Lela

Meriam ringan Melayu yang lebih besar dari rentaka
(Dialihkan dari Lila)

Lela atau lila adalah jenis meriam Melayu, digunakan secara luas di kepulauan Nusantara. Mereka mirip dengan lantaka tetapi lebih lama dan memiliki lubang peluru yang lebih besar.[1]:122 Lela dapat dikonfigurasi sebagai meriam putar, meriam tetap, atau dipasang di pedati meriam (gun carriage). Meriam ini setara dengan falcon dan falconet Eropa.[2]:50

Lela abad ke-19 dari Pahang. Spesimen ini memiliki dua lumba-lumba dan sebuah cagak (garpu putar).

EtimologiSunting

Meriam itu dinamai dari tokoh wanita dari kisah roman klasik Melayu yang disebut "Laila Majnun".[3]:93 Tampaknya pengadopsian kata tersebut berasal dari nama yang diberikan pada suatu meriam tertentu. Kebiasaan penamaan meriam khusus adalah tidak jarang di Eropa pada hari-hari awal perkembangan meriam dan juga di Nusantara sampai saat ini.[4] Pada sastra Melayu namanya biasanya ditambah dengan kata rentaka, menjadi "lela rentaka".[1] Ia juga dipanggil sebagai lilla oleh orang Belanda dan lelo di beberapa bagian Nusantara.[5]

DeskripsiSunting

 
Meriam naga atau lela naga dari tahun 1667. Panjangnya 172 cm dengan diameter 22 cm, berbobot 150.6 kg. Ditangkap saat ekspedisi Belanda ke Jambi, Agustus 1858.

Biasanya lela panjangnya sekitar 100-180 cm dan terbuat dari kuningan atau perunggu.[1]:122[2] Mereka menembakkan peluru meriam bundar berbobot 1,13-1,36 kg dengan jarak melebihi 360 m.[2]:50–51 Selain itu mereka juga dapat dimuat dengan peluru sebar (grapeshot atau case shot).[6] Meriam Melayu biasanya menembakkan bola-bola batu yang terbuat dari batu-batu tepi sungai,[7]:31 dan lebih jarang lagi melemparkan bola logam dari besi atau kuningan.[3]:97 Mereka menggunakan serpihan timbal dan timah (disebut "dadu-dadu")[8]:209 dalam jarak dekat, dan untuk case shot, terbuat dari batu di dalam keranjang rotan.[3]:97 Lela memiliki kaliber lubang diantara 19 dan 76.2 mm.[3]:95[8]:209 Beberapa lela besar memiliki laras ganda dan terkadang satu atau lebih meriam kecil miniatur dicor di atas laras mereka untuk digunakan jika musuh menyerang sebelum meriam bisa diisi kembali. Lela rambang atau jala rambang adalah jenis lela, terbuat dari kuningan, dengan moncong pemuras (melebar) yang menembakkan serpihan atau batu. Mereka juga dipanggil lela mulut katak.[3]:95

Lela selalu memiliki tabung yang dicor di belakang, di mana pegangan kayu atau pengarah akan dipasang. Pengarah ini digunakan untuk membidik.[3]:93 Lela memiliki dudukan putar (disebut cagak, cangkak lela, atau rangking) dengan pasak di bawahnya agar bisa dipasang di tepian kapal atau tepi benteng.[9][3]:95 Untuk penggunaan darat mereka biasanya ditempatkan di sudut benteng atau perkubuan, sehingga mereka bisa melindungi secara bergantian dua dinding yang berbeda.[3]:95 Seringkali, mereka memiliki lumba-lumba (pegangan logam di atas untuk mengangkat meriam) tetapi mereka mungkin murni ornamental, karena mereka dapat diambil tanpa mengangkatnya dengan tali.[3]:93 Dibandingkan dengan falconet Eropa dengan sejarahnya yang berasal dari tahun 1500-an, lela lebih pendek dengan jarak tembak lebih dekat dan lebih ringan tetapi lebih unggul dalam ornamen dan desain.[7]:11

 
Meriam lela yang lebih besar, sudah termakan usia, di Sanggau, Kalimantan Barat, Indonesia.

Lela juga merujuk pada meriam Melayu ukuran sedang hingga besar. Menurut Isabella L. Bird, lelah adalah meriam panjang dan berat yang terbuat dari kuningan, digunakan untuk pertahanan benteng-benteng di mana dibelakangnya orang Melayu bertempur (apilan dan kota mara, atau pertahanan Melayu yang disebut kubu).[10] Mereka bisa menembak sejauh 1000 yard (914 m), dan menembakan peluru 4 pon (1,8 kg).[8]:209[11]

SejarahSunting

 
Perahu perang Iranun, dengan lela yang dipasang di haluan.

Asal usul persenjataan berbasis mesiu di kepulauan Nusantara dapat ditelusuri dari akhir abad ke-13. Invasi Mongol ke Jawa (1293) membawa teknologi bubuk mesiu ke Jawa dalam bentuk meriam (Bahasa Cina: Pao).[12] Hal ini menghasilkan pengembangan meriam putar Jawa, cetbang. Pada masa memudarnya kekuasaan Majapahit, terutama setelah perang paregreg (1404-1406),[13]:174-175 banyak dari ahli meriam perunggu yang tidak puas dengan kondisi di kerajaan di Jawa yang lari ke Brunei, Sumatra, Semenanjung Malaya dan kepulauan Filipina, yang menyebabkan meluasnya penggunaan meriam Cetbang. Terutama pada kapal dagang untuk perlindungan dari bajak laut, terutama di Selat Makassar. Hal ini mengakibatkan penggunaan meriam menjadi hampir universal di kepulauan Nusantara.[14]

Lela paling awal, seperti lantaka, adalah senjata yang diisi dari belakang.[15] Ini menunjukkan bahwa cetbang adalah pendahulu langsung lantaka. Michael Charney (2004) menunjukkan bahwa meriam putar Melayu awal diisi dari bagian belakang.[2]:50 Ada kecenderungan meriam menjadi ke pengisian depan selama masa kolonial.[16] Walau bagaimanapun, ketika Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511 M, baik meriam putar yang diisi dari belakang maupun depan ditemukan dan dirampas oleh Portugis.[2]:50

 
Gambar kastil air mengambang (kotta mara) dari Hachelijke reys-togt van Jacob Jansz de Roy.

Ketika penjelajah Iberia datang ke Asia Tenggara, penduduk setempat tidak takjub dengan kekuatan kapal dagang bersenjata berat Eropa. De Barros menyebutkan bahwa saat jatuhnya Malaka, Albuquerque merebut 3.000 dari 8.000 artileri. Di antaranya, 2.000 terbuat dari kuningan dan sisanya dari besi, dalam gaya meriam Berço (meriam putar isian belakang) Portugis. Semua artileri memiliki kereta meriam yang tepat yang tidak dapat disaingi bahkan oleh Portugal.[17][18][19]:62-64 Meriam yang ditemukan berasal dari berbagai jenis: esmeril (meriam putar 1/4 sampai 1/2 pon,[20] mungkin merujuk pada cetbang atau lantaka), falconet (meriam putar cor perunggu yang lebih besar dari esmeril, 1 sampai 2 pon[20]), saker berukuran sedang (meriam panjang atau culverin diantara 6-10 pon),[21] dan bombard (meriam yang pendek, gemuk, dan berat).[2]:46 Orang Melayu juga memiliki 1 buah meriam besar yang cantik, dikirim oleh raja Calicut.[2]:47[22]:22 Banyaknya artileri di Malaka berasal dari berbagai sumber di kepulauan Nusantara: Pahang, Jawa, Brunei, Minangkabau, dan Aceh.[23][1][24]

 
Detail sebuah lanong. Apilan dan sunting apilan dapat dilihat.

Pada 1600 M., meriam lela menjadi lebih umum di kepulauan itu. Beberapa pengecoran terkenal di wilayah tersebut adalah Terengganu di semenanjung Melayu, Gresik di Jawa, dan tanah Minangkabau di pedalaman Sumatra,[25] di Brunei dan Banjarmasin di Borneo, Sulu di Filipina Selatan, Makassar di Sulawesi, dan Aceh.[4]

Lela juga digunakan dalam rakit berbenteng suku Banjar yang disebut kotta mara. Kotta mara dapat digunakan sebagai baterai terapung atau sebagai kastil air. Kotta mara yang berbentuk persegi panjang dapat dilengkapi dengan 12 lela,[26]:45 sedangkan kotta mara dengan selekoh pojok dapat dilengkapi 16 lela.[27]:61

Lela dipasang pada apilan (perisai senjata) dari perahu perang dan perahu perompak Melayu. Sunting apilan adalah nama yang diberikan kepada dua lela atau meriam ringan yang berdiri di atas perisai senjata dari sebuah meriam berat.[28]

Letnan T.J. Newbold mencatat tentang perahu bajak laut melayu:[3]

Perahu-perahu yang digunakan oleh perompak Melayu adalah seberat delapan hingga sepuluh ton, diawaki dengan baik dan sangat cepat, terutama dengan dayung pendek yang biasa digunakan. Mereka umumnya dipersenjatai dengan meriam putar pada haluan, tengah, dan buritan, berkaliber kecil, tetapi memiliki jarak jangkau yang jauh. Ketika bersiap untuk menyerang, benteng kuat dari kayu yang disebut 'Apilan' didirikan, di belakangnya para kru berlindung, bertempur dengan meriam-meriam panjang mereka sampai mangsa mereka lumpuh; atau sampai gong membunyikan sinyal agar melakukan boarding (taktik merampas kapal musuh dengan naik ke atasnya).

— Journal of the Asiatic Society of Bengal, Volume 5

Brunei dikenal karena pandai besinya di abad ke-19. Kuningan (paduan tembaga dan seng), selalu menjadi logam yang disukai karena lebih murah dan lebih mudah dikerjakan, dibandingkan dengan besi atau paduan keras lainnya, yakni perunggu. Namun, perunggu (paduan tembaga dan timah) jauh lebih kuat dan karenanya lebih populer untuk digunakan dalam pembuatan senjata.[7]:17 Proses pembuatan yang digunakan adalah cire perdue menggunakan cetakan terakota dan malam.[29]:237[7]:17

Bangsamoro (Muslim) dari Filipina masih menggunakan rentaka dan lela pada perang Filipina – Amerika tahun 1899–1902. Rentaka dan lela dibawa oleh orang Melayu dari Semenanjung dan Melayu Borneo ke Filipina Selatan. Bangsamoro mengadopsi budaya Melayu.[15]

GaleriSunting

Lihat jugaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d Ismail, Norain B.T. (2012). Peperangan dalam Historiografi Johor: Kajian Terhadap Tuhfat Al-Nafis. Kuala Lumpur: Akademi Pengajian Islam Universiti Malaya. 
  2. ^ a b c d e f g Charney, Michael (2004). Southeast Asian Warfare, 1300-1900. BRILL. ISBN 9789047406921. 
  3. ^ a b c d e f g h i j Gardner, G. B. (1936). Keris and Other Malay Weapons. Singapore: Progressive Publishing Company. 
  4. ^ a b Gibson-Hill, C. A. (July 1953). "Notes on the old Cannon found in Malaya, and known to be of Dutch origin". Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society. 26: 145–174 – via JSTOR. 
  5. ^ Home; Terkini; News, Top; Terpopuler; Nusantara; Nasional; Riau; Internasional; Citizen. "Meriam Lelo di Kampar Meledak Karena Pecah, Seorang Tewas dan 4 lainnya luka". riau.antaranews.com. Diakses tanggal 2020-03-23. 
  6. ^ Reid, Anthony (2012). Anthony Reid and the Study of the Southeast Asian Past. Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 978-981-4311-96-0. 
  7. ^ a b c d Teoh, Alex Eng Kean (2005). The Might of the Miniature Cannon A treasure of Borneo and the Malay Archipelago. Asean Heritage. 
  8. ^ a b c Newbold, Thomas John (1971). Political and statistical account of the British settlements in the Straits of Malacca volume 2. Singapore: Oxford University Press. 
  9. ^ "Cannons of the Malay Archipelago". www.acant.org.au. Diakses tanggal 2020-02-19. 
  10. ^ Bird, Isabella L. (1883). The Golden Chersonese and the Way Thither. New York: G. P. Putnam's Sons. 
  11. ^ Murfett, Malcolm H. (2011). Between 2 Oceans (2nd Edn): A Military History of Singapore from 1275 to 1971. Marshall Cavendish International Asia Pte Ltd. 
  12. ^ Song Lian. History of Yuan.
  13. ^ Hidayat, Mansur (2013). Arya Wiraraja dan Lamajang Tigang Juru: Menafsir Ulang Sejarah Majapahit Timur. Denpasar: Pustaka Larasan. 
  14. ^ Raffles, Thomas Stamford (1978). The History of Java (edisi ke-[Repr.].). Kuala Lumpur: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-580347-1. 
  15. ^ a b Ooi, Keat Gin (2004). Southeast Asia: A Historical Encyclopedia, from Angkor Wat to East Timor. ABC-CLIO. ISBN 9781576077702. 
  16. ^ Hamid, Rahimah A. (2015). Kearifan Tempatan: Pandainya Melayu Dalam Karya Sastera. Penerbit USM. ISBN 9789838619332. 
  17. ^ A History of Greek Fire and Gunpowder. Diakses tanggal 12 December 2014. 
  18. ^ A Descriptive Dictionary of the Indian Islands & Adjacent Countries. Diakses tanggal 12 December 2014. 
  19. ^ Albuquerque, Afonso de (1875). The Commentaries of the Great Afonso Dalboquerque, Second Viceroy of India, translated from the Portuguese edition of 1774. London: The Hakluyt society. 
  20. ^ a b Manucy, Albert C. (1949). Artillery Through the Ages: A Short Illustrated History of the Cannon, Emphasizing Types Used in America. U.S. Department of the Interior Washington. hlm. 34. 
  21. ^ Lettera di Giovanni Da Empoli, with introduction and notes by A. Bausani, Rome, 1970, page 138.
  22. ^ Crawfurd, John (1856). A Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries. Bradbury and Evans. 
  23. ^ A History of Greek Fire and Gunpowder. Diakses tanggal 12 December 2014. 
  24. ^ Ayob, Yusman (1995). Senjata dan Alat Tradisional. Selangor: Penerbit Prisma Sdn Bhd. 
  25. ^ Ahmad, Rasdan (7 December 2014). "Melayu Sudah Lama Ada Senjata Api" (PDF). Digital Repository of National Library of Malaysia. 
  26. ^ van Rees, Willem Adriaan (1867). De Bandjermasinsche Krijg van 1859-1863 nader toegelicht. Arnhem: D.A. Thieme. 
  27. ^ de Roy, Jacob Jansz (1706). Hachelijke reys-togt van Jacob Jansz de Roy, na Borneo en Atchin, in sijn vlugt van Batavia, derwaards ondernoomen in het jaar 1691. Te Leyden: Pieter van der Aa. 
  28. ^ Wilkinson, Richard James (1901). A Malay-English dictionary. Hongkong: Kelly & Walsh, limited.    Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
  29. ^ Manguin, Pierre-Yves (1976). "L'Artillerie legere nousantarienne: A propos de six canons conserves dans des collections portugaises". Arts Asiatiques. 32: 233–268.