Adji Grissee[1] atau Adji Tenggal (logat Paser)[2] atau Haji Tunggal atau Haji Tunggul (logat Banjar) [3] adalah orang besar atau kepala suku atau penguasa negeri Paser yang menjadi bawahan Raja Banjar Islam ke-4 Marhum Panembahan alias Sultan Mustain Billah sekitar tahun 1619.[1]

Adji Tenggal
Orang Besar dari Paser Pematang
Pengganti♀ Aji Putri - isteri dari Abu Mansyur Indra Jaya
Anak1. ♀ Aji Putri - isteri Abu Mansyur Indra Jaya dari Giri
2. ♀ Aji Ratna - isteri Dipati Ngganding dari Kotawaringin
WangsaDinasti Sadurengas
AgamaIslam Sunni

Diperkirakan tokoh Adji Tenggal ini orang yang sama dengan Aria Manau (Kakah Ukop) sahabat dari Temindong Tokiu dan Temindong Doyong alias Pego (Kepala Adat Paser Pematang). Adji Tenggal adalah ayah dari Sri Sukma Dewi alias Putri di Dalam Petung[4][5]

Kekerabatan dengan Kesultanan BanjarSunting

Pernikahan Aji Ratna dengan Dipati NggandingSunting

Hikayat Banjar dan Kotawaringin menyebutkan:

Pernikahan Aji Raden Aria Mandalika dengan Dayang LimbukSunting

Pernikahan [Aji] Raden Aria Mandalika (cucu Adji Tenggal)[6] dengan Gusti Limbuk alias Dayang Limbuk binti Pangeran Dipati Antasari bin Raja Maruhum Panembahan Sultan Mustain Billah Sultan Banjar IV.

Hikayat Banjar dan Kotawaringin menyebutkan:

Buah pernikahan Aji Raden Aria Mandalika dengan Dayang Limbuk cucu Sultan Mustain Billah adalah seorang putera yang diberi nama Raden Kakatang.[7]

Karaëng-Patingallowang meminjam Paser sebagai Tanah Pinjaman Kesultanan MakassarSunting

Kerajaan Paser merupakan vazal state Kesultanan Banjar pada masa kekuasaan Raja Banjar Islam ke-4 Maruhum Panembahan alias Sultan Mustain Billah (w. 1642). Raja Adjie Mas Anom Indra bin Raja Adjie Mas Patih Indra merupakan Raja Paser yang memerintah tahun 1607 – 1644.

Sekitar tahun 1641 Raja Tallo I Mangngadaccinna Daeng I Ba’le’ Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang (m.1641-1654) meminjam Paser kepada Raja Banjar Sultan Mustain Billah sebagai Tanah Pinjaman Kesultanan Makassar. Hikayat Banjar-Kotawaringin menyebutkan:


Pasca perjanjian Bungaya (18 November 1667), beberapa tahun kemudian sejak tahun 1686, Kutai dan Paser pernah berada di bawah Gouvernement van Makassar (Pemerintahan Makassar) sampai tahun 1834.


Catatan kakiSunting

  1. ^ a b Wolter Robert Hoëvel (1861). Tijdschrift voor Nederlandsch Indië (dalam bahasa Belanda). 52. Ter Lands-drukkerij. hlm. 199. 
  2. ^ Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, Lembaga Kebudajaan Indonesia (1857). "Tijdschrift voor Indische taal-, land-, en volkenkunde" (dalam bahasa Belanda). 23. Lange & Co.: 201. 
  3. ^ Ras, Johannes Jacobus (1990). Hikayat Banjar (dalam bahasa Melayu). Diterjemahkan oleh Siti Hawa Salleh. Lot 1037, Mukim Perindustrian PKNS - Ampang/Hulu Kelang - Selangor Darul Ehsan, Malaysia: Percetakan Dewan Bahasa dan Pustaka. ISBN 9789836212405.  ISBN 983-62-1240-X
  4. ^ Kerajaan Pasir Balengkong (Sadurangas)
  5. ^ Kerajaan Pasir Balengkong (Sadurangas)
  6. ^ Adjie Mas Patih Indra bin Abu Mansyur Indra Jaya, penguasa Paser tahun 1567 – 1607
  7. ^ Adjie Mas Anom Indra bin Adjie Mas Patih Indra, Raja Paser 1607 – 1644
  8. ^ Anthropologica (dalam bahasa Belanda). 7. M. Nijhoff. 1860. hlm. 282. 
  9. ^ Pijnappel, J. (1854). Beschrijving van het westelijke gedeelte van de zuid- en oosterafdeeling van Borneo: (De afdeeling Sampit en de zuidkust) (dalam bahasa Belanda).