Menurut kepercayaan umat Hindu, Durga (Dewanagari: दुर्गा) adalah shakti Siwa. Dalam agama Hindu, Dewi Durga (atau Betari Durga) adalah ibu dari Dewa Kala, Dewa Ganesa, Dewa Kumara (Kartikeya) Ashokasundari.

Durga
Dewa Hindu
Dewa kemenangan
Ejaan Dewanagariदुर्गा
Ejaan IASTDurga
GolonganDewi
SenjataCakram; petir; teratai; ular; pedang; gada; terompet kerang; trisula
Wahanadawon (macan atau singa)
PasanganSiwa

Ia kadang kala disebut Uma atau Parwati. Dewi Durga biasanya digambarkan sebagai seorang wanita cantik berkulit kuning yang mengendarai seekor harimau. Ia memiliki banyak tangan dan memegang banyak tangan dengan posisi mudra, gerak tangan yang sakral yang biasanya dilakukan oleh para pendeta Hindu, di perwujudan keduanya ia digambarkan mendapat kutukan akibat perbuatan dewa lain yang membuatnya memiliki penampilan yang sangat buruk.

Di Nusantara, Dewi ini cukup dikenal pula. Candi Prambanan di Jawa Tengah, misalkan juga dipersembahkan kepada Dewi ini. Dewi Durga adalah Dewi yang sangat cantik dan pemberani, Beliau juga dikenal sebagai Mahisasura Mardini yang artinya penakluk asura. Bagi yang melakukan pemujaan pada dewi ini akan mendapatkan perlindungan dari sang Dewi.

Arti namaSunting

Dalam bahasa Sanskerta, durga berarti "yang tidak bisa dimasuki" atau "terpencil".

Perwujudan Durga dalam kesusastraanSunting

  • India

Terjadinya peperangan pada zaman dahulu yang berlangsung selama ratusan tahun lamanya antara para dewa dan bala tentara Asura menyebabkan hawa amarah dan kemurkaan dewa-dewa memberikan sebuah akibat yaitu terciptanya Durga. Para dewa yang di pimpin oleh Indra yang saat itu sebagai Raja, sedangkan pasukan tentara Asura  dikepalai oleh Mahisa. Tentara dewa dikalahkan dalam peperangan tersebut oleh pasukan para tentara Asura yang akhirnya menyebabkan Mahisa menjadi seorang Raja. Para dewa yang akhirnya kalah akhirnya mengangkat Brahma sebagai pemimpin dan menghadap Siva dan Visnu untuk menyampaikan sebuah kabar. Para dewa yang mendapatkan kabar tersebut marah yang mengakibatkan keluarnya kekuatan yang sangat dahsyat dari badan Siva (Siwa) dan Visnu (Wishnu) serta para dewa lainnya, yang kemudian bersatu.sehingga terciptalah seorang wanita cantik akibat dari peristiwa tersebut.[1]

Dalam mitosnya diceritakan bahwa wajah dari wanita itu terbentuk dari tenaga Dewa Siva. Rambut dari tenaga Dewa Yama. Tangan - tangannya timbul dari tenaga Dewa Visnu. Dada nya terbentuk dari tenaga Dewa Candra. Perutnya terbentuk dari tenaga Dewa Surya. Jarinya berasal dari Wasu. Giginya tumbuh karena kekuatan fajar. Sedangkan Vayu dengan kekuatanya menumbuhkan telinga pada wanita itu.[2]

  • Indonesia

Di Indonesia sendiri, tokoh Durga diceritakan di dalam beberapa kitab. Yaitu kitab Sudamala, Sri Tanjung, Ghatotkacasraya, Parthayajna. Dalam Sudamala, diceritakan Durga merupakan perwujudan dari Sri Huma (Dewi Uma), yaitu istri tunggal yang tidak setia. Hal itu membuat Durga dikutukoleh Batara Guru, karena telah berbuat serong dengan Hyang Dewa Brahma. Kitab ini menjelaskan Hyang Guru mengutuknya menjadi Durga yang kelak akan bernama Ranini, Dijelaskan juga dia akan memiliki rambut merah, kusut masai, panjang terurai, berperawakan tinggi besar. Memiliki mata seperti matahari,mulutnya seperti guha dan bertaring. Hidungnya lebar (seperti sumur), badan-nya penuh noda dan memiliki langkah yang lebar saat berjalan. Dalam cerita ini Durga turun kedunia bukan lah untuk menolong, melainkan untuk menjalani hukuman. Sang sadewalah yang bertindak sebagai perantara melenyapkan semua noda-noda sang dewi.[3]

Tertulis dalam kitab lanjutan dari Sudamala yaitu Sri Tanjung, yang menggambarkan Durga turun ke bumiuntuk menolong makhluk (Sidapaksa dan Sri Tanjung) yang sedang kesusahan dan berputus asa.Pada kitab ini juga menyinggung penggambaran Durga yang berambut gimbal/kusut dan bertaring.[3]

Kitab  yang ke tiga yaitu Ghatotkacasraya. Daripada kitab – kitab sebelumnya, kitab inilah memiliki gambaran Dewi Durga paling lengkap. Jikapada kitab Jawa kuno lain hanya menggambarkan tentang raut muka Durga saja. Maka pada kitab ini disebutkan juga tentang jumlah tangan dan warna dada dari Durga. Dalam kitab ini, digambarkan Durga bertangan 8, menakutkan, berkepala 3, dadanya berwarna belang, memiliki mata yang melotot, giginya bertaring, memiliki lubang hidup yang besar dan memiliki rambut yang berombak.[3]

Yang terkahir atau pada kitab ke empat hanya menjelaskan Durga sebagai Nalamala yang memiliki 3 kepala dan sangat kuat.Bentuk dari Durga sendiri tidak dijelaskan pada kitab ini.[3]

Manifestasi DurgaSunting

Tercatat dalam beberapa kitab Purana, Durga merupakan wujud sthula dari salah satu aspek sakti yaitu aspek krodha atau raudra. Para sakti memiliki dua aspek yaitu saumya atau sata (tenang, damai) dan aspek krodha atau raudra (menakutkan). Dalam pemujaan,kedua aspek dewi tersebut menjelma menjadi dwi yang banyak jumlahnya. Untuk aspek sata menjelma menjadi Parvati (Uma), Gauri, Siva, Kamesvari, Bhuvanesvari dan masih banyak lagi. Sedangkan aspek krodha menjelma menjadi Durga, Kali, Karali Dhumavati dan Bhadrakali. Pengelompokan ini pertama kali dijumpai dalam kitab Vayu Purana.[4]

Atribut Senjata pada DurgaSunting

Dewi Durga Mahisasuramardini diwujudkan membawa berbagai jenis atribut senjata. Dalam mitologinya, para dewa menciptakan Dewi Durga Mahisasuramardini untuk mewakili para dewa untuk  berperang melawan asura yang pada saat itu berusaha untuk menyerang khayangan milik para dewa. Oleh karena itu, Dewi Durga Mahisasuramardini diciptakan sebagai dewi perang. Karena Dewi Durga mewakili para dewa untuk berperang, para dewa memberikan Dewi Druga hadiah berupa beberapa senjata. Sehingga semua senjata yang dibawa oleh Dewi Durga merupakan pemberian dari para dewa yang digunakan untuk melawan asura. Dewi Durga Mahisasuramardani telah mengembalikan keseimbangan alam dengan membunuh asura.[5]

Dalam kisah pergulatan Durga dengan Mahisasura, Durga dilengkapi dengan senjata pemberian dari dewa-dewa seperti :

  • Pemegang busur, Pinaka telah memberi trisula
  • Wisnu menghadiahkan cakra yang dia tarik dari cakranya sendiri
  • Varuna memberi sankha
  • Agni menyerahkan sakti
  •  Maruta menghadiahkan dhanudan setabung sara
  •  Indra memberikan wajra dan genta
  •  Yama menghadiahkan tongkat yang diambil dari tongkatnya sendiri
  •  Vayu memberi pasa
  •  Prajapati menghadiahkan kalung dari kerang
  •  Brahma memberikan kendi amrta dari tanah
  •  Surya memberi sinar
  •  Kala menghadiahkan khadga dan khetaka
  •  Lautan susu memberikan kalung manik-manik yang bersinar dan beberapa pakaian perang
  •  Wiswakarman menghadiahkan anting-anting, gelang, hiasan bulan sabit yang gemerlap
  •  Kuwera memberikan cangkir berisi anggur
  •  Sesa, raja ular menghadiahkan upavita terbuat dari ular dengan batu permata di dalamnya
  •  Himawati memberi seekor singa sebagai tunggangan, sehingga Durga siap untuk menghadapi Mahisasura[6]

Sedangkan untuk senjata utamanya sendiri yaitu Cakra dan sangkha.Sangkha memiliki beberapa makna simbolis seperti: sebagai simbol keselamatan, kebebasan kesadaran hakiki, simbol dari alam jagat raya dan sebagai kekuatan hukum. Sedangkan stribut lainnya seperti dhanus (busur) merupakan simbol kerajaan yang melambangkan kedudukan jabatan seorang raja. Selain tiu juga memiliki simbol sebagai aspek penghancur dari keinginan kesadran hakiki setial individu. Sara sebagai pelengkap dhanus sendiri merupakan arti dari anak panah. Senjata pedang (Khadga) merupakan simbol dari kekuatan sebagai penghancur serat simbol dari ilmu pengetahuan yang pada hakikatnya adalah sebagai simbol kebijaksanaandan sebagai lambang kerajaan. Senjata lainnya yaoitu perisai (khetaka) merupakan alat untuk menangkis senjata dan untuk melindungi diri dari serangan lawan.[3]

WahanaSunting

Dalam penggambarannya, Dewi Durga digambarkan sebagai seorang dewi yang sangta cantik yang mengendarai singa dalam sikapyang menantang dan bertangan dua atau lebih.[7] Singa sendiri merupakan hadiah pemberian dari Himawati yang diberikan pada Dewi Durga untuk memerangi Dewa asura.

PemujaanSunting

Dalam kitab Ka dambari digambarkan terdapatnya upacara pemujaan yang dilakukan oleh suku bangsa Sabara, yang merupakan salah satu suku bangsa terpencil di daerah pegunungan Vindhya. Dijelaskan bahwa dalam upacara tersebut selalu diadakan pengorbanan manusia. Korban darah dan manusia itu menjadi semakin penting setelah Durga dipuja oleh beberapa aliran dalam agama Saiwa, terutama oleh aliran Pasupata – Siva dan Kapalika – Siva, serta dalam aliran Tantra, khususnya Sakta Tantra.[3]

Dalam Yasatilaka terdapat cerita tentang para pahlawan Mahavratin (Kapalika) yang telah menjual daging yang telah disayat dari tubuhnya sendiri untuk dijadikan persembahan kepada Dewi Durga. Selain itu, tradisi mengorbankan diri sendiri juga dijumpai di daerah India Selatan sejak zaman Pallawa. Hal tersebut dijelaskan dalam sumber tertulis serta diperlihatkan pada relief dinding kuil zaman Pallawa dan Chola. Salah satu relief menggambarkan Durga bertangan empat yang digambarkan berdiridiatas kepala kerbau yang telah terpenggal dan dihadapkan oleh dua orang yang berjongkok dihadapannya. Salah seorang diantaranya memegang rambutnya dan yang lain memegang pahanya. Melakukan pengorbanan darah dari tubuh pemuja sendiri juga ditemukan dalm cerita Devi – mahatmya.[3]

Persembahan berupa korban binatang (Pasubali) maupun manusia untuk di persembahkan pada Dewi Durga yang dilakukan oleh aliran Tantra, khususnya sakta-Tantra.(Hariani santiko op.cit:115). Kitab keagamaan yang memuat tentang korban manusia untuk Durga – kali dijumpai dalm kitab Kalika – Purana. Menurut kitab tersebut, perbedaan jumlah manusia yang dikorbankan akan memberikan akibat yang berbeda pula. Seperti contoh, apabila hanya mengorbankan satu manusia maka DewiDurga akan puas selama 1.000 tahun.[8]

Lihat pulaSunting

ReferensiSunting

  1. ^ T.A Goninatha Rao 914 : 334
  2. ^ J. Knebel 1906 : 237
  3. ^ a b c d e f g Ratnaesih Maulana, author (1993). "Variasi Ciri-Ciri Arca Durga Mahisasuramardini". Universitas Indonesia Library (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-01-12. 
  4. ^ Hariani santiko 1990 : 214
  5. ^ Hariani Santiko 1987: 6
  6. ^ Pargiter 1904 : 414 – 575
  7. ^ Dowson 1926 : 86
  8. ^ Hariani Santiko op.cit : 115