Buka menu utama

Satyagraha Hoerip (lahir di Lamongan, Jawa Timur, 7 April 1934 – meninggal di Jakarta, 14 Oktober 1998 pada umur 64 tahun) atau lebih dikenal dengan nama Oyik adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Dia merupakan penulis cerpen, novel, dan skenario film yang cukup diperhitungkan di kancah sastra Indonesia. Oyik juga merupakan pencetus angkatan sastrawan 1963, sebelum H.B. Jassin mencetuskan angkatan sastrawan 1966. Meskipun tak pernah menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi, dia pernah menjadi dosen tamu pada Indonesian Studies Summer Institute, University Ohio, Athens, Amerika Serikat (1982). Karyanya dalam bentuk skenario, Di antara dua dunia (1980) pernah diangkat ke film layar lebar oleh Teguh Karya dan Palupi (1970) di filmkan oleh Asrul Sani.[1]

Daftar isi

Kehidupan pribadiSunting

Oyik lahir dari darah priyayi (bangsawan). Kedua orang tuanya mengharapkan dia dapat menjadi sarjana hukum, tapi buku-buku sastra yang dibacanya, terutama cerita wayang dan dongeng telah merangsang ke dunia fantasinya untuk lebih mendalami dan menekuni dunia cerita rekaan.[2]

Setelah menamatkan SMA, ia melanjutkan ke perguruan tinggi. Berbagai perguruan tinggi pun telah dimasukinya namun kuliahnya tidak pernah sampai selesai, antara lain Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1950). Di situ dia tercatat sebagai mahasiswa ikatan dinas. Kemudian ia pindah ke Universitas Gajahmada Yogyakarta dengan memilih Fakultas HESP (Hukum Ekonomi, Sosial Politik) juga sebagai mahasiswa ikatan dinas. Di UGM juga ia tidak betah lalu pindah ke Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung, yang juga tidak begitu lama lalu menetapkan untuk bekerja di media massa yang sudah ditekuni selama bertahun-tahun.[3]

Bakat Oyik sebagai penulis sudah kelihatan sejak ia duduk di SMP. Di luar kegiatan sekolah Oyik juga membuat perkumpulan yang disebut dengan GAYA (Gallant Asociation of Young Artist), dengan jumlah anggotanya sebanyak 20 orang.[4]

Oyik tidak pernah dapat menyelesaikan kuliahnya. Hal ini terjadi karena keinginan orang tua tidak sama dengan keinginannya. Jadi ia masuk di berbagai universi­tas semata-mata hanyalah untuk menyenangkan hati kedua orang tuanya, dimana orang tuanya menginginkan supaya anaknya bisa mencapai gelar Meester in de Rechten (MR). Namun hal tersebut tidak disadari oleh orang tuanya, bahwa darah seni lebih menguasai kehidupan Oyik. Oleh sebab itu walaupun Oyik tetap mengikuti kegiatan kuliah, yang dilakukannya adalah menulis dan membaca buku-buku tentang eksistensialisme dan buku politik.

Ikon karya sastra Oyik paling dikenal di Indonesia adalah Bisma Banteng Mayapada (cerita wayang, 1960), Sepasang Suami Isteri (novel, 1964), Burung Api (cerita anak, 1970), Tentang Delapan Orang (kumpulan cerpen, 1980), Sesudah Bersih Desa (kumpulan cerpen, 1989), Gedono Gedini (kumpulan cerpen, 1990), dan Sarinah Kembang Cikembang (kumpulan cerpen, 1993)[5]

Pengalaman kerjaSunting

PenghargaanSunting

  • Seorang Buruan (cerpen), mendapat hadiah hiburan majalah Sastra tahun 1961
  • Sebelum yang terakhir (cerpen), mendapat pujian dari redaksi majalah Horison tahun 1968.

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting