Buka menu utama

Infeksi saluran kemih

Infeksi saluran kemih (ISK) adalah infeksi bakteri yang mengenai bagian dari saluran kemih. Ketika mengenai saluran kemih bawah dinamai sistitis (infeksi kandung kemih) sederhana, dan ketika mengenai saluran kemih atas dinamai pielonefritis (infeksi ginjal). Gejala dari saluran kemih bawah meliputi buang air kecil terasa sakit dan sering buang air kecil atau desakan untuk buang air kecil (atau keduanya), sementara gejala pielonefritis meliputi demam dan nyeri panggul di samping gejala ISK bawah. Pada orang lanjut usia dan anak kecil, gejalanya bisa jadi samar atau tidak spesifik. Kuman tersering penyebab kedua tipe tersebut adalah Escherichia coli, tetapi bakteri lain, virus, maupun jamur dapat menjadi penyebab meskipun jarang.

Infeksi saluran kemih
Pyuria.JPG
Terlihat banyak darah putih pada urin (air seni) seorang dengan infeksi saluran kemih pada mikroskopi
Klasifikasi dan rujukan luar
Spesialisasi Urologi
ICD-10 N39.0
ICD-9-CM 599.0
DiseasesDB 13657
MedlinePlus 000521
eMedicine emerg/625 emerg/626
Patient UK Infeksi saluran kemih
MeSH D014552

Infeksi saluran kemih lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki, dengan separuh perempuan mengalami setidaknya satu kali infeksi selama hidupnya. Kekambuhan juga sering terjadi. Faktor risikonya antara anatomi perempuan, hubungan seksual, dan riwayat keluarga. Pielonefritis, bila terjadi, biasanya ditemukan setelah infeksi kandung kemih namun juga dapat diakibatkan oleh infeksi yang ditularkan melalui darah. Diagnosis pada perempuan muda yang sehat dapat didasarkan pada gejalanya saja. Pada orang dengan gejala yang samar, diagnosis mungkin sulit karena bakteri mungkin ditemukan tanpa menyebabkan infeksi. Pada kasus yang kompleks atau apabila pengobatan gagal, kultur urin mungkin dapat bermanfaat. Pada orang yang sering mengalami infeksi, antibiotik dosis rendah dapat dikonsumsi sebagai langkah pencegahan.

Dalam kasus yang tidak kompleks, infeksi saluran kemih mudah diobati dengan antibiotik jangka pendek, walaupun resistensi terhadap banyak antibiotik yang digunakan untuk mengobati kondisi ini cenderung meningkat. Dalam kasus yang kompleks, antibiotik dalam jangka waktu lebih panjang atau intravena mungkin diperlukan, dan bila gejala belum membaik dalam dua atau tiga hari, diperlukan pemeriksaan diagnostik lebih lanjut. Pada perempuan, infeksi saluran kemih adalah infeksi bakteri yang paling sering ditemukan, yaitu 10% mengalami infeksi saluran kemih setiap tahun.

Daftar isi

Gejala dan tandaSunting

 
Urin mungkin mengandung nanah (kondisi yang dikenal sebagai piuria) seperti terlihat pada seseorang dengan sepsis karena infeksi saluran kemih.

Infeksi saluran kemih bawah disebut juga infeksi kandung kemih. Gejala yang paling sering ditemukan adalah rasa terbakar ketika buang air kecil dan harus sering buang air kecil (atau desakan untuk buang air kecil) tanpa duh tubuh vagina dan rasa nyeri yang berat.[1] Gejala ini mungkin bervariasi dari ringan hingga berat[2] dan pada perempuan sehat berlangsung selama rata-rata enam hari.[3] Nyeri di atas tulang kemaluan atau punggung bawah juga mungkin muncul. Orang yang mengalami infeksi saluran kemih atas, atau pielonefritis, mungkin mengalami nyeri panggul, demam, atau mual dan mundah di samping gejala klasik infeksi saluran kemih bawah.[2] Terkadang urin dapat tampak berdarah[4] atau mengandung piuria (nanah di urin) yang dapat terlihat.[5]

Pada anakSunting

Pada anak, gejala infeksi saluran kemih (ISK) mungkin hanya demam. Karena gejala yang kurang jelas, ketika perempuan berusia kurang dari dua tahun atau laki-laki di kurang dari satu tahun yang belum disunat mengalami demam, sebagian besar organisasi kedokteran menyarankan agar dilakukan kultur urin. Bayi mungkin sulit makan, muntah, lebih banyak tidur, atau tampak kuning. Pada anak yang lebih besar, dapat timbul gejala baru inkontinensia (hilangnya kontrol kandung kemih).[6]

Pada orang lanjut usiaSunting

Gejala saluran kemih seringkali tidak tampak pada orang lanjut usia.[7] Gejalanya mungkin samar dan hanya tampak sebagai inkontinensia, perubahan keadaan mental, atau kelelahan.[2] Sementara itu sebagian orang datang ke penyedia pelayanan kesehatan dengan gejala awal sepsis, yakni adanya infeksi dalam darah.[4] Diagnosis bisa sulit karena nyatanya banyak orang lanjut usia yang sudah memiliki inkontinesia atau demensia sebelumnya.[7]

PenyebabSunting

E. coli adalah penyebab dari 80–85% infeksi saluran kemih, dan Staphylococcus saprophyticus menjadi penyebab pada 5–10%.[1] Meskipun jarang, infeksi virus atau jamur dapat menyebabkan penyakit ini.[8] Bakteri penyebab lainnya meliputi:Klebsiella, Proteus, Pseudomonas, Enterococcus dan Enterobacter. Hal ini tidak umum ditemukan dan biasanya berkaitan dengan abnormalitas saluran kemih atau pemasangan kateter urin.[4] Infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus biasanya terjadi sekunder akibat infeksi yang ditularkan melalui darah.[2]

Penderita cystitis dan pyelonephritis biasanya mengidap bakteri dari usus (anus), umumnya bakteri aerobik gram negatif, sedangkan gram positif relatif jarang.

  • Bakteri gram negatif tersebut adalah: Escherichia coli (yang terbanyak), Klebsiella atau Proteus mirabilis, dan kadang-kadang Pseudomonas aeruginosa. Sedangkan Enterobacter and Serratia dijumpai juga pada pasien di rumah sakit.
  • Bakteri gram positif adalah: Staphylococcus saprophyticus pada 5 sampai 10 persen pasien. Dan yang lebih jarang adalah Enterococcus faecalis (group D streptococci) and Streptococcus agalactiae (group B streptococci). Sedangkan di rumah sakit dijumpai pasien dengan bakteri coccus, E. faecalis, and Staphylococcus aureus.[9]

Untuk pertama kali terkena infeksi saluran kemih yang hanya ditandai dengan gejala klinis, maka tidak diperlukan kultur urine dan dianggap bakterinya adalah E. Coli, tetapi jika sudah terkena beberapa kali dan tidak sembuh juga, maka perlu dilakukan kultur urine, karena seseorang dalam hidupnya apalagi jika sampai berusia lanjut dapat terkena 5 atau lebih jenis bakteri termasuk bakteri Staphylococcus saprophyticus yang relatif jarang dan penderita tidak pernah memakai kateter urine padahal resistensi antibiotiknya berbeda-beda untuk tiap-tiap bakteri. Mencoba-coba antibiotik pada orang lanjut usia atau yang kondisinya lemah bukan tindakan yang bijaksana, karena antibiotik pada prinsipnya membunuh bakteri-bakteri termasuk bakteri baik sekalipun yang dibutuhkan tubuh. Kultur urine tidak murah, bahkan bisa saja obat antibiotiknya lebih murah, apalagi kalau itu obat generik, misalnya Chloramphenicol, ataupun obat brand generic yang sebenarnya adalah obat generik yang diberi merek, misalnya Co Amoxyclav.

Jenis kelaminSunting

Pada perempuan muda yang aktif secara seksual, aktivitas seksual adalah penyebab dari 75–90% infeksi kandung kemih, dengan risiko infeksi berkaitan dengan frekuensi hubungan seksual.[1] Istilah "sistitis bulan madu" dipergunakan untuk fenomena ISK yang sering terjadi pada awal pernikahan. Pada perempuan pasca-menopause, aktivitas seksual tidak mempengaruhi risiko mengalami ISK.Penggunaan spermisida, terlepas dari frekuensi seksual, menambah risiko ISK.[1]

Perempuan lebih rentan terkena ISK daripada laki-laki, karena pada perempuan uretra jauh lebih pendek dan lebih dekat dengan anus.[10] Karena tingkat estrogen perempuan menurun seiring menopause, risikonya terkena infeksi saluran kemih meningkat karena hilangnya flora vagina yang melindungi.[10]

Kateter urinSunting

Kateterisasi urin meningkatkan risiko infeksi saluran kemih. Risiko bakteriuria (bakteri dalam urin) adalah antara tiga sampai enam persen per hari dan antibiotik profilaksis (pencegah) tidak efektif dalam mengurangi infeksi yang bergejala.[10] Risiko infeksi terkait bisa dikurangi dengan hanya memasang kateter bila diperlukan, dengan menggunakan teknik aseptik saat memasukkan, dan mempertahankan aliran kateter lancar dan tertutup dari lingkungan sekitarnya.[11][12][13]

LainnyaSunting

Kecenderungan infeksi kandung kemih mungkin bawaan dalam keluarga. Faktor risiko lainnya meliputi diabetes,[1] belum disunat, dan mengalami prostat besar.[2] Faktor penyulit cenderung samar antara lain abnormalitas anatomi, fungsional, atau metabolik yang mendasari. ISK yang kompleks lebih sulit diobati dan biasanya membutuhkan evaluasi, pengobatan dan tindak lanjut yang agresif.[14] Pada anak, ISK dikaitkan dengan refluks vesikoureteral (pergerakan abnormal urin dari kandung kemih menuju ureter atau ginjal) dan konstipasi.[6]

Orang dengan cedera sumsum tulang belakang memiliki risiko infeksi saluran kemih yang lebih tinggi, sebagian karena penggunaan kateter dalam waktu lama, dan sebagian lagi karena gangguan fungsi pengosongan kandung kemih.[15] Ini adalah penyebab infeksi paling umum dalam populasi ini, dan juga merupakan penyebab paling umum dari rawat inap.[15] Selain itu, penggunaan jus cranberry atau suplemen cranberry tampaknya tidak efektif dalam pencegahan dan pengobatan di populasi ini.[16]

PatogenesisSunting

Bakteri yang mengakibatkan infeksi saluran kemih biasanya masuk ke dalam kandung kemih lewat uretra. Akan tetapi, infeksi juga mungkin terjadi lewat darah atau limfe. Diyakini bahwa bakteri biasanya ditularkan ke uretra dari usus, dan perempuan memiliki risiko lebih tinggi karena anatominya. Setelah memasuki kandung kemih, E. Coli dapat menempel ke dinding kandung kemih dan membentuk biofilm yang kebal terhadap respon kekebalan tubuh.[4]

PencegahanSunting

Sejumlah langkah pencegahan belum dipastikan dapat mempengaruhi frekuensi ISK antara lain: penggunaan pil kontrasepsi atau kondom, buang air kecil segera setelah berhubungan seksual, jenis pakaian dalam yang digunakan, metode kebersihan pribadi yang digunakan setelah buang air kecil atau buang air besar, atau apakah seseorang biasanya mandi dengan bak mandi atau dengan pancuran (shower).[1] Demikian pula masih kurang bukti tentang efek dari menahan buang air kecil, penggunaan tampon, dan pembilasan dengan menyemprot langsung.[10]

Pada orang yang sering mengalami infeksi saluran kemih dan menggunakan spermisida atau diafragma sebagai metode kontrasepsi, disarankan untuk menggunakan cara lain.[4]Cranberry (jus atau kapsul) dapat mengurangi insiden pada orang yang sering mengalami infeksi,[17][18] tapi terdapat masalah dalam toleransi jangka panjang[17] karena gangguan saluran cerna yang terjadi pada lebih dari 30% orang.[19] Penggunaan dua kali sehari lebih baik dibandingkan penggunaan satu kali sehari.[20] Hingga tahun 2011, probiotik intravagina masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan apakah memang bermanfaat.[4] Penggunaan kondom tanpa spermisida atau penggunaan pil kontrasepsi tidak meningkatkan risiko infeksi saluran kemih sederhana.[21]

PengobatanSunting

Bagi orang dengan infeksi berulang, antibiotik harian jangka panjang cukup efektif.[1] Pengobatan yang sering digunakan mencakup nitrofurantoin dan trimethoprim/sulfamethoxazole.[4]Methenamine adalah obat lain yang sering digunakan untuk keperluan ini karena di kandung kemih yang tingkat keasamannya rendah, obat ini memproduksi formaldehid yang tidak menyebabkan resistensi.[22] Dalam kasus infeksi yang terkait dengan hubungan seksual, minum antibiotik sesudahnya mungkin bermanfaat.[4] Pada perempuan pasca-menopause, estrogen vagina topikal dapat mengurangi kekambuhan. Tidak seperti krim topikal, manfaat penggunaan estrogen vagina dari pesarium tidak setinggi antibiotik dosis rendah.[23] Sejumlah vaksin sedang dikembangkan sampai dengan tahun 2011.[4]

Pada anakSunting

Masih sedikit bukti bahwa antibiotik pencegahan mencegah infeksi saluran kemih pada anak.[24] Akan tetapi ISK berulang jarang menyebabkan masalah ginjal lebih lanjut bila tidak ada abnormalitas ginjal yang mendasarinya, mengakibatkan kurang dari sepertiga persen (0,33%) penyakit ginjal kronik pada orang dewasa.[25]

DiagnosisSunting

 
Beberapa basil (bakteri berbentuk batang, pada gambar ini tampak berbentuk seperti kacang berwarna hitam) yang terlihat di antara sel darah putih dalam pemeriksaan mikroskopik urin. Perubahan ini menandakan infeksi saluran kemih.

Dalam kasus sederhana, diagnosis dapat ditegakkan dan pengobatan diberikan berdasarkan gejalanya saja tanpa konfirmasi laboratorium lebih lanjut. Dalam kasus yang kompleks atau meragukan, mungkin berguna untuk memastikan diagnosis dengan urinalisis, mencari adanya nitrit urin, sel darah putih (leukosit), atau esterase leukosit. Pemeriksaan lain, mikroskopi urin, mencari adanya sel darah merah, sel darah putih, atau bakteri. kultur urin dianggap positif bila menunjukkan jumlah koloni bakteri lebih besar atau sama dengan 103unit pembentuk koloni (colony forming unit/CFU) per mL organisme saluran kemih biasa. Sensitivitas antibiotik juga dapat diuji dengan kultur ini, sehingga berguna dalam pemilihan pengobatan antibiotik. Akan tetapi, perempuan dengan hasil kultur negatif masih mungkin membaik dengan pengobatan antibiotik.[1] Karena gejala bisa samar dan tanpa pemeriksaan yang dapat diandalkan untuk infeksi saluran kemih, diagnosis bisa sulit pada orang lanjut usia.[7]

KlasifikasiSunting

Infeksi saluran kemih mungkin hanya melibatkan saluran kemih bawah, yang dikenal sebagai infeksi kandung kemih. Sebaliknya, infeksi juga dapat melibatkan saluran kemih atas, yang dikenal sebagai pielonefritis. Bila urin mengandung bakteri dengan jumlah yang bermakna namun tidak ada gejala, maka kondisi tersebut dikenal sebagai bakteriuria asimtomatik.[2] Bila infeksi saluran kemih melibatkan saluran kemih bagian atas, dan orang tersebut memiliki diabetes melitus, sedang hamil, berjenis kelamin laki-laki, atau mengalami imunodefisiensi, maka kasus dianggap kompleks.[3][4] Sebaliknya bila seorang perempuan sehat dan belum menopause maka kasus dianggap sederhana.[3] Pada anak, apabila infeksi saluran kemih berkaitan dengan demam, biasanya dianggap sebagai infeksi saluran kemih atas.[6]

Pada anakSunting

Untuk menegakkan diagnosis infeksi saluran kemih pada anak, dibutuhkan kultur urin positif. Kontaminasi sering merupakan tantangan yang dihadapi tergantung pada metode pengumpulan yang dilakukan, sehingga batas 105 CFU/mL digunakan untuk sampel aliran tengah “tangkapan bersih”, 104 CFU/mL digunakan untuk spesimen yang diperoleh dari kateter, dan 102 CFU/mL digunakan untuk aspirasi suprapubik (sampel diambil langsung dari kandung kemih dengan menggunakan jarum). Penggunaan "kantong urin" untuk mengumpulkan sampel tidak dianjurkan oleh World Health Organization karena tingginya tingkat kontaminasi ketika dikulturkan, dan kateterisasi lebih dipilih pada mereka yang belum terlatih toilet training. Beberapa organisasi, seperti American Academy of Pediatrics menyarankan ultrasonografi ginjal dan sistouretrogram buang air kecil (memperhatikan uretra dan kandung kemih orang yang diperiksa dengan sinar x pada waktu yang sebenarnya (real time) ketika mereka buang air kecil) pada semua anak berusia kurang dari dua tahun yang mengalami infeksi saluran kemih. Akan tetapi, karena kurangnya pengobatan yang efektif bila ditemukan masalah, organisasi lain seperti National Institute for Clinical Excellence hanya menyarankan pencitraan rutin pada anak di bawah usia enam bulan atau bila terdapat temuan yang tidak biasa.[6]

Diagnosis bandingSunting

Pada perempuan dengan servisitis (radang serviks) atau vaginitis (peradangan pada vagina) dan pada laki-laki muda dengan gejala ISK, infeksi Chlamydia trachomatis atau Neisseria gonorrheae mungkin merupakan penyebabnya.[2][26] Vaginitis juga mungkin disebabkan oleh infeksi jamur.[27]Sistitis interstisial (nyeri kronik pada kandung kemih) dapat dipertimbangkan pada orang yang mengalami beberapa episode gejala ISK tapi kultur urin tetap negatif dan tidak membaik dengan antibiotik.[28]Prostatitis (radang prostat) juga mungkin dipertimbangkan sebagai diagnosis banding.[29]

PengobatanSunting

Pengobatan utama tetaplah antibiotik. Phenazopyridine terkadang diberikan selama beberapa hari pertama di samping antibiotik untuk membantu meredakan rasa terbakar dan desakan untuk berkemih yang terkadang dirasakan selama infeksi kandung kemih.[30] Akan tetapi, obat tersebut tidak disarankan pemberiannya secara rutin karena kekhawatiran akan keamanan obat, terutama meningkatnya risiko methemoglobinemia(kadar methemoglobin yang lebih tinggi dari normal dalam darah).[31]Asetaminofen (parasetamol) dapat digunakan untuk demam.[32]

Perempuan dengan ISK sederhana yang berulang dapat mendapat manfaat dari pengobatan sendiri ketika gejala muncul, dan tindak lanjut medis hanya dilakukan bila pengobatan awal gagal. Resep antibiotik dapat diserahkan kepada apoteker lewat telepon.[1]

SederhanaSunting

Infeksi sederhana dapat didiagnosis dan diobati berdasarkan gejalanya saja.[1] Antibiotik oral seperti trimetoprim/sulfametoksazol (TMP/SMX), sefalosporin, nitrofurantoin, atau fluorokuinolon secara bermakna memperpendek waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan, dan semua obat tersebut memiliki efektivitas yang sama.[33] Pengobatan tiga hari dengan trimethoprim, TMP/SMX, atau fluorokuinolon biasanya cukup, sedangkan nitrofurantoin memerlukan 5–7 hari.[1][34] Dengan pengobatan, gejala seharusnya membaik dalam 36 jam.[3] Sekitar 50% orang akan pulih tanpa pengobatan dalam beberapa hari atau minggu.[1] Infectious Diseases Society of America tidak menyarankan fluorokuinolon sebagai pengobatan awal karena kekhawatiran akan timbulnya resistensi terhadap golongan obat ini.[34] Meskipun ada pencegahan ini, beberapa resistensi telah berkembang terhadap semua obat-obatan ini karena penggunaannya yang luas.[1]Trimetoprim tunggal dianggap setara dengan TMP/SMX di beberapa negara.[34] Untuk ISK sederhana, anak seringkali berespon terhadap antibiotik selama tiga hari.[35]

PielonefritisSunting

Pielonefritis diobati lebih agresif daripada infeksi kandung kemih sederhana dengan menggunakan antibiotik oral dengan jangka waktu lebih lama atau antibiotik intravena.[36] Pengobatan selama tujuh hari dengan fluorokuinolon oral siprofloksasin biasanya digunakan di daerah dengan tingkat resistensi kurang dari 10%.Bila resistensi lokal lebih besar dari 10%, seringkali diresepkan satu dosis seftriakson intravena. Pada mereka yang menunjukkan gejala lebih berat, mungkin diperlukan rawat inap di rumah sakit untuk pemberian antibiotik berkesinambungan.[36] Komplikasi seperti obstruksi saluran kemih akibat batu ginjal dapat dipertimbangkan bila gejala tidak membaik setelah pengobatan selama dua atau tiga hari.[2][36]

EpidemiologiSunting

Infeksi saluran kemih adalah infeksi bakteri yang paling sering terjadi pada perempuan.[3] Infeksi paling sering terjadi antara usia 16 hingga 35 tahun, dengan 10% perempuan mengalami infeksi setiap tahun dan 60% mengalami infeksi pada suatu waktu dalam hidupnya.[1][4] Infeksi sering berulang, dimana hampir separuh orang mengalami infeksi kedua dalam setahun. Bahkan beberapa wanita mengalami infeksi saluran kemih berulang hingga 3x atau lebih dalam setahunnya. Seseorang wanita yang terkena infeksi saluran kemih pada masa muda, sekitar 20 persennya akan mengalami infeksi berulang selama hidupnya. Infeksi saluran kemih muncul empat kali lebih sering pada perempuan dibandingkan laki-laki, tetapi infeksi pada laki-laki seringkali lebih parah daripada wanita, karena bakteri dapat bersembunyi pada jaringan prostat.[4][37] Pielonefritis terjadi sekitar 20-30 kali lebih jarang.[1] Ini adalah penyebab paling umum dari infeksi yang didapatkan di rumah sakit yakni sekitar 40%.[38] Tingkat bakteri asimtomatik di urin meningkat seiring usia dari dua hingga tujuh persen pada perempuan usia subur hingga mencapai 50% pada perempuan lanjut usia di panti jompo.[10] Tingkat bakteri asimtomatik dalam urin di antara laki-laki di atas usia 75 tahun adalah sekitar 7-10%.[7]

Infeksi saluran kemih mungkin dialami 10% orang saat masa anak.[4] Pada anak, infeksi saluran kemih paling sering terjadi pada anak laki-laki berusia di bawah tiga bulan yang belum disunat, diikuti oleh anak perempuan berusia di bawah satu tahun.[6] Akan tetapi perkiraan frekuensi pada anak sangat bervariasi. Pada sekelompok anak yang mengalami demam, pada usia baru lahir hingga dua tahun, 2 – 20% didiagnosis ISK.[6]

Masyarakat dan kebudayaanSunting

Di Amerika Serikat, infeksi saluran kemih merupakan alasan pada hampir tujuh juta kunjungan ke dokter, satu juta kunjungan ke unit gawat darurat, dan seratus ribu rawat inap setiap tahun.[4] Biaya infeksi ini signifikan baik dalam hal waktu yang hilang di tempat kerja maupun biaya perawatan medis. Di Amerika Serikat biaya langsung pengobatan diperkirakan sebesar 1,6 milyar USD setiap tahun.[38]

SejarahSunting

Infeksi saluran kemih telah digambarkan sejak zaman kuno, dengan penggambaran pertama yang didokumentasikan di Papirus Ebers tertanggal 1550 SM.[39] Orang Mesir menggambarkannya sebagai "memancarkan panas dari kandung kemih".[40] Belum ada pengobatan yang efektif hingga pengembangan dan ketersediaan antibitiok pada tahun 1930an, setelah sebelumnya disarankan pengobatan herbal,pengaliran darah, dan istirahat.[39]

Pada kehamilanSunting

Infeksi saluran kemih lebih merupakan kekhawatiran pada kehamilan karena meningkatnya risiko infeksi ginjal. Selama kehamilan, tingkat progesteron yang tinggi meningkatkan risiko berkurangnya tonus otot ureter dan kandung kemih, yang mengakibatkan lebih besarnya kemungkinan refluks, yakni urin mengalir kembali ke ureter di bagian atas dan menuju ginjal . Meskipun risiko bakteriuria asimtomatik tidak meningkat pada perempuan yang hamil, bila terdapat bakteriuria maka mereka memiliki risiko infeksi ginjal sebesar 25-40%.[10] Oleh karena itu bila pemeriksaan urin menunjukkan tanda-tanda infeksi—meskipun tanpa gejala—sebaiknya diberikan terapi.Sefaleksin atau nitrofurantoin biasanya digunakan karena secara umum dianggap aman dalam kehamilan.[41] Infeksi ginjal selama kehamilan dapat mengakibatkan kelahiran prematur atau pre-eklampsia (keadaan tekanan darah tinggi dan disfungsi ginjal selama kehamilan yang dapat menyebabkan kejang).[10]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o Nicolle LE (2008). "Uncomplicated urinary tract infection in adults including uncomplicated pyelonephritis". UrolClin North Am. 35 (1): 1–12, v. doi:10.1016/j.ucl.2007.09.004. PMID 18061019. 
  2. ^ a b c d e f g h Lane, DR (2011 Aug). "Diagnosis and management of urinary tract infection and pyelonephritis". Emergency medicine clinics of North America. 29 (3): 539–52. doi:10.1016/j.emc.2011.04.001. PMID 21782073.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan); Periksa nilai tanggal di: |date= (bantuan)
  3. ^ a b c d e Colgan, R (2011-10-01). "Diagnosis and treatment of acute uncomplicated cystitis". American family physician. 84 (7): 771–6. PMID 22010614.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan)
  4. ^ a b c d e f g h i j k l m n Salvatore, S (2011 Jun). "Urinary tract infections in women". European journal of obstetrics, gynecology, and reproductive biology. 156 (2): 131–6. doi:10.1016/j.ejogrb.2011.01.028. PMID 21349630.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan); Periksa nilai tanggal di: |date= (bantuan)
  5. ^ Arellano, Ronald S. Non-vascular interventional radiology of the abdomen. New York: Springer. hlm. 67. ISBN 978-1-4419-7731-1. 
  6. ^ a b c d e f Bhat, RG (2011 Aug). "Pediatric urinary tract infections". Emergency medicine clinics of North America. 29 (3): 637–53. doi:10.1016/j.emc.2011.04.004. PMID 21782079.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan); Periksa nilai tanggal di: |date= (bantuan)
  7. ^ a b c d Woodford, HJ (2011 Feb). "Diagnosis and management of urinary infections in older people". Clinical medicine (London, England). 11 (1): 80–3. PMID 21404794.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan); Periksa nilai tanggal di: |date= (bantuan)
  8. ^ Amdekar, S (2011 Nov). "Probiotic therapy: immunomodulating approach toward urinary tract infection". Current microbiology. 63 (5): 484–90. doi:10.1007/s00284-011-0006-2. PMID 21901556.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan); Periksa nilai tanggal di: |date= (bantuan)
  9. ^ "Bacterial Urinary Tract Infections". Diakses tanggal 3 Januari 2015. 
  10. ^ a b c d e f g Dielubanza, EJ (2011 Jan). "Urinary tract infections in women". The Medical clinics of North America. 95 (1): 27–41. doi:10.1016/j.mcna.2010.08.023. PMID 21095409.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan); Periksa nilai tanggal di: |date= (bantuan)
  11. ^ Nicolle LE (2001). "The chronic indwelling catheter and urinary infection in long-term-care facility residents". Infect Control Hosp Epidemiol. 22 (5): 316–21. doi:10.1086/501908. PMID 11428445. 
  12. ^ Phipps S, Lim YN, McClinton S, Barry C, Rane A, N'DowJ (2006). Phipps, Simon, ed. "Cochrane Database of Systematic Reviews". Cochrane Database Syst Rev (2): CD004374. doi:10.1002/14651858.CD004374.pub2. PMID 16625600.  Parameter |chapter= akan diabaikan (bantuan)
  13. ^ Gould CV, Umscheid CA, Agarwal RK, Kuntz G, PeguesDA (2010). "Guideline for prevention of catheter-associated urinary tract infections 2009". Infect Control Hosp Epidemiol. 31 (4): 319–26. doi:10.1086/651091. PMID 20156062. 
  14. ^ Disease, Chapter Seven, Urinary Tract Infections from Infectious Disease Section of Microbiology and Immunology On-line. By Charles Bryan MD.University of South Carolina. This page last changed on Wednesday, April 27, 2011
  15. ^ a b Eves, FJ (2010 Apr). "Prevention of urinary tract infections in persons with spinal cord injury in home health care". Home healthcare nurse. 28 (4): 230–41. doi:10.1097/NHH.0b013e3181dc1bcb. PMID 20520263.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan); Periksa nilai tanggal di: |date= (bantuan)
  16. ^ Opperman, EA (2010 Jun). "Cranberry is not effective for the prevention or treatment of urinary tract infections in individuals with spinal cord injury". Spinal cord. 48 (6): 451–6. doi:10.1038/sc.2009.159. PMID 19935757.  Periksa nilai tanggal di: |date= (bantuan)
  17. ^ a b Jepson RG, Craig JC (2008). Jepson, Ruth G, ed. "Cochrane Database of Systematic Reviews". Cochrane Database Syst Rev (1): CD001321. doi:10.1002/14651858.CD001321.pub4. PMID 18253990.  Parameter |chapter= akan diabaikan (bantuan)
  18. ^ Wang CH, Fang CC, Chen NC; et al. (2012). "Cranberry-containing products for prevention of urinary tract infections in susceptible populations". Arch Intern Med. 172 (13): 988–96. doi:10.1001/archinternmed.2012.3004. 
  19. ^ Rossi, R (2010 Sep). "Overview on cranberry and urinary tract infections in females". Journal of Clinical Gastroenterology. 44 Suppl 1: S61–2. doi:10.1097/MCG.0b013e3181d2dc8e. PMID 20495471.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan); Periksa nilai tanggal di: |date= (bantuan)
  20. ^ Wang, CH (2012 July 9). "Cranberry-containing products for prevention of urinary tract infections in susceptible populations: a systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials". Archives of Internal Medicine. 172 (13): 988–96. PMID 22777630.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan); Periksa nilai tanggal di: |date= (bantuan)
  21. ^ Engleberg, N C; DiRita, V; Dermody, T S (2007). "63". Schaechter's Mechanism of Microbial Disease (edisi ke-4). Baltimore: Lippincott Williams & Wilkins. 618. ISBN 978-0-7817-5342-5. 
  22. ^ Cubeddu, Richard Finkel, Michelle A. Clark, Luigi X. (2009). Pharmacology (edisi ke-4th ed.). Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 397. ISBN 9780781771559. 
  23. ^ Perrotta, C (2008-04-16). "Oestrogens for preventing recurrent urinary tract infection in postmenopausal women". Cochrane database of systematic reviews (Online) (2): CD005131. doi:10.1002/14651858.CD005131.pub2. PMID 18425910.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan)
  24. ^ Dai, B; Liu, Y; Jia, J; Mei, C (2010). "Long-term antibiotics for the prevention of recurrent urinary tract infection in children: a systematic review and meta-analysis". Archives of Disease in Childhood. 95 (7): 499–508. doi:10.1136/adc.2009.173112. PMID 20457696. 
  25. ^ Salo, J (2011 Nov). "Childhood urinary tract infections as a cause of chronic kidney disease". Pediatrics. 128 (5): 840–7. doi:10.1542/peds.2010-3520. PMID 21987701.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan); Periksa nilai tanggal di: |date= (bantuan)
  26. ^ Raynor, MC (2011 Jan). "Urinary infections in men". The Medical clinics of North America. 95 (1): 43–54. doi:10.1016/j.mcna.2010.08.015. PMID 21095410.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan); Periksa nilai tanggal di: |date= (bantuan)
  27. ^ Leung, David Hui ; edited by Alexander. Approach to internal medicine : a resource book for clinical practice (edisi ke-3rd ed.). New York: Springer. hlm. 244. ISBN 978-1-4419-6504-2.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan)
  28. ^ Kursh, edited by Elroy D. (2000). Office urology. Totowa, N.J.: Humana Press. hlm. 131. ISBN 978-0-89603-789-2.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan)
  29. ^ Walls, authors, Nathan W. Mick, Jessica Radin Peters, Daniel Egan ; editor, Eric S. Nadel ; advisor, Ron (2006). Blueprints emergency medicine (edisi ke-2nd ed.). Baltimore, Md.: Lippincott Williams &Wilkins. hlm. 152. ISBN 978-1-4051-0461-6. 
  30. ^ Gaines, KK (2004 Jun). "Phenazopyridine hydrochloride: the use and abuse of an old standby for UTI". Urologic nursing. 24 (3): 207–9. PMID 15311491.  Periksa nilai tanggal di: |date= (bantuan)
  31. ^ Aronson, edited by Jeffrey K. (2008). Meyler's side effects of analgesics and anti-inflammatory drugs. Amsterdam: Elsevier Science. hlm. 219. ISBN 978-0-444-53273-2. 
  32. ^ Glass, [edited by] Jill C. Cash, Cheryl A. (2010). Family practice guidelines (edisi ke-2nd ed.). New York: Springer. hlm. 271. ISBN 978-0-8261-1812-7. 
  33. ^ ZalmanoviciTrestioreanu A, Green H, Paul M, Yaphe J, LeiboviciL (2010). Zalmanovici Trestioreanu, Anca, ed. "Cochrane Database of Systematic Reviews". Cochrane Database SystRev. 10 (10): CD007182. doi:10.1002/14651858.CD007182.pub2. PMID 20927755.  Parameter |chapter= akan diabaikan (bantuan)
  34. ^ a b c Gupta, K (2011-03-01). "International clinical practice guidelines for the treatment of acute uncomplicated cystitis and pyelonephritis in women: A 2010 update by the Infectious Diseases Society of America and the European Society for Microbiology and Infectious Diseases". Clinical infectious diseases : an official publication of the Infectious Diseases Society of America. 52 (5): e103–20. doi:10.1093/cid/ciq257. PMID 21292654.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan)
  35. ^ "BestBets: Is a short course of antibiotics better than a long course in the treatment of UTI in children". 
  36. ^ a b c Colgan, R (2011-09-01). "Diagnosis and treatment of acute pyelonephritis in women". American family physician. 84 (5): 519–26. PMID 21888302.  Parameter |coauthors= yang tidak diketahui mengabaikan (|author= yang disarankan) (bantuan)
  37. ^ "Urinary Tract Infections in Adults". Diakses tanggal 1 Januari 2015. 
  38. ^ a b Brunner &Suddarth's textbook of medical-surgical nursing (edisi ke-12th ed.). Philadelphia: Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins. 2010. hlm. 1359. ISBN 978-0-7817-8589-1. 
  39. ^ a b Al-Achi, Antoine (2008). An introduction to botanical medicines : history, science, uses, and dangers. Westport, Conn.: PraegerPublishers. hlm. 126. ISBN 978-0-313-35009-2. 
  40. ^ Wilson...], [general ed.: Graham (1990). Topley and Wilson's Principles of bacteriology, virology and immunity : in 4 volumes (edisi ke-8. ed.). London: Arnold. hlm. 198. ISBN 0-7131-4591-9. 
  41. ^ Guinto VT, De Guia B, Festin MR, DowswellT (2010). Guinto, Valerie T, ed. "Cochrane Database of Systematic Reviews". Cochrane Database SystRev (9): CD007855. doi:10.1002/14651858.CD007855.pub2. PMID 20824868.  Parameter |chapter= akan diabaikan (bantuan)

Pranala luarSunting