KRI Teluk Banten (516) adalah kapal perang milik Tentara Nasional Indonesia Angakatan Laut (TNI AL) bernomor lambung 516 yang diproduksi oleh perusahaan Korea Selatan, Korea SB & Eng., Masan, dan Korea Tacoma SY, Chinhae pada tahun 1981[1]. Setelah masuk ke Indonesia, kapal perang tersebut dinamai dengan nama "Teluk Banten" yang diartikan sebagai nama teluk dari Kabupaten Serang, Provinsi Banten. KRI Teluk Banten (516) merupakan kapal perang yang bertipe kapal pengangkut tank (Landing Ship Tank (LST)) yang dapat mengangkut keperluan logistik, perlengakapan dan peralatan perang, serta membawa personil tentara sebanyak 202 unit dengan jumlah awak sebanyak 115 awak kabin[2].

KRI Teluk Banten (516) termasuk dalam tipe kelas Teluk Semangka beserta dengan lima kapal lainnya, seperti KRI Teluk Semangka (512), KRI Teluk Penyu (513), KRI Teluk Mandar (514), KRI Teluk Sampit (515), dan KRI Teluk Ende (517). Tipe kelas Teluk Semangka dibagi menjadi dua, yakni tipe standar dan tipe komando. KRI Teluk Banten (516) termasuk dalam tipe komando bersama dengan KRI Teluk Ende (517). KRI Teluk Banten (516) beserta tipe kelas Teluk Semangka berada dibawah pembinaan Satfib (Satuan Kapal Amfibi)[3].

SpesifikasiSunting

KRI Teluk Banten (516) termasuk dalam tipe komando yang dimana memiliki spesifikasi kapal perang yang dianggap lebih canggih dibandingkan tipe standar lainnya. KRI Teluk Banten (516) memiliki hanggar helikopter yang besar, dek helikopter di buritan yang dapat menampung satu helikopter ukuran sedang ataupun berat, dapat membawa dua unit Landing, Craft, Vehicle, and Personnel (LCVP atau Higgins boat), dan menggunakan jenis radar JRC dan Raytheon sebagai sistem navigasi. Dikarenakan sebagai tipe komando, KRI Teluk Banten (516) dijadikan sebagai kapal markas. Berikut merupakan spesifikasi KRI Teluk Banten (516)[2].

Spesifikasi KRI Teluk Banten (516)
Keterangan Unit
Dimensi 100 m x 15.4 m x 4.2 meter
Bobot Penuh 3.770 ton
Bobot Standar 1.800 ton
Mesin 2 diesels, 2 shafts, 6.860 bhp
Kecepatan Maksimum 15 knots
Jarak Jelajah 13.890 Km dengan kecepatan 13 knots
Total Kapasitas Helikopter 3 unit (dua di dalam hangar)
Jumlah Awak 115 Awak
Jumlah Tentara 202 Unit

PersenjataanSunting

KRI Teluk Banten (516) memiliki dua pucuk meriam Bofors 40 mm pada haluan tetapi meriam tersebut tidak dilengkapi dengan penutup pelindung, memiliki dua pucuk meriam 20 mm buatan Rheinmetall, dan memiliki dua pucuk senapan mesin berat (SMB) dengan kaliber 12,7 mm.

KomandanSunting

Pada tahun 2017, Komandan KRI Teluk Banten (516) dipimpin oleh Letkol Laut (P) Teguh Wibowo[4]. Setelah kepemimpinan Letkol Laut (P) Teguh Wibowo, Komandan KRI Teluk Banten (516) dipimpin oleh Letkol Laut (P) Dwi Yoga Pariadi. Pada tanggal 28 Oktober 2019, terdapat acara serah terima jabatan Komandan KRI Teluk Banten (516) yang telah berganti dari Letkol Laut (P) Dwi Yoga Pariadi kepada Letkol Laut (P) Mochamad Achnaf. Acara tersebut dipimpin oleh Komandan Satuan Kapal Amfibi (Satfib) Koarmada II Kolonel laut (P) Teguh Iman Wibowo[5].

Misi-misiSunting

Misi-misi yang pernah dilaksanakan KRI Teluk Banten (516) antara lain:

Operasi Aru JayaSunting

Operasi Aru Jaya adalah operasi yang terjadi di laut Arafura dilakukan pada tanggal 10 Februari 1992. Operasi Aru Jaya merupakan operasi untuk menghalau kapal Lusitania Expresso, kapal feri dari Portugis, yang sedang berlayar menuju kota Dili, Timor Timur (sekarang Timor Leste) untuk melaksanakan ziarah ke tempat pemakaman Santa Cruz Timor Timur[6]. Operasi Aru Jaya dilaksanakan oleh KRI Ki Hajar Dewantara (364), KRI Yos Sudarso (353), kapal perusak kawal KRI Ngurah Rai (344), KRI Teluk Banten (516) sebagai kapal Markas, KRI Sorong (911), KRI Kerapu (812), KRI Ajak (653), dan KRI Rakata (922)[7].

KRI Teluk Banten (516) dipimpin oleh Asisten Operasi Gugus Tempur Laut Armada timur (Guspurlatim) Kolonel laut (P) Widodo AS, berserta Asintel Guspurlatim Letkol laut (P) Zulkifli Lubis untuk merencanakan bagaimana cara mengusir dan menghalau kapal Lusitania Expresso dengan catatan tidak melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Meskipun begitu, para penumpang yang terdiri dari para aktivis menganggap Pemerintah Republik Indonesia tidak berhak menghalangi pelayaran hingga sampai mengatur izin mereka untuk menuju kota Dili[8].

Pengangkutan Beras ke SaumlakiSunting

Pengangkutan dan pengiriman beras oleh KRI Teluk Banten (516) ke Saumlaki ibu kota kabupaten Maluku Tenggara Barat (sekarang Kabupaten Kepulauan Tanimbar) dilaksanakan pada tanggal 12 Maret 2018 dan sampai di Saumlaki pada tanggal 15 Maret 2018. Pengangkutan dan pengiriman beras dilaksanakan atas kerjasama TNI AL (Lanal Saumlaki) dengan Pemerintah Daerah (Pemda) Saumlaki dengan total beras yang dikirim sebesar 300 ton dari PT. Graha Aska dan beberapa donatur lainnya[9].

Operasi Benteng PausSunting

Operasi Benteng Paus merupakan operasi pengamanan perbatasan yang meliputi pencegahan, penangkalan, serta penindakan terhadap pelanggaran wilayah disekitar perbatasan Indonesia - Australia - Timor Leste yang dimulai pada tanggal 1 Maret 2014. Operasi Benteng Paus dipimpin oleh Komandan Satuan Kapal Amfibi (Dansatfib) Koarmatim Kolonel Laut (P) Rahmat Eko Raharjo[10].

Operasi Komodo Jaya - 19Sunting

Operasi Komodo Jaya - 19 merupakan operasi untuk menjaga keamanan Laut Indonesia terutama di wilayah perairan Laut Indonesia bagian Timur dan juga melatih 557 siswa Sekolah Tamtama Pulatdiksarmil Kodiklatal Angkatan XXXIX Gelombang I dalam Lattek Pelayaran TA. 2019 selama tanggal 23 Juli hingga 29 Juli 2019. Operasi ini dipimpin oleh komandan Letkol Laut (P) Dwi Yoga P., M. Tr.Hanla. Pelatihan yang diberikan antara lain pemeliharaan geladak kapal, pengenalan peralatan navigasi, persenjataan, dan permesinan, dinas jaga laut dan dinas jaga darat[11].

Penjemputan Korban KMP Senopati Nusantara di Pulau KangeanSunting

Penjemputan korban di pulau Kangean dilaksanakan oleh KRI Teluk Banten (516) setelah KMP Senopati Nusantara terdampar dan tenggelam di perairan Aeng Pao, Desa Kolo-kolo, Kecamatan Arjasa, Kangean, Madura. Pemerintah Propinsi Jawa Timur bekerjasama dengan Angkatan Laut langsung memberangkatkan Kapal Perang TNI-AL, KRI Teluk Banten (516) untuk membantu menjemput korban yang terdampar di tengah hutan bakau. 15 korban berhasil diselamatkan tetapi enam diantaranya masih membutuhkan perawatan yang serius. Meskipun begitu, semua korban dibawa dengan KRI Teluk Banten (516) menuju rumah sakit di Surabaya[12].

ReferensiSunting

  1. ^ "Disetujui, Dua Kapal Perang TNI AL Jadi Sasaran Latihan Tembak". www.djkn.kemenkeu.go.id. Diakses tanggal 2020-01-08. 
  2. ^ a b "KRI Teluk Banten 516: Landing Ship Tank dengan Kemampuan Sebagai Kapal Markas". Indomiliter.com (dalam bahasa Inggris). 2015-08-02. Diakses tanggal 2020-01-08. 
  3. ^ "KRI Teluk Semangka 512 – LST Besutan Korea Selatan Pertama Yang Akhiri Masa Tugas". Indomiliter.com (dalam bahasa Inggris). 2013-04-27. Diakses tanggal 2020-01-08. 
  4. ^ "KOMANDAN KRI TELUK BANTEN-516 SAMBUT RAMAH AWAK MEDIA". 
  5. ^ "Pucuk Pimpinan KRI Teluk Banten-516 Berganti". 
  6. ^ Oleh (2014-05-26). "Kisah Awak "Hiu Kencana" Jilid 8". JakartaGreater. Diakses tanggal 2020-01-08. 
  7. ^ Abarky (Kamis, 01 Maret 2012). "Garuda Militer: Operasi Aru Jaya". Garuda Militer. Diakses tanggal 2020-01-08. 
  8. ^ Efendi, Feni (2015-11-23). "Operasi Aru Jaya, Operasi Pencegahan Masuknya Kapal Fery Portugis Lusitania Expresso Ke Wilayah Indonesia". travesia.co.id. Diakses tanggal 2020-01-08. 
  9. ^ Saragih, Anggaraman (2018-03-12). "KRI Teluk Banten–516 Bantu Angkut Logistik ke Lanal Saumlaki". JakartaGreater. Diakses tanggal 2020-01-08. 
  10. ^ "UJI KESIAPAN OPERASI BENTENG PAUS, KRI TELUK BANTEN-516 LAKSANAKAN DINAMIKA ROLE GAME > W E B S I T E - T N I A L > Seremonial". www.tnial.mil.id. Diakses tanggal 2020-01-08. 
  11. ^ "KRI Teluk Banten Libatkan Ratusan Siswa Tamtama Kodiklatal Dalam Operasi Komodo Jaya". Portal Pelopor Wiratama. 2019-07-25. Diakses tanggal 2020-01-08. 
  12. ^ "KRI TELUK BANTEN JEMPUT PENUMPANG TERDAMPAR, 6 PENUMPANG BUTUH PERAWATAN SERIUS".