Kapal pertahanan pesisir Jepang Kunashiri

kapal perang

Kunashiri (国後) adalah satu dari empat kapal dalam kelas kapal pertahanan pesisir kelas-Shimushu yang dibangun oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pada masa Perang Dunia II.

Kunashiri pada tahun 1942
Sejarah
Kekaisaran Jepang
Nama Kunashiri
Asal nama Pulau Kunashir
Pembangun Nihon Kokan, Tsurumi
Pasang lunas 1 Maret 1939
Diluncurkan 6 Mei 1940
Mulai berlayar 3 Oktober 1940
Dicoret 5 November 1945
Nasib Kandas pada 4 Juni 1946
Ciri-ciri umum
Kelas dan jenis Kapal pertahanan pesisir kelas-Shimushu
Berat benaman 870 ton panjang (880 t) (standar)
Panjang 77,7 m (254 ft 11 in)
Lebar 9,1 m (29 ft 10 in)
Sarat air 3,05 m (10 ft 0 in)
Tenaga 4.050 hp (3.020 kW)
Kecepatan 19,7 kn (36,5 km/h; 22,7 mph)
Jangkauan 8.000 nmi (15.000 km; 9.200 mi) pada 16 kn (30 km/h; 18 mph)
Awak kapal 150 orang
Senjata

Latar belakang sunting

Kaibōkan dibuat oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dengan tujuan sebagai kapal multi fungsi. Sebelum Perang Dunia II, istilah kaiboukan ditujukan bagi kapal perang (gunkan) yang sudah uzur dan ditarik dari garis depan untuk dipakai sebagai kapal patroli. Kaiboukan digunakan sebagai kapal patroli, kapal pengawal konvoi, serta kapal penyapu ranjau. Karena fungsi tersebut, Kaibōkan tidak terlibat secara langsung dalam peperangan, terutama di garis depan. Ukuran kaiboukan sendiri umumnya lebih kecil dari kapal perusak dan memiliki kecepatan yang lebih lambat. Padanan kapal kaiboukan dalam sistem registrasi Angkatan Laut AS adalah escort ship (kapal pengawal).

Insiden dengan kapal perusak Nenohi sunting

Pada 8 Januari 1942, ketika Kunashiri memasuki Pangkalan Paramushir, dia menerima sinyal dari kapal perusak Nenohi yang isinya "Mengapa kamu tidak memberi hormat pada saya?". Mereka mengira Kunashiri yang berukuran lebih kecil memiliki pangkat lebih rendah, sehingga perlu memberi hormat pada Nenohi. Kunashiri balik menjawab, "Saya Kunashiri". Ternyata pangkat komandan Kunashiri lebih tinggi daripada komandan Nenohi, sehingga ketika masalah tersebut disadari, komandan Nenohi terpaksa pergi ke kapal Kunashiri untuk meminta maaf secara pribadi.

Insiden ini terjadi karena kerancuan mengenai apa golongan kapal kaiboukan. Awalnya kategori kapal ini digunakan untuk kapal-kapal sekelas kapal tempur, kapal penjelajah, dan kapal penjelajah lapis baja (armoured cruiser) yang sudah uzur untuk bertugas menjaga pesisir pantai. Tetapi setelah keputusan Traktat Angkatan Laut London berlaku, jumlah kapal perusak pun dibatasi. Saat itu, Angkatan Laut Kekaisaran Jepang memerlukan kapal pertahanan pesisir untuk mencegah pencurian ikan oleh Uni Soviet, tetapi karena terganjal aturan dalam traktat tersebut, kapal pertahanan pesisir harus memiliki tonase yang rendah. Kelas Shimushu dirancang untuk mengatasi masalah ini, dan biarpun berukuran lebih kecil daripada kapal perusak pada umumnya, kapal-kapal kelas Shimushu digolongkan sebagai kaiboukan, karena fungsinya sebagai kapal pertahanan pesisir dan penjaga kawasan perikanan Jepang dari pencurian ikan oleh Soviet.

Pada masa itu, Jepang menganut tiga penggolongan kapal, yaitu gunkan atau warship sebagai kapal anggota inti armada seperti kapal tempur, kapal penjelajah, dan kapal penjelajah lapis baja, kantei atau war vessel sebagai kapal spesialis penempur garis depan (kapal perusak, kapal selam, dan lain-lain), dan kansen atau vessel untuk kapal lainnya yang terdaftar dalam inventaris angkatan laut. Kapal-kapal yang termasuk dalam golongan gunkan berhak menerima lencana bunga Seruni di ujung haluannya serta memajang gambar kaisar, sedangkan kapal-kapal di luar golongan itu tidak akan menerima hak istimewa tersebut. Karena kapal kelas Shimushu berjenis kaiboukan, sedangkan anggota golongan tersebut adalah kapal-kapal dari golongan gunkan yang sudah ditarik dari garis depan, maka secara otomatis kedudukannya menjadi lebih tinggi, dan tentunya pangkat komandannya juga lebih tinggi. Kapal Kunashiri seberat 860 ton lebih senior daripada kapal perusak Nenohi seberat 1400 ton, sehingga menyebabkan insiden ini.

Pangkat kaiboukan sebagai gunkan dicabut pada bulan Juli 1942, serta dijadikan setara dengan kapal-kapal perusak lainnya. Hal tersebut mengakibatkan hak memakai lencana bunga Seruni dan memasang gambar kaisar turut ditarik. Kaiboukan kelas Etorofu, yang beroperasi tahun 1943, tidak lagi menerima lencana bunga Seruni dan hak istimewa lainnya karena perubahan penggolongan kapal tersebut. Ironisnya, Nenohi tenggelam hanya beberapa hari berselang setelah penurunan pangkat kapal-kapal kaiboukan, tepatnya pada tanggal 4 Juli 1942 oleh kapal selam USS Triton saat mengawal kapal induk pesawat laut Kamikawa Maru dekat Pulau Agattu.

Konstruksi dan karier sunting

Pada bulan Juli 1943 Kunashiri berpartisipasi dalam Evakuasi Kiska yang merupakan bagian dari Operasi Ke. Selama perang, Kunashiri lebih banyak beroperasi di sekitar daerah Kuril dan Hokkaido dalam pengawalan berbagai konvoi. Pada tanggal 28 Juli 1944. dia dilaporkan "rusak" oleh penyebab yang tidak diketahui oleh USS Tambor. Setelah akhir Perang Dunia II, Kunashiri kembali ke Sasebo dan nantinya digunakan oleh Layanan Pemulangan Sekutu. Tanggal 4 Juni 1946 saat dalam perjalanan ke Uragi, ia kandas dan kemudian ditinggalkan. Dalam upaya untuk menyelamatkan dia, Kamikaze juga ikut kandas, sementara pada saat yang sama, dia juga sedang memulangkan tentara Jepang dari Singapura.[1]

Catatan kaki sunting

  1. ^ "IJN Escort Kunashiri: Tabular Record of Movement". combinedfleet.com. Diakses tanggal 27 Agustus 2015. 

Referensi sunting