Dialektologi perseptual

Dialektologi perseptual merupakan pengkajian bagaimana orang-orang nonlinguis memandang variasi dalam bahasa—yang mereka yakini ada, berasal dari mana, dan bagaimana fungsinya.

Dialektologi perseptual berbeda dari dialektologi baku karena kajian ini tidak berkenaan dengan perbedaan-perbedaan linguistik yang formal mengenai dialek, namun berkenaan dengan bagaimana nonlinguis memandang mengenai hal tersebut (yang mungkin ya atau mungkin tidak berhubungan dengan penemuan-penemuan linguistika yang ilmiah). Karena kajian ini berpusat pada pandangan nonlinguis terhadap konsep-konsep linguistik, dialektologi perseptual merupakan cabang dari pengkajian linguistik rakyat, dan juga bagian dari bidang umum sosiolinguistik.

Topik-topik umum dalam pengkajian dialektologi perseptual diantaranya perbandingan pandangan masyarakat akan batas-batas dialek dengan pemerian linguistik tradisional, pengujian faktor-faktor apa yang mempengaruhi pandangan masyarakat tentang variasi, dan karakteristik sosial apa yang menyandang dialek-dialek yang berbeda-beda.

SejarahSunting

Linguis berbeda pendapat apakah awal mula dialektologi perseptual berasal dari Jepang pada tahun 1920-an[1] atau dari Belanda pada tahun 1930-an.[2]

Pengkajian perintis dalam dialektologi perseptual tradisional berlangsung di Belanda tahun 1939 dan dipimpin oleh W.G. Rensink. Pengkajian ini berupaya meneliti batas-batas dialek perseptual melalui survei dialek bahasa Belanda dengan menanyai para subyek apakah menurut mereka orang-orang berbicara dengan dialek yang sama atau berbeda dengan mereka, dan perbedaan dialek apa saja yang dianggap ada.[3] Weijnen menganalisis data ini menggunakan metode panah-kecil yang ia rancang. Banyak kajian dihasilkan menggunakan metode ini, dan survei dialektologi perseptual sudah dilaksanakan di berbagai negara.[2]

Pengkajian dialektologi perseptual di Jepang juga berlangsung selama awal abad ke-20. Metodologi Jepang pada dasarnya berbeda dengan metodologi Belanda karena dalam metodologi Jepang narasumber diminta menilai perbedaan antar dialek berdasarkan tingkat perbedaannya (sebagai contoh, dari 'tidak berbeda' hingga 'tidak dimengerti'). Data kemudian dianalisis dengan membuat garis-garis antar wilayah untuk menunjukkan skala perbedaan,[4] dan merupakan metode pertama yang 'menghitung' batas-batas perseptual.

Linguis menjadi makin tertarik akan bagaimana non-linguis membedakan variasi bahasa, termasuk aksen nada yang merupakan salah satu cara yang digunakan non-linguis untuk membedakan variasi-variasi bahasa.

Dialektologi perseptual kontemporer dipelopori oleh Dennis Preston, yang dianggap pemrakarsa utama dialektologi perseptual. Pendekatan lima-titiknya dalam pengkajian ini telah menjadi patokan untuk pemajuan bidang tersebut.

Pengkajian sikap bahasa dan metodologi samaran terpadunya juga dipandang berkaitan dengan dialektologi perseptual.[2]

MetodologiSunting

Metode panah kecilSunting

Metode panah kecil merupakan metode awal untuk membandingkan dialek-dialek wilayah. Dalam metode ini, peneliti memulai dengan peta umum suatu wilayah, sering kali disertai batas-batas tradisional dialek bahasa untuk rujukan.[5] Setelah itu, narasumber dari beberapa lokasi ditanyai seberapa mirip menurut mereka bahasa di lokasi lain dengan bahasa di lokasi mereka. Lokasi-lokasi yang dianggap partisipan sangat bermiripan dihubungkan dengan "panah kecil." Dengan mengumpulkan tanggapan dari beberapa narasumber dan lokasi, "panah-panah kecil" ini saling berhubungan membentuk jejaring bahasa-bahasa berkaitan. Dari informasi ini, informasi mengenai batas-batas dialektik perseptual dapat diketahui. Kategori-kategori dialek perseptual terdiri dari wilayah-wilayah yang saling terhubung oleh "panah-panah kecil," dan batas dialek ditunjukkan oleh ketiadaannya hubungan antar lokasi.[6] Kategori-kategori yang merupakan anggapan narasumber ini dapat dibandingkan dengan batas-batas bahasa tradisional untuk penelitian selanjutnya.

Metode lima poin PrestonSunting

Metode lima poin Preston merupakan seperangkat teknik yang dikembangkan oleh Preston untuk pengkajian dialektologi perseptual pada tahun 1980-an. Langkah-langkah spesifik yang menyusun metode lima-poin meliputi:

  • Gambar Peta: dalam metode ini, narasumber diberi kertas kosong atau peta sederhana dari wilayah yang dikaji, dan diminta menggambar batas-batas yang menunjukkan lokasi-lokasi yang berdialek berbeda. Metode terkomputerisasi akan intepretasi ini juga dapat digunakan untuk menggambar peta umum yang dihasilkan dari respon-respon yang masuk.[5]
  • Tingkat Perbedaan: dalam metode ini, narasumber diminta merangking persamaan atau perbedaan bahasa dari dua wilayah, sering kali dengan skala angka. Metode asli Preston menggunakan skala 1-4 (1=sama, 2=agak berbeda, 3=berbeda, dan 4=berbeda tidak dapat dimengerti).[5] Perbandingan semacam itu biasanya meminta narasumber untuk merangking wilayah tetangga dengan bandingan wilayah tempat tinggal si narasumber.
  • Tepat dan Halus: metode ini meminta narasumber merangking wilayah-wilayah menurut seberapa “tepat” atau “halus” varian yang dituturkan di sana, baik menggunakan skala angka atau melalui perbandingan dengan wilayah lain. Meskipun Preston biasanya meneliti "ketepatan" atau "kehalusan,"[5] karya-karya lain meneliti kualitas subyektif lain, seperti apakah suatu bahasa "formal" atau "santai", "sopan" atau "kasar", "terpelajar" atau "tak terpelajar."[7]
  • Identifikasi Dialek: metode ini meminta narasumber mendengarkan sampel percakapan dalam bentuk rekaman dari suatu dialect continuum dan mengidentifikasi wilayah asal sampel tersebut.
  • Data Kualitatif: tambahan dari metode-metode pengumpulan data tersebut di atas, peneliti di bidang dialektologi perseptual juga mengumpulkan data dengan pertanyaan-pertanyaan wawancara yang lebih terbuka tentang pandangan si subyek mengenai varian bahasa, penutur, dan topik-topik kesukaan lain.

Topik dalam dialektologi perseptualSunting

Penilaian linguistik vs. penilaian rakyatSunting

Salah satu bidang dialektologi perseptual adalah melihat penilaian linguistik dan penilaian rakyat. Sebuah kajian oleh Zoë Boughton meneliti dialektologi perseptual di Prancis bagian utara melalui usaha identifikasi dialek. Subyek diminta mengidentifikasi asal daerah penutur setelah mendengarkan sampel suara. Responden-responden Pays de la Loire (dari Nancy dan Rennes, berturut-turut wilayah timur laut dan barat laut) tidak berhasil mengidentifikasi dengan benar asal daerah sampel suara, namun mampu mengenali beberapa perbedaan antara penutur Nancy dan Rennes. Hasil ini menunjukkan dua sumbu perseptual-wilayah: "Utara/timur" berkaitan dengan pemisahan aksen sosial atau daerah, sementara "Barat/Tengah/Paris" lebih berkaitan dengan aksen baku dan pemusatan. Penggunaan sampel percakapan otentik untuk pengidenfitikasian akan menunjukkan seberapa baik subyek mampu menangkap perbedaan antara dialek menurut pandangan awam mereka.[8]

Faktor dalam menentukan batasSunting

GeografiSunting

Masyarakat secara umum menganggap dialek mereka berbeda dari dialek lainnya yang sangat mirip. Pengkajian terhadap penduduk Boston mencerminkan kecenderungan ini.[9] Masyarakat di luar wilayah New England menangkap adanya aksen Boston dalam percakapan, sementara masyarakat Boston melihat adanya batas-batas dialek yang berbeda-beda, dengan wilayah mereka terpisah dari wilayah New England lainnya. Ketika 50 orang Boston diminta menggambarkan batas-batas dialek menurut mereka dan merangking tingkat kehalusan dan ketepatan untuk menguji persamaan dan perbedaan, hasilnya sangat bervariasi. Hal ini mencerminkan kesulitan dalam menetapkan batas dialek yang berbeda ketika memetakan isoglos.

Kelas sosialSunting

Dialektologi perseptual juga mengkaji dialek sosial selain dialek daerah. Dialek sosial dikaitkan dengan kelas atau kelompok sosial tertentu, alih-alih dengan suatu daerah. Contohnya adalah bahasa Inggris logat Afrika Amerika, yang dianggap sebagai akibat dari rendahnya pendidikan, kebodohan, dan kemalasan. Dalam sebuah kajian, pria perguruan tinggi kulit putih diminta meniru tuturan pria kulit hitam dan sebaliknya. Temuan menyimpulkan pria perguruan tinggi kulit putih secara langsung paham maksud dari si peneliti memintanya "bicaralah seperti lelaki kulit hitam." Untuk menyelesaikan tugasnya, pria kulit putih tersebut diberi fonologi yang sudah disiapkan, seperangkat fitur paralinguistik jajaran nada, ritme, dan kualitas vokal, dan beragam peran dan topik yang dijabarkan rinci. Beberapa peran yang dimainkan subyek kulit putih meliputi pemain basket, hip, orang keren, dan anak jalanan. Topik-topiknya meliputi tari, kekerasan, dan perbudakan. Namun demikian, pria kulit putih tersebut menperoleh perangkat morfologis dan sintaktis yang sangat terbatas dan leksikon (termasuk leksem-leksem berstereotip) yang sedikit.[10]

SlangSunting

Slang juga dapat berpengaruh bagi non-linguis dalam menentukan letak batas dialek. Banyak label dalam tugas pemetaan dialek berpusat pada istilah-istilah slang ketika mengkaji dialektologi perseptual bahasa Inggris yang dituturkan di California. Mahasiswa Universitas California, Santa Barbara diminta melabeli peta California menurut subyek, terutama orang California Selatan, menggunakan "hella" untuk melabeli wilayah California Utara. "Dude" juga digunakan untuk melabeli wilayah San Diego.[11]

Kehalusan dan ketepatanSunting

Rangking kehalusan dan ketepatan dialek bervariasi antar penutur dialek yang berbeda-beda. Penutur beraksen Selatan dari Memphis, Tennessee, merangking wilayah-wilayah Selatan lain 'kurang tepat' dibanding lainnya, tapi tidak 'kurang halus'.[12] Namun ternyata, mereka merangking tuturan mereka sendiri 'paling tidak terdidik' dan 'paling tidak halus'. Penutur dari Memphis juga sangat sadar akan perbedaan antar dialek di Selatan, namun tidak tahu akan perbedaan di wilayah-wilayah lain seperti Barat, sehingga menilainya sebagai suatu wilayah dengan label "tepat".[12] Terdapat pula rangking kehalusan dan ketepatan yang bervariasi antar wilayah di Selatan. Ketika penutur bahasa Inggris dari Reno, Nevada merangking bahasa Inggris Selatan, mereka merangkingnya 'kurang tepat' dan 'kurang halus' dan paling berbeda dari tuturan mereka.

Dialektologi perseptual historisSunting

Dialektologi perseptual historis memungkinkan linguis menguji bagaimana dan mengapa dialek-dialek di masa lalu memperoleh kepopuleran. Para linguis memperoleh kesempatan untuk menguji bagaimana dialektologi perseptual tentang dialek-dialek bahasa berevolusi pada suatu masa.[13] Cendekiawan utama yang menguji dialektologi perseptual adalah Dennis Preston, dan metodologinya meliputi teknik berdasarkan wawancara. Menerapkan metodologi awal yang digunakan di bidang dialektologi perseptual tidak akan mungkin untuk menguji dialek-dialek di masa lalu.

Dialektologi perseptual historis jangan disalahartikan sebagai linguistik historis, yang mengkaji perubahan dalam fenomena kebahasaan di suatu masa. Tidak seperti linguistik historis, dialektologi perseptual historis digunakan untuk menyumbang pada kepahaman sosial akan bahasa dan digunakan untuk menghubungkan pandangan-pandangan terhadap dialek dengan sejarah kecendekiaan dan politik.[13] Dialektologi perseptual historis juga memiliki kemampuan untuk menentukan kapan munculnya dialek-dialek.[13]

Isu terkait dialektologi perseptual historis diantaranya tergantungnya pada teks masyarakat melek aksara di masa lalu. Melihat dialektologi perseptual membahas pandangan masyarakat awam, menggantungkan data dari sekelompok orang dalam populasi bukan cerminan akurat populasi secara umum. Subyek harus diambil dari kelompok yang besar bila menggunakan teknik wawancara seperti teknik Dennis Preston. Isu lain meliputi hanya satu kasus tunggal yang diuji.

Alexander Maxwell, pakar dialektologi perseptual historis, menguji kemunculan tiga dialek bahasa Slowakia dan bagaimana populasi umum penutur bahasa Slowakia menerima keberadaan ketiga dialek bahasa Slowakia. Maxwell menggunakan artikel-artikel yang sebagian besar ditulis oleh "linguis dan perencana bahasa amatir." Dia tertarik melihat bagaimana dialektologi perseptual bahasa Slowakia berevolusi dari masa ke masa hingga meraih konsensus populasi umum.[13] Maxwell menemukan pandangan akan dialek bergeser dengan pergeseran politik.

Dalam pengujian dialektologi perseptional historis, bukti menunjukkan pergeseran persepsi akan dialek berkaitan langsung dengan pergeseran historis, baik politik, kecendekiaan, atau sosial. Pengkajian ini mengimplikasikan butuhnya pengkajian linguistik berkaitan dengan kesejarahan.

Pengkajian sikap bahasaSunting

Selain mengkaji bagaimana dan dimana nonlinguis mengidentifikasi dialek, dialektologi perseptual juga mengkaji dengan sifat apa nonlinguis menilai dialek-dialek tersebut. Ketika narasumber mengaitkan varian bahasa tertentu dengan kelompok tertentu, sifat sosial yang dilekatkan pada kelompok tertentu otomatis dikaitkan pada dialek mereka. Dialek tersebut kemudian dikaitkan dengan sifat-sifat tersebut meskipun narasumber tidak dapat mengidentifikasi sumber dialek tersebut dengan benar. Sehingga demikian, dialek dapat menentukan sifat-sifat sosial tertentu seperti keresmian, kesopanan, keramahan, kecerdasan, keangkuhan, dan sifat-sifat lain.[7] Seseorang yang menggunakan varian-varian ini dapat menyandang sifat sosial yang dikaitkan dengan dialek ini.

ImplikasiSunting

Sebagai bidang yang mengkaji hubungan ilmu bahasa dengan perilaku manusia dan perbedaan budaya, pengkajian dialektologi perseptual juga menjadi informasi yang menarik bagi banyak bidang ilmu selain linguistik, diantaranya sosiologi, antropologi budaya, dan bidang-bidang lain yang mengkaji pikiran dan perilaku manusia.

Dialektologi perseptual juga memiliki implikasi besar untuk bidang umum linguistik secara keseluruhan. Ketika penilaian linguistik rakyat diuji sebagai bandingan penelitian linguistik formal, penilaian rakyat yang kuat dapat sebaliknya mempengaruhi kemampuan orang dalam berbahasa. Pemahaman akan dialektologi perseptual berguna untuk memahami bagaimana pendapat orang terhadap bahasa dapat mempengaruhi perilakunya, di ranah seperti pengkajian perubahan bahasa dan sikap bahasa.

Pada akhirnya, penemuan dalam dialektologi perseptual terbukti dapat berguna dalam bidang-bidang terapan seperti pengajaran bahasa, yaitu saat pengetahuan bagaimana subyek memandang perbedaan bahasa atau variasi menjadi vital untuk meningkatkan keberhasilan.[5]

ReferensiSunting

  1. ^ Long, Daniel (1999). "Mapping non-linguists' evaluations of Japanese language variation". Dalam Dennis Preston. Handbook of Perceptual Dialectology (edisi ke-1). Amsterdam: John Benjamins. hlm. 199–226. 
  2. ^ a b c Chris Montgomery; Joan Beal (2011). "Perceptual Dialectology". Dalam Warren Maguire and April McMahon. Analysing Variation in English. Cambridge, NY: Cambridge University Press. hlm. 121–148. ISBN 9780521898669. 
  3. ^ Rensink, W.G. (1999) [1955]. "Informant classification of dialects". Dalam Dennis Preston. Handbook of Perceptual Dialectology (edisi ke-1). Amsterdam: John Benjamins. hlm. 3–7. 
  4. ^ Mase, Yoshio (1999) [1964]. "Dialect consciousness and dialect divisions". Dalam Dennis Preston. Handbook of Perceptual Dialectology (edisi ke-1). Amsterdam: John Benjamins. hlm. 71–99. 
  5. ^ a b c d e Preston, Dennis (1999). "Introduction". Handbook of Perceptual Dialectology. 1. 
  6. ^ Weijen, Antonius (1999). Preston, Dennis, ed. "On the Value of Subjective Dialect Boundaries". Handbook of Perceptual Dialectology. 1. 
  7. ^ a b Preston, Dennis (1999). "A Language Attitude Approach to the Perception of Regional Variety". Handbook of Perceptual Dialectology. 1. 
  8. ^ Boughton, Zoë (November 2006). "When perception isn't reality: Accent identification and perceptual dialectology in French". Journal of French Language Studies. 16 (3): 277–304. doi:10.1017/S0959269506002535. 
  9. ^ Hartley, Laura (Winter 2005). "The Consequences of Conflicting Stereotypes: Bostonian Perceptions of U.S. Dialects". American Speech. 80 (4): 388–405. doi:10.1215/00031283-80-4-388. 
  10. ^ Preston, Dennis (1993). "The Uses of Folk Linguistics". International Journal of Applied Linguistics. 3 (2): 181–259. doi:10.1111/j.1473-4192.1993.tb00049.x. 
  11. ^ Bucholtz, Mary; Nancy Bermudez; Victor Fung; Lisa Edwards; Rosalva Vargas (December 2007). "Hella Nor Cal or Totally So Cal?: The perceptual dialectology of California". Journal of English Linguistics. 35 (4): 325–352. doi:10.1177/0075424207307780. 
  12. ^ a b Fridland, Valerie; Kathryn Bartlett (Winter 2006). "Correctness, Pleasantness, and Degree of Difference Ratings Across Regions". American Speech. 81 (4): 358–386. doi:10.1215/00031283-2006-025. 
  13. ^ a b c d Maxwell, Alexander (2006). "Why the Slovak Language Has Three Dialects: A Case Study in Historical Perceptual Dialectology". Austrian History Yearbook. 37 (Center for Austrian Studies, University of Minnesota): 141–162. doi:10.1017/s0067237800016817.