Paralinguistik

Nduga terdiri dari satu suku dengan 32 narga berdasarkan klen

Paralinguistik adalah ilmu yang mempelajari mengenai vokalisasi, nada dan intonasi. Seperti membesarkan atau mengecilkan suara. Paralinguistik merupakan salah satu jenis komunikasi yang memiliki kaitan dengan cara pengucapan atau menyampaikan pesan. Paralinguistik tidak hanya mengetahui suara seseorang ketika berbicara, namun paralinguistik juga dapat mengetahui keadaan emosi seseoranag melalui nada vokalnya. Ada beberapa isyarat vokal yang dapat di simak oleh pendengarnya, antara lain tingkat suara atau intonasi suara dan kecepatan berbicara.[1] Dengan adanya paralinguistik, dapat menambah informasi tentang keadaan emosi, pikiran dan sikap seseorang. selain itu, paralinguistik juga dapat menunjukkan makna yang disampaikan oleh pembicara.

Isyarat vokal paralinguistik yang terdiri dari dua macam, yaitu tingkat suara dan kecepatan berbicara. keduanya memiliki beberapa aspek didalamnya. tingkat suara sendiri dapat diketahui melalui beberapa aspek seperti; berbisik atau pertukaran suara yang memiliki nada atau intonasi tidak seimbang. Lain dengan kecepatan berbicara dapat diketahui melalui aspek kegagapan dalam berbicara atau kelancaran dalam berbicara.[2]

Studi paralinguistik dan ditemukan oleh George L. Trager pada 1950-an, ketika dia bekerja di Institut Layanan Luar Negeri Departemen Luar Negeri AS. Rekan-rekannya pada saat itu termasuk Henry Lee Smith, Charles F. Hockett (membantunya dalam menggunakan linguistik deskriptif sebagai model untuk berbahasa), Edward T. Hall mengembangkan proksemik, dan Ray Birdwhistell mengembangkan kinesika.[3]

ReferensiSunting

  1. ^ "Apa Paralinguistik Itu? (Paralanguage)". Apa Paralinguistik Itu? (Paralanguage). 2019-07-17. Diakses tanggal 2022-06-08. 
  2. ^ Arisandi, Arman (2014). 101 Tips Sukses Personality Plus. Yogyakarta: Mantra Books. hlm. 120–121. ISBN 978-602-1676-84-4. 
  3. ^ Leeds-Hurwitz, W. (1990). "Notes in the history of intercultural communication: The Foreign Service Institute and the mandate for intercultural training". Quarterly Journal of Speech. 76: 262–281.