Buka menu utama

Karaeng Matoaya, lengkapnya Karaeng Matoaya I Malingkang Daeng Manyonri' Karaeng Katangka atau Sultan Abdullah,[1] adalah seorang raja Kerajaan Tallo (memerintah 1593-1623, wafat 1636) sekaligus perdana menteri Kesultanan Makassar,[2] yang sangat berpengaruh pada abad ke-17. Ia melantik Sultan Alauddin sebagai raja Kerajaan Gowa, menggantikan saudaranya Tunipasulu. Hubungan yang erat antara Karaeng Matoaya dan Sultan Alauddin kemudian berhasil meningkatkan kejayaan Kesultanan Makassar sehingga menjadi kekuatan militer dan perdagangan yang disegani di wilayah timur Nusantara.[3]

Daftar isi

Persekutuan Gowa-TalloSunting

Pada masa pemerintahan Karaeng Matoaya, Kerajaan Tallo dan Kerajaan Gowa telah bersekutu menjadi kesatuan (Kesultanan Makassar), di mana raja Gowa berperan sebagai raja Makassar dan raja Tallo sebagai mangkubuminya.[3] Berbagai kebijakan raja Gowa Tunipasulu sebelumnya telah melemahkan Makassar, dan Karaeng Matoaya lah yang membangkitkan kekuatan kerajaan itu.[3] Ia mengangkat Alauddin sebagai pengganti Tunipasulu, mempererat kerjasama Gowa dan Tallo, dan mengembangkan Makassar dari sebuah kekuatan lokal di Sulawesi Selatan menjadi suatu kekuatan regional besar, sehingga mampu menyaingi VOC yang mulai berkembang di Nusantara.[3]

Penyebaran IslamSunting

Karaeng Matoaya adalah raja Tallo pertama yang memeluk agama Islam, yang dilakukannya bersama keluarganya pada 22 September 1605.[1] Tak lama kemudian, raja Gowa Alauddin yang juga adalah kemenakannya turut serta memeluk Islam, sehingga Islam kemudian menjadi agama resmi Kesultanan Makassar.[3] Di bawah pimpinan Karaeng Matoaya dan Sultan Alauddin, Makassar yang telah memeluk Islam kemudian terlibat dalam penyebarannya. Antara 1608 hingga 1611, semua kerajaan besar di Sulawesi Selatan yang berada bagian sebelah selatan dataran tinggi Toraja telah diperangi atau dibujuk, hingga kesemuanya memeluk Islam.[3] Demikian pula hal yang sama terjadi pada Bima di Sumbawa.[3] Meskipun demikian, Karaeng Matoaya tidak melakukan perubahan sosial atau administratif atas berbagai kerajaan tersebut, yang tetap diperintah seperti sebelumnya oleh para bangsawan lokal setempat.[3]

Hagemoni MakassarSunting

Makassar pada masa pemerintahan Karaeng Matoaya merupakan pos perdagangan yang ramai bagi bebagai bangsa asing Eropa dan Asia, serta berbagai komunitas suku-suku lainnya dari seantero Nusantara. Berbagai macam barang dagangan diperdagangkan di Makassar saat itu, antara lain kayu cendana (dari Nusa Tenggara), beras (dari Maros), berlian (dari Banjarmasin), budak (dari Buton), cengkih (dari Maluku), kain (dari India), porselen (dari Tiongkok), dan lain-lain.[3] Pengaruh militer Makassar juga diperluas pada masa pemerintahan Karaeng Matoaya. Ekspedisi laut Makassar tercatat pernah dikirimkannya ke wilayah utara dan tengah Sulawesi, Buton, serta Nusa Tenggara. Di wilayah selatan Sulawesi, pasukan darat Makassar yang kuat juga memadamkan pemberontakan dan ketidakpatuhan dengan kekuatan militernya. Karaeng Matoaya memerintahkan pembuatan meriam dan mesiu, membuat kapal-kapal baru dengan rancangan lebih mutakhir, mencetak mata uang emas untuk perdagangan, serta memperkuat perbentengan di pantai Gowa dengan batu bata untuk menahani serangan dari arah laut.[3]

KepribadianSunting

Karaeng Matoaya disebutkan sebagai seorang yang taat dalam beragama Islam.[2] Ia juga diketahui memiliki ketertarikan intelektual atas berbagai macam hal, mulai dari teologi hingga ilmu pengetahuan. Minat serupa juga diperlihatkan oleh anak dan penerusnya, Karaeng Pattingalloang, yang mampu berbicara bahasa Melayu, Portugis, dan Spanyol, serta memiliki koleksi berbagai macam naskah, bola dunia, dan peta pelayaran yang menimbulkan kekaguman para tamunya.[3]

WafatSunting

Karaeng Matoaya wafat pada tanggal 1 Oktober 1636,[4] dan memperoleh gelar anumerta Tumenanga ri Agamana (orang yang wafat dalam agamanya).[5] Ia menikahi beberapa orang istri, dan memiliki anak 29 orang, yang mana salah satunya ialah Karaeng Pattingalloang yang kemudian juga menjadi perdana menteri Kesultanan Makkasar.[6]

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ a b Uka Tjandrasasmita (2009). Arkeologi Islam Nusantara. Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 28. ISBN 979-9102-12-X, 9789799102126. 
  2. ^ a b Anthony Reid (2015). A History of Southeast Asia: Critical Crossroads. John Wiley & Sons. hlm. 136. ISBN 1-118-51300-2, 9781118513002. 
  3. ^ a b c d e f g h i j k William Cummings (2002). Making Blood White: Historical Transformations in Early Modern Makassar (edisi ke-berilustrasi). University of Hawaii Press. hlm. 30-32. ISBN 0-8248-2513-6, 9780824825133. 
  4. ^ Dumadi, Sagimun Mulus (1985). Sultan Hasanudin menentang V.O.C.: pahlawan nasional. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Buku Terpadu. 
  5. ^ Dumadi, Sagimun Mulus (1992). Sultan Hasanudin, ayam jantan dari ufuk timur: pahlawan nasional. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. ISBN 9789794074169. 
  6. ^ Tika, Zainuddin (2007). Karaeng Pattingalloang. Pustaka Refleksi.