Buka menu utama
Riswandha Imawan

Prof. Dr. Riswandha Imawan (lahir di Bangkalan, 17 Januari 1955 – meninggal di Depok, Sleman, 4 Agustus 2006 pada umur 51 tahun) adalah seorang ahli ilmu politik dan dosen yang dikenal luas karena pandangan-pandangan dan analisisnya yang tajam dan kritis di surat-surat kabar, khususnya mengenai politik pemerintahan Indonesia.

Daftar isi

Pendidikan dan karierSunting

Riswandha Imawan (kadang-kadang ditulis pula Riswanda) sejak 1979 mengabdikan hidupnya bagi Universitas Gadjah Mada, tepatnya di Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol. Setelah menyelesaikan M.A di Northern Illinois University tahun 1985, empat tahun kemudian ia mendapatkan gelar doktornya dari Universitas Northern Illinois, Amerika Serikat, pada 1989. Rektor UGM Prof. Dr. Sofian Effendi memuji Riswandha sebagai seorang pendobrak kefeodalan di lingkungan universitasnya.

Pada 4 September 2004 ia dikukuhkan sebagai guru besar dan menyampaikan pidato pengukuhannya yang berjudul "Pergulatan Politik di Indonesia: Pergulatan Setengah Hati Mencari Identitas Diri."

Dosen yang kocak dan selalu mengajak mahasiswa tersenyum ini merupakan salah satu ahli partai politik dan sistem pemilu di Indonesia. Desertasinya yang berjudul "The Evolution of Political Party Systems in Indonesia: 1900 to 1987" merupakan bacaan wajib bagi peminat partai dan pemilu Indonesia. Gaya bicaranya yang kocak, lugas dan ceplas-ceplos membuat dia disukai banyak kalangan.

Malam sebelum ia berpulang, Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan ini masih sempat memeriksa hasil ujian mahasiswanya, padahal ia baru saja kembali dari Manado untuk membawakan sebuah seminar. Pada pagi harinya ia masih menguji skripsi mahasiswanya. Siangnya, ia berangkat ke Bandar Udara Adisutjipto untuk menuju Kupang. Namun pada saat sedang menunggu penerbangan, ia tiba-tiba jatuh pingsan. Ia segera dibawa ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong lagi. Ia meninggal karena penyakit diabetes dan jantung yang telah lama diidapnya. Jenazahnya dikebumikan di makam Keluarga Besar UGM di Sawitsari, Condongcatur, Sleman pada esok harinya. Pada saat pemakamannya, iringan mobil tidak terputus sejak dari Balairung UGM sampai Sawitsari.

Pekerja kerasSunting

Riswandha terkenal sebagai seorang pekerja keras. Seminggu menjelang ia dipanggil Penciptanya, kepada keluarganya ia banyak mengeluhkan sakit di bagian dadanya. Namun ia tetap enggan meninggalkan tanggung jawab dan pekerjaannya.

Meskipun demikian, pada masa-masa terakhir menjelang akhir hayatnya Riswandha banyak meningkatkan aktivitas keagamaannya dan sempat menunaikan ibadah hajinya.

KeluargaSunting

Riswandha meninggalkan seorang istri, Dra. Herry Isminedy dan dan tiga orang anak laki-laki, Rafif Pamenang Imawan, Satria Aji Imawan dan Arga Pribadi Imawan.

Sebagian dari karya tulis RiswandhaSunting

  • Membedah politik Orde Baru (1997)
  • Dinamika pemilih dalam Pemilu 1992 (1992)
  • The Evolution of Political Party Systems in Indonesia, 1900 to 1987 (1989)

Pranala luarSunting