Buka menu utama

Mara Karma (lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, 1926 - meninggal di Jakarta, 24 Desember 2001 pada umur 75 tahun) adalah seorang pelukis, wartawan, pengarang dan kritikus senirupa Indonesia. Disamping sederet profesi yang pernah dilakoninya, Mara Karma sebenarnya juga seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Dalam usia muda, 19 tahun ia pernah mengerahkan massa kota Bukittinggi untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih di pusat kota yang masih dalam cengkeraman militer Jepang.

Mara Karma
Lahir1926
Bendera Belanda Bukittinggi, Sumatra Barat, Hindia Belanda
Meninggal24 Desember 2001 (umur 75)
Bendera Indonesia Jakarta
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
AlmamaterINS Kayutanam
PekerjaanPelukis, wartawan

Setelah kemerdekaan, tatkala organisasi pemerintah, partai politik dan organisasi lainnya sudah berdiri, ia pernah dikirim oleh pemerintah ke Singapura untuk membantu perjuangan memperkuat dukungan pada republik yang baru berdiri itu. Dalam misi perjuangan itu dia tertangkap oleh pemerintah Inggris, tetapi akhirnya dia dideportasi ke Indonesia. Setelah itu, Mara Karma lebih memilih berkarier sebagai jurnalis ketimbang menjadi pelukis, karena dengan menjadi jurnalis ia merasa bisa menyampaikan buah pikirannya pada khalayak yang lebih luas.

PendidikanSunting

Murid dari Wakidi dan Muhammad Sjafei itu memulai pendidikan senirupa-nya di Indonesisch Nederlansche School (INS) Kayutanam, Sumatra Barat. Selanjutnya, ia menambah pengetahuan senirupa-nya dengan cara otodidak serta belajar pada pelukis asing ketika ia punya beberapa kali kesempatan ke Eropa. Pengalamannya berkunjung ke berbagai negara itu juga berperan dalam memperluas cakrawala pikirnya mengenai seni modern. Di INS Kayutanam, yang didirikan oleh Muhammad Sjafei itu, Mara Karma bertemu dengan Mochtar Lubis dan Iswara Darmaputra, yang juga murid dari perguruan tersebut. Di-kemudian hari mereka mendirikan Harian Indonesia Raya.

KarierSunting

Pada Kongres Pemuda di Yogyakarta pada tahun 1945, Mara Karma, sebagai pemimpin Gerakan Pemuda Melayu mulai dikenal secara lebih luas. Bersama Mochtar Lubis, karier jurnalisnya dimulai dengan mendirikan majalah Mutiara pada tahun 1950, dan masih di bawah pimpinan Mochtar Lubis kemudian berlanjut dengan pendirian harian Indonesia Raya. Tulisan dan komentar-komentarnya yang tajam di berbagai media akhirnya membuat karier jurnalis jadi terhenti karena pembreidelan medianya oleh rezim Orde Lama.

Namun dengan lahirnya Orde Baru, kariernya sebagai jurnalis kembali berlanjut, dia-pun bergabung dengan harian Abadi dan Pelopor Baru dari tahun 1966 sampai 1970. Selepas dari harian Abadi dan Pelopor Baru, Mara Karma berkarier sebagai Pemimpin Redaksi Harian Angkatan Bersenjata dari tahun 1971 sampai 1974. Dimasa-masa inilah ia berkenalan dan berteman baik dengan Arifin C. Noer dan Taufiq Ismail. Namun di mana-pun ia berkarier dan apapun kegiatannya yang lain, perhatiannya terhadap kesenian terutama seni lukis tak pernah berkurang.

KegiatanSunting

  • Seniman Lukis
  • Wartawan, Editor, Kolumnis, Pengarang
  • Anggota Kurator Nasional
  • Pengurus Angkatan '45
  • Anggota Dewan Pimpinan Harian (DPH) Dewan Kesenian Jakarta (DKJ)
  • Ketua Himpunan Pelukis Jakarta (HIPTA)
  • Penulis/Kritikus Senirupa
  • Pembicara dalam diskusi-diskusi senirupa
  • Konsultan Public Affairs di Kedutaan Besar Jepang, Pertamina, Bank Panin, dan Kelompok Nugra Santana.
  • Dosen Luar Biasa di Jurusan Komunikasi, Universitas Indonesia

ReferensiSunting