Buka menu utama
Dictyostelium discoideum
Dictyostelium Fruiting Bodies.JPG
Badan buah D. discoideum
Sebuah D. discoideum yang bermigrasi, batang skala: 5 µm, durasi: 22 detik
Klasifikasi ilmiah
Domain: Eukaryota
(tanpa takson): Amoebozoa
Infrafilum: Mycetozoa
Kelas: Dictyostelia
Ordo: Dictyosteliida
Famili: Dictyosteliidae
Genus: Dictyostelium
Spesies: D. discoideum
Nama binomial
Dictyostelium discoideum
Raper, 1935[1]

Dictyostelium discoideum adalah spesies ameba yang hidup di tanah dalam filum Amoebozoa, infrafilum Mycetozoa. Umumnya disebut jamur lendir, D. discoideum adalah eukariota yang berubah dari sekelompok ameba uniseluler menjadi agregat seperti siput yang multiseluler dan kemudian menjadi tubuh buah dalam masa hidupnya. Siklus aseksual uniknya terdiri dari empat tahap: vegetatif, agregasi, migrasi, dan kulminasi. Siklus hidup D. discoideum relatif singkat, yang memungkinkan untuk melihat secara tepat semua tahap. Sel-sel yang terlibat dalam siklus hidup mengalami pergerakan, isyarat kimia, dan perkembangan, yang berlaku untuk penelitian kanker manusia. Kesederhanaan siklus hidupnya menjadikan D. discoideum sebagai organisme model yang berharga untuk mempelajari proses genetik, seluler, dan biokimia pada organisme lain.

Habitat dan makanan alamiSunting

Di alam liar, D. discoideum dapat ditemukan di tanah dan serasah daun basah. Makanan utamanya terdiri dari bakteri, seperti Escherichia coli, ditemukan di tanah dan bahan organik yang membusuk. Ameba uninukleat dari D. discoideum mengkonsumsi bakteri yang ditemukan di habitat aslinya, yang meliputi tanah hutan gugur dan daun yang membusuk.[2]

Kegunaan sebagai organisme modelSunting

Karena banyak dari gen-gennya homolog terhadap gen-gen manusia, tetapi daur hidupnya sederhana, D. discoideum sering digunakan sebagai organisme model. D. discoideum dapat diamati pada tingkat organisme, seluler, dan molekuler dikarenakan jumlah jenis sel dan perilaku yang terbatas, dan pertumbuhannya yang cepat.[3] D. discoideum digunakan untuk mempelajari diferensiasi sel, kemotaksis, dan kematian sel terprogram, yang semuanya merupakan proses seluler normal. D. discoideum juga digunakan untuk mempelajari aspek lain dari perkembangan, termasuk pengurutan sel, pembentukan pola, fagositosis, motilitas, dan transduksi sinyal.[4] Proses-proses dan aspek-aspek perkembangan ini tidak ada atau terlalu sulit untuk dlihat di organisme model lain. D. discoideum berkerabat dengan metazoa yang lebih tinggi. D. discoideum memiliki gen dan jalur yang mirip, menjadikannya kandidat yang bagus untuk gene knockout.[5]


ReferensiSunting

  1. ^ Raper, K.B. (1935). "Dictyostelium discoideum, a new species of slime mold from decaying forest leaves". Journal of Agricultural Research. 50: 135–147. 
  2. ^ Eichinger L; Noegel, AA (2003). "Crawling in to a new era – the Dictyostelium genome project". The EMBO Journal. 22 (9): 1941–1946. doi:10.1093/emboj/cdg214. PMC 156086 . PMID 12727861. 
  3. ^ Tyler, Mary S., (2000). Developmental biology : a guide for experimental study (edisi ke-2nd ed). Sunderland, Mass.: Sinauer Associates. hlm. 31–34. ISBN 0878938435. OCLC 43555166. 
  4. ^ Dictybase, About Dictyostelium. [Online] (1, May, 2009). http://dictybase.org/
  5. ^ Dilip K. Nag, Disruption of Four Kinesin Genes in Dictyostelium. [Online] (22, April, 2008). http://ukpmc.ac.uk/articlerender.cgi?artid=1529371

Bacaan lebih lanjutSunting

  • Mary S. Tyler (2000). Developmental Biology: A Guide for Experimental Study.2nd ed. Sinauer Associates. hlm. 31–34. ISBN 0-87893-843-5. 
  • Scott F. Gilbert (2006). Developmental Biology. 8th ed. Sinauer. hlm. 36–39. ISBN 0-87893-250-X. 

Pranala luarSunting