Buka menu utama
Bendera Union Flag, Ulster Banner, dan Orange Order yang dikibarkan oleh kelompok loyalis di Irlandia Utara

Loyalisme Ulster adalah ideologi politik yang dapat ditemui di kalangan Protestan Ulster di Irlandia Utara. Sebagian besar kaum Protestan Ulster merupakan keturunan pendatang dari Britania Raya pada abad ke-17 dan ke-18. Kaum loyalis setia kepada monarki Britania Raya dan menolak gagasan penyatuan Irlandia. Loyalisme Ulster telah dideskripsikan sebagai nasionalisme etnis dan "ragam dari nasionalisme Britania".[1][2]

Ideologi ini pertama kali muncul pada akhir abad ke-19 sebagai respon terhadap gerakan Irish Home Rule dan menguatnya nasionalisme Irlandia yang bercorak Katolik. Walaupun mayoritas penduduk di Irlandia menganut agama Katolik, mayoritas di Ulster menganut agama Protestan. Ulster juga lebih terindustrialisasi daripada wilayah Irlandia pada masa itu, dan juga sangat bergantung pada perdagangan dengan Britania Raya. Loyalisme bermula sebagai gerakan kaum Protestan Ulster yang menolak menjadi bagian dari Irlandia. Walaupun ada juga orang Katolik Irlandia yang mendukung Britania Raya, loyalisme Ulster menegaskan warisan budaya Protestan dan Britania. Gerakan-gerakan yang saling bertolak belakang ini menjadi salah satu penyebab Pemisahan Irlandia pada tahun 1921; sebagian besar wilayah Irlandia menjadi negara merdeka, sementara 2/3 wilayah Ulster tetap menjadi bagian dari Britania Raya. Semenjak itu, kaum loyalis ingin mempertahankan status Irlandia Utara sebagai salah satu wilayah Britania Raya.

Catatan kakiSunting

  1. ^ Ignatieff, Michael. Blood and Belonging: Journeys into the New Nationalism. Vintage, 1994. hlm. 184.
  2. ^ John McGarry and Brendan O'Leary. Explaining Northern Ireland. Wiley, 1995. hlm. 92–93.