Buka menu utama

Fatima adalah film Hindia Belanda (sekarang Indonesia) tahun 1938 yang disutradarai Othniel dan Joshua Wong. Film ini ditulis oleh Saeroen dan dibintangi Roekiah, Rd Mochtar, dan ET Effendi. Film ini berkisah tentang sepasang kekasih yang diganggu oleh seorang pemuda kaya. Fatima menggunakan formula produksi yang sama seperti Terang Boelan (1937) dan berhasil sukses di dalam negeri. Ini adalah satu dari tiga film yang disebut Misbach Yusa Biran berhasil membangkitkan industri perfilman dalam negeri.

Fatima
Fatima ad.png
Iklan koran
Sutradara
ProduserTan Khoen Yauw
PenulisSaeroen
Pemeran
MusikLief Java
Sinematografi
  • Joshua Wong
  • Othniel Wong
Perusahaan
produksi
Tanggal rilis
  • 24 April 1938 (1938-04-24) (Hindia Belanda)
NegaraHindia Belanda
BahasaIndonesia

AlurSunting

Fatima (Roekiah) jatuh cinta dengan Idris (Rd Mochtar), putra seorang nelayan miskin di pulau Motaro. Suatu hari, pemuda kaya Ali (ET Effendi) datang ke pulau tersebut dan mencoba merebut hati Fatima. Sayangnya ia enggan menerima Ali dan memberikan hadiah dari Ali ke Idris agar bisa dijual. Ternyata Ali adalah ketua geng dan polisi melacaknya dari cincin curian yang ia berikan kepada Fatima sebelumnya.[1]

ProduksiSunting

Kesuksesan Terang Boelan karya Albert Balink tahun 1937, yang dirilis saat industri perfilman dalam negeri masih stagnan, mendorong Tan Bersaudara (Khoen Yauw dan Khoen Hian) mendirikan kembali rumah produksi mereka, Tan's Film.[2] Untuk film pertamanya, Tan Bersaudara meminta bantuan Wong Bersaudara, Othniel dan Joshua, untuk menyutradarai dan menangani aktivitas harian perusahaan.[3] Wong Bersaudara, yang sebelumnya menjadi sinematografer Terang Boelan namun menganggur setelah studionya menutup divisi film fitur, menerima tawaran tersebut. Mereka juga menangani sinematografi Fatima yang direkam menggunakan kamera hitam putih.[4]

Wong Bersaudara memanfaatkan pemeran Terang Boelan dan beberapa anggota krunya. Penulis film sebelumnya, Saeroen, penned the story for Fatima, closely following the same formula of romance, good music, and beautiful scenery as his earlier film. Para pemeran utamanya seperti Roekiah, Rd Mochtar, dan ET Effendi, serta aktor tokoh figuran seperti Kartolo (suami Roekiah), juga bergabung.[3] Mereka digaji lebih tinggi ketimbang saat terlibat di Terang Boelan. Roekiah, misalnya, per bulannya digaji 150 gulden, sedangkan Kartolo 50 gulden lebih banyak. Jumlah tersebut dua kali lipat daripada yang ia terima sebelumnya.[5]

Musik latar film ini ditangani Lief Java. Mereka memainkan musik keroncong (musik tradisional yang dipengaruhi bangsa Portugal). Film ini diiringi beberapa lagu yang dinyanyikan Roekiah, Mochtar, Kartolo, Louis Koch, dan Annie Landauw.[1]

Rilis dan tanggapanSunting

Fatima dirilis tanggal 24 April 1938. Pemasarannya ditangani Tan Bersaudara.[6] Film ini sukses di pasaran dan menghasilkan 200.000 gulden, padahal anggaran pembuatannya hanya 7.000 gulden.[3] Kebanyakan penontonnya adalah orang pribumi, tetapi ada juga sejumlah penonton Belanda. Ulasan di harian Bataviaasch Nieuwsblad menyebutkan bahwa meski film ini tidak dapat dinilai dengan standar Eropa, pemeranan Roekiah sangat menarik dan industri perfilman dalam negeri tampaknya "kembali ke jalan yang benar".[a][6]

Tan Bersaudara menikmati kesuksesan Fatima, namun Wong Bersaudara kurang puas dengan pangsa laba yang mereka terima karena dianggap terlalu rendah.[7] Meski begitu, mereka terus bekerja sama dengan Tan Bersaudara sampai 1940,[7] dan pada tahun 1948, Tan dan Wong Bersaudara mendirikan rumah produksi lain.[8] Mocthar dan Roekiah tetap menjadi bintang utama Tan's Film sampai Mochtar meninggalkan perusahaan ini tahun 1940 akibat masalah upah.[9]

Sejarawan film Indonesia Misbach Yusa Biran menyebut kesuksesan Terang Boelan, Fatima, dan Alang-Alang (1939) karya The Teng Chun berhasil membangkitkan industri film lokal.[10] Sebagian besar film dalam negeri yang dibuat sebelum kemerdekaan Indonesia diproduksi antara tahun 1939 dan pendudukan Jepang tahun 1942.[11]

Fatima bisa jadi tergolong film hilang. Antropolog visual Amerika Serikat Karl G. Heider menulis bahwa semua film Indonesia yang dibuat sebelum 1950 tidak diketahui lagi keberadaan salinannya.[12] Akan tetapi, Katalog Film Indonesia yang disusun JB Kristanto menyebutkan beberapa film masih disimpan di Sinematek Indonesia dan Biran menulis bahwa sejumlah film propaganda Jepang masih ada di Dinas Informasi Pemerintah Belanda.[13]

Catatan kakiSunting

  1. ^ Teks asli: "... zich toch op den goeden weg schijnt te bevinden.

ReferensiSunting

  1. ^ a b Filmindonesia.or.id, Fatima.
  2. ^ Biran 2009, hlm. 174.
  3. ^ a b c Biran 2009, hlm. 175.
  4. ^ Biran 2009, hlm. 172–173.
  5. ^ Imanjaya 2006, hlm. 111.
  6. ^ a b Bataviaasch Nieuwsblad 1938, Filmaankondiging Cinema.
  7. ^ a b Biran 2009, hlm. 193.
  8. ^ Filmindonesia.or.id, Othniel Wong.
  9. ^ Biran 2009, hlm. 214.
  10. ^ Biran 2009, hlm. 182.
  11. ^ Biran 2009, hlm. 383–385.
  12. ^ Heider 1991, hlm. 14.
  13. ^ Biran 2009, hlm. 351.

KutipanSunting

Pranala luarSunting