Buka menu utama

Pertempuran Beiping–Tianjin (Hanzi sederhana: 平津作战; Hanzi tradisional: 平津作戰; Pinyin: Píng Jīn Zùozhàn), juga dikenal sebagai "Operasi Peiking-Tientsin" atau oleh bangsa Jepang disebut Insiden Tiongkok Utara (北支事変, Hokushi jihen) (25-31 Juli 1937) adalah serangkaian pertempuran dari Perang Sino-Jepang Kedua yang terjadi di dekat kota Beiping (sekarang Beijing) dan Tianjin. Pertempuran ini dimenangkan oleh Jepang.

Daftar isi

Pihak-pihak yang terlibatSunting

Kekaisaran JepangSunting

 Tentara Garnisun Tiongkok Jepang [a]

  • Letnan Jenderal Kanichiro Tashiro (1 Mei 1936 – 12 Juli 1937)
  • Letnan Jenderal Kiyoshi Katsuki (12 Juli 1937 – 26 Agustus 1937)
    • Brigade Infanteri Garnisun Tiongkok ("Brigade Kawabe") - Mayor Jenderal Masakazu Kawabe
    • Unit Kavaleri Garnisun Tiongkok
    • Resimen Artileri Garnisun Tiongkok
    • Unit Teknik Garnisun Tiongkok
    • Unit Lapis Baja Garnisun Tiongkok (17 tank)
    • Unit Sinya Garnisun Tiongkok
    • Rumah Sakit Angkatan Darat Garnisun Tiongkok
  • Divisi Ke-5 AD Kekaisaran Jepang - Jenderal Seishirō Itagaki
  • Divisi Ke-20 AD Kekaisaran Jepang – Letnan Jenderal Bunsaburo Kawakishi
  • Brigade Gabungan Independen Ke-1 AD Kekaisaran Jepang ("Brigade Sakai") - Letnan Jenderal Sakai Koji[b][2]
  • Brigade Gabungan Independen Ke-11 AD Kekaisaran Jepang ("Brigade Suzuki")- Letnan Jenderal Shigiyasu Suzuki[c]
  • Tentara Hopei Timur [3]
  • Divisi Penerbangan Wilayah Tiongkok Sementara (Chugoku-Homen Rinji Hikoshidan). Jenderal Yoshitoshi Tokugawa.[4]

Angkatan Laut Kekaisaran Jepang[d][5]

Republik TiongkokSunting

  Tentara Rute Ke-29 [6][e]

  • Komandan: Sung Che-yuan
    • Deputi: Tung Lin-keh
  • Divisi Ke-37 (15.750 tentara) - Feng Chih-an
  • Divisi Ke-38 (15.400 tentara) - Jenderal Chang Tse-chung
  • Divisi Ke-132 (15.000 tentara) - Jenderal Chao Teng-yu
  • Divisi Ke-143 (di Chahar) (15.100 tentara) - Jenderal Liu Ju-ming
  • Divisi Kavaleri Ke-9 (3.000 tentara)
    • Brigade Ke-1
    • Brigade Ke-2
  • Brigade Kavaleri Ke-13 Independen (1.500 tentara)
  • Pasukan Penjaga Perdamaian Hopei (Peiwan, 2.500 tentara)
  • Brigade Ke-39 Independen (3.500 tentara)
  • Brigade Ke-40 Independen (3.400 tentara)

Korps Ke-53 - Jenderal Wan Fulin[f]

Latar belakangSunting

Dalam Insiden Jembatan Marco Polo pada 8 Juli 1937, Tentara Garnisun Tiongkok Jepang menyerang kota Wanping (宛平鎮) setelah keluar ultimatum yang mengizinkan mereka mencari seorang prajurit yang dinyatakan hilang. Wanping, sebuah daerah dekat Jembatan Lugou dan berada pada jalur kereta api utama di barat Beiping, dianggap cukup penting dan strategis. Sebelum Juli 1937, tentara Jepang telah berulang kali menuntut penarikan tentara Tiongkok dari tempat itu.

Jenderal Tiongkok Song Zheyuan memerintahkan pasukannya untuk mempertahankan posisi mereka dan berusaha untuk menghindari perang melalui diplomasi.

Tanggal 9 Juli Jepang menawarkan gencatan senjata dengan salah satu syarat adalah Divisi Ke-37 Tiongkok, yang telah terbukti anti Jepang, diganti dengan divisi lain dari Tentara Rute Ke-29 Tiongkok. Syarat ini disetujui oleh Tiongkok pada hari yang sama. Tetapi, sejak tengah malam hari itu pula, pelanggaran gencatan senjata oleh Jepang mulai meningkat dan bala bantuan Jepang terus berdatangan. Letnan Jenderal Kanichiro Tashiro, komandan Tentara Garnisun Tiongkok Jepang jatuh sakit dan meninggal pada 12 Juli. Ia digantikan oleh Letnan Jenderal Kiyoshi Katsuki.

Ketika serangan Jepang ke Beiping dimulai, Jenderal Ma Bufang, seorang pemeluk agama Islam dari kelompok Ma, dalam sebuah pesan telegram melaporkan pada pemerintah Tiongkok bahwa ia siap untuk bertempur melawan Jepang.[7] Segera setelah Insiden Jembatan Marco Polo, Ma Bufang mempersiapkan satu divisi kavaleri di bawah komando Jenderal Ma Biao, yang juga seorang muslim, untuk dikirim ke timur melawan Jepang, yang terdiri atas muslim Salar Turk, muslim Dongxiang, muslim Hui, penganut Buddha Tibet, dan tentara Han.[8] Ma Buqing dan Ma Bufang membahas rencana pertempuran melawan Jepang melalui telepon dengan Chiang Kai-shek. Sebagian kavaleri elite Ma Bufang dikirim melawan Jepang. Muslim Salar etnis Turk menjadi mayoritas dalam divisi kavaleri yang dikirim oleh Ma Bufang.[9]

Manuver diplomatikSunting

Sementara itu, Perdana Menteri Jepang, Konoe, pada tanggal 8 Juli mengadakan rapat kabinet luar biasa di Tokyo dan memutuskan untuk mencoba meredakan permusuhan dan menyelesaikan masalah secara diplomatis. Tetapi, Kepala Staf Angkatan Darat Kekaisaran Jepang mengizinkan pengiriman divisi infanteri dari Tentara Terpilih, dua brigade independen gabungan dari Tentara Kwangtung, dan satu resimen udara sebagai bala bantuan. Pengiriman ini dibatalkan pada tanggal 11 Juli di tengah berita bahwa negosiasi sedang dilakukan oleh komandan Tentara Jepang Wilayah Tiongkok Utara dengan Tentara Rute Ke-29 Tiongkok di lokasi, dan dengan diplomat Jepang di ibu kota Tiongkok, Nanjing. Tetapi, meskipun Jenderal Sung Che-yuan, Komandan Tentara Ke-29 dan kepala Dewan Politik Hebei-Chahar dilaporkan telah mencapai kesepakatan berdamai pada 18 Juli, Tentara Jepang mempercepat pengiriman bala bantuan dengan alasan kurangnya kesungguhan dari pemerintah pusat Tiongkok. Mobilisasi ini sangat ditentang oleh Jenderal Kanji Ishihara dengan alasan bahwa eskalasi yang tidak diperlukan dalam konflik dengan Tiongkok akan membahayakan posisi Jepang di Manchukuo vis-à-vis Uni Soviet. Atas desakan Ishihara pengiriman ditunda. Sementara itu, Konoe mengadakan kontak pribadi dengan Sun Yat-sen dalam upaya untuk membangun penyelesaian diplomatik langsung dengan pemerintah pusat Kuomintang di Nanjing. Diplomasi rahasia ini gagal ketika unsur-unsur di dalam militer Jepang menahan utusan Konoe pada tanggal 23 Juli dan mobilisasi bala bantuan dimulai pada 29 Juli.

Seminggu kemudian, Komandan Tentara Jepang Wilayah Tiongkok Utara melaporkan bahwa, setelah kehabisan cara untuk penyelesaian damai, ia memutuskan untuk menggunakan kekuatan "menghukum" Tentara Rute Ke-29 Tiongkok dan meminta persetujuan dari Tokyo. Pada saat bersamaan, perintah mobilisasi dikeluarkan untuk empat divisi infanteri tambahan.

Insiden LangfangSunting

Meskipun gencatan senjata, banyak pelanggaran yang terjadi, termasuk penembakan Wanping oleh artileri Jepang pada 14 Juli.

Tanggal 25 Juli bala bantuan Jepang dalam formasi Divisi Ke-20 Angkatan Darat Kekaisaran Jepang tiba dan pertempuran kembali meletus. Pertempuran pertama di Langfang, sebuah kota di jalur kereta api antara Beiping dan Tianjin, antara pihak Jepang dan tentara Tiongkok. Yang kedua terjadi pada 26 Juli ketika brigade Jepang berusaha untuk memaksa masuk melalui Gerbang Guanghuamen di Beiping untuk "melindungi warga negara Jepang". Pada hari yang sama, pesawat-pesawat Jepang membom Langfang.

Jepang kemudian mengeluarkan ultimatum bagi Jenderal Sung yang meminta penarikan semua pasukan Cina dari pinggiran Beiping hingga barat Sungai Yongding dalam waktu 24 jam. Sang jenderal menolak dan memerintahkan pasukannya untuk bersiap menghadapi Jepang, serta meminta bala bantuan besar dari pemerintah pusat, tapi tidak diberikan.

Tanggal 27 Juli, Jepang mengepung pasukan Cina di Tongzhou, satu batalyon Tiongkok dihancurkan dan mundur ke Nanyuan. Pesawat-pesawat Jepang juga membom pasukan Cina di luar Beiping dan mengamati Kaifeng, Zhengzhou, dan Luoyang.

Tanggal 28 Juli, Divisi Ke-20 AD Kekaisaran Jepang dan tiga brigade gabungan independen melancarkan serangan terhadap Beiping, yang didukung dengan kekuatan udara jarak dekat. Serangan utama ditujukan pada Nanyuan dan serangan tambahan pada Beiyuan. Pertempuran sengit pun terjadi. Dua jenderal Tiongkok, yaitu Tong Linge, Wakil Komandan Tentara Rute Ke-29 dan Zhao Dengyu, komandan Divisi Ke-132 terbunuh, dan pasukan mereka banyak yang luka dan tewas. Tetapi, satu brigade dari Divisi Ke-38 Tiongkok di bawah pimpinan Jenderal Liu Chen-san memaksa Jepang kembali ke daerah Langfang dan satu brigade dari Korps Ke-53 dan sebagian dari Divisi Ke-37 Tiongkok memperoleh kembali stasiun kereta api di Fengtai.

Namun, keadaan itu hanya sementara dan saat senja Jenderal Sung mengakui bahwa pertempuran berikutnya akan sia-sia dan menarik mundur kekuatan utama Tentara Rute Ke-29 Tiongkok ke selatan Sungai Yungging. Wali kota Tianjin, Jenderal Zhang Zizhong bertahan di Beiping untuk mengambil alih urusan politik di Provinsi Hebei dan Chahar dengan hampir tidak memiliki pasukan. Brigade Ke-29 yang baru terpisah di bawah pimpinan Jenderal Liu Ruzhen bertahan di Beiping untuk menjaga ketertiban umum.

Insiden TungchowSunting

Tanggal 29 Juli, pasukan Tentara Hopei Timur kaki tangan Jepang memberontak melawan Jepang di Tongzhou (Tongzhou). Mereka membunuh sebagian besar pembimbing mereka dan warga sipil lainnya, termasuk perempuan dan anak-anak, yang berkebangsaan Jepang.[10]

Jatuhnya TianjinSunting

Sementara itu, saat fajar 29 Juli, Divisi Ke-5 AD dan Angkatan Laut Kekaisaran secara terpisah menyerang Tianjin dan pelabuhan di Tanggu, yang dipertahankan oleh pasukan dari Divisi Ke-38 Tiongkok dan relawan di bawah komando Liu Wen-tien. Brigade Jenderal Huang Wei-kang membela Benteng Taku dengan gagah berani dan juga menyerang pangkalan udara Jepang terdekat, menghancurkan banyak pesawat. Tetapi, dengan meningkatnya bala bantuan Jepang, posisi mereka tidak bertahan dan malam itu (30 Juli) Jenderal Zhang Zizhong diperintahkan untuk mundur ke arah Machang dan Yangliuching di selatan Tianjin, meninggalkan kota dan Benteng Taku.

Jatuhnya BeipingSunting

 
Barisan tentara Jepang masuk ke Zhengyangmen dari Beiping setelah menaklukkan kota itu pada Juli 1937

Pada 28 Juli, Chiang Kai-shek memerintahkan Sung Che-yuan untuk mundur ke Paoting di selatan Provinsi Hebei. Selama dua hari berikutnya, pertempuran sengit berlangsung di Tianjin, pasukan Tiongkok memberikan perlawanan keras, tetapi kemudian mereka mundur ke selatan di sepanjang jalur rel Tientsin-Pukow dan Peiping-Hankow.

Tanggal 4 Agustus, pasukan Jenderal Liu Ruzhen yang tersisa mundur ke Chahar. Setelah terisolasi, Beiping direbut oleh Jepang tanpa perlawanan pada tanggal 8 Agustus 1937. Jenderal Masakazu Kawabe memasuki kota pada 18 Agustus dengan parade militer dan memasang pengumuman di titik-titik penting bahwa ia adalah gubernur militer yang baru di kota itu. Zhang diizinkan untuk mempertahankan posisinya sebagai wali kota, tapi ia meninggalkan kota secara diam-diam seminggu kemudian.

Hasil pertempuranSunting

Dengan jatuhnya Beiping dan Tianjin, Dataran Tiongkok Utara tak berdaya melawan divisi-divisi Jepang yang menduduki wilayah itu sebelum akhir tahun. Tentara Revolusioner Nasional Tiongkok mundur teratur hingga Pertempuran Taierzhuang yang juga keras.

Zhang difitnah tanpa henti oleh pers Cina dan dicerca sebagai pengkhianat. Setibanya di Nanjing ia meminta maaf secara terbuka. Kemudian ia tewas saat berperang melawan Jepang, sehingga Kuomintang secara anumerta memaafkan Zhang atas peristiwa di Beiping.

CatatanSunting

  1. ^ Tentara Garnisun Tiongkok Jepang menjadi Angkatan Darat Pertama Jepang tanggal 26 Agustus 1937.
  2. ^ Dalam penugasan sementara dari AD Kwangtung. Batalyon Tank Ke-3 dipersenjatai dengan Tank Tipe 94 dan Tank Ringan Tipe 95 Light Tanks tertinggal di Manchukuo.
  3. ^ Dalam penugasan sementara dari AD Kwangtung. Brigade Suzuki kemudian menjadi Divisi Ke-26 AD Kekaisaran Jepang.
  4. ^ Normalnya, Armada Ke-3 AL Kekaisaran Jepang ditugaskan untuk semua operasi di Tiongkok. Armada Ke-2 ditugaskan untuk mengawal kapal angkut tentara dan terlibat dalam pendaratan Divisi Ke-5 AD Kekaisaran Jepang di Tanggu. Dengan terlibat dalam pengiriman pasukan ke wilayah Qingdao, Armada Ke-2 menerima tanggung jawab atas operasi di utara perairan Tiongkok, sementara Armada Ke-3 beroperasi di tengah dan selatan perairan Tiongkok.
  5. ^ Sung diizinkan oleh pemerintahan Kuomingtang untuk mempertahankan hanya satu pasukan di wilayah yang ia kendalikan. Sehingga, yang ia lakukan adalah menjadikan pasukannya sangat besar. Setiap divisi memiliki 3 brigade ditambah dengan banyak unit yang berdiri sendiri. Dengan cara ini Sung dapat meningkatkan dan melindungi kekuatannya.
  6. ^ Satu brigade dari Korps Ke-53 ambil bagian dalam serangan ke Fengtai

ReferensiSunting

  1. ^ Dokumentasi Pertempuran Beiping-Tianjin di Youtube
  2. ^ "IMPERIAL JAPANESE ARMY PAGE". Taki (dalam bahasa bahasa Inggris). Diakses tanggal 31-10-2016. 
  3. ^ Jowett, Phillip S., Rays of The Rising Sun, Armed Forces of Japan's Asian Allies 1931-45, Volume I: China & Manchuria
  4. ^ "Sino-Japanese Air War 1937-1945: 1939". Håkans aviation (dalam bahasa bahasa Inggris). Diakses tanggal 31-10-2016. 
  5. ^ "Political Strategy Prior to Outbreak of War: Japanese Monograph No. 144; Chapter II: China Incident". ibiblio (dalam bahasa bahasa Inggris). Diakses tanggal 31-10-2016. 
  6. ^ Hsu & Chang 1972, hlm. 175-180
  7. ^ Central Press (30-07-1937). "He Offers Aid to Fight Japan". Herald-Journal (dalam bahasa bahasa Inggris). Diakses tanggal 12-12-2010. 
  8. ^ "让日军闻风丧胆地回族抗日名将". China Islam (dalam bahasa bahasa Tionghoa). 14-12-2014. Diakses tanggal 31-10-2016. 
  9. ^ "还原真实的西北群马之马步芳骑八师中原抗日". muslim online (dalam bahasa bahasa Tionghoa). 11-04-2013. Diakses tanggal 31-10-2016. 
  10. ^ 中村粲 『大東亜戦争への道』展々社,1990年

SumberSunting

  • Dryburgh, Marjorie (2000). North China and Japanese Expansion 1933-1937: Regional Power and the National Interest. RoutledgeCurzon. ISBN 0-7007-1274-7. 
  • Furuya, Keiji (1981). The riddle of the Marco Polo bridge: To verify the first shot. Symposium on the History of the Republic of China. ASIN B0007BJI7I. 
  • Hsu, Long-hsuen; Chang, Ming-kai (1972), History of The Sino-Japanese War (1937-1945) (edisi ke-2nd), Taipei, Taiwan Republic of China: Chung Wu Publishing, hlm. 177–180, ASIN B00005W210 
  • Dorn, Frank (1974). The Sino-Japanese War, 1937-41: From Marco Polo Bridge to Pearl Harbor. MacMillan. ISBN 0-02-532200-1. 
  • Lu, David J (1961). From The Marco Polo Bridge To Pearl Harbor: A Study Of Japan's Entry Into World War II. Public Affairs Press. ASIN B000UV6MFQ. 
  • Madej (Desember 1981). Japanese Armed Forces Order of Battle 1937-1945. Allentown, Pennsylvania: Game Book Marketing Co. ISBN 978-9992187210. 

Pranala luarSunting