Endek adalah kain tenun yang berasal dari Bali. Kain endek merupakan hasil dari karya seni rupa terapan, yang berarti karya seni yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Endek berasal dari kata "gendekan" atau "ngendek" yang berarti diam atau tetap, tidak berubah warnanya. Kegiatan menenun atau pertenunan endek di Bali dapat dijumpai di kabupaten Karangasem, Klungkung, Gianyar, Buleleng, Jembrana dan Kota Denpasar. Tenun ikat endek memiliki sebutan yang beragam di setiap daerah, endek yang dibuat di Kabupaten Gianyar dikenal dengan nama endek Gianyar, di Klungkung terkenal dengan nama endek Klungkung.[1]

Kain endek Geringsing

Sejarah sunting

Kain endek mulai berkembang sejak abad ke-16, yaitu masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong di Gelgel, Klungkung. Kain endek ini kemudian berkembang di sekitar daerah Klungkung, salah satunya adalah di Desa Sulang. Di desa Sulang, kain tenun endek dipelopori oleh Wayan Rudja yang saat itu memiliki tenaga kerja sekitar 200 karyawan. Meskipun kain endek telah ada sejak Kerajaan Gelgel, tetapi endek baru mulai berkembang pesat di desa Sulang setelah masa kemerdekaan. Perkembangan kain endek di Desa Sulang dimulai pada tahun 1975 dan kemudian berkembang pesat pada tahun 1985 hingga sekarang.

Dahulu, kerajinan Tenun Ikat Endek di desa Sulang berjumlah 25 perusahaan, namun seiring berjalannya waktu kerajinan ini mulai berkurang. Sekarang usaha kerajinan tenun endek yang bertahan hanya dua perusahaan yaitu usaha Tenun Endek Astika dan Usaha Tenun Endek Resya. Perkembangan kerajinan tenun endek tersebut mengalami pasang surut dapat dilihat dari periode waktu 1985-1995, 1996-2006, 2007-2012. Pasang surut ini diakibatkan oleh lemahnya perekonomian dan terputusnya bantuan pembinaan dari pemerintah. Awalnya pemerintah memberikan pembinaan dari UNDP dan BUMN untuk mengembangkan usaha kerajinan tenun endek.[2]

Pengunaan sunting

Kain Endek dapat digunakan sebagai pakaian adat atau banyak digunakan sebagai seragam sekolah dan kantor. Namun ada beberapa motif yang dianggap sakral yang hanya digunakan dalam acara keagamaan saja. Ada juga motif yang hanya digunakan untuk orang-orang tertentu seperti para raja atau bangsawan.

Hingga kini, penggunaan kain endek telah digunakan dalam berbagai kepentingan, mulai dari menjadi bahan dasar pakaian formal, kerja, acara adat ataupun gaya fashion. Kain endek Bali mengikuti perkembangan jaman dan kegunaannya dimodifikasi secara khusus untuk memadukan kesan traditional modern. Hasil modifikasi ini secara umum dibuat menjadi Kebaya Endek.[3], Kemeja Endek[3] dan Kebaya Adat.[3]

Motif sunting

Wastra endek atau tenun endek sangat beragam motif dan sesuai dengan penggunaannya. Motif patra dan encak saji yang bersifat sakral umumnya digunakan untuk kegiatan upacara keagamaan. Motif-motif tersebut menunjukkan rasa hormat kepada Sang Pencipta. Sedangkan motif yang mencerminkan nuansa alam, biasa digunakan untuk kegiatan sosial atau kegiatan sehari-hari. Motif yang dihasilkan lebih banyak menggambarkan flora, fauna dan tokoh pewayangan yang sering muncul dalam mitologi-mitologi cerita Bali. Motif tersebut memberikan ciri khas tersendiri pada kain endek dibandingkan dengan motif-motif kain pada umumnya.

Motif motif geometri diungkapkan melalui bentuk-bentuk: garis lurus, garis putus, garis lengkung dan semua bidang geometri. Ragam hias geometri termasuk ragam hias tertua diantara ragam hias lainnya di Bali.[1] Motif ini menceritakan dan memberikan simbolisasi keyakinan masyarakat Bali. Ada juga motif dekoratif atau campuran di Bali disebut Prembojan yang merupakan penggabungan dari seluruh motif yang sudah ada sebelumnya dan didesain sesuai keyakinan masyarakat Bali atau cerita pewayangan.[4]

Bentuk sunting

Tenun endek mempunyai bentuk sarung, kain panjang atau lembaran dan selendang (di Bali disebut dengan anteng). Bentuk sarung digunakan oleh laki-laki. Endek mempunyai sambungan di bagian tengah atau sampingnya. Endek yang berbentuk kain panjang yang digunakan oleh perempuan. Kain untuk perempuan ini mempunyai motif ragam hias ikat yang menghias bagian pinggir kain, sedangkan di bagian tengah kain berwarna polos. Dalam perkembangannya, banyak variasi lain dimana ragam hias juga dibuat pada bidang tengah kain selain pada jalur hiasan pinggir.

Fungsi sunting

Fungsi kain endek dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Bali antara lain:[4]

  • Fungsi keseharian, Kain endek dahulunya digunakan oleh orang tua dan diacara-acara adat. Tapi, seiring dengan perkembangan zaman kain endek juga dipakai oleh banyak orang. Sebagian besar masyarakat Bali sudah menggunakannya baik untuk upacara besar, sembahyang ke pura ataupun sebagai seragam kantor. Bahkan kain endek sudah banyak dibuat berbagai macam produk inovasi yaitu kipas, tas, dan pernak-pernik dekorasi.
  • Fungsi sosial-budaya, Kain endek juga digunakan untuk menghias tempat-tempat upacara di pura, rumah maupun di pusat desa. Bahkan, mereka mempercayai ada kain tertentu yang dapat berfungsi sebagai penolak bala misalkan kain tenun endek asli seperti endek gringsing, endek cepuk dan endek bebali. Endek bermotif gringsing diyakini dapat digunakan sebagai penangkal wabah penyakit.

Dalam peranan sosial, kain tenun endek dapat dipergunakan untuk pelindung tubuh, ikatan komunikasi menyama braya (persaudaraan), yaitu ikatan tali persaudaraan sebagaimana kemben, bisa dipinjamkan kepada tetangga atau teman dan dapat juga sebagai Cendera mata.

Sistem Pewarisan sunting

Sistem pewarisan tenun endek terutama di desa Sulang diperlukan sosialisasi dalam sistem pemertahanannya dan pewarisannya. Sosialisasi yang diberikan dapat kepada keluarga, teman pergaulan atau masyarakat dan lembaga pendidik. Pada keluarga, kain endek disosialisasikan melalui pengetahuan tentang menenun yang diturunkan dari orang tua ke anaknya. Pewarisan pada masyarakat atau teman dilakukan dengan cara mensosialisasikan pengetahuan keterampilan yaitu cara-cara mengolah bahan baku benang dari mencuci, merendam, merebus, kemudian proses selanjutnya yang diajarkan mendesain atau memberikan motif pada benang, baru selanjutnya tahap akhir yaitu menenun. Sistem pewarisan kerajinan tenun ikat endek mengacu pada lembaga pendidikan non formal. Biasanya pendidikan non formal itu memberikan pengetahuannya secara langsung yang bersumber dari pengalaman kehidupan sehari-harinya.[2]

Alat Produksi sunting

Pada umumnya produksi tenun ikat endek Bali menggunakan ATBM (alat tenun bukan mesin). Meskipun terdapat beragam bentuk dan mekanisme alat tenun ini, namun fungsi dasar ATBM tetap sama yaitu sebagai tempat memasang benang-benang lungsi untuk kemudian benang pakan dapat diselipkan di sela-sela benang lungsi.[1]

Proses Produksi sunting

Proses Pengelolaan Benang Lusi sunting

  • Pengkelosan (memintal)
  • Pencelupan warna (Proses pemberian warna pada benang dilakukan dengan cara dicelup)
  • Penganihan (proses merapatkan benang)
  • Pencucukan (pemasukan benang lusi)

Proses Pengelolaan Benang Pakan sunting

  • Pengkelosan
  • Pencelupan
  • Pencoletan atau nyatri pengisian warna)
  • Pengobatan fiksasi
  • Pengiciran
  • Pemaletan

Proses penenunan sunting

  • Penenunan

Referensi sunting

  1. ^ a b c Sumadi, I Wayan Suca (2014). Inventarisasi Perlindungan Karya Budaya Endek di Provinsi Bali. BALI: BPNB BALI. ISBN 602-258-237-3 Periksa nilai: checksum |isbn= (bantuan). 
  2. ^ a b Dewi, Luh Gede Wijayanti Lakhsmi (28 Februari 2019). "Perkembangan dan Sistem Pewarisan Kerajinan Tenun Ikat Endek Di Desa Sulang, Klungkung, Bali (1985- 2012)". Widya Winata; Jurnal Pendidikan Sejarah. Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja. 
  3. ^ a b c "Putri Berdikari - Butik Kebaya". putriberdikari.business.site (dalam bahasa in). Diakses tanggal 2020-05-23. 
  4. ^ a b Adchan, I Dewa Gede Visnu (2016). "Tinjauan Visual Motif Tenun Ikat Endek Bali (Studi Kasus Motif Cepuk Dan Motif Geringsing)". Digital library - Perpustakaan Pusat Unikom - Knowledge Center.