Buka menu utama

Pertempuran Makin adalah pertempuran dalam Perang Pasifik pada Perang Dunia II, yang berlangsung dari tanggal 20 sampai 23 November 1943, di Atol Makin, bagian dari Kepulauan Gilbert.

Daftar isi

Latar BelakangSunting

Invasi Jepang dan perkuatannyaSunting

Berakhirnya Kampanye Kepulauan Aleut dan kemajuan di Kepulauan Solomon, ditambah dengan meningkatkan pasokan sumber daya manusia dan material, memberikan Angkatan Laut Amerika Serikat modal untuk meluncurkan invasi ke Pasifik Tengah pada akhir 1943. Laksamana Chester Nimitz telah berargumen agar invasi ini dilaksanakan pada awal 1943, tapi sumber dayanya belum tersedia karena sedang digunakan untuk Operasi Cartwheel, pengepungan Rabaul di Kepulauan Bismarck. Rencananya adalah mendekati kepulauan Jepang dengan cara “lompat pulau” (island hopping): mendirikan pangkalan laut dan udara di sebuah kepulauan untuk mendukung serangan ke kepulauan berikutnya. Kepulauan Gilbert adalah langkah awal dari rangkaian ini.

Pada tanggal 10 Desember 1941, tiga hari setelah serangan ke Pearl Harbor, 300 tentara Jepang ditambah pekerja dari Pasukan Pendarat Khusus Invasi Kepulauan Gilbert telah tiba di Atol Makin dan mendarat disana tanpa perlawanan. Terletak di timur Kepulauan Marshall, Makin akan menjadi pangkalan pesawat amfibi yang bagus, memperluas jangakuan patroli udara Jepang lebih dekat ke Pulau Howland, Pulau Baker, Tuvalu, Kepulauan Phoenix dan Kepulauan Ellice yang semuanya dikuasai Sekutu dan melindungi sisi timur perimeter Jepang dari serangan Sekutu

Serangan Marinir ke MakinSunting

Pada tanggal 17 Agustus 1942, 211 orang Marinir dari Raider Marinir 2 di bawah pimpinan Kolonel vans Carlson dan Kapten James Roosevelt didaratkan di Makin dari dua kapal selam, USS Nautilus dan USS Argonaut. Garnisun Jepang hanya menugaskan antara 83 sampai 160 orang di bawah pimpinan seorang perwira muda. Para Raider menewaskan sekitar 83 serdadu Jepang, memusnahkan garnisun, dan menghancurkan instalasi-instalasi dengan kerugian 21 orang tewas (sebagian besar karena serangan udara) dan 9 ditawan. Jepang memindahkan tawanan mereka ke Atol Kwajalein, dimana nantinya mereka dipenggal. Tujuan dari serangan tersebut adalah untuk membingungkan Jepang akan tujuan Amerika Serikat di Pasifik, tapi akibatnya Jepang menjadi sadar akan pentingnya Kepulauan Gilbert secara strategis dan memperkuat pertahanan disana.

Setelah serangan Carlson, Jepang memperkuat Kepulauan Gilbert, yang tadinya hanya dijaga sekadarnya. Makin dijaga oleh garnisun dari sebuah kompi Pasukan Khusus Pangkalan 5 (700 – 800 orang) pada bulan Agustus 1942, dan pekerjaan pembangunan pangkalan pesawat amfibi dan pertahanan pantai di atol itu dilanjutkan dengan sungguh-sungguh. Sebelum bulan Juli 1943 pangkalan pesawat amfibi di Makin rampung dan siap menampung pembom amfibi Kawanishi H8K “Emily”, pesawat tempur apung Nakajima A6M2-N “Rufe” dan pesawat intai apung Aichi E13A “Jake”. Pertahanannya juga sudah selesai dibangun walaupun tidak sebesar yang di Atol Tarawa (pangkalan udara utama Angkatan Laut Jepang di Kepulauan Gilbert). Korps Udara Chitose dan 653 juga ditempatkan di sini. Sementara Jepang memperkuat pertahanan mereka di Kepulauan Gilbert, Pasukan Amerika sedang merencanakan perebutan kembali kepulauan tersebut.

Rencana penyerangan Amerika SerikatSunting

Pada bulan Juni 1943 Kastaf Gabungan mengarahkan Laksamana Chester W. Nimitz, Komandan Armada Pasifik (CINCPAC), untuk menyerahkan rencana pendudukan Kepulauan Marshall. Mulanya Nimitz dan Laksamana Ernest J. King, Kepala Operasi AL, ingin menyerang tepat di jantung lingkar pertahanan terluar Jepang, tapi semua rencana untuk menyerag Kepulauan Marshall langsung dari Pearl Harbor akan membutuhkan kapal pengangkut dan personil yang lebih banyak dari yang dimiliki oleh Armada Pasifik saat itu. Dengan mempertimbangkan kekurangan ini dan terbatasnya pengalaman tempur pasukan Amerika Serikat, King dan Nimitz memutuskan untuk merebut Kepulauan Marshall dengan operasi bertahap melalui Kepulauan Ellice dan Gilbert. Kepulauan Gilbert terletak 300 km selatan Kepualaun Marshall dan masih dalam jangkauan pesawat B-24 milik Angkatan Darat Amerika Serikat yang berpangkalan di Kepulauan Ellice, yang dapat menyediakan dukungan pemboman dan pengintaian jarak jauh untuk operasi di Kepulauan Gilbert. Dengan memikirkan keunggulan-keunggulan, pada tanggal 20 Juli 1943 Kastaf Gabungan memutuskan untuk merebut Atol Tarawa dan Abernama di Kepulauan Gilbert, plus Pulau Nauru di dekatnya. Operasi tersebut dinamai Operasi Galvanic.

Komandan Korps Amfibi V dan Divisi Infanteri ke-27
May. Jen. Holland M. Smith, USMC
May. Jen. Ralph C. Smith, USA

Pada tanggal 4 September pasukan amfibi Armada 5 Amerika Serikat ditugaskan ke Korps Amfibi V di bawah pimpinan Mayjen Mar. Holland M. Smith. Korps Amfibi V hanya punya dua divisi, Divisi Marinir 2 berpangkalan di Selandia Baru, dan Divisi Infantri 27 Angkatan Darat Amerika Serikat yang berpangkalan di Hawaii. Divisi Infantri 27 tadinya merupakan kesatuan Garda Nasional New York sebelum dipanggil untuk tugas federal pada bulan Oktober 1940. Divisi tersebut dipindahkan ke Hawaii dan tinggal di sana selama 1½ tahun sebelum dipilih oleh Letjen Robert C. Richardson, Jr., Komandan Angkatan Darat Amerika Serikat di Pasifik Tengah untuk invasi ke Kepulauan GIlbert. Kapten James Jones (ayah dari mantan Komandan Korps Marinir, James L. Jones), Perwira pemimpin Kompi Intai Amfibi, VAC melakukan pengintaian periskop di Kepulauan Gilbert di atas kapal selam USS Nautilus, menghasilkan catatan akurat tentang pantai pendaratan untuk invasi mendatang.[1]

Divisi Infantri 27 ditugaskan untuk memasok pasukan pendaratan dengan satu tim tempur resimental (Resimen Infantri 165, “Fighting 69th” yang terkenal dari Garda Nasional New York), diperkuat oleh satu batalion tim pendarat (Batalion 3, Resimen Infantri 105), didukung oleh Batalion Artileri Medan 105 dan Batalion Tank 193, di bawah pimpinan Mayjen Ralph C. Smith, seorang veteran Perang Dunia I, yang telah dilantik pada bulan November 1942. Beliau adalah salah satu perwira yang sangat dihormati di Angkatan Darat Amerika Serikat saat itu. Pada bulan April 1943, Divisi Infantri 27 telah memulai persiapan untuk operasi amfibi.

Perencanaan peran Divisi Infantri 27 dalam “Galvanic” (bagian Angkatan Darat dinamai “Kourbash”) dimulai awal Agustus 1943, dengan Pulau Nauru di barat Kepulauan Gilbert sebagai tujuan awal. Tidak seperti target lainnya, Nauru memang sebuah pulau, berukuran jauh lebih besar dan lebih kuat pertahanannya.

Namun, pada bulan September 1943 tugas Divisi 27 diganti. Sukarnya menyediakan dukungan laut dan udara secara bersamaan dengan operasi di Tarawa dan jarak Nauru yang lebih jauh, ditambah dengan kurangnya kapal pengangkut untuk mengangkut seluruh Divisi untuk merebut Nauru yang lebih besar dan lebih kuat pertahanannya, menyebabkan Laksamana Nimitz meindahakan target Divisi 27 dari Nauru ke Atol Makin, di timur laut Kepulauan Gilbert. Para staf Divisi Infantri 27 mengetahui perubahan target pada tanggal 28 September, membatalkan rencana Nauru, dan mulai merencanakan perebutan Makin.[2]

Hancurnya banyak pesawat dan lumpuhnya empat kapal penjelajah berat mereka di Kepulauan Solomon membuat rencana awal Jepang untuk menyerang armada invasi Amerika dengan menggunakan pasukan yang berppangkalan di Truk di dekat Kepulauan Caroline (Mandat Pasifik Selatan) menjadi dibatalkan. Garnisun di Tarawa dan Makin dibiarkan menemui nasibnya.

PembukaanSunting

 
Atol Makin

Armada invasi, Satgas 52 (TF 52) dipimpin Laksamana Muda Richmond K. Turner meninggalkan Pearl Harbor pada tanggal 10 November 1943. Pasukan pendarat, Kelompok Tugas 52.6, terdiri dari kesatuan-kesatuan dari Divisi Infantri ke-27 dipimpin oleh Mayjen Ralph C. Smith, diangkut oleh kapal-kapal angkut serang Neville, Leonard Wood, Calvert, dan Pierce; kapal kargo serang Alcyone; Kapal dok pendarat Belle Grove; dan kapal LST−31, −78, dan −179 dari Kelompok Tugas 52.1.

Menjelang invasi, garnisun Jepang di pulau utama Atol Makin, Butaritari, berisi 806 orang: 284 pasukan marinir dari Pasuka Khusus Pendarat 6, 108 anggota penerbang dari Kesatuan Penerbang 802 dan 952, 138 anggota Pionir 111, dan 276 orang dari Departemen Konstruksi Armada 4 dan Detasemen Tank Makin dari Pasukan Khusus Pangkalan 3 (terdiri dari 3 tank Tipe 95 Ha-Go), semuanya dipimpin oleh Letnan Seizo Ishikawa.[3][4] Jumlah pasukan tempur terlatih di Makin tak lebih dari 300 orang.

Pertahanan darat Butaritari dipusatkan di sekitar pantai laguna, di dekat pangkalan pesawat amfibi di bagian tengah pulau. Ada dua sistem perintang tank: Perintang tank sebelah barat memanjang mulai dari laguna sampai duapertiga pulau Butaritari, lebarnya 13 kaki (4,0 m) dan sedalam 15 kaki (4,6 m), dan dilindungi oleh satu meriam anti-tank yang ditempatkan di dalam pos tembak beton, enam posisi senapan mesin, dan 50 liang tembak. Perintang tank sebelah timur, Lebarnya 14 kaki (4,3 m) dan sedalam 6 kaki (1,8 m), merentang mulai dari laguna melintasi duapertiga pulau dan membengkok ke barat dengan barikade anti-tank terbuat dari kayu di tiap ujungnya. Perintang tersebut dilindungi oleh dua lapis pagar kawat duri dan sistem pos tembak dan liang tembak yang rumit.

PertempuranSunting

InvasiSunting

Operasi udara terhadap Makin dimulai tanggal 13 November, dengan pembom-pembom B-24 milik Angkatan Darat Amerika Serikat dari Angkatan Udara Ketujuh dari Kepulauan Ellice. Pembom-pembom tukik SBD Dauntless yang dikawal oleh Grumman FM-1 Wildcat dan Grumman TBF Avenger dari kapal-kapal induk kawal USS Liscome Bay, USS Coral Sea dan USS Corregidor; diikuti oleh tembakan meriam 8-inci (200 mm) dari USS Minneapolis dan kapal perang lainnya. Selama bombardemen, sebuah ledakan di meriam USS Mississippi menewaskan 43 pelaut.

Pasukan mulai mendarat di dua pantai pada pukul 08:30 tanggal 20 November. Pendaratan awal di Pantai Red berjalan sesuai rencana dengan pasukan penyerang bergerak cepat ke pedalaman setelah melakukan perjalanan yang selamat melalui sisi laut pulau. Perjalanan mereka meninggalkan pantai hanya dihambat oleh seorang penembak runduk dan lubang-lubang bekas bombardemen. Lubang-lubang ini secara khusus menghambat dukungan tank bagi pasukan di Pantai Red ketika tank ringan M3 milik Batalion Tank 193 yang memimpin terjebak di dalamnya dan meghalangi kendaraan di belakangnya untuk lewat. Serangakain titik perkuatan didirikan di sepanjang sisi laut Butaritari, dengan meriam pertahanan pantai 200 mm, tiga posisi meriam anti-tank 37 mm, 10 pos senapan mesin dan 85 liang tembak. Jepang mengharapkan invasi datang dari sisi laut Butaritari, menyusul contoh dari serangan Carlson pada tahun 1942, dan mendirikan pertahanan mereka 3 km dari tempat serangan terjadi. Tanpa pesawat, kapal atau harapan akan datanganya bala bantuan, pasukan Jepang yang kalah jumlah dan senjata hanya bisa berharap untuk menghambat serangan Amerika selama mungkin.

 
Tank Ringan M3 Stuart terjebak di lubang bekas peluru meriam, menghambat gerak maju di jalan sempit di utara Danau Jill.

Saat perahu-perahu pendarat mendekati Pantai Yellow dari laguna, mereka mulai menerima tembakan senjata ringan dan senapan mesin dari psukan yang bertahan di pulau. Pasukan penyerang juga dikejutkan oleh kesalahan perhitungan kedalaman laguna yanb menyebabkan perahu mereka kandas walupun air sedang pasang, memaksa mereka berjalan kaki sejauh 250 yard (230 m) ke pantai dengan air setinggi pinggang. Peralatan dan senjata banyak yang hilang atau terendam, tapi hanya tiga orang gugur saat menuju pantai, lebih disebabkan karena pasukan Jepang memilih untuk bertahan di pedalaman sepanjang perintang tank.

Rencana invasi Amerika Serikat dirancang dengan harapan memancing Jepang untuk mengerahkan sebagian besar pasukannya untuk melawan pendaratan pertama di Pantai Red dan memungkinkan pasukan yang mendarat di Pantai Yellow menyerang dari belakang. Namun Jepang tidak menanggapi serangan di Pantai Red dan menarik diri dari Pantai Yellow sambil melontarkan tembakan-tembakan pengusik, memaksa Divisi 27 untuk melumpuhkan titik-titik pertahanan satu demi satu. Operasi ini dihambat oleh sering gagalnya menggunakan senjata berat, termasuk tank, karena bahaya tembakan silang. Komandan Resimen Infantri 165, Kolonel Gardiner gugur ditembak oleh penembak runduk Jepang pada siang hari pertama dan digantikan oleh Kolonel Gerard W. Kelley.[5]

Direbutnya MakinSunting

Setelah dua hari pertempuran barulah pertahanan Jepang melemah. Setelah membersihkan seluruh atol, Komandan Divisi 27, Mayjen Ralph C. Smith, melaporkan pada pagi hari tanggal 23 November, "Makin sudah direbut, mengusulkan perpindahan komando ke komandan pasukan garnisun".[6]

Masalah tersulit dalam merebut Makin adalah mengkoordinasikan aksi-aksi dari dua pasukan pendarat yang terpisah, menjadi lebih sulit lagi saat pasukan Jepang tidak merespon sebagaimana diharapkan. Pantai-pantai yang sempit tidak sesuai untk operasi pendaratan logistik, ini yang tidak diketahui oleh pengintaian pra-invasi sehingga juga merupakan tantangan yang berat.

Karamnya USS Liscome BaySunting

Pada dini hari 24 November, kapla induk kawal USS Liscome Bay dikaramkan oleh kapal selam Jepang I-175, yang telah tiba di Makin beberapa jam sebelumnya. Sebuah torpedo yang diluncurkan sebagai bagian dari salvo torpedo I-175, meledakkan gudang bom Liscome Bay, menyebabkan ledakan yang menelan seluruh kapal, menyebabkannya karam dengan cepat. Serangan terhadap Liscome Bay menjadikannya jumlah korabn terbanyak di Pertempuran Makin. Dari 916 awak Liscome Bay hanya 272 yang selamat, sementara 644 lainnya gugur (53 perwira dan 591 awak), termasuk pahlawan Pearl Harbor dan penerima Navy Cross Doris Miller.

Karamnya Liscome Bay disebabkan oleh dua faktor. Dua kapal perusak anggota layar perusak, USS Hull dan USS Franks, meninggalkan formasi mereka, menimbulakn lubang di layar. Juga, satgas di mana Liscome Bay berada tidak berlayar zigzag. Kapal selam Jepang I-175 mendekati satgas tersebut tanpa diketahui dan menembakkan salvo torpedo melalui lubang di layar anti kapal selam, salah satu dari torpedo itu mengaramkan Liscome Bay.[7]

KesudahanSunting

Pendudukan total Makin memakan waktu empat hari dan memakan korban lebih banyak di laut daripada di darat. Walaupun memiliki kelebihan dalam jumlah pasukan dan senjata, Divisi 27 mengalami kesulitan dalam meneklukkan pasukan Jepang yang sedikit. Sebuah tank Ha-Go Jepang hancur dalam pertempuran, dan dua lainnya yang ditempatkan sebagai pemecah ombak dan ditinggalkan awaknya tanpa pernah bertempur.

Dibandingkan dengan 395 tentara Jepang yang tewas selama operasi,[8] Korban Amerika Serikat di darat sejumlah 66 tewas dan 152 terluka. Kerugian Angkatan Laut Amerika Serikat jauh lebih tinggi: 644 tewas di Liscome Bay, 43 tewas dalam kebakaran meriam di kapal tempur USS Mississippi, dan 10 tewas dalam tugas pendaratan atau sebagai penerbang, dengan total 697 orang. Total keseluruhan korban tewas Amerika, 763 orang, hampir menyamai jumlah seluruh anggota garnisun Jepang.[9]

Lihat pulaSunting

CatatanSunting

  1. ^ Bruce F. Meyers, Swift, Silent, and Deadly: Marine Amphibious Reconnaissance in the Pacific, 1942–1945, (Annapolis, MD: Naval Institute Press, 2004).
  2. ^ The Capture of Makin (20–24 Nov 1943), Center of Military History, U.S. Army, p. 6.
  3. ^ The Capture of Makin, pp. 107–108. Unit identifications here were sourced from actual documents recovered during the battle.
  4. ^ The United States Army in World War II: Seizure of the Gilberts and Marshalls, p. 71. This source lists the number of troops of the 111th (which the previous source omitted) but shorts the aviation units. The total listed is the result of itemized personnel from both sources.
  5. ^ The Capture of Makin p. 78.
  6. ^ The Capture of Makin, p. 124.
  7. ^ USS Liscome Bay: Hit By a Torpedo Near Makin Atoll During World War II
  8. ^ Japanese survivors continued to the U.S. garrison for more than a month after the battle, and except for 104 prisoners, all but 3 of whom were Korean, the entire Japanese force was annihilated. The Capture of Makin, pp. 124 and 130.
  9. ^ The Capture of Makin, p. 131.

ReferensiSunting

Pranala luarSunting