Gunung Batu merupakan bukit berupa dinding alam yang terdiri dari batu-batu raksasa yang terletak di kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Gunung Batu di Lembang ini merupakan destinasi wisata dan sekaligus taman nasional di Lembang dengan ketinggian sekitar 1228 mdpl. Sebagian puncak gunung didominasi dari bebatuan sehingga tidak ada pohon yang dapat hidup di atasnya (terkecuali lumut atau ilalang). Diprediksi bahwa gunung ini terbentuk dari lava yang berasal dari letusan dahsyat Gunung Sunda sekitar 500.000 tahun lalu.[1]

Gunung Batu
Gunung Batu.jpg
Kenampakan Gunung Batu dari utara gunung.
Titik tertinggi
Ketinggian1.228 meter
Koordinat6°49'49"S 107°38'08"E 
Geografi
LetakJawa Barat, Indonesia
Geologi
Usia batuan500.000 tahun

Dilihat dari tampilannya, gunung ini merupakan bentuk nyata Patahan Lembang, yang berpotensi menyebabkan gempa bumi yang kuat dan mengancam kota Bandung secara keseluruhan.[2]

LetakSunting

Letak Gunung Batu ini berada di Desa Pagerwangi, Kecamatan Lembang, Kab. Bandung Barat, Indonesia.

RuteSunting

Untuk mencapai lokasi ini, dapat ditempuh lewat perjalanan dari pusat kota Lembang melalui Jalan Maribaya atau Desa huni asih. Untuk menempuh dengan transportasi umum seperti angkot dengan trayek Lembang-Cibodas, transportasi lain juga dapat digunakan untuk menuju lokasi ini dengan menaiki delman/andong. Selain Gunung batu, dalam perjalanan ini, juga dapat ditemui Kebun Begonia Lembang atau Rumah Bunga Rizal.

PembentukanSunting

Menurut sebuah prediksi, Gunung Batu Lembang terbentuk sekitar 500.000 tahun yang lalu oleh lava yang berasal dari letusan dahsyat Gunung Sunda. Hal ini dapat ditentukan dengan bukti-bukti yang mendalam sebagai contoh, sisi lerengnya menunjukkan batuan terjal yang merupakan lava beku andesitik. Kadang, banyak yang keliru bahwa ia terbentuk dari letusan Gunung Tangkuban Parahu.

Gempa dan Sesar LembangSunting

Gunung Batu Lembang adalah bagian dari Patahan Lembang yang merupakan salah satu sesar yang menjadi obyek penelitian LIPI yang merupakan retakan sepanjang 29 km, membentang dari arah timur ke barat. Berawal dari kaki Gunung Manglayang di sebelah timur dan menghilang sebelum perbukitan kapur Padalarang di sebelah barat. Patahan itu tepat antara Gunung Tangkuban Parahu dan dataran Bandung sehingga membentuk dua blok, utara dan selatan. Tembok Alam Raksasa ini membentengi pemandangan orang di utara ke selatan.

Sekitar tahun 2008 LIPI menggali tanah di kawasan Lembang, faktanya, berhasil diketahui jejak gerakan gempa selama 3.000 tahun terakhir, telah terjadi tujuh kali pergerakan besar Sesar Lembang. Rekaman tersebut diketahui dari lapisan tanah bekas sagpond (areal rawa yang tercipta akibat pergerakan patahan). Namun, belum diketahui mekanisme pergerakan Patahan Lembang akibat lambannya laju pergerakan, 2 - 5 mm per tahun. Periode gempa di Patahan Lembang pun terbilang lama, sekitar 400 hingga 700 tahun. Sehingga tidak ada fakta sejarah yang menunjukkan data sejarah otentik keaktifan sesar.

PemandanganSunting

Pemandangan di utara gunungSunting

Sejauh mata memandang ke arah utara, terlihat jelas penampakan rangkaian gunung-gunung: Gunung Burangrang, Gunung Tangkuban Parahu, dengan formasi sempurna berbentuk perahu terlelungkup, dan Gunung Bukit Tunggul yang semuanya merupakan kesatuan yang terpisahkan dari mitologi Sangkuriang, legenda ikonik Jawa Barat tentang asal muasal terbentuknya Gunung Tangkuban Parahu. Ketiga gunung itu merupakan parasit atau kemunculannya berasal dari letusan Gunung Sunda purba meletus sekitar 105.000 tahun yang lalu dalam kalderanya. Di bawahnya, terhampar kebun-kebun sayuran dan rumah-rumah penduduk yang memadati Kawasan Lembang. Hanya terlihat genting-genting rumah berderet berdempatan seperti balok-balok kayu berwarna merah yang disusun dalam sebuah kotak. Pemandangan juga ditamnah dengan kenampakan Gunung Putri yang jaraknya tidak terlalu jauh.

Pemandangan di selatan gunungSunting

Sementara di bagian selatan terlihat pemandangan berupa lembah dan bukit-bukit yang di bawahnya terhampar kota Bandung. Di kejauhan dengan dilatari Gunung Papandayan, Gunung Patuha, Gunung Malabar dan Gunung Guntur, dari atas sini jelas bahwa kota Bandung dikelilingi oleh gunung-gunung. Jika di malam hari, sinar lampu-lampu di kota Bandung akan terlihat seperti gerombolan kunang-kunang yang kelap-kelip bermandi cahaya.

Pemandangan Sesar LembangSunting

Sedangkan dari arah timur dari puncak gunung, akan terlihat Patahan Lembang yang terlihat begitu kentara mulai dari kaki Gunung Manglayang kemudian menyasar ke Gunung batu sampai ke kecamatan Cisarua sebagai ujung barat Patahan Lembang.[3]

Wisata, Fasilitas, dan KegiatanSunting

Di Gunung Batu satu-satunya fasilitasnya ialah warung warga yang berada di kaki gunung. Namun, warung ini merupakan warung satu-satunya di Gunung Batu. Warung tersebut adalah satu-satunya fasilitas yang biasa digunakan sebagai area parkir bagi wisatawan atau pengunjung yang membawa kendaraan pribadi.

Gunung Batu memiliki karakteristik yang didominasi oleh batuan andesit. Oleh sebab itu, gunung ini cocok untuk digunakan untuk aktivitas petualangan panjat tebing.

Dengan bermodalkan alat-alat pamenjatan serta keahlian, wisatawan atau pengunjung sudah bisa memanfaatkan gunung sebagai media untuk memanjat secara gratis. Selain aktivitas panjat tebing, aktivitas lain yang dapat dilakukan di Gunung Batu yaitu penelitian, berkemah, dan memotret pemandangan.

Penelitian yang dilakukan di Gunung Batu biasa dilakukan oleh oleh aktivis ilmu kebumian oleh ahli geografi atau mahasiswa dari jurusan Geologi yang meneliti Gunung Batu sebagai bagian dari Patahan Lembang untuk kepentingan pendidikan. Untuk aktivitas berkemah dan berfoto, biasa dilakukan pada Sabtu dan Minggu.

Pemandangan yang paling disukai saat aktivitas berfoto dan berkemah yaitu sunrise, sunset, dan citylight saat malam hari. Pemandangan saat malam ini yang dinilai sangat menarik karena lampu-lampu menyela begitu indah menbentang luas di sebelah utara yaitu citilight Lembang dan di sebelah selatan yaitu citylight Bandung.

Keindahan dan kondisi alam yang mendukung di Gunung Batu Lembang tidak didukung dengan penyediaan fasilitas yang memadai. Untuk lahan parkir, wisatawan atau pengunjung masih memanfaatkan warung warga sebagai lahan untuk mereka menyimpan kendaraannya.

Lahan parkir di warung warga ini hanya cukup menampung sekitar 10 sampai 15 kendaran roda dua saja. Fasilitas penyediaan toilet juga masih kurang, di puncak gunung terdapat satu toilet warga yang dibangun sederhana namun terkadang ketersediaan airnya kurang sehingga wisatawan atau pengunjung kesulitan menggunakan fasilitas toilet tersebut.

Tempat wisata Gunung Batu juga belum dikelola secara resmi dikarenakan tidak adanya fasilitas loket untuk tiket masuk. Wisatawan atau pengunjung yang berkunjung masih keluar masuk secara bebas tanpa adanya pendataan yang resmi. Hal ini akan menjadi hal yang rawan bagi keselamatan dan keamanan wisatawan atau pengunjung itu sendiri.[4]

ReferensiSunting

  1. ^ "Gunung Batu Lembang - Fakta & Misteri Hancurnya Bandung". Tempat Wisata di Bandung. 2015-11-09. Diakses tanggal 2019-10-23. 
  2. ^ "Gunung Batu Lembang: Wisata Lembang yang Sering Terlewatkan". walterpinem(is)me (dalam bahasa Inggris). 2016-12-23. Diakses tanggal 2019-10-30. 
  3. ^ Andrenaline Katarsis (2017-09-20). "Gunungbatu sebagai puncak Patahan Lembang". Catatan Samping (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-10-24. 
  4. ^ Network, Ayo Media (2018-11-02). "Gunung Batu Lembang, Alternatif Pendakian". AyoBandung.com. Diakses tanggal 2019-10-30.