tersebut terdiri atas anak laki-laki dan pria dewasa yang sebagian besar berasal dari Negeri Kincir Angin. Pengerahan tahanan perang ini tak lain dan tak bukan ditujukan untuk membangun jalur pintas kereta api Cicalengka–Majalaya. Pembangunan jalur pintas ini awalnya dimulai dari Majalaya. Selang beberapa minggu kemudian, Jepang mengerahkan tahanan perang lagi di Cicalengka. Disana, mereka mulai membangun tanggul-tanggul di area persawahan untuk dijadikan railbed.[8]

Selama pekerjaan berlangsung, banyak tahanan perang meninggal karena dipaksa bekerja keras, belum lagi dengan panasnya terik matahari dan krisis air bersih yang disebabkan oleh kemarau panjang, gizi buruk, hingga mewabahnya beragam penyakit dikalangan para pekerja yang semakin memperkeruh keadaan.[8][9]

Per 15 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada sekutu. Ketika itu, railbed sudah siap namun belum dipasang rel kereta api diatasnya. Praktis saja sejak menyerahnya Jepang kepada sekutu, proyek tersebut dihentikan. Lalu pada 19 Agustus 1945 para tahanan perang dalam proyek ini dievakuasi menuju Cimahi dan Bandung. Sejak saat itu proyek pembangunan shortcut jalur kereta api Cicalengka–Majalaya tidak pernah terselesaikan.

ReferensiSunting

  1. ^ Subdit Jalan Rel dan Jembatan (2004). Buku Jarak Antarstasiun dan Perhentian. Bandung: PT Kereta Api (Persero). 
  2. ^ Buku Informasi Direktorat Jenderal Perkeretaapian 2014 (PDF). Jakarta: Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan Indonesia. 
  3. ^ Hakim, C.L. (2018). Politik Pintu Terbuka: Undang-Undang Agraria dan Perkebunan Teh di Daerah Bandung Selatan 1870-1929. Ciamis: Vidya Mandiri. 
  4. ^ Lubis, N.H. (1998). Kehidupan kaum ménak Priangan, 1800-1942. Pusat Informasi Kebudayaan Sunda. 
  5. ^ Staatsspoorwegen (1921–1932). Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië 1921-1932. Batavia: Burgerlijke Openbare Werken. 
  6. ^ Nusantara., Tim Telaga Bakti; Indonesia., Asosiasi Perkeretaapian (1997). Sejarah perkeretaapian Indonesia (edisi ke-Cet. 1). Bandung: Angkasa. ISBN 9796651688. OCLC 38139980. 
  7. ^ Subarkah, Iman (1992). Sekilas 125 Tahun Kereta Api Kita 1867 - 1992. Bandung: Yayasan Pusat Kesejahteraan Karyawan Kereta Api. hlm. 52 dan 53. 
  8. ^ a b Bruin, Jan de (2003). Het Indische Spoor In Oorlogstijd De spoor- en tramwegmaatschappij in Nederlands-Indië in de vuurlinie 1873-1949. Uquilair B.V. hlm. 122-?. 
  9. ^ Liesker, H.A.M. "Mannenkampen, medio 1942 – 1945, Spoorweg Tjitjalenka". archief.gastdocenten.com. 
Stasiun sebelumnya   Lintas Kereta Api Indonesia Stasiun berikutnya
Cibungur (Bandung)
ke arah Dayeuhkolot
Dayeuhkolot–Majalaya Terminus

Koordinat: 7°02′52″S 107°45′34″E / 7.047709°S 107.759485°E / -7.047709; 107.759485