SMA Negeri 1 Medan

Sekolah menengah atas di Kota Medan

SMA Negeri 1 Medan, atau Smansa Medan, terletak di Jalan Teuku Cik Dik Tiro No. 1, Medan, Sumatra Utara. Berdiri sejak tahun 1950, SMA Negeri 1 Medan melahirkan banyak pemimpin sipil dan militer di tingkat regional maupun nasional. Berdiri di jantung pusat kota yang kosmopolitan, Smansa Medan mendidik siswa dengan disiplin ketat demi mengabdikan ilmu untuk kepentingan bangsa dan negara. Selama masa Orde Lama dan Orde Baru, Smansa Medan terkenal dengan reputasi guru-gurunya yang tegas dan berkualitas. Banyak alumni Smansa Medan dikenal umum sebagai pelayan publik yang berhasil.

SMA Negeri 1 Medan
Informasi
Didirikan1950
Jurusan atau peminatanIPA dan IPS
Rentang kelasX, XI IPA, XI IPS, XII IPA, XII IPS
KurikulumKurikulum 2013
Jumlah siswa1296
Alamat
LokasiJl. Teuku Cik Ditiro No.1, Madras Hulu, Medan Polonia, Medan, Sumatra Utara 20152, Medan, Sumatra Utara
Moto

Salah satu ciri khas unik yang dikenal dari Smansa Medan ialah posisi historisnya sebagai almamater para gubernur dan jenderal. Banyak alumninya yang berhasil melanjutkan pendidikan tinggi di jenjang akademi militer (Akademi Militer, AAU, AAL, Akpol) dan menunjukkan prestasi kepemimpinan yang menonjol sebagai perwira tinggi dalam sejarah modern Indonesia. Sedikit nama di antaranya ialah Edy Rahmayadi (Gubernur Sumatera Utara, Panglima Kostrad), Raja Inal Siregar (Gubernur Sumatera Utara, Panglima Kodam Siliwangi), Tengku Rizal Nurdin (Gubernur Sumatera Utara, Panglima Kodam Bukit Barisan), Adolf Sahala Rajagukguk (Wakil KASAD, Panglima Kostrad), Raja Kami Sembiring Meliala (Ketua Komisi II DPR RI, Panglima Kodam Cenderawasih), Burhanuddin Siagian (Panglima Kodam Bukit Barisan), Zahari Siregar (Panglima Kodam Iskandar Muda), Ahwil Luthan (Gubernur PTIK, Kepala BNN) dan lain-lain.

Namun, sejak tahun 2000-an, citra Smansa Medan sebagai sekolah yang keras berubah drastis seiring keberhasilannya dalam melakukan transformasi penyelarasan disiplin pendidikan yang ketat dengan semangat kemerdekaan belajar yang memacu kreativitas di bidang seni budaya. Smansa Medan melahirkan siswa-siswi kreatif dengan bakat menonjol di berbagai bidang industri kreatif. Rini Wulandari menjadi pemenang pertama Indonesian Idol (musim keempat) tahun 2007 di RCTI. Uma Tobing menjadi pemenang pertama Indonesia Mencari Bakat 2 tahun 2010-2011 di Trans TV. Keduanya menjadi juara ketika masih menempuh studi di Smansa Medan.

Sejarah SekolahSunting

Pendirian SMA Negeri 1 Medan dirintis pada tanggal 18 Agustus - 1 September tahun 1950, pada mulanya berlokasi di Jalan Teuku Umar No. 1, Medan. Sebelum menempati lokasi Jalan Teuku Cik Dik Tiro No. 1 Medan, SMA Negeri 1 Medan pernah berubah menjadi SMA darurat yang berlokasi di Jalan Seram Biru pada masa agresi Belanda yang kerap melakukan aksi polisionil.

Dahulu, SMA Negeri 1 Medan sempat disebut sebagai SMA Teladan Medan. Pada tahun 1954, Kepala Urusan Pendidikan SMA Depdikbud menugaskan beberapa SMA negeri terpilih untuk mengadakan kurikulum baru. Sekolah-sekolah ini kemudian disebut sebagai SMA Teladan di masing-masing kota tersebut. Didasari oleh SK Mendikbud nomor 12807/a/c pada tanggal 16 Desember 1957, beberapa SMA Teladan berdiri di Jakarta, Medan, Surabaya, Bukit Tinggi, dan Yogyakarta . SMA Teladan sendiri terdiri menjadi tiga bagian. Bagian A bermaterikan Sastra Budaya, bagian B mengajarkan Ilmu Pasti, dan bagian C bermaterikan Sosial Ekonomi. Anwar Nasution (Guru Besar FE UI, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia 2004-2009) dan adalah salah satu alumni Smansa Medan saat masih bernama SMA Teladan Medan.

Tak lama kemudian, proyek SMA Teladan diterapkan di seluruh Indonesia. Sejak saat itu, nama SMA Teladan Medan berubah menjadi SMA Negeri 1 Medan. Di era reformasi, sekolah ini sempat berubah menjadi SMU Negeri 1 Medan seiring perubahan nama Sekolah Menengah Atas menjadi Sekolah Menengah Umum di seluruh Indonesia. Hingga kini, sekolah ini kembali disebut sebagai SMA Negeri 1 Medan (Smansa Medan).

Sejak berdiri, SMA Negeri 1 Medan tetap konsisten menerapkan disiplin yang tegas dalam menjalankan pengajaran dan pendidikan. Tradisi ini dijalankan semenjak Rondang M. Simanjuntak menjabat sebagai Direktur Sekolah sejak tahun 1950 hingga 1960. Sosok kepala sekolah pertama Smansa Medan ini digambarkan oleh salah seorang mantan siswanya, Derom Bangun, sebagai berikut, "Pak Rondang memang terkenal sebagai orang yang aktif sekali. Perawakannya tidak begitu tinggi dan berwajah halus. Tapi soal ketegasan, tidak ada orang yang bisa mematahkannya. Kemampuannya menguasai bahasa luar biasa hebatnya. Pernah suatu kali saya mendengar dia menerima telepon di kantornya. Rupanya telepon itu dari seorang guru bahasa Jerman. Mereka pun terlibat dalam percakapan bahasa Jerman."

Pembauran InklusifSunting

Sejak berdiri, SMA Negeri 1 Medan menerapkan pembauran inklusif. Murid dan guru, serta kepala sekolah, berasal dari berbagai etnis: Aceh, Batak, Bugis, Jawa, India, Melayu, Nias, Sunda, Tionghoa, dan lain-lain. Contohnya, Harbrinderjit Singh Dillon, tokoh pejuang HAM keturunan India, adalah salah satu lulusan terbaik yang dihasilkan Smansa. Dalam pergaulan sehari-hari di sekolah, Bahasa Indonesia merupakan bahasa utama. Siswa atau guru dari etnis yang sama tetap menggunakan Bahasa Indonesia dalam pergaulan. Selain keberagaman etnis, sekolah ini juga terkenal dengan keberagaman agama: mulai dari Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, hingga Konghucu. Smansa Medan dikenal karena memberikan kebebasan menghidupkan toleransi kegiatan siswa dengan agama berbeda: mulai dari aktivitas perkumpulan siswa bernuansa islami hingga paduan suara siswa nasrani Sola Gratia, masing-masing memiliki prestasi tersendiri.

Smansa Medan bersifat inklusif dalam pembauran. Seleksi penerimaan siswa SMA Negeri 1 Medan bersifat eksklusif berdasarkan tolok ukur nilai akademik. Didorong animo para pendaftar yang pada umumnya memiliki nilai akademik tinggi, SMA Negeri 1 Medan dituntut untuk menyeleksi hanya yang terbaik dari yang terbaik. Dengan komposisi siswa pilihan terbaik, Smansa Medan dikenal dengan tradisi menghasilkan lulusan yang diterima di berbagai kampus terbaik di Indonesia (UI, ITB, ITS, UGM, IPB, UNPAD, USU, UNDIP, dll) dan berbagai perguruan tinggi terbaik luar negeri (Jepang, Korea Selatan, Singapura, Australia, dan lain-lain).

Sama dengan SMA pada umumnya di Indonesia, masa pendidikan sekolah di SMA Negeri 1 Medan ditempuh dalam waktu tiga tahun pelajaran, mulai dari Kelas X sampai Kelas XII. Sejak tahun 2015, sekolah ini memakai Kurikulum 2013 untuk kelas X, kelas XI dan XII.

FasilitasSunting

Berbagai fasilitas dimiliki SMAN 1 Medan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Fasilitas tersebut antara lain:

Alumni Ternama dari SMA Negeri 1 MedanSunting

ReferensiSunting