Buka menu utama
Peluru penembus perisai dari selongsong APHEBC: 1 Tudung balistik 2 Proyektil penembus logam baja 3 Peledak (TNT, Trinitrophenol, RDX...) 4 Sumbu (diatur dengan penundaan untuk meledak di dalam sasaran) 5 Bourrelet (depan) dan cincin pemandu (rear)

Peluru penembus perisai (peluru PP) (bahasa Inggris: armor piercing bullet) digunakan untuk menembus target yang dilindungi oleh lapisan keras seperti baju tahan peluru, pelindung kendaraan, beton, tank, dll, tergantung dari kaliber senjata api. Peluru jenis ini terdiri dari baja keras, tungsten karbida, atau uranium yang dibungkus bahan yang lebih lunak seperti tembaga atau aluminium. Kaliber senjatanya bervariasi mulai dari pistol sampai tank.

Sejak 1860-an hingga 1950-an, aplikasi utama proyektil penembus perisai adalah untuk mengalahkan perisai tebal yang digunakan oleh banyak kapal perang. Sejak 1920-an dan selanjutnya, senjata penembus perisai dibutuhkan untuk misi anti-tank. Peluru PP yang lebih kecil dari 20 mm biasanya dikenal sebagai "amunisi penembus perisai", dan ditujuan untuk melawan sasaran berperisai tipis seperti perisai tubuh, kaca anti peluru dan kendaraan berperisai ringan. Peluru PP klasik saat ini jarang digunakan dalam pertempuran laut, karena kapal perang modern hanya memiliki sedikit atau tanpa perlindungan perisai. Teknologi baru juga telah menggantikan peluru PP klasik dalam peran anti-tank.

Sebuah peluru penembus perisai harus menahan gelombang kejut saat menumbuk pelat perisai. Peluru yang dirancang untuk tujuan ini memiliki badan yang diperkuat dengan pucuk yang diperkeras dan tajam. Satu tambahan yang sering ditemui kemudian ialah penggunaan tudung atau cincin logam yang lebuh lunak yang dikenal sebagai tudung penembus, yang mengurangi gelombang kejut dari tumbukan untuk mencegah pecahnya peluru yang kaku sekaligus membantu kontak antara perisai sasaran dengan pucuk penembus untuk mencegah peluru memantul. Idealnya, tudung ini memiliki bentuk tumpul, sehingga perlu menggunakan tudung aerodinamis tipis untuk meningkatkan performa balistik. Peluru PP mungkin mengandung sedikit atau tanpa peledak. Beberapa peluru PP kaliber kecil memiliki pengisi inert atau pembakar sebagai pengganti peledak.

SejarahSunting

 
Pelat baja ditembus dalam ujicoba oleh artileri laut, 1867

Pada akhir 1850-an, terjadi pengembangan kapal perang ironclad, yang membawa perisai besi tempa dengan ketebalan yang diperhitungkan. Perisai ini tahan baik terhadap bola meriam besi cor yang digunakan saat itu maupun peluru peledak yang baru saja dikembangkan.

Solusi pertama untuk masalah ini diusulkan oleh Mayor Sir W. Palliser, yang dengan peluru Palliser nya, menemukan metode untuk mengeraskan kepala dari peluru besi cor runcing.[1] Dengan mengecor proyektilnya yang diarahkan ke bawah dan membentuk kepalanya dalam cetakan besi, logam panas itu secara tiba-tiba didinginkan dan menjadi sangat keras (tahan terhadap deformasi melalui transformasi fase Martensite), sementara bagian cetakan lainnya terbuat dari pasir agar logam panas menjadi dingin secara perlahan, sehingga badan dari peluru menjadi liat (tahan terhadap pemecahan)[1]

Peluru besi yang didinginkan ini terbukti sangan efektif melawan perisai besi tempa, tetapi tidak dapat melawan perisai besi campuran dan baja,[1] yang pertama kali diperkenalkan pada 1880-an. Maka dari itu, terobosan baru harus dibuat, dan peluru baja tempa dengan ujung yang diperkeras menggantikan posisi peluru Palliser. Mulanya, peluru-peluru baja tempa ini dibuat dengan baja karbon biasa. Namun seiring dengan perkembangan perisai, proyektil peluru dengan material yang lebih baik juga mengikutinya.[1]

Selama 1890-an dan setelahnya, perisai baja semen menjadi hal yang lumrah, awalnya hanya ditempatkan pada bagian perisai kapal perang yang lebih tebal. Untuk menghadapi ini, proyektil peluru dibuat dari baja tempa atau cor dan mengandung nikel serta kromium. Perubahan lainnya dalah dikenalkannya tudung logam lunak di ujung peluru, dinamakan "ujung Makarov" karena ditemukan oleh laksamana Rusia Stepan Makarov. "Ujung" ini meningkatkan penetrasi dengan memberi bantalan terhadap gelombang kejut saat bertumbukkan dan mencegah ujung penembus perisai menjadi rusak sebelum bertumbukkan dengan perisai, atau mencegah badan peluru terpecah. Ujung ini juga membantu penetrasi dari sudut miring dengan menjaga ujung peluru agar tidak melenceng dari perisai.

JenisSunting

Peluru penembus perisai
Gambar Nama Deskripsi
  Penembus perisai
  Penembus perisai bertudung (APC) Abu-abu: Tudung
  Penembus perisai bertudung balistik (APBC) Putih: Tudung balistik
  Penembus perisai bertudung, bertudung balistik (APCBC) Abu-abu: Tudung ~ Putih: Tudung balistik
  Penembus perisai komposit kaku (APCR)/Penembus perisai kecepatan tinggi (HVAP) Biru: Material keras berkerapatan tinggi
  Penembus perisai berdaya ledak tinggi (APHE) Merah: Peledak
  Penembus perisai lepas sabot (APDS) Biru: Penembus
  Penembus perisai terstabilkan sirip lepas sabot (APFSDS) Blue: Penembus
  • Penembus perisai (AP)
  • Penembus perisai bertudung (APC)
  • Penembus perisai bertudung balistik (APBC)
  • Penembus perisai bertudung, bertudung balistik (APCBC)
  • Penembus perisai lepas sabot (APDS)
  • Penembus perisai terstabilkan sirip lepas sabot (APFSDS)
  • Penembus perisai komposit keras (APCR)
  • Penembus perisai komposit non keras (APCNR)

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d "Ammunition". 1911 Encyclopædia Britannica. Volume 1.