Buka menu utama

Eksodus rakyat Palestina 1948, juga disebut sebagai Nakba (bahasa Arab: النكبة‎, "al-Nakbah", lit. "bencana" atau "malapetaka"),[1] terjadi ketika lebih dari 700 ribu warga Arab Palestina meninggalkan secara paksa maupun sukarela dari tanah dan rumah mereka pada Perang Arab-Israel 1948.[2]

Bendera Negara Palestina Eksodus Palestina 1948
Man see school nakba.jpg

Artikel utama
Eksodus Palestina 1948


Perang sipil 1947–48
Perang Arab-Israel 1948
Penyebab eksodus
Hari Nakba
Kamp pengungsi Palestina
Pengungsi Palestina
Hak pulang Palestina
Penduduk absen hadir
Komite Peralihan
Resolusi 194

Latar
Mandat Britania atas Palestina
Deklarasi kemerdekaan Israel
Sejarah konflik Israel-Palestina
New Historians
Palestina · Plan Dalet
Rencana pembagian 1947 · UNRWA

Insiden utama
Pertempuran Haifa
Pembantaian Deir Yassin
Eksodus dari Lydda

Penulis utama
Aref al-Aref · Yoav Gelber
Efraim Karsh · Walid Khalidi
Nur Masalha · Benny Morris
Ilan Pappe · Tom Segev
Avraham Sela · Avi Shlaim

Kategori/daftar terkait
Daftar desa yang dikosongkan

Templat terkait
Bangsa Palestina


Jumlah pasti para pengungsi sampai hari ini masih menjadi bahan perdebatan,[3] namun diperkirakan 80 persen warga Arab di wilayah yang kelak menjadi Israel (50 persen dari seluruh warga Arab di Mandat Palestina) terusir.[4][5] Istilah "nakba" itu sendiri juga merujuk pada periode perang itu sendiri dan kejadian-kejadian yang menimpa warga Palestina dari bulan Desember 1947 hingga Januari 1949. Latar belakang terjadinya eksodus juga menjadi titik ketidaksepakatan yang mendasar antara warga Arab dan Israel. Faktor-faktor itu antara lain adalah majunya laskar-laskar militer Yahudi, penyerangan dan agresi militer terhadap desa-desa Arab dan ketakutan akan terjadinya pembunuhan massal lain setelah pembunuhan massal Deir Yassin[6]:239–240 yang menciptakan kepanikan di antara warga sipil; perintah evakuasi atas warga Arab; perintah pengusiran dari otoritas Israel; eksodus sukarela oleh warga kelas atas yang lebih makmur,[7] kegoyahan pucuk kepemimpinan Palestina,[8] dan ketidakrelaan untuk hidup di bawah kendali Israel.[9]

Setelah itu, serangkaian hukum diterapkan oleh pemerintah Israel untuk mencegah warga Arab pulang ke tanah dan rumah mereka, atau mengklaim harta benda yang mereka tinggalkan. Mereka dan keturunan mereka menjadi kaum pengungsi.[10][11] Peristiwa ini disebut-sebut oleh para sejarawan sebagai suatu tindakan pembersihan etnis,[12][13][14] walaupun sebagian lain meragukan istilah ini.[15][16][17]

Kejelasan status para pengungsi, dan terutama apakah Israel akan memberikan mereka harta benda yang diklaim sebagai bagian dari hak untuk pulang, adalah salah satu isu utama yang terus diperdebatkan dalam konflik Israel-Palestina yang tengah berlangsung. Peristiwa pada tahun 1948 diperingati oleh rakyat Palestina pada tanggal 15 Mei dengan nama Hari Nakbah.

ReferensiSunting

  1. ^ Stern, Yoav. "Palestinian refugees, Israeli left-wingers mark Nakba", "Ha'aretz." Tel Aviv, 13 May 2008; Nakba 60, BADIL Resource Center for Palestinian Residency and Refugee Rights; Cleveland, William L. "A History of the Modern Middle East," Boulder, CO: Westview Press, 2004, p. 270. ISBN 978-0-8133-4047-0
  2. ^ McDowall, David; Claire Palley (1987). The Palestinians. Minority Rights Group Report no 24. hlm. 10. ISBN 0-946690-42-1. 
  3. ^ Pedahzur, Ami; Perliger, Arie (2010). "The Consequences of Counterterrorist Policies in Israel". Dalam Crenshaw, Martha. The Consequences of Counterterrorism. New York: Russell Sage Foundation. hlm. 356. ISBN 978-0-87154-073-7. Diakses tanggal 25 January 2011. 
  4. ^ Masalha, Nur (1992). "Expulsion of the Palestinians." Institute for Palestine Studies, this edition 2001, p. 175.
  5. ^ Rashid Khalidi (September 1998). Palestinian identity: the construction of modern national consciousness. Columbia University Press. hlm. 21–. ISBN 978-0-231-10515-6. Diakses tanggal 22 January 2011.  "In 1948 half of Palestine's… Arabs were uprooted from their homes and became refugees"
  6. ^ Morris, Benny. "The Birth of the Palestinian Refugee Problem Revisited," Cambridge University Press, 2004. ISBN 978-0-521-81120-0
  7. ^ Schechtman, Joseph (1952). The Arab Refugee Problem. New York: Philosophical Library. hlm. 4. 
  8. ^ Pittsburg Press (May 1948). "British Halt Jerusalem Battle". UP. Diakses tanggal 17 December 2010. The British spokesman said that all 12 members of the Arab Higher Committee have left Palestine for neighboring Arab states… Walter Eyelan, the Jewish Agency spokesman, said the Arab leaders were victims of a "flight psychosis" which he said was sweeping Arabs throughout Palestine. 
  9. ^ George Crews McGhee (1997). On the frontline in the Cold War: an ambassador reports. Greenwood Publishing Group. hlm. 42–. ISBN 978-0-275-95649-3. Diakses tanggal 28 May 2011. 
  10. ^ Kodmani-Darwish, p. 126; Féron, Féron, p. 94.
  11. ^ http://www.unrwa.org/etemplate.php?id=87
  12. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama IANBLACK
  13. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Pappe2006
  14. ^ Shavit, Ari. Survival of the Fittest? An Interview with Benny Morris. Logos. Winter 2004
  15. ^ David Matas (1 June 2005). Aftershock: anti-zionism and anti-semitism. Dundurn Press Ltd. hlm. 555–558. ISBN 978-1-55002-553-8. Diakses tanggal 28 May 2011. 
  16. ^ Mêrôn Benvenis'tî (6 February 2002). Sacred landscape: the buried history of the Holy Land since 1948. University of California Press. hlm. 124–127. ISBN 978-0-520-23422-2. Diakses tanggal 28 May 2011. 
  17. ^ Benny Morris, "Benny Morris on fact, fiction, & propaganda about 1948," "The Irish Times," 21 February 2008, reported by Jeff Weintraub Diarsipkan 14 Agustus 2009 di WebCite