Buka menu utama

Sejarah Paser

Di sekitar abad ke lima, Kalimantan bagian Selatan, yang sekarang menjadi daerah Paser. Daerah ini terbagi dua bagian, Bagian Timur merupakan dataran rendah, landai hingga bergelombang memanjang dari Utara ke Selatan lebih melebar di bagian Selatan berawa-rawa dan daerah aliran sungai. Bagian Barat merupakan daerah bergelombang, berbukit-bukit dan bergunung-gunung sampai ke perbatasan provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, di daerah ini terdapat sungai yang cukup besar dan panjang.

Ditepi-tepi sungai inilah penduduk asli (pribumi) bermukim, mereka dikatakan ; masyarakat Bansu Tatau Datai Danum dengan artian Masyarakat hidup di tepi-tepi air / pantai. Mereka hidup berkelompok-kelompok, di tepi-tepi sungai yang dapat memberikan nutrisi, seperti ikan, kerang, air tawar dan lingkungan hutan yang memberikan umbi-umbian, buah-buahan juga binatang buruan hutan, cukup memberikan untuk kelangsungan hidup manusia.

Setiap kelompok dipimpin oleh seorang yang kuat dan pemberani baik fisik maupun mental. Digambarkan pada masa itu belum ada tataan aturan yang dapat untuk mengatur tata cara kehidupan dan penghidupan masyarakat. Di saat itu yang berlaku dalam hukum rimba, siapa kuat dialah yang berkuasa dan dapat berbuat sekehendak hatinya, jadi kekuasaan tertinggi terletak di tangan orang-orang kuat dan berani, sehingga segala sesuatunya tergantung di tangannya, hal ini dikenal dengan hukum rimba, sistem ini mirip dengan apa yang disebut diktator sekarang ini. Sedangkan hukum adat sebagai penangkal mencegah kesewenang-wenangan, kelaliman masa itu belum dikenal.

Kekuasaan seperti ini, semakin hari bertambah kurang karena mereka mulai menyadari, di luar dirinya masih ada kekuasaan yang lebih besar dari mereka, yaitu kekuasaan Dewa. Kepercayaan ini semakin meresap dalam kehidupan mereka, karena mereak beranggapan bahwa dewa-dewa dan roh-roh halus menenpati di setiap pepohonan kayu-batu besar,sehingga tempat-tempat itu dijadikan tempat-tempat pemujaan untuk meminta berkah, keselamatan, rezeki dan lain-lain.

Daftar isi

Religi dan pengetahuanSunting

Jauh sebelum mengenal agama, di daerah Paser ini, masyarakat Paser mengenal kepercayaan animisme supernatural, syamanisme dan sebagainya, mereka terikat dengan makhluk-makhluk halus, roh-roh halus, kekutan-kekuatan gaib dan kekuatan-kekuatan sakti. Di daerah Paser, dikenal dengan ilmu gaib, sebagai bentuk kepercayaan “Kuno” yang mempercayai adanya kekuatan maha dasyat terdapat di alam semesta. Desa yang diartikan sebagai penguasa tertinggi dalam kekuasaannya menguasai seluruh alam semesta, dalam sistem ini terlihat dalam tata cara pelaksanaan untuk maksud-maksud tertentu, misalkan pada saat pembukaan hutan untuk lahan perladangan atau persawahan, menanam padi dan sebagainya yang dilaksanakan oleh seorang dukun / mulung, yang mengetahui jampi-jampi atau soyong dalam bahasa Paser, diucapkan kata-kata permohonan sesuai dengan yang diharapkan.

Kepercayaan kepada makhluk halusSunting

Dunia ini dihuni oleh beberapa makhluk halus, ada yang bersifat mengganggu manusia, ada yang membantu dan ada pula yang tidak menggangu, juga tidak berfaedah bagi manusia. Makhluk halus dikenal mendiami tempat-tempat tertentu, di hutan, di pepohonan kayu besar di rawa-rawa, di kuburan dan sebagainya. Menurut cerita rakyat, bahwa salah satu pusat kediaman makhluk-makhluk halus didaerah Paser adalah yang dikatakan “Raya” terletak di antara Pondong dan Air Mati. Jika diklasifikasikan, makhluk halus itu ada bermacam-macam, di antaranya :

  • Makhluk halus asal kejadiannya sudah gaib, seperti hantu atau uwok dalam bahasa Pasernya, jin dan setan.
  • Makhluk halus dari manusia yang lenyap tanpa melalui proses kematian seperti mahal imunan dan orang gaib.
  • Makhluk halus dari roh manusia yang meninggal tidak secara wajar, misalnya meninggal karena kecelakaan, meninggal karena dibunuh.

Dalam kepercayaan masyarakat, makhluk halus kadang-kadang menjelma dalam bentuk manusia, binatang atau menjelma dalam bentuk benda-benda dan lain sebagainya.

Tempat perlindunganSunting

Masyarakat ini menempati rumah panggung segi empat panjang, atap miring empat puluh lima derajat kesamping kiri dan kanan, muka dan belakang, memakai dinding. Rumah ini tanpa ruang pemisah dan berdaun pintu, tinggi rumah dari permukaan tanah kurang lebih dua meter. Atap rumah terbuat dari daun nipah, bisa juga dari kulit kayu sungkai, lantai dari pohon niung atau bambu yang dipecah-pecah dan dijalin denga rotan, bahan bangunan dari anak-anak kayu bundar. Sebelum mengenal paku untuk bahan penikat masyarakat ini menggunakan rotan. Masyarakat Paser, termasuk masyarakat homogen, jadi sudah terbiasa tinggal dalam satu rumah dua atau tiga kepal keluarga yang terdiri dari anak menantu, saudara dari Ibu atau Bapak tinggal dalam satu rumah, hidup rukun dan damai. Bergotong royong atau nyempolo dalam bahasa Paser, bekerja bergotong royong tanpa mengharapkan upah dan balas jasa. Kegotongroyongan atau nyempolo dalam bahasa Paser adalah ciri khas masyarakat Paser yang sudah membudaya sejak nenek moyang mereka.

Gotong royongSunting

Adanya kelompok kerjasama atau gotong royong bukanlah satu kelompok organisasi formal akan tetapi para pekerja dengan gotong royong itu secara spontan datang membantu petani lainnya yang membutuhkan bantuan. Pembagian kerja serta struktur organisasi tidak ada, informasi yang disampaikan hanya melalui mulut ke mulut, kerjasama ini oleh masyarakat Paser disebut nyempolo, gotong-royong setengah hari tanpa makan siang, gotong-royong satu hari penuh disediakan makan siang.

Cara penguburanSunting

Jauh sebelum agama dikenal di daerah Paser ini upacara penguburan ada tiga pelaksanaan, hal ini tergantung dengan kelompok masing-masing :

  • Orang yang sudah mati / meninggal dibuatkan sebuah tebela atau yang mereka sebut Lungun, lungun dibuat dari sepotong batang kayu yang dibelah menjadi dua bagian, dan masing-masing belahan diberi lubang seukuran orang yang mati, setelah mayat dimasukkan kedalam lungun lalu ditutup dengan belahan tadi dan selanjutnya diikat dengan rotan, selanjutnya lungun yang sudah berisi orang mati dibawa ke dalam hutan jauh dari perkampungan penduduk, dan diletakkan kebawah pohon atau digantung di atas pohon, ada juga yang dimasukkan kedalam gua seperti dua kilometer dari Desa Kesunge Kecamatan Batu Kajang, ada terdapat sebuah gunung yang bernama Liang Lungun.
  • Ada juga orang yang sudah mati dibawa ke dalam hutan yang jauh dari perkampungan penduduk, disanalah si mayat didudukkan dan dilengkapi dengan sebilah parang atau otak dalam bahasa Pasernya diikatkan di pinggang si orang mati dan di tangan kanannya sebilah tombak.

Beberapa bulan kemudian setelah tulang belulang tengkorak menjadi kering, tulang tengkorak tersebut dikumpulkan menjadi satu, selanjutnya dikeramasi, dalam mengeramasi diiringi dengan upacara yang dipimpin oleh seorang dukun atau mulung, dan selanjutnya dibuat dalam sebuah rumah-rumah yang sengaja dibuat. Rumah-rumah ini diletakkan di ujung sebatang tihang.

Penguburan seperti ini, sebelum mereka mengenal agama, akan tetapi ada juga cara penguburan sampai hari ini mereka melakukan seperti berikut :

  • Orang mati dikuburkan dengan cara biasa saja akan tetapi di senja hari kerabat si mati berkumpul di halaman rumah, dengan dipimpin seorang mulung kematian membuat api unggun di halaman rumah, dengan membaca mantra atau bersoyong dalam bahasa Paser, jika asap api yang berasal dari api unggun tersebut lurus menuju kelangit, kerabat si mati bergembira sambil berkata naik ke langit atau dombo jaun, akan tetapi jika asap api tersebut tidak lurus karena ditiup angin para kerabat bersedih, karena anggapan mereka, jika tidak lurus berarti roh si mati tidak diterima oleh para dewa, sedangkan yang lurus roh si mati diterima oleh para dewa.

Awal masyarakat PaserSunting

Perkembangan dan perjalanan masyarakat Paser diawali sejak zaman prasejarah, dengan datangnya para imigran Austronesia. Imigran Austronesia meliputi Taiwan atau Formosa di sebelah Utara hingga New Zealand di Selatan, antara Madagaskar di sebelah barat sehingga pulau Paska atau Eastor Island bagian Timur, suatu wilayah yang luas hampir separuh dunia.[1][2]

Dengan kemampuan dan pengetahuan pelayaran yang dimiliki, mereka mampu menyeberangi selat dan laut sehingga mencapai wilayah Asia Tenggara kepulauan dan kepulauan Fasifik. Salah satu jalur imigran tersebut adalah kelompok manusia yang bergerak dari Formosa kemudian ke Filipina, dari sini para imigran terpecah menjadi dua jalur. Kalimantan dan Sulawesi[3]

Fokler Oral TraditionSunting

Dalam fokler oral tradition yang berhubungan dengan kerajaan di Tanah Paser. Pada zaman dahulu kala, pernah berdiri sebuah kerajaan yang bernama Padang Kero dengan rajanya yang bernama Nuas. Raja Nuas tidak lama memerintah, karena merasa uzur digantikan oleh si anak yang bernama Mandan. Begitu juga halnya dengan Raja Mandan, tidak lama kemudian raja meninggal dunia digantikan oleh si anak yang bemama Tampuk Gulung. Tampuk Gulung menyerahkan kekuasaan kerajaan kepada si anak yang bemama Selendo Tuo dan raja selanjutnya adalah Dato Tuo Puti Songkong. Tidak lama kemudian raja Dato Tuo Puti Songkong menyerahkan kepada si anak yang bernama Nalau, di saat pemerintahan raja Nalau masyarakat menjadi makmur, oleh sebab itu Nalau diberi nama oleh masyarakatnya Raja Tondoi atau Nalau pemimpin kemakmuran.

Pada masa pemerintahan Raja Nalau ini, salah seorang sepupunya yang bernana Gasing Putih merasa iri hati kepada Nalau Raja Tondoi, sehingga timbul perselisihan di antara kedua bersepupu, terjadi perang yang berkepanjangan dan akhirnya peperangan dimenangkan oleh Nalau Raja Tondoi. Beberapa saat kemudian Nalau menyerahkan kerajaan kepada anaknya yang bernama Sumping.

Di saat Sumping menjadi raja, ketiga anaknya mengadakan perjalanan hibah, perjalanan hibah ini terbagi dua kelompok, satu kelompok dipimpin oleh Andir Palai, anak Sumping dari istrinya yang pertama, satu kelompok lagi dipimpin oleh Nurang dan Anjang, anak Sumping dari istri yang kedua. Setelah melakukan perjalanan beberapa lamanya mereka akhirnya sampai di tepi sungai Lembok, disinilah Andir Palai bersama dengan pengikutnya bermukim.

Kelompok yang dipimpin oleh Nurang dan Ajang bertemu dengan sungai Kendilo. Di tepi sungai Kendilo inilah Nurang bersama kelompoknya bermukim. Sedangkan Anjang melanjutkan perjalanan bersama pengikutnya menuju ke arah Barat Laut, setelah beberapa lama dalam perjalanan akhirnya mereka sampai di sungai Komam. Di tepi sungai Komam ini Anjang meninggalkan pengikutnya sepertiga, dan yang lainnya melanjutkan perjalanan bersama Anjang ke arah Barat Daya dan akhirnya mereka bertemu dengan sungai Biu, Anjang bersama pengikutnya bermukim di tepi sungai Biu ini, akan tetapi Anjang memilih untuk tinggal di Samurangau.

Anjang mempunyai dua orang anak yang bernama Dengut dan Uma Dana. Anjang memberikan kekuasaan kepada Dengut untuk memimpin masyarakat di daerah sungai Komam, sedangkan Uma Dana memimpin di daerah sungai Biu. Anjang sendiri tetap di daerah Samurangau.

Sepeninggal Andir Palai, Nurang dan Anjang di kerajaan Padang Kero, raja Sumping mengadakan sesembahan kepada para dewa dan roh-roh halus, dengan mengadakan Belian selama 40 hari 40 malam, di saat malam yang ke 40, istana kerajaan bersama dengan rajanya beserta masyarakat hilang lenyap tanpa bekas. Itulah sebabnya masyarakat Paser tidak mau mengadakan belian sampai 40 hari 40 malam, takut terjadi seperti raja Sumping.

Lenyapnya kerajaan Padang Karo bersama dengan rajanya, diangkat Andir Palai menjadi raja dengan pusat kerajaan di Lembok. Andir Palai menyerahkan kerajaan kepada keponakannya yang bernama Talin. Talin beristrikan seorang perempuan yang bernama Tiong dari Selang Samuntae sekarang ini, justru itu diselang (Samuntae) ada kerajaan yang bemama Tiong Talin. Dari hasil perkawinan mereka melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Puteri Salika. Saudara Talin yang bernama Lintung kawin dengan puteri yang bernama Selang, dari hasil perkawinan mereka melahirkan 6 orang anak lelaki, anak-anak mereka diberi nama sebagai berikut:

  1. Pego alias Temindong Doyong alias Kaka Ukop
  2. Temindong Tokiu
  3. Manungko
  4. Patang anak Dogut
  5. Seranta Tuleng Tunggel
  6. Bumbut Tuon Adang

Setelah Pego dewasa dikawinkan dengan puteri Salika sepupunya sendiri anak dari Talin. Setelah Pego beristerikan Puteri Salika Raja Talin membagi-bagikan daerah kekuasaan kepada anak-anaknya juga kepada Dengut dan Uma Dena, adapun daerah kekuasaan yang dibagikan:

  1. Pego, mendapat pembagian kekuasaan di daerah sungai Sadu Lempesu sekarang
  2. Temindong Tokiu, daerah batu miris Seratai.
  3. Manungko, di daerah Petalan, Suatang dan Pasir Belengkong.
  4. Patang anak Dogut, daerah Afier dan Tabruk.
  5. Seranta Tuleng Tunggal, daerah lngkur, Sepaku dan Balikpapan.
  6. Bumbut Tuon Adang, di daerah Lembok sampai Muara Adang dan Telake.
  7. Dengut, di daerah kepala sungai Kendilo dan Komam.
  8. Uma Dana, di daerah Biu dan Samurangau.

Setelah daerah-daerah dibagikan kepada Pego bersaudara, muncullah anak-anak suku Paser (etnis Paser) seperti berikut:

  1. Paser Pematang
  2. Paser Pembesi
  3. Paser Adang
  4. Paser Migi
  5. Paser Tikas
  6. Paser Tiong Talin
  7. Paser Balik
  8. Paser Lusan

Walaupun daerah-daerah sudah dibagi-bagikan oleh Talin kepada anak-anaknya akan tetapi mereka bukan menjadi raja di daerah masing-masing, mereka hanya menjadi penggawa. Karena Pego saudara yang tertua di antara saudaranya yang lain. Pegolah yang menjadi kepala penggawa. Itulah sebabnya dia diberi nama Temindong Doyong.

Pego atau Temindong Doyong ingin mengundurkan diri, dan meminta kepada saudara-saudaranya agar mau menggantikan dirinya sebagai kepala penggawa, akan tetapi saudara-saudaranya menolak permintaan Temindong Doyong, karena mereka mengharapkan, anak Temindong Doyong yang akan menjadi raja mereka. Sudah beberapa lama mereka menantikan agar putri Salika melahirkan anak akan tetapi yang diharapkan tidak kunjung ada. Sehingga mereka bersaudara berunding untuk mencari raja. Beberapa kali sudah melakukan perundingan akhirnya mendapat kata sepakat dan mufakat, agar mereka melakukan pelayaran dengan harapan dapat menemukan raja. Untuk melakukan pelayaran, disiapkan sebuah perahu atau Jong. Disaat akan mencari raja, disiapkan sebuah perahu (JONG) yang didatangkan dari Telake, Mendik milik dua orang yang bernama Turi dan Kunkun, konon jong tersebut dapat dari hasil semadi mereka dan dapat dipakai hanya satu kali berlayar.

Dalam pelayaran mencari raja tersebut. Menurut versi Aji Aqub, ada di beberapa orang sebagai berikut:

  1. Uma Dena, dari Telake
  2. Uma Kamal, dari Kesunge
  3. Petung anak Dokut, dari kepala Kandilo
  4. Seranta Tatau Lantungkau, dari Laburan
  5. Tanjung Kuti, dari Payang
  6. Dengu, dari Tebalong
  7. Bepaung, dari Aper
  8. Bumbut Tuwaw Adang, dari Adang

Setelah mengadakan perundingan dengan saudara-saudaranya termasuk Dengut dan Uma Dana, diambil keputusan untuk mencari raja. Misi pencari raja memulai perjalanan dari sungai Sadu, dengan menggunakan jong/perahu, Jong berlayar dengan tenang dan melaju di atas permukaan laut, angin bertiup dari belakang membuat layar berkembang diterpa angin.

Tiga bulan sudah misi pencari raja dalam perjalanan. Temindong Doyong bersama dengan saudaranya merasakan perahu mereka tidak bergerak maju, walaupun layar berkembang ditiup angin, Temindong Doyong meminta kepada salah seorang saudaranya untuk terjun ke laut memeriksa apa yang menjadi penyebab sehingga perahu mereka tidak dapat bergerak maju, temyata sepotong bambu yang terhalang di halauan perahu mereka, setelah bambu dilepaskan perahupun melancar di perrnukaan air laut dengan lajunya tiga kali bambu itu tersangkut dan yang ketiga kalinya terhalang di kemudi. Temindong Doyong meminta agar bambu tersebut dibawa naik ke atas perahu (jong). Tertunda tiga kali Temindong Doyong memberitahukan kepada juru mudi untuk memutar haluan menuju pulang. Ketika sampai di rumah Pego menyerahkan bambu tersebut kepada si isteri untuk disimpan. Pak Pego mengatakan kepada si isteri bambu tersebut pemberian Dayu Sang Liang.

Beberapa hari sudah beristirahat di rumah, misi pencari raja kembali berlayar mengarungi lautan luas, dan singgah di beberapa kerajaan mengutarakan maksud dan tujuan mereka. Akan tetapi setiap raja yang disinggahi memberi jawaban yang sama bahwa raja yang mereka cari sudah ada di kampung halaman mereka. Dua tahun sudah lamanya misi pencari raja dalam pelayaran, akhirnya mereka menuju pulang, dalam pelayaran pulang misi ini kekurangan air minum dan bahan pangan. Mereka singgah di sebuah pulau untuk mengisi air dan keperluan lain, setelah selesai misi pencari raja akan meninggalkan pulau, tetapi misi pencari raja diajak untuk mengikuti adu manusia oleh pimpinan pulau. Pertandingan adu manusia dengan menggunakan senjata tajam dan menaiki ayunan papan. Di antaramisi pencari raja ada salah seorang bernama Usin. Sanggup untuk mengikuti pertandingan adu manusia, sejak dimulai sampai selesai Usin kalah dalam perlagaan dan mati.

Disaat mayat Usin akan dibawa ke perahu masyarakat pulau meminta agar mayat Usin diserahkan saja kepada mereka untuk merawatnya, Pak Pego menyetujui saja permintaan masyarakat pulau, akan tetapi jika Usin diserahkan kepada masyarakat pulau, Usin pun hidup kembali, Pak Pego melihat Usin hidup meminta kembali. Serah terima mayat Usin berlaku tujuh kali, akhimya masyarakat pulau berkata kepada Pak Pego, “tinggalkan saja Usin kepada kami, dan kami memberikan kepada kalian, satu buah gong tujuh buah bungkusan dan satu peti pendala tane, sebagai tanda persahabatan kita”.

Selesai pemberikan benda-benda tersebut, yang diterima Pak Pego, masyarakat pulau berpesan:

  • Sebelum sampai di Muara Paser, gong tersebut jangan dibunyikan, terkecuali sudah sampai.
  • Sebelum sampai di dalam daerah Paser, ketujuh bungkusan itu jangan dibuka, terkecuali sudah sampai.
  • Jika sudah sampai di tengah kampung halaman, peti bendala tana baru dibuka.

Dalam pelayaran menuju pulang cukup lama menyita waktu selama dua tahun, sehingga mereka merasa jauh di dalam perahu (jong) di antara saudara Pak Pego memukul gong juga ada yang membuka ketujuh bungkusan dan peti pendata tana. Walaupun mereka mengetahui pesan masyarakat pulau di saat akan berangkat. Ketika perahu misi pencari raja sampai di Muara Paser, gong dibunyikan, suaranya tidak seperti dipukul yang pertama, suaranya bergetar dan menggema, begitu juga dengan tujuh bungkusan ketika dibuka tidak ada reaksi apa-apa, juga peti pendala tana, ketika dibuka di tengah-tengah kampung tidak ada apa-apa kosong melompong, tidak seperti dibuka yang pertama, dari dalam peti tersebut memancarkan kuning.

Lama sudah Pak Pego atau Dato Temindong Doyong berada dirumah bersama Itak Pego, timbul pikiran untuk mengetahui bambu yang ditemukan saat dalam pelayaran mencari raja, bambu tersebut dibelah temyata berisikan sebutir telur, lalu disimpan di piring melawen beralaskan cadar kuning, sedangkan belahan bambu tersebut ditancapkan oleh Pak Pego ke tanah sebagai tanda atau peringatan kepada keturunan Paser. Sampai sekarang bambu tersebut tumbuh dengan subur di daerah Lempesu sekarang.

Telur yang disimpan dalam piring melawen setelah 40 hari 40 malam menetas, ternyata seorang bayi perempuan yang cantik dan molek. Pak Pego bersama Itak Pego terkejut dan bangun dari tidurnya yang lelap, mendengar suara tangisan bayi, betapa suka citanya kedua orang tua ini, melihat bayi di dalam piring melawen.

Bayi yang berasal dari bambu yang dibawa Pak Pego tidak mau menyusu, sudah beberapa orang ibu yang bersedia untuk menyusui Putri Petong, akan tetapi si bayi tidak mau menyusu. Bertepatan pada saat itu kerbau putih Pak Pego beranak, dari susu kerbau putih itulah Putri Petong mau menyusu. Pak Pego mempunyai sepasang kerbau putih, kerbau tersebut pandai dan penurut dengan perintah Pak Pego itulah sebabnya Pak Pego diberi nama Kakak Ukop artinya Kakek Ukop. Itulah masyarakat Paser tidak boleh atau pantang, Dion dalam bahasa Paser memakan daging kerbau.

Terbentuknya Kerajaan PaserSunting

Tentang terbentuknya awal kerajaan Paser, Haji Aji Abdoel Rasyid dan kawan-kawan yang ditulis oleh M.Irfan lqbal, et.al. Dalam bukunya yang berjudul “Budaya dan Sejarah Kerajaan Paser” mengatakan terbentuknya Kerajaan Paser pada tanggal 2 Safar tahun 9 Hijriyah atau tahun 630 Masehi. Pada saat Putri Petong berusia 22 tahun dilantik atau dinobatkan menjadi raja (raja pertama kerajaan Paser) yang semula kerajaan Padang Bertinti menjadi kerajaan Sadurengas.

Sebelum Putri Petong menikah dengan Abu Mansyur Indra Jaya. Putri Petong diyakini menganut kepercayaan animisme atau suatu kepercayaan yang memuja roh-roh halus dan dewa-dewa. Roh-roh halus atau dewa-dewa diyakini bisa membantu sewaktu-waktu diperlukan, untuk memanggil roh-roh halus tersebut dibutuhkan sebuah bangunan berbentuk rumah yang dinamakan Panti, di dalam panti tersebut diberi sesajen kue-kue yang dibuat berbentuk patung-patung dari tepung beras menyerupai roh yang akan dipanggil. Putri Petong setelah bersuamikan Abu Mansyur Indra Jaya, setahun kemudian Putri Petong melahirkan anak yang pertama seorang lelaki yang diberi nama Aji Mas Nata Pangeran Berlindung bin Abu Mansyur Indra Jaya. Tiga tahun kemudian Putri Petong melahirkan lagi seorang anak perempuan, yang diberi nama Aji Putri Mitir binti Abu Mansyur Indra Jaya dan enam tahun kemudian Putri Petong melahirkan lagi seorang lelaki yang diberi nama Aji Mas Pati Indra bin Abu Mansyur Indra Jaya.

Tentang Abu Mansyur Indra Jaya. Dapat ditelusuri dari peninggalan batu-batuan yang diangkat dari kapal ketika Abu Mansyur Indra Jaya pertama datang di Paser. Melihat dari nama Abu Mansyur Indra Jaya pasti dia dari Arab, dan juga masih keturunan Alawiyah keturunan Nabi Muhammad Rasullullah SAW gencar melaksanakan islamisasi sambil berdagang. (Vr, H.M. Yusuf "Kisah Kampung Daya Taka" diterbitkan oleh BAPPEDA Kabupaten Paser tahun 2000 menceritakan Putri Petong sebelum menikah menyebut Dua Kalimat Syahadat dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an*).

IslamisasiSunting

Islamisasi di Kerajaan Paser melalui beberapa jalur, antara lain

  • Jalur perkawinan-perkawinan dilakukan oleh Abu Mansyur Indra Jaya dengan Putri Petong, dari Kerajaan Paser raja komunitas Paser. Begitu juga perkawinan Sayyid Ahmad Khairuddin yang kawin dengan Aji Mitir anak Putri Petong dengan Abu Mansyur Indra Jaya.
  • Jalur perdagangan sungai Kendilo merupakan sungai besar pada zaman mereka, yang selalu dilalui para pedagang dari berbagai daerah Nusantara, termasuk pedagang dari Arab. Interaksi antara masyarakat Kerajaan Paser dengan para pedagang muslim menyebabkan sebagian masyarakat penduduk tertarik untuk memeluk agarna Islam.
  • Dalam sebuah cerita rakyat, Putri Petong sebelum kawin dengan Abu Mansyur Indra Jaya, sudah beberapa kali kawin, akan tetapi jika akan berhubungan badan dengan lelaki, jika tidak lari dari peraduan atau mati. Hal ini disebabkan sari bambu yang melekat pada Putri Petong. Kawinlah dengan Abu Mansyur Indra Jaya yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut[4]

Daerah Paser saat kedatangan Islam, banyak diketahui dari berbagai tulisan, di antaranya berdasarkan kitab yang ditulis Aji Aqub tahun 1350 Hijriyah atau tahun 1920 Masehi yang berjudul " Palayaran mencari raja tanah Paser" Sumber lain dari tulisan A.S Assegaf dengan judul "Sejarah kerajaan Kutai dan Kesultanan Paser" tanpa tahun. Sumber yang lain dapat ditelusuri dari sumber-sumber Belanda, di antaranya oleh S.C Knappert dengan judul "Tijdschrift voor ned Indie 1883 " Sedangkan yang memuat legenda Putri Petong ditulis oleh III Nieuwkuyk dalam Versi Reide opstillen ove Boneo, Velome 9 kerajaan Paser juga disinggung dalam tulisan J.Zwager dengan judul "Tijdschrift voor Nederlan Indie. Seri 4,1866.

Kedatangan Sayyid Ahmad KhairuddinSunting

Siapa Sayyid Ahmad Khairuddin, mengapa dia datang ke Kerajaan Paser? Berdasarkan Gelar Sayyid nyata Sayyid Ahmad Khairuddin dari keturunan Arab kalangan Alawiyyah sebagai keturunan Nabi, dan mereka menyebutkan diri sebagai "Ahlul Bayit”.

Di Kerajaan Paser sendiri sangat jelas bahwa Sayyid Ahmad Khairuddin mendapat gelar Sayyid Imam Pawa. Sayyid Ahmad Khairuddin masih berkaitan erat dengan Maulana Malik Ibrahim keturunan Zainal Abidin bin Husain bin Ali R.A .

Beberapa lama tinggal di Kerajaan Paser akhimya Sayyid Ahmad Khairuddin kawin dengan Aji Putri Mitir anak Putri Petong dengan Abu Mansyur Indra Jaya. Saudara dari Aji Mas Pati Indra, bibi Aji Mas Anom Indra. Sumber lain mengatakan bahwa yang menjadi Imam pada masa itu adalah Imam Mustafa (Vr, sumber dari Aji Zainal Abidin dan kawan-kawan). Lebih kurang 15 tahun menyiarkan agama Islam di Kerajaan Paser, Sayyid Ahmad Khairuddin menunaikan ibadah haji. Sebelum berangkat haji, pada saat anak dia naik ayunan Sayyid Ahmad Khairuddin menciptakan sebuah nyanyian yang dinamakan 'Nyanyian Fatimah" dengan bait syair seperti berikut:

"Bismillahirrahmanirrahim"
Huu Allah, Allah wal Awwal, Allah Huu, wal Akhir
Allah huu, Allah Allahu wal Bathin, Allah Wadh-Dhahir
Allah huu, Allah maidandam ilham
Allahu huu Allahu, air zam-zam karam di laut Bahaarullah.

Ayun-ayun silangka pulan
Ayun putra / putri ku jaya
Yaa hunaini silangka pulan
Wannahiruun-wannahiruun
Yaa hayyu yaa Qayyuum
Yaa hannanu yaa Burhan

Ketika Sayyid Ahmad Khairuddin yang menjadi guru dari raja Paser Aji Mas Anom Indra diangkat menjadi imam di kerajaan Paser, Sareat Islam pun diperlakukan dalam kerajaan Paser, sehingga Islam masuk dalam struktur kekuasaan kerajaan Paser, sehingga islam menyebar dikalangan rakyat Paser. Setelah Sayyid Ahmad Khairuddin menunaikan ibadah haji, rupanya takdir Allah menghendaki Sayyid Ahmad Khairuddin di Makatul Musyarrafah.[5] Siar Islam dilanjutkan keturunan dia, Imam Sayyid Abdurrahman bin Sayyid Ahmad Khairuddin[6]

Masa kejayaan Kesultanan PaserSunting

Panemban AdamSunting

Aji Duo gelar Penambahan Adam bin Aji Mas Anom Singa Maulana memerintah tahun 1090-1114 H atau tahun 1680-1705 M. Dengan persoalan geomorfologi bumi, menyebabkan Penemban Adam memindahkan istana dari Lempesu ke Gunung Sehari tempat rombongan Abu Mansyur Indra Jaya mendarat. Pemindahan istana ini terjadi pada tahun 1684. Agar masyarakat tidak meninggalkan rumah mereka bila musim tanam, Penemban Adam membuka persawahan di Atang Gandeng dan Atang Jaya. Dengan kemapanan dalam kekuasaan Penemban Adam ditandai dengan kebijakan-kebijakan dalam berbagai sektor, seperti pertahanan, pertanian dan pengetahuan keagamaan, walaupun terfokus pada figur Aji Geger (adik dia), setidaknya dia sudah berusaha meningkatkan kemampuan & kemandirian sebagai sebuah kerajaan yang bercorak Islam.

Penemban Adam menerima kedatangan Andi Mappanyukki dari Bugis Penekki dengan kelapangan dada, dan mengikat perjanjian untuk bekerja sama dalam perdagangan.[7] Sekembalinya Andi Mappanyukki dari Paser, tidak berapa lama kemudian datang rombongan pelamaran dari pihak Andi Mappanyukki untuk meminang Aji Rainah, putri Penemban Adam, untuk memberikan jawaban atas pinang tersebut Penamban Adam berjanji Andi Riajang untuk menanyakan lamaran anaknya, saat itu diwakili juru bicaranya, Petta Wattenge, ibu Andi Mappanyukki yang turut dalam rombongan pelamaran tersebut, ketika mendengar lamaran Andi Mappanyukki tidak diterima dengan alasan Aji Raenah masih kekanakan, belum dewasa. Penolakan lamaran ni tidak diterima oleh Andi Riajang diapun meninggalkan pertemuan dan kembali ke kapal. Disaat berada di atas kapal berkatalah Andi Riajang kepada seluruh rombongan dan Andi Mappanyukki “Launi Sin ta" artinya “Hilang Kehormatan Kita" Dengan terjadinya peristiwa ini, tidak lama kemudian Kerajaan Paser diserang oleh orang-orang Bugis Penekki. Akibat serangan ini Penemban Adam mengerahkan pasukannya, yang dipimpin oleh Aji Geger Komando angkatan perang kerajaan Paser. Sebagai Panglima`Aji Geger mengatur berbagai siasat, pertempuran terjadi memanjang dari sungai Lumut sampai ke Teluk Mahligai.

Pasukan Bugis Penekki semakin banyak berdatangan, akan tetapi Aji Geger bersama pasukannya berhasil menyusup kedaerah pertahanan musuh, dan menghancurkan seluruh perbekalan mereka. Andi Mappanyukki melihat serangan dari Paser dua arah, pasukan Bugis dari Penekki yang dipimpin Andi Mappanyukki akhimya melarikan diri, dengan menggunakan perahu lepa-lepa yang laju disusul oleh pasukan kerajaan Paser dipimpin Aji Geger kalah cepat, karena menggunakan perahu biasa, ketika pasukan Bugis Penekki sampai di tempoleng mereka memasuki sungai seratai meneruskan ke sungai sambu, kapal kapal layar yang membawa perbekalan Andi Mappanyukki memasuki sungai Raya, sungai Pampang dan sungai Tedung. Di hutan belantara sungai sambu ini, Andi Mappanyukki membuat pertahanan untuk menyerang kembali Kerajaan Paser.

Sambil menunggu bantuan dari ayahnya, Andi Mappanyukki bersama dengan pasukannya membuat terusan di tepi sungai Seratai bagian Selatan, menuju sebelah Utara Sungai Kandilo, melalui hutan galam sejauh 15 Km. Sementara itu Aji Geger bersama pasukannya dari sungai Laburan yang diperkirakan Andi Mappanyukki bersama pasukannya diperkirakan memasuki sungai Laburan ternyata tidak ditemukan. Aji Geger kembali ke tempoleng tidak memasuki sungai seratai yang berhubungan dengan sungai Sambu, sehingga tidak mengetahui persembunyian Andi Mappanyukki bersama pasukannya.[8][9][10] Aji Geger telah membuktikan kemampuannya dalam mempertahankan kekuasaan dan kedaulatan kerajaan Paser, Pengaruh Islam turut mentalitas tempur pasukannya. Aji Geger dikenal sebagai panglima yang banyak Ilmu Pengetahuan Islam.

Dengan datangnya bantuan dari Penekki Andi Mappanyukki menyerang kembali Kerajaan Paser. Melalui terusan yang dibuat, Andi Mappanyukki bersama pasukannya. Dalam penyerangan ini, Aji Geger terkena peluru pucunang di kaki, Aji Geger dibawa ke kampung Cengal untuk diobati oleh tabib yang bernama Kakah Tego.[11][12][13] Akibat Penglima Kerajaan Paser terluka dan dibawa ke kampung Cengal, terjadilah jeda pertempuran sengit, pasukan Penekki hampir saja menguasai arena pertempuran dan di saat-saat pertempuran akan dimenangkan oleh pihak Penekki, saat itulah datang 3 orang sesepuh kerajaan Paser. Ketiganya adalah:

  • Kakak Gaeng
  • Kakak Lati
  • Kakak Raba

ketiganya dianggap Penemban Adam "Al-Jimat kerajaan" dengan gelar panglima pikun. Ketiganya mempunyai tempat tinggal terpisah-pisah antara satu dengan yang lainnya, Kakak Lati tinggal di daerah Setui. Kakak Gaeng tinggal di daerah Peteban. Kakak Raba tinggal di daerah Raba, ketiga panglima pikun ini bekas panglima Aji Mas Pati Indra atau Kakek Penemban Adam.

Dengan bantuan tiga panglima pikun ini ditambah dengan 300 pengawal kerajaan dengan bersenjatakan sumpitan, senapang dan kelewang dapat mengusir pasukan Andi Mappanyukki. Ketiga panglima pikun bersama pengawal kerajaan dapat memenangkan pertempuran tersebut, dengan tanda kemenangan melalui bendera sesuai perjanjian Penemban Adam bersama ketiga panglima pikun. Jika menang dalam pertempuran kibarkan bendera pusaka yang berwarna kuning dan mengalami kekalahan kibarkan bendera putih. Disebabkan pada saat itu musim panas bendera, kuning dilihat Penemban Adam berwarna putih dia bersama keluarga membakar diri. Ketiga panglima pikun atau ajimat kerajaan dari sejak itu, meninggalkan kerajaan. Dengan tangisan bagaikan bapak-anak ketiganya pergi, sejak hari itu tidak pernah lagi metampakkan diri, baik perorangan maupun bersama-sama.

Sultan Aji Muhammad AlamsyahSunting

Dengan wafatnya Penemban Adam digantikan dengan Aji Geger dengan gelar Sultan Aji Muhammad Alamsyah memerintah tahun 1114-1150 Hijrah atau tahun 1703-1738 Masehi. Gelar Sultan yang disandang oleh Aji Geger adalah Sultan yang pertama (1) di kerajaan Paser. Sultan Aji Muhammad Alamsyah bin Aji Mas Anom Singa Maulana menyusun sistem pemerintahan, mengangkat pembantu dari kalangan bangsawan Paser sendiri, dan memberikan sebutan dengan istilah Pangeran. Dasar Pemerintahan kesultanan ditetapkan dalam “Boyan Bungo Nyaro” yang diartikan antara lain:

  • Usaha keselamatan pemerintahan Kesultanan.
  • Jalan bunga keberuntungan.
  • Mendapat rezeki yang tidak terduga.
Susunan bidang pemerintahanSunting

Boyan Bungo Nyaro adalah Undang-undang yang diadakan secara formal dalam Kesultanan Paser, isi Boyan Bungo Nyaro:

  • Kesultanan Paser, diperintah oleh seorang Sultan yang dipilih oleh Majelis Adat dan Alim Ulama dari seorang bangsawan Paser berdasarkan pertimbangan mencukupi syarat.
  • Sultan Paser dalam menjalankan pemerintahan dibantu 4 orang bangsawan yang menjabat menteri diberi gelar Pangeran.
  • Kesultanan Paser, terdiri beberapa wilayah diperintah oleh seorang bangsawan Paser, berdasarkan pertimbangan, memenuhi syarat dan ditunjuk oleh Sultan dengan diberi gelar Pangeran.
  • Setiap wilayah terdiri dari negeri-negeri yang diperintah oleh seorang bangsawan atau orang biasa atas dasar pertimbangan memenuhi syarat yang ditunjuk oleh Pangeran yang bersangkutan dan diberi gelar oleh Sultan Penggawa.
  • Setiap negeri, terdiri dari kampung-kampung yang diperintah seorang bangsawan atau orang awam atas dasar pertimbangan dan memenuhi syarat yang ditunjuk oleh Pangeran, dengan sebutan Pembekal (Kepala Kampung).
  • Pangeran setaku kepala wilayah dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh 4 orang Kapitan.
  • Penggawa dalam menjalankan tugas dibantu oleh 4 orang polisi.
  • Pembekal sebagai pimpinan kampung dalam tugasnya dibantu 2 orang juru tulis, 2 orang penggerak dan sejumlah kepala padang, sesuai dengan keperluan.
Pertahanan dan keamananSunting
  • Di Ibu Negeri Kesultanan dilantik 300 orang prajurit yang dipimpin 3 orang panglima, yang terdiri dari 100 orang bersenjata senapang, 100 orang bersenjata sumpitan dan tombak, 100 orang bersenjata pedang.
  • Di Ibu negeri wilayah, dilatih 150 orang prajurit dipimpin seorang panglima, terdiri dari 50 orang bersenjata senapang, 50 orang bersenjata sumpitan dan tombak, 50 orang bersenjata pedang.
  • Di setiap negeri / wilayah diadakan 20 orang mata-mata dibawah pimpinan polisi pembantu penggawa.
Persyaratan menjadi Sultan PaserSunting
  • Yang dapat dipilih dan dinobatkan menjadi Sultan Paser seorang yang menduduki nama kebangsawanan AJI.
  • Tidak seorang Aji yang boleh dipilih dan dinobatkan untuk menjadi Sultan Paser, terkecuali memiliki kekuatan rohani dan jasmani.
  • Tidak seorang Aji yang boleh dipilih dan dinobatkan menjadi Sultan Paser, terkecuali memiliki kekuatan rohani.
  • Tidak seorang Aji yang boleh dipilih dan dinobatkan untuk menjadi Sultan Paser, yang mempunyai sifat sombong, congkak, takabur, suka disanjung dan memuji diri sendiri.
  • Tidak seorang Aji yang boleh dipilih dan dinobatkan untuk menjadi Sultan Paser, peminum, pemadat, penjudi, pembohong dan pencuri.

Jika dikaji Boyan Bungo Nyaro yang ditetapkan oleh Sultan Aji Muhammad Alamsyah, maka ada ketetapan penting yang sangat strategi bagi kelangsungan kekuasaan. Ketetapan-ketetapan ini sesuai dengan syarat Islam.

  1. Susunan pemerintahan dan pembagian administrasi dalam Kesultanan Paser.
  2. Membentuk petugas keamanan Kesultanan Paser dan penjaga-penjaga keselamatan rakyat.
  3. Menertibkan nama-nama kebangsawanan Paser serta martabat kebangsawanan.
  4. Menentukan bahwa jabatan Sultan, bukanlah hak keturunan lurus dari bawah ke atas, akan tetapi harus dipilih oleh Majelis Adat dan Alim Ulama dari bangsawan yang berhak, memenuhi sarat-sarat yang ditentukan.
  5. Menjunjung tinggi martabat kemanusiaan dalam hukum kemasyarakatan dan menjamin hak perorangan.
  6. Menentukan bahwa pihak kehakiman adalah berdiri sendiri dan tidak boleh dipengaruhi oleh siapapun dan oleh hal-hal apapun.
  7. Memberi ketentuan hukum terhadap beberapa soal perdata dan tindak pidana[14]
  8. Secara tegas menerapkan hukum Islam dan berjihad dalam persoalan yang menyangkut kemasalahatan masyarakat, dan yang menyangkut rasa keadilan.

Berdasarkan Boyan Bungo Nyaro, Sultan Aji Muhammad Alamsyah membagi keseluruhan Paser menjadi 6 wilayah, yaitu:

  1. Wilayah tanah balik, Ibu negerinya berkedudukan di Tanjung Jemelai (sekarang Sepaku Semoi).
  2. Wilayah Tanah Telake, Ibu negerinya berkedudukan di Sebakung (sekarang di Long Kali).
  3. Wilayah Tanah Hulu, Ibu negerinya berkedudukan di Salinau.
  4. Wilayah Tanah Aper, Ibu negerinya berkedudukan di Tabruk.
  5. Wilayah Tanah Pemuken, Ibu negerinya berkedudukan di Cengal.
  6. Wilayah Tanah Adang, Ibu negerinya berkedudukan di Selang (Samuntai sekarang).[15]

Pembagian ini menurut Haji Aji Padang Sarjan, Haji Sardani Usman, et al, menjadi 6 wilayah. Penulisan 6 wilayah ini mengingat silsilah yang dibuat Aji Norman UK, justru ada 8, yang disebutnya, dengan raja raja kecil, yang berkembang dan hanya tercatat sejak tahun 1805. Dan menyebutkan tahun 1890 sudah ada raja Selan (Samuntai). Kemungkinan sejak awal wilayah ini sudah ada mengingat letak selang cukup strategis menghubungkan pusat wilayah dengan pendalaman.[16] Segenap kepala wilayah diperintah oleh Sultan Aji Muhammad Alamsyah, untuk membangun masjid di ibu negeri. Fungsi Masjid antara lain:

  • Sebagai tempat salat berjamaah dan mengkaji ilmu agama Islam serta pengetahuan umum.
  • Sebagai wadah untuk mendekatkan rakyat dengan raja (pemerintahan).
  • Sebagal tempat bagi raja untuk menerima dan mengetahui keadaan kehidupan dan penghidupan rakyat.[17]

Untuk menjaga keamanan, Sultan Aji Muhammad Alamsyah meneruskan penyelesaian kapal yang telah dirancang kakaknya/Penemban Adam (Aji Duo). Kemungkinan Sultan menambah lagi beberapa buah kapal, dan mempersenjatai kapal itu dengan 3 pucuk meriam. Fungsinya untuk patroil di sungai dan pantai-pantai laut kesultanan Paser, di Muara Kandilo dan Muara Komam.

Di wilayah Kesultanan Paser, ketersediaan bahan baku kapal khusus kayu ulin dan sintuk tidak menjadi persoalan. Wilayah ini kaya dengan kayu, termasuk damar untuk menambal celah-celah keping kayu yang disusun membentuk perahu / kapal layar agar tidak bocor, kepandaian membuat kapal ini tentu saja sudah lama dimiliki orang-orang Paser yang bekerja sama orang-orang Bugis yang sudah lama bermukim di kawasan pesisir muara sungai Kandilo. Bermata pencaharian sebagai nelayan, dalam perang melawan Andi Mappanyukki tahun 1702 Bugis Paser yang bernama La Palatte, telah menjadi mata-mata yang membela kepentingan Paser.[18]

Stabilitas politik dan keamanan yang tercipta menyebabkan Sultan Aji Muhammad Alamsyah dapat meningkatkan pendapatan negerinya melalui hasil cukai dan pajak. Seiring dengan keamanan di sungai dan laut yang terjamin, juga hasil ladang dan perkebunan yang dibuka sejak Penemban Adam sudah dapat dipetik hasilnya, bahkan kerbau sebagai alat pengelola tanah sawah tadah hujan mulai dipergunakan.

Sultan Aji Sepuh AlamsyahSunting

Setelah Sultan Aji Muhammad Alamsyah wafat. Majelis Adat dan Alim Ulama Kesultanan Paser di gunung sehari, kemudian memilih penggantinya. Aji Dipati Pangeran Sukma Ningrat bin Aji Duo (Penemban Adam) untuk penggantinya. Aji Dipati meminta restu ibunya, Dayang Cengal, si Ibu kemudian salat istikharah, hasil salat mengisyaratkan beban berat batinnya menyertai si anak Aji Dipati, peristiwa tragis yang menimpa si suami, meninggalkan rasa trauma yang mendalam. Mendengar pendapat si Ibu, Aji akhirnya memutuskan untuk tidak menerima pengangkatan dirinya menjadi sultan. Melalui sepucuk surat. Aji Dipati mengucapkan terima kasih kepada majelis Adat dan Alim Ulama yang memilih dirinya, karena tidak dapat nemenuhi permintaan Majelis Adat dan Alim Ulama untuk dinobatkan sebagai Sultan Paser di gunung sehari, menyarankan agar Majelis Adat dan Alim Ulama untuk mengangkat Aji Ngara bin Aji Muhammad Alamsyah sebagai Sultan Paser. Dan bersyukur dipercayakan sebagai kepala Wilayah Pumuken.[19]

Menyikapi surat Aji Dipati, Majelis Adat dan Alim Ulama Kesultanan Paser, memutuskan dengan mufakat untuk mengukuhkan Aji Ngara bin Aji Muhammad Alamsyah sebagai Sultan Paser, dengan gelar Sultan Sepuh Alamsyah, memerintah tahun 1150-1181 Hijriyah atau 1738-1763 Masehi.

Gelar Sepuh dipakai Aji Ngara, arti sepuh adalah dikukuhkan atau disepuh karena posisinya menggantikan Aji Dipati. Dalam pemerintahan, pembukaan sawah tadah hujan diteruskan, penggunaan kerbau untuk membajak sawah semakin dikenal, untuk ladang yang sudah dua tahun tidak terpakai, dianjurkan ditanami rotan, dan buah-buahan (tanaman keras) semua tanah turun temurun menjadi hak adat.

Dampak dari pembukaan sawah tadah hujan dan perladangan, menyebabkan Kesultanan Paser mengalami peningkatan produksi beras. Banyak kapal dari Kutai, Berau, Suluk (Philipina Selatan) dan yang lain-lain berdatangan di dermaga Paser. Pelabuhan Paser menjadi ramai puluhan pinisi, Wangkang dan Sekunyir bertambat di dermaga Paser.

Dalam bidang keamanan di darat, Sultan Aji Sepuh Alamsyah mendatangkan 50 ekor kuda dari Sumbawa disertai beberapa pucuk senapang dari Pedang, menyebabkan senapang sudah mulai diperjualbelikan secara gelap, para pandai besi meniru pembuatan senapang yang dinamakan senapang ber-ujak. Pengangkut barang-barang yang cukup berat, digunakan kerbau sebagai alat angkut yang dikawal pasukan berkuda. Sistem pengawalan ini lazim dipakai pada masa lampau. Mengingat terbatasnya sarana pengangkutan darat, ditambah lagi keamanan yang selalu rawan, para pengangkut membawa barang-barang dari pedalaman ke pelabuhan dan sebaliknya dari pelabuhan ke pedalaman. Hasil hasil hutan di pedalaman, diangkut ke tepi-tepi sungai, sehingga kuantitas barang semakin bertambah, apalagi pengangkutan rotan, damar yang cukup memakan tenaga.

Masa pemerintahan Sultan Sepuh Alamsyah ditandai dengan kedatangan rombongan Bugis Wajo, dipimpin Andi Sibengngareng, kedatangan rombongan tersebut disambut dengan upacara adat Paser. Rombongan Andi Sibengngareng disediakan wisma untuk menginap lengkap dengan para pelayan lelaki dan perempuan, sesudah beberapa hari kemudian Andi Sibengngareng kembali ke Wajo. Beberapa bulan masa berlalu datang Andi Madukkeleng bersama permaisurinya Andi Abeng, untuk melamar Putri Aji Doyah. Semula agak ragu untuk mengawinkan Andi Sibengngareng dengan anak Sultan Paser mengingat peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Penolakan Raja Paser terhadap Andi Mappanyukki dari Penekki, yang menimbulkan perang. Untuk ini La Madukkeleng mempersiapkan seluruh kekuatan agar tidak menimbulkan malu yang dapat menyebabkan pertumpahan darah.

Petta Colla Lowa sebagai juru bicara sekaligus ketua rombongan, dengan secara resmi melamar Putri Aji Doyah atas nama Andi Sibengngareng anak Andi Madukkeleng. Singkat cerita Sultan Aji Sepuh Alamsyah bersama keluarga menerima lamaran atas putri mereka. Mahar diputuskan 40 ringgit emas, 40 ringgit perak, 7 budak lelaki dan 7 budak perempuan.

Di saat mengantarkan jujuran yang diantar sebagai berikut; (1) Sepasang sima empeng emas. (2) Sepasang rantai raga-raga emas. (3) Sepasang anting-anting mabule emas. (4) Sepasang tusuk sanggul emas. (5) Satu sisir rambut emas dan satu sisir rambut perak. (6) Sepasang gino mabbule emas. (7) Satu tempat celak emas dan satu tempat celak perak. (8) Satu tempat pupur emas dan satu tempat pupur perak. (9) Satu pemerah bibir terbuat dari emas dan satu. dari perak. (10) Sepasang gelang kaki dari emas (Vr/ A. S Assegarf, Op cit hlm 101 *). Peti cermin kedua berisi alat-alat kerajinan tangan perempuan berupa ; (1) Satu gunting emas dan satu gunting perak. (2) Satu pisau lipat emas dan satu pisau lipat perak. (3) Satu pisau biasa emas dan satu dari perak. (4) 6 Jarum perenda terbuat dari emas dan 6 jarum perenda perak. (5) 6 Jarum biasa emas dan 6 j arum biasa emas. Peti pakaian yang berisikan 5 lembar baju pokok bersulamkan benang emas. 5 Lembar baju bodong jai'tall. 5 Serudung (selendang). 5 Lembar tapih khas Bugis dan 5 Lembar sarung songket khusus untuk upacara. Iring-iring pengantar jujuran didahului dengan bendera kerajaan Wajo (Vr, Assegaff, Ibid, hlm 102*).

Di hari ketiga dari pihak mempelai wanita melakukan tanda jemputan dibawa oleh 3 anak gadis kecil, yang dibawa antara lain; 1 Peti kecil berisikan sebilah golok atau otak dalam bahasa Paser. Lengkap dengan sarung dan gagang bersalutkan emas. 1 Cupu emas berisi 1 Cincin emas permata jamrud. 1 cincin emas bermata merah. 1 cincin emas bermata 5 butir berlian, dan 1 peti berisikan 5 lembar kain sutra cina. 5 lembar daster bersulam emas, 5 lembar sarung songket benang emas, 1 ikat pinggang emas berukir indah. Arak-arakan pembawa jemputan didahului dengan bendera Kesultanan Paser.[20]

Pernikahan Aji Doyah dengan Andi Sibengngareng pada malam pertama diadakan maulidan atau membaca berjanji, malam kedua pembacaan Lontar Wajo. Sure Selle Ang Mallisa Lira na Lapunna Ware, hikayat pelayaran Sawirigading. Malam ke empat sampai malam ke tujuh pertunjukan tarian khas Paser dan pencak silat Bugis Wajo.[21] Beberapa lama kemudian kedua mempelai berangkat ke Wajo setelah 40 hari sejak perkawinan di laksanakan.[22][23]

Buah perkawinan mereka melahirkan Andi Riajang Andi Pasere. Andi Makasa-u. Andi Riajang tinggal bersama nenek dan kakeknya di bawah asuhan Sultan Aji Sepuh Alamsyah. Setelah Andi Riajang menjadi gadis remaja, dia dipersunting Sultan Aji Muhammad Idris. Sultan muda remaja dari Kesultanan Kutai Karta Negara Ing Marta Dipura. Andi Riajang kemudian diberi gelar, Aji Putri Agung, permaisuri Sultan Kutai. Dari perkawinan mereka melahirkan Aji Pangeran Anom Panji Mendapa Ing Marta Dipura atau Aji Imbud. Ketika naik tahta Kesultanan Kutai bergelar Sultan Muhammad Muslihuddin.[24] Perkawinan ini aliansi sedarah antara Wajo-Paser-Kutai situasi zaman yang menghendaki adanya perkawinan, menunjukkan bahwa pertalian darah merupakan sarana yang efektif untuk menjalankan kesetaraan, ketenteraman stabilitas politik dan pemerintahan di kerajaan masing-masing. Kekuasaan juga terpelihara secara seimbang, perkawinan melahirkan kekerabatan adalah akar penguat politik yang lazim dalam setiap kurun zaman.

Sultan Aji Dipati Anom AlamsyahSunting

Setelah wafatnya Sultan Aji Sepuh Alamsyah, diganti oleh Aji Dipati bin Penemban Adam. Dengan gelar: Sultan Aji Dipati Anom Alamsyah, memerintah tahun 1181 - 1213 Hijriyah atau 1768 - 1779 Masehi. Sultan ini menerima putusan Majelis Adat dan Alim Ulama menggantikan Sultan Aji Sepuh Alamsyah, karena ibunya Diang Cengal telah meninggal dunia, sebelumnya tahun 1738 Masehi, menolak menjadi Sultan saat itu perlu merawat si Ibu yang sudah tua (Vr, Aji Aqub menggambarkan Aji Dipati Anom Alamsyah sebagai tokoh yang tidak puas atas pengangkatan Aji Ngara, nama asli. Aji Selumuh bergelar Pangeran Raka, dia memberontak Rantau Manggaris banjir darah, Pangeran ini kalah, dan ditolong Kiai Mas Muda dan dibawa ke muara Suatang. Dan tunduk kepada Sultan Sepuh.[25]

Sultan Aji Dipati memerintah dalam usia tua, kehidupan sebagai Sultan dijalankan dengan sederhana kegiatan rutin menghadiri salat di masjid sambil memberikan berbagai petuah keagamaan. Aktivitas pemerintahan banyak dijalankan oleh wajirnya Aji Panji bin Ratu Agung mantan kepala wilayah Lempesu.

Sultan Sulaiman AlamsyahSunting

Pemerintahan Aji Panji bin Ratu Agung dimulai tahun 1213 sampai tahun 1225 Hijriyah atau 1799 sampai tahun 1811 Masehi. Bergelar Sultan Sulaiman Alamsyah. Pemerintah menyisakan berbagal persoalan di antaranya sebanyak 30 buah kapal pengawal pantai tenggelam. Kapal-kapal ini dipakai oleh Arung Turawe melawan Sultan Nata Alam Sultan Banjar, bentuk partisipasi Paser membantu Pangeran Amir, yang masih berkerabat dengan Bugis Pagatan dan Kesultanan Paser.

Dalam tahun 1801 Masehi, Kerajaan Penekki yang masih berada dalam lingkungan kerajaan Wajo Sulawesi Selatan memerintah seorang Ratu, bernama Andi Tanra Tellu-e bersuamikan seorang keturunan Arab Ba'Alwi keluarga Sultan Banten yang bernama Sayyid Abu Bakar Adni Al-Idrus. gelar Petta Mattasi-e, seorang ulama besar dan keramat terkenal di kalangan orang-orang Bugis Penekki dan Wajo. Salah seorang anaknya bernama Sayyid Thaha, bergelar Puang Petta Saiye-e di Penekki bertugas sebagai penguasa perkapalan, dia berkunjung ke Paser. Di saat tiba di Muara sungai Kandilo dia mengirim 7 orang utusan untuk menemui syahbandar untuk meminta izin dan diperkenankan bertemu Sultan Paser. Utusan dipimpin Najanuddin Daeng Lallo, dan disambut syahbandar La Manrape Daeng Nattutu, orang Bugis kelahiran Paser, masih keturunan Luwuk, wilayah kerajaan besar Wajo. Sultan Paser bersedia menerima rombongan Sayyid Thaha. Rombongan diterima dengan baik bahkan Sultan bersedia bertemu muka dan berbicara dengan Sayyid Thaha. Dalam pembicaraan menyetujui pembuatan 40 buah kapal. Tenaga ahlinya Penekki Wajo.[26]

Setelah kembali dari Penekki, Sayyid Thaha membawa 4 orang tenaga ahli dalam membuat perkapalan, 50 orang tukang dan pekerja, setahun kemudian barulah kapal-kapal itu selesai dibuat. Sultan Sulaiman Alamsyah meminta kepada Sayyid Thaha untuk mempersenjatai kapal-kapal tersebut. Sayyid Thaha berangkat ke Ujung Pandang di sana Sayyid Thaha mendapatkan informasi, bahwa senjata dapat dibeli di Deli Timor-Timor. Sayyid Thaha pun segera berangkat ke Deli, setibanya di Deli dan menemui seorang Portugis yang bernama Da Costa. Bersedia menjual senjata (Vr, A.S Assegaff, op cit hlm 133-140. Haji Padang Arjan, Haji Sardani Usman, et al hlm 27*). Sejak 1769 Portugis telah menjadikan Deli sebagai kedudukan Gubernumya karena didesak oleh Belanda. Awalnya kedudukan Gubernur Portugis berada di Lifao Timor bagian Timur.

Berdasarkan kesepakatan dengan Da Costa jual beli senjata diadakan di perairan laut Deli, agar tidak diganggu Belanda. Pembelian dilakukan dengan cara barter Da Costa menyiapkan meriam, senapang dan mesiu, sedangkan Kesultanan Paser menyiapkan hasil hutan antara lain ; Rotan, semambu, getah, tengkawang, getah katio dan damar mata kucing.

Kapal-kapal dari pelabuhan Kesultanan Paser menuju Deli memakan waktu berbulan-bulan lamanya, dan luput dari pengawasan Belanda, karena Belanda menganggap kapal barang pengangkut beras seperti biasa, begitu juga ketika membawa persenjataan, dari Deli ke pelabuhan Benuo, Kesultanan Paser, berlangsung aman.

Ada 5 kapal yang dipersenjatai yaitu: (1) Tanjung Batu Jaya. (2) Tanjung Aru Jaya. (3) Tanjung Jemelai Jaya. (4) Tanjung Meruat Jaya. (5) Tanjung Tanah Merah[27]

Sultan Sulaiman Alamsyah beserta keluarga dan kerabat dia meresmikan ke 5 buah kapal perang tersebut, yang dipersenjatai. Sultan sendiri menumpang kapal yang dinakhodai oleh Sayyid Thaha. Kapal melayari muara kandilo dan beberapa bagian pesisir utara dan selatan laut Kesultanan Paser. Kesultanan Paser kembali memiliki armada laut yang cukup tangguh pada zaman itu.

Sayyid Thaha yang cukup lama mengabdi untuk membangun angkatan laut Kesultanan Paser. Meminang Aji Renik, anak Sultan Sulaiman Alamsyah, Perkawinan berlangsung cukup meriah. Mengingat Sayyid Thaha adalah keturunan para habib, yang selalu dimuliakan kedudukannya oleh umat Islam, kemudian Sayyid Thaha bergelar Pangeran Sayyid Thaha perwira samudera, dia bertugas membina dan membangun angkatan laut Kesultanan Paser.

Hasil dari perkawinan keduanya melahirkan 2 orang anak perempuan, yang pertama bernama Aji Syarifah, yang kawin dengan Pangeran Dipati dari keluarga si Ibu. Sedangkan si adik Syarifah Aji Muznah kawin dengan Sayyid Hamid Assegaff dari pihak keluarga si Ayah.[28] Peranan para Sayyid dari juriyat Rasullullah SAW dalam syiar Islam di Nusantara tidak diragukan lagi, pada umumnya mereka memasuki dalam istana sebagai penasehat para Sultan dan juga melangsungkan perkawinan dengan kerabat Kesultanan. Para Sayyid ini memiliki ilmu agama yang mendalam, mampu menjaga akhlak dan mudah diterima berbagai kalangan. Mereka bukan sekadar penasehat atau guru, bahkan menduduki jabatan sebagai Sultan.

Mobilitas mereka sangat dinamis sepanjang kurun waktu, sejak lslamisasi nusantara sampai saat ini. Umpamanya Kesultanan Cirebon sendiri memakai gelar Syarif. Para Sayyid memelihara dan melanggengkan kekuasaan para Sultan, sepanjang para Sultan taat dalam formal syariah, yang menjadikan landasan dakwah mereka, kebanyakan mereka menghindari konflik fisik, pandai berdiploma cakap dalam berdagang sehingga mudah bergaul dalarn berbagai bangsa. Jalan kehidupan dan napas mereka adalah syiar dan dakwah Islam, jika kita lihat dinamika Kesultanan Paser ternyata interaksi kalangan bangsawan sangat multietnis, dan terkristal dalam, skala kekuasaan yang saling menjaga dan memelihara stabilitas pemerintahan muslim.

Sultan Ibrahim AlamsyahSunting

Pemerintahan kesultanan Paser selanjutnya dipimpin Aji Sembilan bin Aji Muhammad Alamsyah memerintah tahun 1225-1230 Hijriyah. Dengan gelar Sultan Ibrahim Alamsyah. Sultan ini menunjuk keponakannya Pangeran Syarif Thaha menjadi wajir (menteri 1) Kesultanan Paser. Panglima pertahanan keamanan dijabat Aji Karang bin Sultan Aji Panji. Dalam masa pemerintahan Sultan Ibrahim Alamsyah kehidupan petani penggarap sawah tadah hujan dan ladang, selama 2 tahun mengalami problem. Tanaman padi terkena wabah hama tikus dan burung pipit, akhimya Kesultanan Paser kekurangan persediaan beras. Sultan mendatangkan beras dari daerah lain, khususnya dari Kutai dan Banjar.

Dalam bidang, telah selesai dibuat 40 buah kapal. Pembuatan kapal sejak Sultan Aji Panji. Kesultanan Paser menjadikan 30 buah kapal sebagai kapal perang, 30 buah kapal dibagi di 3 pangkalan; 10 buah di pangkalan Tanjung Batu, 10 buah di pangkalan Tanjung Aru, 10 buah lagi di pangkalan Tanjung Jemelai. sisanya 8 buah dijadikan kapal dagang untuk mengangkut hasil hutan seperti; Rotan, Madu, Getah, Tengkawang, Damar dan lain-lain.

Sultan Ibrahim Alamsyah memfokuskan pelabuhan Benuo sebagai Bandar utama Kesultanan Paser. Semua kapal-kapal yang ingin berdagang dan bertransaksi harus bertambat di pelabuhan Benuo, pelabuhan ini menjadi ramai. Banyak pedagang kaya membangun rumah di kawasan pelabuhan, mereka membangun gudang-gudang penyimpanan barang, rumah dan gudang dibangun sejajar pelabuhan. Pemukiman sangat heterogen, dari berbagai suku bangsa di antara ; Bugis, Banjar, Kutai, Jawa, Cina dan Arab. Dari pelabuhan ini Sultan sering melakukan pelayaran mengunjungi 3 pangkalan angkatan lautnya. Di tiap pangkalan Sultan membangun rumah peristirahatan.[29] Sebenarnya, urutan Sultan yang memerintah Paser sejak Aji Panji. Di antarapenulis tidak ada yang singkron. Haji Aji Padang Arjan. Haji Sardani Usman, et al menyebutkan pengganti Aji Geger gelar Sultan Muhammad Alamsyah, Aji Aqub sama dengan Haji Aji Padang Arjan. Haji Sardani Usman, et al. Aji Nurman UK dalam silsilahnya*). Perdagangan di Kesultanan Paser Benuo masih bersifat barter, masyarakat Paser masih memakai plat emas yang dinilai berdasarkan berat timbangan, dengan menggunakan biji buah kupang dan buah biji mata burung. Walaupun demikian mata uang asing cukup lama masuk Kesultanan Paser. Seperti uang Cina, Uang Belanda VOC, Uang Portugis, Uang Spanyol dan sebagainya. Akan tetapi belum sepenuhnya beredar di masyarakat Paser. Sultan Ibrahim Alamsyah kemudian memerintah menggunakan mata uang real, bermacam-macam nilai uang di antaranya sebagai berikut:

  • 1 Real = 1 Batu dari bahan perak
  • 1 Real = 4 Suku dari bahan perak
  • 1 Real = 10 Ketip, dari bahan perak
  • 1 Real = 25 uang dari bahan tembaga
  • 1 Real = 40 gobang dari bahan tembaga
  • 1 Real = 100 picis dari bahan tembaga

Kebutuhan mata uang mulai dirasakan masyarakat Paser. Di saat mereka menemui kesulitan dalam lalu lintas perdagangan, mengakibatkan mereka tidak dapat melakukan sistem barter. Penggunaan bahan perak dan tembaga, untuk memenuhi standar kelayakan mata uang, harus memenuhi persyaratan, mudah dibawa kemana-mana, tahan lama, tidak mudah berubah dari masa ke masa, dan dikeluarkan oleh pemerintah atau penguasa resmi.

Semakin dinamisnya arus perdagangan di pelabuhan Benuo dan perputaran Capital, menyebabkan sistern barter sudah tidak layak lagi.

Keluarga Kesultanan Paser menjalin hubungan perkawinan Kembali Sultan lbrahim memiliki putri yang bernama Aji jawiah kawin dengan Aji Kuncar bin Muhammad Muslihudin. Aji Kuncar kemudian menjadi Sultan Kutai dan bergelar Sultan Muhammad Salehuddin mereka diberi istana peristirahatan oleh Sultan lbrahim di Tanjung Batu. Di saat guha sarang burung di hulu sungai Toyu, dimasuki pencuri mengambil sarang burung yang siap dipanen, Sultan lbrahim meminta bantuan Aji Kuncar di Kutai untuk menangkap pencuri-pencuri itu serta mengawasi perkampungan Muara Pahu, yang dekat dengan perkebunan rotan Sultan Kutai.

Kedatangan bajak lautSunting

Pada tahun 1813. Teluk Adang kedatangan bajak laut mereka mengganggu pelayaran di Teluk Adang. Kondisi Teluk Adang memang cukup rawan, sungai-sungai dan daratan tertutup daun-daun bakau, sungai-sungai dangkal sehingga perahu-perahu besar sulit masuk ke tengah pulau.[30] Anden Segara sebagai komandan laut di Tanjung Jemelai, tidak dapat langsung masuk, kapal-kapalnya hanya bersiaga di muara sungai Rangan, sungai Modang dan sungai Semunte, sungai Gamasin, sementara itu Aji Karang memimpin 3 kesatuan infantri. Masing masing beranggotakan 150 personel, dan pasukan berkuda 40 personel, berangkat melalui desa Bekoso menuju Utara ke arah laut Adang.

Aji Karang tiba di sebelah Barat Teluk Adang, pasukan pengintai menemukan markas bajak laut, ternyata dipimpin La Makkarodda Daeng Sitaba. Pasukan bajak laut dibantu oleh masyarakat Bajau. Dengan pasukan kurang lebih 1500 orang, pasukan Aji Karang menggempur markas bajak laut secara mendadak, para bajak laut terkejut, segera La Makkarodda Daeng Sitaba mengatur anak buahnya, dengan teknik tempur yang baik menyebabkan pasukan Aji Karang kewalahan. Aji Karang dengan pasukannya terpaksa mundur. Dengan mengirim sepucuk surat, Aji Karang meminta bantuan Sultan Ibrahim, Sultan mengirirnkan bantuan angkatan laut dipimpin Mangku Bulu Sumi, yang berani dan kebal. Dengan kekuatan pasukan 200 orang pasukan dan diperkuat pasukan Anden Segara dari Tanjung Jemelai, sehingga seluruh pasukan menjadi 150 orang. Dini hari, pasukan Mangku Bulu Sami merapat di Teluk Adang dan masuk melalui sungai-sungai yang berhutan bakau dan menyerang secara tiba-tiba, dengan menggunakan panah berapi memanahi atap-atap gubuk bajak laut yang terbuat dari daun nipah, kontan saja api menyala melalap atap-atap nipah yang sudah kering.

Para bajak laut terkejut, mereka dihujani panah api dan peluru senapang, banyak anak buah bajak laut yang mati. La Makkarodda dan beberapa anak buahnya lari ke arah Barat. Aji Karang yang menyusul ke Teluk Adang bersama pasukannya. Menurut penyelidikan La Makkarodda berada di Selang (Semuntai), pasukan Aji Karang secepatnya ke Selang dan menyerang gerombolan bajak laut. Aji Karang kemudian dalam pertempuran dapat memotong kedua belah tangan La Makkarodda sehingga pingsan anak buah La Makkarodda kemudian menyerah, Peristiwa ini disebut " Pertempuran Selang".[31]

Atas jasa mereka menumpas bajak laut. Sultan Ibrahim menganugerahkan tiga lokasi hutan, kepada ketiga komandan angkatan lautnya. Hutan tersebut diharapkan dapat digarap menjadi sumber penghasilan keturunan.

  • Aji Karang mendapatkan daerah Teluk Adang
  • Pangeran Mangku Bulu Sami mendapatkan daerah Senipah dan Tanjung Aru
  • Anden Segara mendapatkan daerah Tunan

Aji Karang membuka hutan dengan berladang, kemudian ditanami rotan dan buah-buahan. Aji Karang juga membuat nama-nama wilayah sesuai dengan yang dialaminya dalam pertempuran dalam melawan bajak laut. Seperti Semuntae "Samun" adalah tempat penyamun. "tae" adalah artinya kampung, jadi "kampung penyamun" Modang tempat "Menyanggul" atau menghadang bajak laut Muru artinya disana "mo'ro' Dialek Paser Modang "Mo'aru" Dialek Paser Peteban. Selang artinya Mempertahankan Nasib.[32]

Sultan Mahmud Han AlamsyahSunting

Majunya bandara Benuo dan mulai intensifnya hegemoni Belanda menyebabkan Kesultanan Paser lambat laun juga terpengaruh oleh Belanda. Mereka kemudian memiliki kantor dagang di pelabuhan Benuo, peristiwa ini di mulal sejak pemerintahan Aji Karang bin Sultan Sulaiman Alamsyah tahun 1230-1259 Hijrah atau 1815-1843 Masehi, dia menggantikan Sultan Ibrahim dengan gelar Sultan Mahmud Han Alamsyah. Sejak mulai dibukanya kantor dagang oleh Belanda Kesultanan Paser mulai mengalami proses penetrasi Barat. Satu era munculnya upaya monopoli dagang yang lambat laun menghancurkan struktur kekuasaan Kesultanan Paser.

Sultan Adam AlamsyahSunting

Sultan Adam Alamsyah telah menandatangani surat perjanjian dengan Residen Kalimantan Tenggara pada tanggal 25 Oktober 1843. Kedua persetujuan atau perjanjian yang ditandatangani Sultan Adam Alamsyah itu pada dasarnya leblh bersifat mendekatkan pertalian persahabatan antara Kesultanan Paser dan pemerintah Belanda. Oleh sebab itu, sampai disini sesungguhnya Sultan Paser masih memiliki kedaulatan untuk mengatur sendiri kerajaan.

Sultan Sepuh II AlamsyahSunting

Pada bulan Januari 1847 Sultan Adam Alamsyah wafat, akan tetapi tidak meninggalkan ahli waris lelaki, maka para pembesar Paser melalui perdebatan yang menegangkan, akhirnya sepakat menunjuk Aji Tenggara bin Aji Kimas bergelar Pangeran Nata Kesuma (Pangeran Mangku Bumi), patih Sultan sebagai pengganti. Sultan baru ini memakai gelar Sultan Sepuh II Alamsyah memerintah diperkirakan sampai tahun 1873 (Vr, Ikhtisar keadaan Politik, Op cit hlm XCII, 176. Bandingkan juga dengan Haji Aji Padang Arjan Sejarah singkat Kerajaan Sadurengas atau Kesultanan Paser, tanpa tahun, hlm 14-35*). Sampai pada masa pernerintahan Sultan Sepuh II berakhir, masih belum ada keinginan Belanda untuk menguasai Kesultanan Paser secara langsung. Setelah menderita sakit berkepanjangan Sultan Sepuh II Alamsyah akhirnya wafat.

Sultan Abdurrahman AlamsyahSunting

Sultan Abdurrahman Alamsyah yang memerintah sejak tahun 1874 sampai 1885. Seperti peristiwa sebelumnya, sebelum ditetapkannya sebagai Sultan, didahului oleh pertentangan di kalangan pembesar kerajaan.

Pada masa Sultan Abdurrahman Alamsyah menjadi penandatangan perjanjian dengan pihak Belanda. Isinya sangat menentukan perkembangan sejarah kesultanan Paser berikutnya. Di antaraisi perjanjian penting yang berkaitan dengan hal ini adalah bahwa Kesultanan Paser diputuskan menjadi bagian langsung di bawah lingkungan pemerintahan kerajaan Belanda. Ditekankan dalam isi perjanjian hal ini Sultan tidak lagi diperkenankan melakukan hubungan atau membuat perjanjian dengan pihak luar. Segi keamanan ditangani oleh tentara Belanda, dengan biaya dibebankan kepada penyerahan bagian-bagian hasil Kesultanan Paser yang diserahkan kepada pemerintahan Hindia Belanda, dalam hal ini melalui penguasaan yaitu Residen Kalimantan Tenggara yang berkedudukan di Banjarmasin.[33]

Sultan Muhammad AliSunting

Pemerintahan Sultan Abdurrahman Alamsyah kedaulatan Paser benar benar telah hilang dan kerajaan telah berada langsung di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Sultan Muhammad Ali tidak memiliki kekuasaan apa-apa lagi terkecuali mengabdi saja kepada pemerintah Hindia Belanda, bahkan ketika julius Broers berkuasa sebagai Residen dari tahun 1894 sampai 1899 Sultan Muhammad Ali diberhentikan sebagai Sultan langsung di bawah lingkungan pemerintahan Hindia Belanda.

Sultan Ibrahim KhaliluddinSunting

Pemerintah Belanda mengeluarkan keputusan Gubernmen No. 43, tertanggal 31 Januari 1990 yang memberi kuasa Residen untuk mengaku Sultan Ibrahim Khaliluddin Akta pengakuan dikonfirmasikan dan disetujui berdasarkan keputusan Gubernemen No. 28 tertanggal 27 Nopember 1900. Sehubungan dengan pemerintahnya Belanda mengadakan pembagian dalam dua wilayah (1) Wilayah Gubernemen yakni wilayah yang langsung diperintah oleh pejabat-pejabat Gubernemen. (2) Wilayah kerajaaan (Swapraja/Zelfbestuureride Landschappen), pemerintahan di wilayah ini diserahkan kepada raja-raja yang dituangkan dalam suatu Verklaring (keterangan/pemyataan) seperti Korte Verklaring dan Lange Contract.[34] Isi Korte Verklaring umumnya menyatakan:

  • Raja mengakui kekuasaan tertinggi berada pada pemerintah Belanda.
  • Raja mentaati semua aturan dan perintah Gubememen.
  • Raja tidak akan mengadakan perjanjian dengan negara lain (vr, Ibid).

Situasi sangat kontras terjadi pembagian-pembagian daerah (departemen) Paser dipisahkan dari Kutai. Sejumlah departemen muncul (dibentuk) enam sampai delapan pada tahun 1900.[35]

Memories van Overgave/penyerahan (MVO) dengan Paser oleh Asisten Residen (Kontroleur) W.Van Slooten (1936) dan BJ Themas (193 8).[36]

Antara tahun 1936 dan 1938 telah dikeluarkan beberapa ordonansi dengan besluit GG mengenai pembentukan Gouvernementen Sumatera, Borneo, en de Grote Oost (Staablad 1936/68, staablad 1938/264 dan staatblad 1938/352). Pemerintahan masing-masing Gouvernementen dijalankan oleh seorang Gouvernur atas nama GG.[37]

Khusus wilayah Residen BZO sejak 1 Juli 1938 terbagi atas lima daerah, yakni affdeeling Banjarmasin, Hulu Sungai, Kapuas, Barito, Samarinda dan Bolong.

ReferensiSunting

Pranala luarSunting

  • ^ Pigaud Th.G.Th.Java in the Feureenth Century, A Study in Cultural History Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Jakarta 1960
  • ^ Jacob.T, Asal-usul orang Austronesia Felomik tentang masyarakat Austronesia, Fakta atau Fiksi? LIPI Press Jakarta 2004
  • ^ Poesponegoro, Marawati Joened, et,al. Sejarah Nasional Indonesia Balai Pustaka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 1993
  • ^ Cilik Riwut. Kalimantan Membangun alam dan kebudayaan, PT. Tiara Wacana Yogya, cetakan pertama 17 Agustus 1993 halaman 119-120
  • ^ A.S. Assegaff. Op cit hlm 40
  • ^ Haji Aji Padang Arjan. Haji Sardani Usman, et. al Op cit hlm 4
  • ^ Vr, H. M Yusuf kedatangan Andi Mappanyukki di Kerajaan Paser Diterbitkan oleh BAPPEDA Kabupaten Pasir tahun 2000
  • ^ A.S. Assegaff Op cit hlm 59-61
  • ^ Haji Aji Padang Arjan, Haji Sardani Usman, et al Op cit 8-9
  • ^ H.M Yusuf kisah kampung daya Taka
  • ^ A.S.Assegaff,Op cit hlm 61-63
  • ^ Haji Aji Padang Arjan, Haji Sardani Usman, et al hlm 9-1
  • ^ H.M Yusuf Awal kerajaan Paser BAPPEDA Paser 2000
  • ^ A.S Assegaff, Ibid hlm 66
  • ^ A.S Assegaff, Ibid hlm 86
  • ^ Haji Aji Padang Arjan, Haji Sardani Usman, et al, Op cit hlm 17
  • ^ A.S. Assegaff Ibid hlm.87
  • ^ A.S Assegaff, Ibid hlm 56. Haji Aji Padang Arjan, Haji Sardani Usman/ et al, Ibed 8
  • ^ A.S Assegaff, Ibid him 88-89. Haji Aji Padang Sarjan,Haji Sardani Usman, et.al. Ibid hlm 20. Aji Aqub, Op cit hlm 18
  • ^ H.M, Yusuf “Pernikahan Putri Paser dengan Putra Mahkota Wajo” IS. Assegaff, mengatakan iring-iringan pembawa jemputan didahului oleh bendera kerajaan Wajo, Ibid hlm 103-104
  • ^ A. S. Assegaff, Op cit hlm 103-110. Haji Aji Padang Arjan, Haji Sardani Usman, et al, op cit hlm 20-21
  • ^ A.S. Assegaff, Ibid hlm 110
  • ^ Haji Padang Arjan, Haji Sardani Usman, ct al. hlm 21 Menyatakan kedua mempelai bertolak ke Wajo setelah 7 tahun dari sejak perkawinan mereka
  • ^ A.S Assegaff, Ibid hlm 111- 120. Haji Aji Padang Arjan, Haji Sardani Usman et al. Ibid hlm 23
  • ^ OP cit hlm 18
  • ^ A.S Assegaff, Op cit hIm 133140. Haji Padang Sarjan. Haji Sardani Usman, et a], hlm 27
  • ^ A.S Assegaff, op cit hlm 142-144. Haji Padang Arjan, Haji Sardani Usman, et al. op cit hlm 28, menyatakan 5 buah kapal itu bernama; Tanjung Batu Jaya, Tanjung Aru Jaya, Tanjung Jumelai Jaya, Teluk Adang Jaya dan Teluk Aper Jaya
  • ^ A. S Assegaff, Ibid hlm 144-146
  • ^ A.S Assegaff, Ibid hlm 146-147
  • ^ H.M Yusuf, “Penumpasan Bajak Laut di pantai Kesultanan Paser” 1993
  • ^ AAssegaff, Op cit hlm 152-154
  • ^ A.S Assegaff, Ibid hIrn 156-157
  • ^ Ibid hlm 40
  • ^ Dachlanaj ahranie, et al, (eds), Op cit, hlm 3
  • ^ Lindblad, op, cit, hlm 129
  • ^ Ibid hlm 157
  • ^ Dachlansiahranle, et al, (eds), loc cit