Qutaibah bin Muslim

Qutaibah bin Muslim al-Bahili (49 - 96 H / 669 - 715 M)[1] adalah seorang gubernur Khurasan pada masa Dinasti Umayyah di bawah kekhalifahan Walid bin Abdul Malik yang dikenal berhasil menaklukan wilayah Uni Soviet hingga China. Qutaibah dikenal sebagai gubernur Khurasan yang memiliki loyalitas tinggi terhadap Dinasti Umayyah dan berjasa atas penyebaran agama Islam khususnya di wilayah Asia Tengah yang saat itu didominasi oleh kepercayaan Zoroaster atau Majusi, Budha, Maniisme, dan Nestorianisme.[2][3]

Transoxiana 8th century.svg

GenealogiSunting

Qutaibah bin Muslim bin Amr bin al-Hushain bin Rabi'ah bin Khalid bin Usaid al-Khair bin Qudhai bin Hilal bin Salamah bin Tsa'labah bin Wa'il bin Ma'n bin Malik bin A'shar al-Bahili.[4]

Biografi singkatSunting

Qutaibah bin Muslim lahir di Irak pada tahun 49 H/669 M. Ia merupakan anak dari Muslim bin Amru dan berasal dari kabilah Bahili, yaitu kelompok masyarakat yang paling rendah. Sedari muda ia telah belajar Al-Quran dan ilmu fiqih, serta mempelajari teknik berkuda dan strategi berperang. Ia tumbuh besar ketika Irak sedang menghadapi banyak pemberontakan. Sebagai bentuk pengabdian terhadap Islam dan penyebaran dakwah, pemerintah Irak menguatkan barisan dengan melatih penduduknya untuk berperang.[2]

Karier dan Masa kepemimpinanSunting

Meskipun berasal dari kalangan rendah, Qutaibah dikenal sebagai sosok pemberani dan cerdas. Karena kepiawaiannya dalam berperang dan jiwa kepemimpinannya dinilai baik, para pembesar mulai mengenal namanya. Salah satu pembesar yang terpukau atas keahliannnya adalah panglima Muhallab bin Abi Shafrah, dan disampaikanlah kabar ini kepada Hajjaj bin Yusuf, seorang yang dipercaya Khalifah Walid bin Abdul Malik sebagai tangan kanannya. Hajjaj menunjuk beberapa orang sebagai gubernur di wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah, diantaranya Qutaibah bin Muslim sebagai guberunur Khurasan (86 H), dan Musa bin Nushair sebagai gubernur Afrika. Selama kepemimpinan Qutaibah ia berhasil memperluas daerah kekuasaan hingga ke China dan Turkistan.[5]

Dia menjabat sebagai Gubernur Khurasan sejak 705 M–715 M dan berhasil menaklukan Transoxiana setelah melewati sungai Amu Darya atau Oxus, yaitu sungai yang membatasi Iran dan Turan, dimana masyarakatnya berbicara dalam bahasa Persia dan Turki. Transoxiana saat ini meliputi Uzbekistan, Tajikistan, Kirgizstan, Turkmenistan, dan Kazakhstan. Beberapa daerah yang tercatat berhasil ditaklukan selama masa kepemimpinannya adalah Balkh, ibukota Tukharistan (705), Bukhara dan Dogdiana (706-709), hingga Samarkand dan Khawarezmia (710-712).[3]

Masa PengkhianatanSunting

Sebelum Walid bin Abdul Malik meninggal, Qutaibah termasuk salah satu orang yang paling mendukung agar anak pertama Walid bin Abdul Malik, yaitu Abdul Aziz bin Al Walid, menjadi penerus ayahnya dalam kepemimpinan. Namun, sesuai wasiat dari Khalifah Abdul Malik sebelum wafat, bahwa yang akan menggantikan Walid bin Abdul Malik haruslah Sulaiman bin Abdul Malik, adik kandungnya sendiri. Ketika Sulaiman maju menjadi khalifah, dia mengganti semua gubernur yang sudah sangat berjasa pada masa pemerintahan Al Walid, seperti Hajjaj bin Yusuf, Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad.[6] Karena kekhawatiran Qutaibah bahwa Sulaiman juga akan menggantikan posisinya sebagai gubernur oleh Yazid bin Muhallab, maka dia mengutus seorang kurir untuk membawa tiga surat kepada Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Surat itu berisi ucapan selamat, peran penting Qutaibah selama dibawah kepemimpinan Walid bin Abdul Malik, serta ancaman bila ia digantikan oleh Yazid bin Muhallab sebagai gubernur Khurasan.[7]

Qutaibah meninggal ditangan para pendukungnya yang berbelok menjadi pemberontak. Hal ini disebabkan Qutaibah mendorong penduduknya untuk melakukan perlawanan terhadap Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik.[7]

KeluargaSunting

Qutaibah memiliki anak yang bernama: Salm, Qathan bin Qutaibah, dan ibu Qathan adalah ummu walad. Anak-anak lainnya adalah: Al-Hajjaj, Abdurrahman, Muslim, Katsir, dan Shalih, dan ibu mereka adalah Az-Za'um binti Iyas bin Sa'id bin Hani' bin Qabishah. Umar, ibunya adalah ummu walad, dan Yusuf ibunya juga ummu walad.[8] Di kemudian hari keturunannya memegang jabatan yang berpengaruh: Qathan menjabat sebagai gubernur Bukhara, dan Salm menjabat sebagai gubernur Bashrah dan Ray. Cucunya, terutama yang banyak berasal dari putra Salm, mendapatkan jabatan tinggi di bawah pemerintahan Abbasiyah hingga memasuki abad ke-9.[9][10]

Makam QutaibahSunting

Makamnya di ketahui berada di lembah Fergana, Uzbekistan timur, dekat kota Andijan.[11][12]

ReferensiSunting

  1. ^ Az-Zarkali, Khoiruddin. "Qutaibah bin Muslim". Al-A'lam (dalam bahasa Arab). Musawa'ah Syabkah al-Ma'rifat ar-Raifiyah. Archived from the original on 2020-05-19. Diakses tanggal 12 December 2011. 
  2. ^ a b Ramdhani, Iqbal (2018-12-26). "Qutaibah bin Muslim, Penakluk Daratan China | Muslim Obsession". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-02-18. Diakses tanggal 2020-02-18. 
  3. ^ a b "Bagaimana Islam Menyebar di Xinjiang?". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-02-22. Diakses tanggal 2020-02-22. 
  4. ^ Ibnu Hazm al-Andalusi. Jamharat Ansab Al-Arab. hlm. 246. 
  5. ^ "Qutaybah ibn Muslim | Arab general". Encyclopedia Britannica (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-02-18. Diakses tanggal 2020-02-18. 
  6. ^ "Dinasti Umayyah (15): Dinamika Politik di Masa Al Walid bin Abdul Malik – Gana Islamika". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-02-18. Diakses tanggal 2020-02-18. 
  7. ^ a b "Dinasti Umayyah (16): Sulaiman bin Abdul Malik Memecat Para Gubernur Al Walid – Gana Islamika". Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-02-18. Diakses tanggal 2020-02-18. 
  8. ^ Jamal min Ansab al-Asyraf - 4, hlm 5612-5613
  9. ^ Bosworth 1986, hlm. 542.
  10. ^ Crone 1980, hlm. 137–138.
  11. ^ Rihlah ila Uzbekistan.. Qalab Asia an-Nabidh bil A'raq Watsaqafat, Ammar As-Sanjari, Al-Bayan al-Imaratiyah, tanggal: 29 Desember 2006 (رحلة إلى أوزبكستان.. قلب آسيا النابض بالأعراق والثقافات، عمار السنجري، البيان الاماراتية، التاريخ: 29 ديسمبر 2006)
  12. ^ Ibnu Syakir, Fawat al-Wafayat, jilid 15, hlm 194

SumberSunting