Buka menu utama

Djohan Sjahroezah (lahir di Muara Enim, Sumatra Selatan, 1912 - meninggal di Jakarta, 2 Agustus 1968 pada umur 56 tahun) adalah seorang tokoh pergerakan bawah tanah dalam zaman revolusi kemerdekaan Indonesia. Ia merupakan salah seorang anggota Badan Pekerja KNIP dan anggota parlemen dari Partai Sosialis Indonesia.

Djohan Sjahroezah
Djohan Sjahroezah.png
Lahir1912
Bendera Belanda Muara Enim, Sumatra Selatan, Hindia Belanda
Meninggal2 Agustus 1968 (umur 56)
Bendera Indonesia Jakarta
KebangsaanBendera Indonesia Indonesia
PekerjaanPejuang Kemerdekaan
Dikenal atasTokoh Partai Sosialis Indonesia
Suami/istriViolet Hanifah (Yoyet)

Daftar isi

RiwayatSunting

Djohan Sjahroezah melalui masa pendidikannya di Medan (ELS), Bandung (MULO), Jakarta (AMS), serta mengikuti macam-macam kursus mandiri yang diselenggarakan oleh Golongan Merdeka di berbagai kota.

Ketika menjadi aktivis PPPI, ia menulis artikel di majalah Indonesia Raya yang mengecam keras kerja sama dengan Belanda. Akibatnya ia ditangkap dengan tuduhan menghasut untuk berbuat kekacauan. Ia diadili dan dihukum penjara selama 1,5 tahun di penjara Sukamiskin, Bandung. Selepas dari penjara, ia menjalin pergerakan dengan teman-temannya yang tidak dibuang ke Digul untuk melanjutkan PNI-Pendidikan.

Pada tahun 1937, bersama Mr. Soemanang, Adam Malik dan Pandoe Kartawiguna mendirikan KB Antara yang kelak menjadi kantor berita nasional hingga sekarang, di mana Mr. Soemanang menjadi Direktur, Adam Malik sebagai Redaktur merangkap Wakil Direktur, dan Pandoe Kartawiguna sebagai Administratur. Tahun 1941 diutus oleh Mr. Soemanang bersama Adam Malik ke rumah Sugondo Djojopuspito (Tjioedjoengweg - Jl. Telukbetung belakang HI) agar Sugondo bersedia menjadi Direktur KB Antara, sedangkan Adam Malik tetap sebagai Redaktur/Wakil Direktur.

Pada masa pendudukan Jepang, ia mendirikan beberapa serikat buruh, terutama di industri perminyakan.[1] Setelah kemerdekaan, bersama Sutan Sjahrir ia membentuk Paras dan Parsi yang kemudian bergabung menjadi Partai Sosialis Indonesia. Dalam partai tersebut ia duduk sebagai sekretaris jenderal, dan mewakili partai dalam parlemen.

Pada tahun 1960, PSI dibubarkan dan beberapa pimpinannya dipenjarakan. Disaat otoriterisme Soekarno merajalela, PSI di bawah komandonya tetap menjadi organ politik yang kritis dan diperhitungkan. Djohan merupakan pribadi yang cukup pandai dalam membaca situasi, baik pada masa penjajahan Belanda, Jepang, maupun Orde Lama. Dia merupakan pemimpin yang mengakar kepada rakyatnya, dan dihormati baik oleh kawan maupun lawan.[2]

KeluargaSunting

Djohan merupakan putra Minangkabau asal Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat. Istrinya, Violet Hanifah (Yoyet) yang dinikahinya pada tahun 1937 adalah putri Haji Agus Salim. Darinya ia dikaruniai lima orang putra dan putri. Djohan juga merupakan kemenakan Sutan Sjahrir.

ReferensiSunting

  1. ^ J.D. Legge, Intellectuals and Nationalism in Indonesia: A Study of the Following Recruited By Sutan Sjahrir in Occupied Jakarta, Equinox Publishing (Asia) Pte Ltd, 2010
  2. ^ Djoeir Moehamad, Memoar Seorang Sosialis, Yayasan Obor Indonesia, 1997

Pranala luarSunting