Buka menu utama
House of Lords Inggris (kamar lama, terbakar pada 1834) dilukis oleh Augustus Pugin dan Thomas Rowlandson (1808-11).

Peringkat kebangsawanan di kalangan masyarakat Eropa telah mengakar sejak Abad Kuno Akhir dan Abad Pertengahan. Meskipun begitu, memang terdapat beberapa perbedaan di tiap masa dan tiap daerah. Gelar kebangsawanan ini ditulis dalam bahasa Inggris dengan penyertaan padanannya dalam beberapa bahasa Eropa lain dan gelar di luar Eropa.

Peerage

Peerage adalah sistem hukum yang secara historis tersusun dari beberapa gelar kebangsawanan (biasanya turun-temurun). Sistem peerage dapat berbeda-beda di tiap negara. Misalnya, sistem peerage Inggris Raya tersusun dari lima peringkat: duke, marquess, earl, viscount, dan baron.

Tingkatan gelar

Di Eropa pada abad pertengahan dan sebelumnya, sebuah kekaisaran atau kerajaan biasanya tidak memiliki pemerintahan terpusat. Beberapa daerah dan wilayah dalam sebuah monarki besar (kekaisaran atau kerajaan) biasanya dikelola dan dipimpin oleh bangsawan yang memiliki kekuasaan otonomi, mirip dengan sistem republik federal yang memberikan kewenangan pada tiap pemimpin daerah untuk mengelola daerahnya sendiri tanpa campur tangan yang terlalu banyak dari pusat. Para bangsawan tersebut memiliki peringkat yang berbeda-beda, yang juga berdampak pada besarnya jumlah kekuasaan yang mereka pegang. Peringkat dan gelar tersebut biasanya dianugerahkan oleh kaisar atau raja yang menjadi pemimpin para bangsawan tersebut, yang pada banyak kasus kemudian gelar tersebut dapat diwariskan kepada keturunan mereka.

Setiap daerah di Eropa memiliki tingkatan kebangsawanan masing-masing yang memiliki beberapa perbedaan antara satu negara dengan negara lainnya. Beberapa gelar di suatu negara terkadang tidak memiliki padanannya di negara dan bahasa lain, meski masih dalam satu lingkup benua Eropa. Namun begitu, beberapa tingkatan yang umum diketahui di benua Eropa adalah: emperor (kaisar), king (raja), duke (adipati), marquess, count atau earl, viscount, dan baron.

Emperor (Kaisar)

Emperor adalah tingkat kebangsawanan dan penguasa monarki tertinggi dalam tingkatan kebangsawanan Eropa. Gelar ini berasal dari bahasa Prancis kuno empereor, berasal dari bahasa Latin imperator[1]) yang awalnya bermakna “komandan” pada Republik Romawi. Dalam bahasa Indonesia, gelar yang dapat disepadankan dengan emperor adalah kaisar dan maharaja. Dalam penggunaannya, kaisar lebih bersifat umum, sedangkan maharaja lebih berkonotasi pada kaisar Hindu. Wilayah kekuasaan emperor disebut empire yang dapat disejajarkan dengan "kekaisaran" atau "kemaharajaan" dalam bahasa Indonesia.

Bentuk wanita dari gelar ini adalah empress dan dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni empress regnant yang merupakan seorang wanita yang memerintah empire atas namanya sendiri atau empress consort yang merupakan istri dari emperor. Dalam bahasa Indonesia, gelar yang dapat disejajarkan dengan empress secara umum adalah maharani. Sedangkan khusus mengindikasikan empress consort, cukup menggunakan “permaisuri kaisar” atau “permaisuri maharaja”.

Beberapa gelar non-Eropa yang dapat disejajarkan dengan emperor dan empress adalah:

  • Padisyah, Badisyah, Badsyah (پادشاه‎‎). Digunakan oleh Kekaisaran Utsmani sejak abad lima belas dan Kekaisaran Mughal.
  • Nəgusä Nägäst. Gelar untuk Kaisar Ethiopia. Bentuk wanita dari gelar ini adalah nəgəstä nägäst.
  • Huángdì (皇帝). Gelar untuk Kaisar Tiongkok. Digunakan sejak tahun 221 SM. Digunakan oleh pria dan wanita.
  • Tennō (天皇). Gelar untuk Kaisar Jepang. Digunakan oleh pria dan wanita.
  • Samrāṭ atau Chakravartin. Gelar untuk kaisar di anak benua India.
  • Khagan. Gelar untuk Kaisar Mongolia.
  • Sultan dapat disejajarkan dengan emperor maupun king.

King (Raja)

King berasal dari bahasa Jerman kuningaz, yang bermakna “putra bangsa.” Gelar yang sepadan dalam bahasa Indonesia untuk king adalah raja dan wilayah kekuasaan king disebut kingdom, dapat disejajarkan dengan "kerajaan" dalam bahasa Indonesia. Kedudukan king (raja) secara umum berada di bawah emperor (kaisar atau maharaja), sedang king yang berdaulat lebih tinggi daripada king yang menjadi bawahan pemimpin lain.

Bentuk wanita dari king adalah queen. Queen berasal dari bahasa Jerman kwoeniz atau kwenon yang bermakna “istri.” Queen sendiri dapat digunakan sebagai gelar bagi seorang wanita yang memimpin kerajaan (queen regnant) atau sebatas istri dari king (queen consort). Dalam bahasa Indonesia, gelar yang sepadan dengan queen secara umum, baik dalam konteksnya sebagai penguasa atau sebatas istri penguasa, adalah ratu. Sedangkan permaisuri, atau lebih spesifiknya, permaisuri raja, hanya dapat disejajarkan dengan queen dalam konteksnya sebagai istri penguasa (queen consort).

Beberapa gelar non-Eropa yang dapat disejajarkan dengan king dan queen adalah:

  • Syah (شاه‎‎). Raja Persia.
  • Khan. Gelar yang awalnya untuk pemimpin Mongolia.
  • 王 (pinyin: wáng, Korea: (hangeul: 왕) wang, romaji: ō). Gelar untuk raja di Asia Timur. Di Jepang, gelar ini juga ditujukan pangeran yang merupakan kerabat jauh kaisar. Di Korea, wang dapat juga digunakan untuk ratu (wanita yang memimpin kerajaan), meskipun terkadang juga digunakan istilah yeowang (여왕). Di Jepang, bentuk wanita dari ō adalah joō (女王) yang digunakan untuk merujuk pada ratu yang memimpin kerajaan, sedangkan istilah untuk permaisuri raja adalah ōhi (王妃).
  • Malik (ملك‎‎). Gelar untuk raja dalam bahasa Arab. Bentuk wanitanya adalah malikah (ملكة‎‎).
  • Firaun. Gelar untuk pemimpin Mesir kuno. Digunakan oleh pria dan wanita.
  • Sultan dapat disejajarkan dengan emperor maupun king.

High King

High King adalah gelar yang digunakan oleh king yang memiliki senioritas di atas king lain, tanpa menyandang gelar emperor. Gelar lain yang setara dengan high king adalah king of kings atau raja diraja.

Duke (Adipati)

Duke adalah salah satu gelar kebangsawanan Eropa yang kedudukannya di bawah king. Gelar ini diturunkan dari bahasa Latin dux atau pemimpin, gelar yang disandang untuk pemimpin militer Republik Romawi. Penganugerahan gelar duke seringnya sangat terbatas pada keluarga kerajaan atau pada mereka yang dipandang memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan layak di mata keluarga kerajaan. Gelar di Indonesia yang dapat disepadankan dengan duke adalah bhre (gelar untuk keluarga istana yang memimpin provinsi dalam Kerajaan Majapahit) dan adipati.

Bentuk wanita dari gelar ini adalah duchess yang dapat mengindikasikan seorang wanita yang menyandang gelar tersebut atas namanya sendiri, atau hanya sebatas istri dari duke. Duchess dapat diterjemahkan menjadi istri adipati atau adipati wanita jika dia menyandang gelar tersebut atas namanya sendiri, bukan karena pernikahan. Walaupun demikian, Ratu Elizabeth II menyandang gelar Duke of Normandy di Kepulauan Channel dan Duke of Lancaster di Lancashire, dan bukan duchess.

Wilayah kekuasaan duke atau duchess disebut duchy. Status duchy dapat berupa negara berdaulat ataupun wilayah bagian dari sebuah kerajaan (kingdom) atau kekaisaran (empire). Di masa modern, banyak orang yang menyandang gelar duke atau duchess hanya sebatas gelar kehormatan dan kebangsawanan semata tanpa wilayah kekuasaan. Duchy dapat disepadanakan dengan kadipaten di Indonesia. Contoh kadipaten di Indonesia yang masih bertahan adalah Mangkunegaran dan Paku Alaman.

Grand Duke

Seiring berjalannya waktu, pamor duke semakin menurun pada Abad Pertengahan lantaran gelar ini kerap diberikan kepada penguasa feudal dengan wilayah kekuasaan yang sempit, menjadikan kemudian dibentuklah sebuah gelar baru, yakni grand duke. Gelar ini dapat diterjemahkan sebagai adipati agung dalam bahasa Indonesia. Di Eropa Barat, gelar ini pertama kali disandang penguasa wilayah Tuscana yang berada di semenanjung Italia. Grand duke menunjukkan penguasa monarki yang memiliki peran penting dalam bidang politik, militer, ataupun ekonomi, tetapi tidak cukup besar untuk dipandang sebagai kerajaan. Bentuk wanita dari gelar ini adalah grand duchess dan wilayah kekuasaannya disebut grand duchy. Di masa sekarang, satu-satunya negara berdaulat yang berbentuk grand duchy adalah Luksemburg.

Archduke

Archduke (wanita: archduchess) adalah gelar yang digunakan sejak 1358 oleh penguasa dari wangsa Habsburg yang memerintah Austria. Dalam konteks ini, gelar ini diterjemahkan menjadi adipati agung dalam bahasa Indonesia sebagaimana grand duke, meskipun keduanya adalah gelar yang berbeda. Di dalam Kekaisaran Romawi Suci, gelar ini berada di bawah emperor dan king dan di atas grand duke (diperdebatkan) dan duke. Wilayah kekuasaan archduke disebut archduchy.

Kemudian semenjak abad keenam belas, gelar archduke dan archduchess disandang oleh semua anggota Dinasti Habsburg tanpa disertai wilayah kekuasaan. Dalam konteks ini, pengertian gelar ini bergeser menjadi pangeran dan putri dalam bahasa Indonesia, dan bukannya adipati agung sebagaimana awal mula penggunaannya.

Prince (Pangeran)

Prince adalah salah satu gelar kebangsawanan Eropa dalam bahasa Inggris dan disepadankan dengan “pangeran” dalam bahasa Indonesia. Bentuk wanita dari gelar ini adalah princess yang disepadankan dengan “putri” dalam bahasa Indonesia.

Meskipun sering diidentikan dengan gelar untuk keturunan raja atau kaisar, prince sebenarnya juga merupakan gelar untuk kepala monarki yang tingkatannya di bawah raja. Hanya saja, bahasa Inggris menggunakan gelar yang sama untuk dua kedudukan yang berbeda tersebut, begitu juga dalam rumpun bahasa Roman yang lain. Hal ini berbeda dengan bahasa Belanda, Skandinavia, dan rumpun bahasa Slavia yang memiliki dua gelar berbeda untuk ini. Seperti dalam bahasa Jerman, pangeran yang menjadi pemimpin monarki disebut fürst (bentuk wanitanya fürstin), sedangkan pangeran yang merupakan keturunan penguasa monarki (kaisar, raja, atau fürst) disebut prinz (prinzessin untuk wanita). Baik fürst maupun prinz, keduanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai prince.[2]

Sebuah wilayah yang dipimpin seorang prince (fürst) disebut principality (fürstentum dalam bahasa Jerman)[3] atau “kepangeranan” dalam bahasa Indonesia. Negara berdaulat yang berbentuk principality saat ini adalah Andorra, Liechtenstein, dan Monako. Di Eropa tengah, kedudukan fürst berada di bawah duke.

Marquis

Marquess adalah gelar kebangsawanan yang berada di bawah duke dan di atas earl atau count. Pelafalan Prancis untuk gelar ini, marquis, kerap digunakan dalam bahasa Inggris. Wanita yang berada pada tingkatan ini, baik atas namanya sendiri maupun sebagai istri dari marquess, menyandang gelar marchioness di Britania Raya dan Irlandia atau marquise di tempat lain di Eropa. Di masa lalu, perbedaan antara marquess dan count adalah tanah kepemimpinan marquess, disebut march atau mark, berada di tanah perbatasan negara, sedangkan biasanya count tidak. Hal ini menjadikan seorang marquess dipercaya untuk melindungi negara dari potensi serangan negara tetangga, menjadikan kedudukannya berada di atas count.

Count

Count (pria) atau countess (wanita) adalah gelar kebangsawanan Eropa yang memiliki bermacam-macam status. Kata ini diturunkan dari bahasa Prancis comte, dari bahasa Latin comes, yang bermakna sekutu, dan kemudian bermakna “sekutu kaisar” atau “duta kaisar.”[4] Di Kekaisaran Romawi Barat, count adalah pemimpin angkatan bersenjata tanpa peringkat yang spesifik. Sedangkan di Kekaisaran Romawi Timur pada abad ketujuh, count merujuk peringkat seorang pemimpin dari dua ratus orang. Pada masa Kekaisaran Karoling, count dapat diserupakan dengan gubernur yang memimpin sebuah provinsi atau wilayah lain yang lebih kecil. Wilayah kekuasaan count disebut county. Sistem peerage Inggris Raya tidak menggunakan gelar ini, tetapi menggunakan gelar earl.

Earl

Earl adalah gelar kebangsawanan. Di sistem peerage Inggris Raya, gelar ini berada di bawah marquess[5] dan kedudukannya disamakan dengan count. Gelar ini berasal dari bahasa Inggris kuno, mirip bahasa Skandinavia jarl yang bermakna “kepala suku” yang memerintah sebuah wilayah atas nama raja. Tidak ada bentuk wanita dari kata earl, sehingga gelar countess menjadi padanan wanitanya, yang merujuk pada wanita yang berada di peringkat ini atas namanya sendiri, atau istri dari earl.

Awalnya earl berperan sebagai gubernur kerajaan. Berbeda dengan duke, earl tidak memerintah atas namanya sendiri. Di masa Inggris kuno, earl memiliki kewenangan terhadap wilayah mereka dan hak untuk pengadilan pada mahkamah provinsi sebagai duta raja. Mereka juga dapat menarik denda dan pajak. Pada masa perang, earl diberi amanah memimpin pasukan raja. Beberapa shire (istilah lama untuk sebuah bagian dalam satu wilayah dalam Inggris Raya) bersatu dan membentuk wilayah kesatuan yang lebih besar yang disebut earldom yang dikepalai seorang earl.

Viscount

Viscount adalah gelar kebangsawanan Eropa yang memiliki beberapa macam status, tetapi secara historis berada pada peringkat menengah bawah.[6] Di banyak negara, viscount awalnya bukan merupakan gelar turun-temurun hingga beberapa waktu belakangan dan memegang posisi tata usaha dan kehakiman.[7] Bentuk wanita dari gelar ini adalah viscountess.

Kata viscount berasal dari bahasa Latin vice “wakil” dan comes “sekutu kaisar”.[8] Pada masa Kekaisaran Karoling, raja mengutus count sebagai administrator sebuah provinsi dan wilayah yang lebih kecil sebagai gubernur dan komandan angkatan bersenjata, sedangkan viscount ditugaskan sebagai wakil count dalam mengurus provinsi, dan sering bertanggung jawab atas masalah kehakiman.[7] Raja secara ketat menjaga agar jabatan count dan viscount tidak menjadi gelar turun-temurun, untuk menjaga kewenangan mereka dan menekan kemungkinan pemberontakan.[7]

Baron

Baron adalah gelar kehormatan yang kerap dapat diwariskan. Bentuk wanita dari gelar ini adalah baroness. Dalam sistem peerage (sistem hukum yang terdiri dari gelar turun-temurun di berbagai negara, terdiri dari beberapa tingkatan bangsawan) di Inggris Raya, baron berada di tingkat paling rendah dan di bawah viscount.

Baronet

Baronet adalah gelar kehormatan turun-temurun yang tidak termasuk ke dalam peerage. Baronet tidak dipandang sebagai kelas bangsawan, atau termasuk bangsawan rendah. Bentuk wanitanya adalah baronetess.

Knight (Kesatria)

Knight adalah gelar kehormatan yang dianugerahkan oleh pemimpin monarki atau pemimpin politik lain kepada mereka yang telah berjasa terhadap monarki atau negara, biasanya dalam bidang ketentaraan.[9] Istilah dalam bahasa Indonesia yang hampir serupa dengan knight adalah kesatria. Pada abad pertengahan, knight dianggap sebagai kelas bangsawan rendah. Gelar dame digunakan sebagai padanan resmi dari knight untuk wanita diperkenalkan sejak tahun 1917 oleh Ordo Kekaisaran Britania.

Elizabeth II, Ratu (Queen) Inggris Raya (sejak Februari 1952) 
Henri, Adipati Agung (Grand Duke) Luksemburg (sejak Oktober 2000) 
Albert II, Pangeran (Prince) Monako (sejak April 2005) 
Hans-Adam II, Pangeran (Prince/Fürst) Liechtenstein (sejak November 1989) 
Joan Enric, Uskup Urgell dan Pangeran (Prince) Andorra bersama Presiden Prancis (sejak 2003) 
François Hollande, Presiden Prancis dan Pangeran (Prince) Andorra bersama Uskup Urgell (sejak Mei 2012) 

Gelar untuk wanita

Sebagaimana lazimnya gelar kebangsawanan Eropa, tiap gelar memiliki bentuk pria dan wanita. Dalam bahasa Inggris, bentuk wanita dari sebuah gelar atau posisi akan menyandang akhiran -ess, sebagaimana akhiran -wati dalam bahasa Indonesia. Namun ada gelar yang berakhiran -ess tapi tidak diperuntukkan untuk wanita, misal: marquess. Selain itu, ada juga gelar untuk wanita yang tidak berakhiran -ess, misal: queen.

Saat seorang wanita menikah dengan pria bangsawan, wanita tersebut juga akan dianugerahi bentuk wanita dari gelar suaminya. Jika suaminya adalah seorang king, maka sang istri akan menjadi queen, jika seorang wanita menikah dengan seorang duke, maka dia akan menjadi duchess, begitu seterusnya. Hal ini didasarkan pada prinsip Kristen bahwa pernikahan adalah penyatuan dua individu.[10] Namun meskipun telah berbagi kedudukan yang setara, hal ini tidak diikuti pembagian peran dan kewenangan. Misalnya, meskipun seorang wanita telah menikah dengan king, seorang queen tidak bisa ikut campur dalam urusan pemerintahan dan negara.

Berbagi kedudukan yang setara juga terjadi jika pihak wanitalah yang pada dasarnya menyandang gelar kebangsawanan, seperti seorang pria akan menjadi king jika menikahi queen. Namun dalam kasus ini, peran dan kewenangan dalam gelar tersebut akan jatuh ke tangan suami yang notabene hanya mendapat gelar karena menikahi wanita bangsawan. Atau paling tidak, kedua orang itu akan berbagi peran dengan setara secara hukum. Namun sangat jarang seorang wanita menjalankan peran dan kewenangannya secara mandiri selama dia masih memiliki suami. Hal ini karena biasanya urusan pemerintahan merupakan ranah kewenangan kaum pria.

Dengan keadaan seperti ini, meski secara teori setara, pada kenyataannya gelar kebangsawanan wanita akan dipandang lebih rendah daripada gelar kebangsawanan pria. Queen dipandang lebih rendah dari king, duchess dipandang rendah dari duke, dan sejenisnya. Oleh karena masalah ini, beberapa wanita yang menjadi bangsawan atas namanya sendiri memilih untuk menyandang gelar yang lazimnya dipakai pria untuk menegaskan peran dan kewenangan mereka. Contoh kasus ini adalah Ratu Jadwiga yang memerintah Polandia pada tahun 1384–1399. Dia menyandang gelar król saat memerintah, yang sering diterjemahkan menjadi king dalam bahasa Inggris atau raja dalam bahasa Indonesia, dan bukannya menyandang gelar króla (queen atau ratu) yang merupakan bentuk wanita dari król. Kasus yang mirip terjadi sebelumnya di Kekaisaran Romawi Timur. Maharani Irene yang memerintah pada tahun 797–802 bahkan tidak konsisten dalam menggunakan gelarnya. Dia menandatangani dua dokumen dengan memakai gelar basileus (βασιλεύς), gelar yang biasanya disandang Kaisar Romawi Timur, dan gelar itu pula yang muncul di koin emasnya yang ditemukan di Sisilia. Namun dalam dokumen dan koin yang lain, Irene menggunakan gelar basilissa (βασίλισσα), bentuk wanita dari gelar basileus yang biasanya digunakan oleh permaisuri kaisar.[11] Beberapa hal yang lain yang dilakukan para wanita untuk menegaskan kewenangan mereka secara mandiri adalah dengan mengadakan perjanjian tertulis, tidak menikah, atau memberikan gelar yang lebih rendah kepada suaminya. Pembahasan lebih lanjut ada di bagian "hak atas gelar: jure uxoris" di bawah.

Hak atas gelar

Suo Jure

Suo jure adalah istilah dalam bahasa Latin yang berarti "atas namanya sendiri." Maknanya adalah bahwa sang penyandang gelar menerima gelar tersebut atas namanya sendiri, karena pihak yang bersangkutan adalah pewaris dari status kebangsawanan tersebut, dan bukan hanya karena pernikahan. Duchess suo jure berarti bermakna bahwa wanita yang bersangkutan menjadi duchess atas namanya sendiri, bukan karena dia menikah dengan seorang duke.

Untuk empress dan queen atas namanya sendiri, biasanya digunakan istilah regnant dalam bahasa Inggris daripada menggunakan suo jure, yakni empress regnant (maharani) dan queen regnant (ratu), bertolak belakang dengan empress consort (permaisuri kaisar) maupun queen consort (permaisuri raja). Dalam penulisan dan pengucapan sehari-hari, tambahan regnant dan consort tidak digunakan, sehingga cukup empress dan queen, baik mereka memerintah atas namanya sendiri maupun hanya sebatas permaisuri.

Jure Uxoris

Jure uxoris adalah istilah dalam bahasa Latin yang bermakna "atas nama istrinya."[12] Istilah ini mengacu pada seorang pria yang mendapat gelar kebangsawanan karena menikahi seorang wanita yang menyandang gelar kebangsawanan atas namanya sendiri. Misal, raja jure uxoris berarti bahwa laki-laki tersebut menjadi raja bukan karena keturunan dari dinasti penguasa kerajaan tersebut, tetapi karena menikah dengan seorang ratu. Hal ini pernah terjadi kepada Guy dari Lusignan yang menjadi Raja Yerusalem sejak tahun 1186 karena menikah dengan Sibylla, Ratu Yerusalem atas namanya sendiri.

Prinsip jure uxoris didasarkan pada prinsip feodal abad pertengahan Eropa. Hukum di Eropa, baik dari Kristen yang merupakan agama mayoritas masyarakat Eropa, maupun dari hukum pra-Kristen, tidak memberikan seorang wanita hak milik pribadi bila telah menikah. Seluruh hak milik istri akan lebur menjadi milik suami, penguasaan dan pengelolaannya juga sesuai kehendak sang suami, meskipun istrinya tidak setuju.[13] Masalah hak milik ini juga termasuk gelar dan hak kebangsawanan. Hukum ini mengikat semua wanita yang menjadi istri, bahkan termasuk seorang ratu sekalipun. Seorang lelaki bahkan dapat meneguhkan kepemilikan atas gelar dan segala hak milik istri bahkan setelah pernikahan mereka berakhir. Saat pernikahan Matius dan Marie dibatalkan oleh Paus pada 1170, Marie yang merupakan pemimpin County Boulogne hidup di biara, sedangkan suaminya tetap melanjutkan kepemimpinannya atas county tersebut.

Pada masa pencerahan, terdapat beberapa upaya yang dilakukan untuk menegaskan kemandirian wanita menyangkut peran dan kewenangannya agar tidak dibayang-bayangi suaminya. Beberapa di antaranya adalah melakukan perjanjian tertulis agar kedudukan dan peran sang wanita tetap menjadi yang paling tinggi. Hal ini terjadi saat pernikahan Mary I, Ratu Inggris, yang hendak menikah dengan Felipe II. Meski Felipe dilantik menjadi Raja Inggris setelah menikah dengan Mary, kewenangannya berada di bawah istrinya. Upaya lain yang dilakukan untuk menjaga kekuasaan seorang wanita adalah dengan tidak menikah, seperti yang dilakukan oleh Elizabeth I, Ratu Inggris dan saudari Mary I.

Di masa-masa selanjutnya, seorang pria yang menikahi wanita bangsawan akan dianugerahi gelar yang tingkatannya lebih rendah dari istrinya. Hal ini untuk lebih menegaskan lagi kedudukan sang wanita. Misalnya, seorang pria yang menikahi queen (ratu) akan dianugerahi gelar prince (pangeran) dan bukannya king (raja). Suami tiga Ratu Belanda, Wilhelmina (berkuasa 1890-1948), Juliana (berkuasa 1948-1980), dan Beatrix (berkuasa 1980-2013), masing-masingnya bergelar pangeran, dan bukan raja. Di Inggris Raya, tradisi untuk tidak memberikan gelar king kepada suami ratu dimulai semenjak masa Ratu Anne (berkuasa 1702-1713). Ratu Victoria (berkuasa 1837-1901) hendak menganugerahkan gelar king kepada suaminya, Albert, tetapi parlemen tidak menyetujui hal itu karena sentimen anti-Jerman dan upaya untuk menjauhkan Albert dari politik.[14] Suami Ratu Elizabeth II (berkuasa sejak 1952) juga tidak diangkat menjadi raja, begitu pula suami Margrethe II, Ratu Denmark (berkuasa sejak 1972).

Jure Matris

Jure matris adalah istilah dalam bahasa Latin yang bermakna "atas nama ibunya." Istilah ini digunakan ketika gelar kebangsawanan diturunkan dari ibu ke anaknya. Istilah ini juga digunakan untuk seorang wanita yang memberikan sebagian kewenangannya dalam memerintah kepada anaknya. Di Eropa pada umumnya, seorang suami akan memerintah atas nama istrinya bila pihak wanita menyandang gelar kebangsawanan atas namanya sendiri. Namun saat suaminya wafat, sang wanita dapat melimpahkan kewenangan tersebut kepada anaknya.

Consort

Consort adalah istilah untuk "pasangan" dalam bahasa Inggris yang konteksnya digunakan dalam gelar kebangsawanan. Bila istilah ini menempel pada gelar kebangsawanan, hal ini menandakan bahwa sang penyandang gelar mendapat gelar tersebut bukan atas namanya sendiri, melainkan sebatas melalui pernikahan. Queen consort bermakna bahwa dia adalah wanita yang menjadi queen karena pernikahan, bukan karena sang wanita mewarisi gelar tersebut atas namanya. Berbeda dengan queen regnant yang bermakna seorang wanita yang menyandang gelar queen atas namanya sendiri. Dalam penulisan dan percakapan sehari-hari, biasanya imbuhan regnant dan consort tidak digunakan, sehingga untuk membedakannya, harus dilihat konteks pembicaraannya terlebih dahulu.

Sebagai tambahan, king consort (raja pendamping) berbeda dengan king jure uxoris (raja jure uxoris). King jure uxoris bermakna bahwa laki-laki tersebut memiliki kewenangan memerintah lantaran menikah dengan queen regnant, sementara king consort bermakna bahwa dia hanyalah sebatas pasangan dari queen regnant tanpa kewenangan memerintah. King consort sepadan dengan queen consort (permaisuri raja).

Gelar kebangsawanan dalam berbagai bahasa Eropa

  Latin[cat 1] Prancis Jerman Rusia Spanyol
Emperor,
Empress
Imperator/
Caesar,
Imperatrix/
Caesarina
Empereur,
Impératrice
Kaiser,
Kaiserin
Imperator/Tsar[cat 2],
Imperatritsa/Tsarina
Emperador,
Emperatriz
King,
Queen
Rex,
Regina
Roi,
Reine
König,
Königin
Koról/Tsar,
Koroléva/Tsaritsa
Rey,
Reina

Grand Duke/
Grand Prince,
Grand Duchess/
Grand Princess

Magnus Dux/
Magnus Princeps,
Magna Ducissa,
Magna Principissa

Grand-Duc,
Grande-Duchesse
Großherzog/
Großfürst,
Großherzogin/
Großfürstin
Velikiy Knyaz,
Velikaya Kniagina
Gran Duque,
Gran Duquesa
Archduke,
Archduchess
Archidux,
Archiducissa
Archiduc, Archiduchesse Erzherzog,
Erzherzogin
Ertsgertsog,
Ertsgertsoginya
Archiduque,
Archiduquesa
Duke,
Duchess
Dux,
Ducissa
Duc,
Duchesse
Herzog,
Herzogin
Gertsog,
Gertsoginya
Duque,
Duquesa
Prince,[cat 3]
Princess
Princeps,
Principissa
Prince,
Princesse
Prinz/Fürst,
Prinzessin/Fürstin[cat 4]
Kniaz,
Kniagina[cat 5]
Príncipe,
Princesa
Marquess,
Marchioness
Marchio,
Marchionissa
Marquis,
Marquise
Markgraf,
Markgräfin
Markiz,
Markiza,
Boyar
Marqués,
Marquesa
Earl / Count,
Countess
Comes,
Comitissa
Comte,
Comtesse
Graf,
Gräfin
Graf,
Grafinya
Conde,
Condesa
Viscount,
Viscountess
Vicecomes,
Vicecomitissa
Vicomte,
Vicomtesse
Vizegraf, Burggraf
Vizegräfin, Burggräfin
Vikont,
Vikontessa
Vizconde,
Vizcondesa
Baron,
Baroness
Baro,
Baronissa
Baron,
Baronne
Baron, Herr, Freiherr
Baronin, Frau, Freifrau, Freiin
Baron,
Baronessa
Barón,
Baronesa
Baronet,
Baronetess
  Baronnet   Baronet Baronet
Knight[cat 6] / Dame Eques Chevalier Ritter Rytsar Caballero

Gelar dan sapaan kehormatan

Majesty

Majesty adalah kata dalam bahasa Inggris yang diturunkan dari bahasa Latin maiestas yang bermakna "agung" dan biasanya digunakan sebagai sapaan (style) kepada kepala monarki, biasanya yang setingkat dengan king (raja) dan emperor (kaisar) beserta pasangannya. Saat digunakan sebagai menyebut orang ketiga penyebutannya adalah "His/Her Majesty" (tergantung jenis kelamin) dan saat digunakan untuk menyapa orang kedua penyebutannya "Your Majesty". Kata ini mulai digunakan untuk menyapa Raja Inggris pada masa Raja Henry VIII. Terkadang sapaan ini juga dibubuhi kata lain dalam penggunaannya, seperti "Your Imperial Majesty" untuk merujuk kaisar beserta permaisurinya atau maharani (kaisar wanita). Contoh lain adalah "Catholic Majesty" untuk menyapa Raja Spanyol dan permaisurinya atau Ratu Spanyol.

Dalam bahasa Indonesia, kata yang dapat disepadankan dengan "Majesty" adalah 'Baginda'. Sapaan ini secara resmi digunakan untuk menyapa Sultan Brunei beserta permaisurinya. Dalam percakapan sehari-hari, baginda juga digunakan oleh umat Islam untuk merujuk kepada Nabi Muhammad.

Contoh penggunaan resmi di Inggris Raya:

  • His Majesty The King (Baginda Raja): digunakan untuk menyapa raja yang sedang berkuasa
  • Her Majesty The Queen (Baginda Ratu atau Baginda Permaisuri): digunakan untuk menyapa ratu yang sedang berkuasa atau permaisuri dari raja yang sekarang
  • Her Majesty Queen Mary (Baginda Permaisuri Mary): digunakan kepada istri dari raja yang sudah mangkat

Highness

Highness adalah sapaan resmi yang digunakan untuk merujuk kepada anggota dinasti yang sedang berkuasa (pangeran dan putri) atau kepala monarki yang tingkatannya berada di bawah raja. Keturunan atau kerabat kaisar biasanya menggunakan sapaan "Imperial Highness" sedangkan keturunan atau kerabat raja menggunakan sapaan "Royal Highness." Di Abad Pertengahan, sapaan ini juga digunakan untuk menyapa Raja Inggris dan digunakan secara bergantian dengan majesty, sebelum akhirnya raja secara khusus hanya menggunakan majesty. Dalam bahasa Indonesia, sapaan yang dapat disepadankan dengan highness adalah 'Paduka' atau 'Yang Mulia'.

Contoh penggunaan resmi di Inggris Raya:

  • His Royal Highness The Prince of Wales (Paduka Pangeran Wales): digunakan untuk menyapa putra mahkota
  • His Royal Highness The Prince Andrew (Paduka Pangeran Andrew): digunakan untuk menyapa putra raja atau ratu

Grace

Grace adalah sapaan yang digunakan untuk menyapa pihak dengan peringkat tinggi. Dulunya hal ini juga menjadi salah satu sapaan Raja Inggris. Di Inggris Raya sekarang, sapaan ini digunakan untuk menyapa duke dan duchess yang bukan anggota keluarga kerajaan. Grace juga digunakan untuk menyapa uskup agung. Dalam bahasa Indonesia, sapaan ini dapat disejajarkan dengan 'Yang Mulia'.

Contoh penggunaan resmi di Inggris Raya:

  • His Grace The Duke of Devonshire (Yang Mulia Adipati Devonshire)
  • His Grace The Archbishop of Canterbury (Yang Mulia Uskup Agung Canterbury)

Lord

Lord adalah sapaan untuk pihak yang memiliki wewenang, kendali, atau kuasa atas hal lain, dan ini bisa digunakan kepada Tuhan dan zat supernatural lain atau kepada bangsawan. Biasanya kata ini diterjemahkan menjadi 'tuan' dalam bahasa Indonesia. Sapaan my lord dapat digunakan untuk menyapa raja di masa lalu, selain juga menggunakan sapaan lain semisal Your Highness atau Your Majesty. Sekarang sapaan ini masih secara resmi digunakan kepada bangsawan di Inggris Raya.

Normalnya, lord digunakan untuk sebagai gelar dan sapaan untuk kaum pria. Meski begitu, ada beberapa kasus saat wanita juga menggunakan gelar ini. Sebagai pemimpin Pulau Man, Ratu Elizabeth II menyandang gelar "Lord of Mann."

Sir

Sir adalah sapaan kehormatan dalam bahasa Inggris. Secara resmi, sapaan ini ditujukan kepada laki-laki yang menyandang gelar kebangsawanan tertentu (knight atau baronet). Dalam kegiatan sehari-hari, sapaan ini juga dapat digunakan untuk menunjukkan rasa penghormatan kepada pihak yang disapa, seperti kepada guru laki-laki. Sir juga dapat digunakan untuk menyapa pria yang namanya tidak diketahui.

Sire

Sire adalah sapaan yang digunakan untuk menyapa Raja Inggris Raya dan Belgia. Setelah menyapa sekali dengan sapaan Your Majesty, selanjutnya dibenarkan menyapa raja dengan sire. Sire dan sir, juga (mon)sieur dalam bahasa Prancis, berakar dari bahasa Latin senior.[15]

Gentleman

Pada awalnya, gentleman digunakan untuk merujuk pada laki-laki dari kalangan atas. Di istana, gentleman digunakan secara resmi sebagai gelar dari pejabat dan petugas istana. Misalnya, gentleman of the bedchamber adalah seorang pria yang bertugas sebagai asisten pribadi raja, menunggunya saat makan, atau membantunya saat berpakaian. Istilah gentlewoman juga digunakan untuk wanita yang menjadi asisten pribadi atau dayang dari ratu atau permaisuri, meskipun kemudian kata itu diganti dengan lady di masa-masa selanjutnya.

Dalam penggunaan modern, kata ini merujuk kepada mereka yang dipandang sebagai pria terhormat. Penggunaan gentleman juga digunakan secara umum kepada semua pria, atau sebagai tanda pemisahan fasilitas berdasar jenis kelamin, seperti penanda dalam kamar mandi. Dalam suatu acara atau pengumuman di berbagai tempat umum, pembawa acara atau pewarta biasanya menyapa orang-orang dengan ladies and gentlemen sebagai bentuk rasa hormat.

Lady

Lady adalah kata dalam bahasa Inggris yang awalnya digunakan sebagai gelar atau sapaan resmi wanita bangsawan, kemudian diikuti nama marganya. Dalam konteks ini, lady menjadi padanan dari kata lord. Pada masa Abad Pertengahan, lady digunakan untuk merujuk pada anak perempuan raja, diikuti nama pertamanya, misalnya: The Lady Mary, karena bahasa dan Inggis Pertengahan tidak memiliki padanan wanita bagi gelar-gelar bangsawan. Ungkapan my lady juga digunakan saat menyapa wanita bangsawan, meski hal ini sudah tidak digunakan dalam penggunaan resmi di masa modern ini. Dalam keberjalanannya, kata ini juga digunakan untuk merujuk pada mereka yang dipandang sebagai wanita terhormat, sebagaimana gentleman digunakan untuk merujuk pada pria terhormat. Lady juga digunakan sebagai gelar bagi dayang istana.

Dalam penggunaan modern, kata ini digunakan untuk merujuk kepada semua wanita secara umum untuk menunjukkan rasa hormat, utamanya kepada wanita tua atau wanita yang memiliki perangai baik. Namun dalam beberapa kasus, kata ini juga digunakan untuk merujuk pada wanita yang pada umumnya dipandang tidak memiliki pekerjaan bergengsi, semisal wanita petugas kebersihan yang disebut the cleaning lady atau wanita tuna wisma yang disebut a bag lady.

Madam

Madam adalah panggilan kepada wanita sebagai bentuk kesopanan dan kerap disingkat ma'am. Setelah menyapa sekali dengan sapaan Your Majesty, selanjutnya dibenarkan menyapa ratu atau permaisuri dengan ma'am. Secara resmi, madam juga menjadi sapaan resmi bagi wanita bangsawan di Inggris Raya modern, menjadikannya padanan bagi lord. Dalam percakapan sehari-hari, madam juga digunakan untuk menyapa wanita yang namanya tidak diketahui.

Dalam penggunaan lain, madam juga digunakan sebagai padanan dari mister. Misal, jika seorang presiden adalah pria maka akan disapa Mister President, sedangkan jika wanita akan disapa Madam President. Dalam konteks negatif, madam juga sering diidentikan untuk wanita yang mengelola rumah pelacuran.

Kebangsawanan di Eropa modern

Sekitar abad kedelapan belas, kekuasaan para penguasa monarki dan para bangsawan mendapat penentangan hebat dari masyarakat lantaran masalah kesenjangan sosial. Salah satu bentuk penentangan sistem kebangsawanan yang paling terkenal dalam sejarah Eropa adalah Revolusi Prancis. Terilhami dari gagasan liberal dan radikal, semangat revolusi ini menyebar ke berbagai bagian Eropa dan dunia dan mengubah arah gerak sejarah modern, menurunkan jumlah monarki mutlak di dunia secara dramatis dan menggantinya dengan republik dan demokrasi liberal.[16]

Walaupun begitu, beberapa monarki masih bertahan di masa modern, meskipun dengan memangkas banyak kekuasaan yang mereka miliki, sehingga lahirlah monarki konstitusional. Kecuali kepausan, semua monarki di Eropa yang tersisa di masa modern berbentuk monarki konstitusional, membatasi kewenangan penguasa monarki dan para bangsawan dalam sebuah hukum yang diatur parlemen. Hal ini juga berdampak dalam kekuasaan para bangsawan. Meskipun beberapa gelar dan tingkatan bangsawan masih tetap dipertahankan di sebagian negara, tetapi kebanyakan dari gelar-gelar tersebut kehilangan kewenangan nyatanya. Sebagian besar dari pemegang gelar tersebut sudah tidak memiliki wilayah kekuasaan, menjadikan gelar yang disandang hanya sebatas status kehormatan semata.

Catatan kaki

  1. ^ Gelar Latin untuk perbandingan secara harfiah, tidak secara akurat menggambarkan padanannya pada abad pertengahan.
  2. ^ Gelar tsar dapat setara dengan emperor, dapat pula disepadankan dengan king. Pembahasan mengenai keambiguan kedudukan tsar terhadap gelar kebangsawanan Eropa Barat dapat dilihat di halaman tsar.
  3. ^ "Prince" (Prinz di Jerman, Prins di Swedia, Prinssi di Finlandia, "Principe" di Spanyol) juga dapat bermakna gelar untuk keturunan penguasa monarki. Sebagai contoh, dalam sistem Britania, prince bukan peringkat kebangsawanan, tetapi gelar khusus untuk anggota dinasti, keturunan dari raja dan ratu.
  4. ^ Di Eropa tengah, peringkat gelar Fürst atau kníže (e.g. Fürst von Liechtenstein, Kepangeranan Liechtenstein) berada di bawah duke (e.g. Duke of Brunswick). Gelar Vizegraf tidak digunakan di negara berbahasa Jerman, dan gelar Ritter dan Edler tidak lazim digunakan.
  5. ^ Untuk kebangsawanan domestik Rusia, hanya gelar Kniaz dan Boyar yang digunakan sebelum abad ke-18, ketika Graf ditambahkan.
  6. ^ Bukan gelar turun-temurun. Tidak termasuk bangsawan dalam sistem Britania.

Catatan

  1. ^ Harper, Douglas. "emperor". Online Etymology Dictionary. Diakses tanggal 2010-08-30. 
  2. ^ "Definition of the German title Prinz". Duden (dalam bahasa Jerman). 
  3. ^ "Definition of Fürstentum". Duden (dalam bahasa Jerman). 
  4. ^ "An Online Encyclopedia of Roman Emperors". University of South Carolina. Diakses tanggal 2008-04-10. 
  5. ^ Stevenson, Angus, ed. (2007). Shorter Oxford English Dictionary. 1 A-M (edisi ke-6th). Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-920687-2. 
  6. ^ "Ranks and Privileges of the Peerage". Debretts. n.d. Diakses tanggal 18 June 2014. 
  7. ^ a b c Upshur, Jiu-Hwa; Terry, Janice; Holoka, Jim; Goff, Richard; Cassar, George H. (2011). Cengage Advantage Books: World History. I. California: Wadsworth Publishing Co Inc. hlm. 329. ISBN 9781111345167. 
  8. ^ "Viscount (n.)". Online Etymology Dictionary. n.d. Diakses tanggal 18 June 2014. 
  9. ^ Clark, p. 1.
  10. ^ Matius 19:6
  11. ^ James, p. 45, 46.
  12. ^ Black, HC (1968), Law Dictionary (edisi ke-4th) , citing Blackstone, Commentaries, 3, hlm. 210 .
  13. ^ Emanuel, p. 121.
  14. ^ Weintraub 1997, hlm. 88.
  15. ^ Ayres-Bennet, Wendy (1996). "The 'heyday' of Old French (French in the 12th and 13th centuries)". A History of the French Language Through Texts. London: Routledge. ISBN 0415099994. 
  16. ^ Livesey, James. Making Democracy in the French Revolution p. 19 The Revolution created and elaborated...the ideal of democracy, which forms the creative tension with the notion of sovereignty that informs the functioning of modern democratic liberal states. This was the truly original contribution of the Revolution to modern political culture.

Daftar pustaka

Lihat juga