Kereta rel listrik

kereta rel
(Dialihkan dari KRL)

Kereta Rel Listrik (disingkat KRL) merupakan kereta rel yang bergerak dengan sistem propulsi motor listrik. KRL tidak memerlukan lokomotif terpisah, karena motor traksi listrik tergabung dalam satu atau sejumlah unit kereta. Rangkaiannya biasanya terdiri atas dua atau lebih kereta yang digabungkan secara semi permanen. KRL ditenagai oleh listrik yang diambil dari jalur kabel listrik aliran atas, rel ketiga atau penyimpanan energi terpasang pada sarana seperti baterai atau superkapasitor. Sebagian besar KRL adalah kereta penumpang, tetapi juga ada sebagian kecil KRL yang digunakan sebagai kereta kargo. KRL banyak digunakan pada jaringan kereta komuter di seluruh dunia karena akselerasinya yang cepat dan pengoperasiannya yang bebas polusi.[1]

Tiga macam kereta rel listrik di stasiun Bogor.. Dari kiri ke kanan, KRL ED101 Jepang buatan 1983/1984, KRL EA101 buatan 1996, dan KRL ED101 buatan 1986/1987.
Kereta MRT Jakarta, salah satu armada KRL di Indonesia.
Suasana di dalam salah satu KRL ex Jepang seri 8000/8500 yang beroperasi di Indonesia

Di Indonesia, kereta rel listrik terutama ditemukan di kawasan Jabodetabek, dan merupakan kereta yang melayani para komuter (lihat Kereta Komuter Jabodetabek), layanan kereta bandara, maupun kereta metro (lihat MRT Jakarta).

Di Hindia Belanda, kereta rel listrik pertama kali dipergunakan untuk menghubungkan Batavia dengan Jatinegara atau Meester Cornelis pada tahun 1925. Pada waktu itu digunakan rangkaian kereta rel listrik sebanyak 2 kereta, yang bisa disambung menjadi 4 kereta, yang dibuat oleh Werkspoor dan Heemaf Hengelo.

Pada tahun 1960-an kereta api dengan tenaga listrik sempat tidak digunakan selama beberapa lama karena kondisi mesin lokomotif dan kereta yang tidak memadai lagi. Pada tahun 1976, PJKA mulai mendatangkan sejumlah kereta rel listrik dari Jepang. Kereta rel listrik yang kini digunakan di Indonesia dibuat pada tahun 1976, 1978, 1983, 1984, 1986, 1987, 1994, 1996, 1997, 1998, 1999, 2000, 2001, 2011, 2017 dan 2018.

PT Inka yang terletak di Madiun telah dapat membuat dua set kereta rel listrik yang disebut KRL-I Prajayana pada tahun 2001. Kereta rel listrik ini belum dibuat lebih banyak lagi, karena "tidak ekonomis" dan dianggap sering mogok. Bagi PT Kereta Api, tampaknya lebih ekonomis untuk membeli KRL bekas dari Jepang.

Sejarah (kereta rel listrik)Sunting

Kereta rel listrik pertama kali digunakan pada akhir abad ke-19 Masehi di Jerman. Pada awalnya, kereta rel listrik dicatu daya menggunakan sumber arus searah. Pada tahun 1890 Masehi, Inggris menggunakan kereta rel listrik dengan sumber arus bolak-balik. Tegangan listrik nominal yang digunakan adalah 600 Volt. Inggris kemudian menaikkan tegangan listrik kereta rel listrik menjadi 1,5 kV pada tahun 1921. Penaikan nilai ini disertai peralihan menggunakan sumber arus searah. Pada perkembangan berikutnya, tegangan listrik yang bekerja pada kereta rel listrik meningkat menjadi 3 kV arus searah. Kereta rel listrik dengan tegangan listrik arus bolak-balik yang cukup tinggi dikembangkan di Jerman dan Swiss pada tahun 1912. Tegangan listrik yang diterapkan sebesar 15 kV dengan frekuensi sebesar 16,66 Hz. Motor listrik yang dipakai sebagai penggerak berjenis motor traksi dengan komutator. Frekuensi umum sebesar 50 atau 60 Hz tidak diterapkan karena adanya perubahan gaya gerak listrik pada motor traksi komutator. Pemakaian frekuensi umum ini juga membuat ukuran motor traksi komutator harus dibuat lebih besar untuk menghindari munculnya busur api dengan ukuran yang besar. Frekuensi sebesar 50 Hz baru berhasil digunakan pada kereta rel listrik pada tahun 1952. Uji coba sekaligus pengembangannya dilakukan oleh Prancis. Pencatu dayanya adalah arus bolak-balik satu-fasa dengan tegangan listrik sebesar 25 kV. Jenis kereta rel listrik ini kemudian digunakan secara komersial di Prancis.[2]

Pengoperasian di IndonesiaSunting

Di Indonesia, jenis kereta ini digunakan pada armada Commuter Line Indonesia, MRT Jakarta, LRT Palembang, LRT Jakarta, dan LRT Jabodebek.

Commuter Line Indonesia mengoperasikan kereta rel listrik yang melayani jalur-jalur Jakarta Kota ke Bekasi dan Cikarang, Depok dan Bogor, Tangerang, Serpong, Maja dan Rangkasbitung serta trayek melingkar dari Manggarai, Jatinegara, Pasar Senen, Kampung Bandan, Tanah Abang, ke Manggarai lagi dan sebaliknya. Pada masa depan direncanakan bahwa KRL akan melayani pula stasiun Karawang dan Cikampek. Selain itu, jalur rel ganda dari Tanah Abang menuju Serpong telah selesai beberapa tahun yang lalu, sedangkan dari Manggarai sampai dengan Cikarang masih akan ditingkatkan menjadi Quadruple-Track. Manggarai sendiri akan menjadi Stasiun induk untuk Kereta Jabodetabek dan kereta Bandara. Tak hanya di Jabodetabek saja, Kereta Commuter Indonesia juga akan mengoperasikan KRL di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah (Kota Solo) dan telah dilakukan uji coba pada 4 November 2020 menggunakan KRL EA202 (KfW) dan JR 205-9/32. [3]

MRT Jakarta sebagai operator layanan kereta angkutan cepat di Jakarta saat ini memiliki satu jalur dari Stasiun Lebak Bulus hingga Stasiun Bundaran HI. Dibanding Commuter Line, kedatangan KRL di Stasiun MRT Jakarta memiliki interval yang lebih rapat yaitu 5 menit pada jam sibuk dan 10 menit pada jam biasa.[4] MRT Jakarta menggunakan armada KRL yang diproduksi oleh Nippon Sharyo, Jepang.

Selain kereta dengan layanan berhenti di setiap stasiun, juga terdapat KRL yang dioperasikan untuk layanan kereta ekspres bandara oleh Railink. Kereta bandara ini melayani dari dan menuju Stasiun Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta sebagai Airport Railink Station, dan Stasiun Sudirman Baru serta Stasiun Bekasi sebagai City Railink Station. Setiap satu perjalanan kereta ekspres ini menggunakan rangkaian KRL seri EA 203 buatan PT INKA dan Bombardier Transportation.

Perbandingan dengan Lokomotif ListrikSunting

terdapat beberapa kelebihan dan KRL jika dibandingkan dengan lokomotif listrik, diantaranya:[5]

  • Akselerasi lebih tinggi, karena ada lebih banyak motor traksi yang berbagi beban dengan tenaga tersebar
  • Rem induksi, rheostatik, dan regeneratif pada banyak gandar sekaligus, sangat mengurangi keausan pada bantalan rem dan/atau kampas dan memungkinkan pengereman lebih cepat (jarak pengereman lebih kecil/berkurang)
  • Beban gandar berkurang, karena kebutuhan akan lokomotif yang berat dihilangkan; Hal ini memungkinkan pembangunan prasarana yang lebih sederhana dan lebih murah karena menggunakan lebih sedikit material (seperti jembatan dan viaduk) dan biaya pemeliharaan prasarana yang lebih rendah
  • Getaran tanah berkurang, karena hal di atas
  • Koefisien adhesi yang lebih rendah untuk poros penggerak
  • Tingkat redundansi yang lebih tinggi, kinerja hanya terpengaruh secara minimal jika ada kerusakan pada satu motor
  • Kapasitas tempat duduk lebih tinggi, karena tidak menggunakan lokomotif, semua unit dalam satu rangkaian digunakan sebagai kereta penumpang.

Sementara kelebihan lokomotif listrik, jika dibandingkan dengan KRL:

  • Lebih sedikit komponen listrik di sepanjang rangkaian kereta, sehingga perawatan lebih murah.
  • Kebisingan dan getaran lebih rendah pada kereta penumpang, karena tidak ada motor atau kotak roda gigi pada bogie di bawah kereta penumpang.

KRL pada saat Peristiwa Kematian ListrikSunting

Pada peristiwa Mati Listrik Jawa-Bali 2005, sebanyak 42 perjalanan kereta rel listrik (KRL) rute Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi dibatalkan dan 26 KRL yang sedang beroperasi tertahan di beberapa perlintasan. Diperkirakan hal ini menyebabkan kerugian yang mencapai Rp 200 juta.

14 Tahun silam Pada peristiwa Mati listrik Jawa Bali 2005 dan Tahun 2019 Peristiwa pun terjadi Pada Tanggal 4-5 Agustus 2019 Mati listrik Jawa 2019, beberapa perjalanan kereta rel listrik (KRL) Commuter Line, MRT Jakarta, LRT Jakarta & KRL Bandara terhenti. Ada sekitar 4 perjalanan MRT juga kena imbasnya. Serta LRT Jakarta harus tidak beroperasi terkait pemadaman listrik. Akibat dari peristiwa ini, kerugian mencapai lebih dari Rp 90 miliar.

Lihat pulaSunting

Pranala luarSunting

ReferensiSunting

  1. ^ DE, Nisit. K. (1999). Electric drives. Sen, Prasanta.K,. New Delhi: Prentice Hall of India. ISBN 81-203-1492-1. OCLC 605740719. 
  2. ^ Haroen, Yanuarsyah (2017). Sistem Transportasi Elektrik. Bandung: ITB Press. hlm. 4. ISBN 978-602-7861-65-7. 
  3. ^ Farozy, Ikko Haidar (2020-11-05). "Akhirnya, Ujicoba KRL Daop 6 Yogyakarta Telah Dimulai". Railway Enthusiast Digest. Diakses tanggal 2020-11-09. 
  4. ^ developer, medcom id (2020-06-07). "MRT Datang Setiap 5 Menit Saat Jam Sibuk". medcom.id. Diakses tanggal 2020-11-09. 
  5. ^ Lovatt, H.C. (2002). "Power transfer in hybrid electric vehicles with multiple energy storage units". International Conference on Power Electronics Machines and Drives. IEE. doi:10.1049/cp:20020109. ISBN 0-85296-747-0.