Indeks pembangunan manusia Indonesia

Indeks Pembangunan Manusia Indonesia adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dimiliki oleh Indonesia. Menurut Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP), Indonesia menjadi negara yang berkembang nomor empat terpesat setelah Oman, Tiongkok, dan Nepal. Bukan hanya itu, IPM tanpa pendapatan Indonesia pun adalah kesepuluh dunia yang paling pesat perkembangannya.

Dari tahun 1970 hingga 2010, Indonesia menjadi negara dengan peningkatan IPM tercepat keempat dunia

IPM IndonesiaSunting

Tahun INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA
UNDP[1] Perubahan BPS[2][3][4] Perubahan
1990 0,532 - - -
1991 0,541 0,009 - -
1992 0,548 0,007 - -
1993 0,560 0,012 - -
1994 0,569 0,009 - -
1995 0,582 0,013 - -
1996 0,595 0,013 67,70 -
1997 0,601 0,006 - -
1998 0,593 0,008 - -
1999 0,597 0,004 64,30 3,40
2000 0,603 0,006 - -
2001 0,608 0,005 - -
2002 0,612 0,004 65,80 1,50
2003 0,617 0,005 - -
2004 0,623 0,006 68,69 2,89
2005 0,625 0,002 69,57 0,88
2006 0,635 0,010 70,08 0,51
2007 0,642 0,007 70,59 0,51
2008 0,647 0,005 71,17 0,58
2009 0,658 0,011 71,76 0,59
2010 0,664 0,006 Metode Baru[4]
66,53 -
2011 0,671 0,007 67,09 0,56
2012 0,679 0,008 67,70 0,61
2013 0,685 0,006 68,31 0,61
2014 0,689 0,004 68,90 0,59
2015 0,691 0,002 69,50 0,60
2016 0,694 0,003 70,18 0,68
2017 0,698 0,004 70,81 0,63
2018 0,707 0,009 71,39 0,58
2019 0,718 0,011 71,92 0,53

Legenda:

  Krisis Moneter dan kelabilan politik Indonesia (menyebabkan jatuhnya pendapatan per kapita)
  Krisis Moneter dan krisis ekonomi lainnya
  Proses pemulihan dari Krisis Moneter
  Pulih dari Krisis Moneter (pendapatan per kapita sama dengan sebelum krisis moneter)[5]
  IPM sangat tinggi
  IPM tinggi
  IPM sedang
  IPM rendah
  Peningkatan IPM terendah
  Peningkatan IPM tertinggi
  Peningkatan IPM kurang dari rata-rata
  Peningkatan IPM lebih dari atau sama dengan rata-rata

Masalah yang dihadapi dalam peningkatan IPMSunting

Jika dilihat dari Indeks Pembangunan Manusianya yang masih tertinggal, UNDP mencatat bahwa IPM Indonesia 2015 sebesar 0,689 dan berada di tingkat 113 dari 188 negara di dunia. IPM ini meningkat sekitar 30,5 persen dalam 25 tahun terakhir. Namun, di saat yang bersamaan, UNDP melihat ada sejumlah indikator kesenjangan yang bertolak belakang dengan peningkatan IPM tersebut:[6]

  • Tingkat kemiskinan dan kelaparan karena ada sekitar 140 juta orang Indonesia yang hidup dengan biaya kurang dari Rp20.000,00 per hari dan 19,4 juta orang menderita gizi buruk
  • Tingkat kesehatan dan kematian karena sebanyak dua juta anak di bawah usia satu tahun belum menerima imunisasi lengkap dan angka kematian ibu sebanyak 305 kematian per 100 ribu kelahiran hidup
  • Akses layanan dasar karena UNDP melihat bahwa hampit lima juta anak tidak bersekolah dan anak-anak di Papua memiliki tingkat dikeluarkan dari sekolah yang tinggi

Selain hal-hal di atas, kesenjangan antarkelamin pun masih menjadi salah satu permasalahan besar. Penasihat Teknis Bidang Demokrasi Pemerintahan dan Satuan Penanggulangan Kemiskinan UNDP Indonesia, Juliaty Ansye Sopacua mengatakan bahwa dalam perihal kensejangan kelamin, Indonesia harus belajar dengan Tiongkok dan Filipina. IPM tahun 2015 untuk laki-laki Indonesia 0,712, sedangkan perempuan 0,660. Dalam hal ini, di Tiongkok IPM bagi kaum pria 0,753 dan perempuan 0,718. Sementara Filipina, kelompok laki-laki memiliki IPM 0,681 dan perempuan 0,682.[7] Kesenjangan ini pun diperparah oleh status IPM masing-masing kelamin di mana IPM laki-laki yang lebih dari sama dengan 0,700 meletakkan pria Indonesia di status IPM tinggi, sedangkan IPM wanitanya yang besarnya di bawah 0,700 meletakkan IPM wanita Indonesia di status sedang.

Langkah yang dilakukan pemerintah dalam usaha peningkatan IPMSunting

Dalam hal pendidikan, pemerintah telah melakukan Program Indonesia Pintar melalui pendistribusian dan pemanfaatan Kartu Indonesia Pintar yang merupakan salah satu bentuk upaya pemerintah untuk meningkatkan rata-rata lamanya sekolah dan menekan angka drop out di sekolah.[8]

Staf Ahli bidang Kependudukan Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Sonny Harry B. Harmadi mengatakan bahwa pemerintah berfokus lebih pada upaya peningkatan IPM yang merata, sehingga pada tahun 2019, Indonesia mampu menjadi negara berstatus high human development sembari menurunkan angka ketimpangan.[9]

ReferensiSunting

  1. ^ "United Nations Development Programme" (dalam bahasa Inggris). UNDP. 2020. Diakses tanggal 23 Desember 2020. 
  2. ^ "Indeks Pembangunan Manusia Menurut Provinsi (Metode Lama), 1996-2013". BPS. 2014. Diakses tanggal 23 Desember 2020. 
  3. ^ "Indeks Pembangunan Manusia Menurut Provinsi (Metode Baru) 2010-2018". BPS. 2019. Diakses tanggal 23 Desember 2020. 
  4. ^ a b "Indeks Pembangunan Manusia Menurut Provinsi (Metode Baru), 2010-2019". BPS. 2020. Diakses tanggal 23 Desember 2020. 
  5. ^ "The World Bank - Indonesia" (dalam bahasa Inggris). Bank Dunia. 2020. Diakses tanggal 23 Desember 2020. 
  6. ^ "CNN Indonesia Ekonomi". http://m.cnnindonesia.com/ekonomi/. Diakses tanggal 03-07-2017.  Hapus pranala luar di parameter |website= (bantuan)
  7. ^ "Beritagar.id". https://beritagar.id/artikel/berita. Diakses tanggal 03-07-2017.  Hapus pranala luar di parameter |website= (bantuan)
  8. ^ "detik finance". https://m.detik.com/finance. Diakses tanggal 03-07-2017.  Hapus pranala luar di parameter |website= (bantuan)
  9. ^ "VIVA.co.id". http://m.viva.co.id/berita/dunia. Diakses tanggal 03-07-2017.  Hapus pranala luar di parameter |website= (bantuan)