Definisi

pernyataan yang mendeskripsikan suatu hal

Definisi merupakan suatu batasan atau arti, bisa juga dimaknai kata, frasa, atau kalimat yang mengungkapkan makna, keterangan, atau ciri utama dari orang, benda, proses, atau aktivitas.[1] Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi ialah rumusan tentang ruang lingkup dan ciri-ciri suatu konsep yang menjadi pokok pembicaraan atau studi.[2]

Definisi juga diartikan sebagai uraian pengertian yang berfungsi membatasi objek, konsep, dan keadaan berdasarkan waktu dan tempat suatu kajian.[1] Definisi merupakan usaha para ilmuwan untuk membatasi fakta dan konsep.[3] Definisi secara leksikal berarti membatasi. Dalam logika formal maupun informal, definisi diperlukan untuk menjelaskan cara pemakaian istilah-istilah kunci.[4] Dalam bidang komputer, definisi (definition) merupakan pemberitahuan bersifat (property) objek dan sekaligus mengalokasikan memori terhadap objek.[5]

Ciri-ciri definisiSunting

Suatu arti/makna kata tidak bisa langsung disebut sebagai definisi, karena definisi mempunyai ciri-ciri khusus.[1] Adapun arti/makna kata bisa diartikan sebagai definisi jika terdapat unsur kata atau istilah yang didefinisikan, atau lazim disebut definiendum.[1] Selanjutnya, di dalam arti tersebut harus terdapat unsur kata, frasa, atau kalimat yang berfungsi menguraikan pengertian, lazim disebut definiens, dan tentunya juga harus ada pilihan katanya.[1]

Pilihan kata tersebut ialah di mana definiens dimulai dengan kata benda, didahului kata ada-lah.[1] Misalnya kalimat Cinta adalah perasaan setia, bangga, dan prihatin dan kalimat Mahasiswa adalah pelajar di perguruan tinggi.[1]

Yang kedua, definiens dimulai dengan selain kata benda umpamanya kata kerja atau didahului kata yaitu.[1] Sebagai contoh Setia yaitu merasa terdorong untuk mengakui, memahami, menerima, menghargai, menghormati, mematuhi, dan melestarikan.[1] Kemudian, definiens juga diharuskan memberi pengertian rupa atau wujud diawali kata merupakan, seperti kalimat Mencintai merupakan tindakan terpuji untuk mengakhiri konflik.[1]

Adapun yang terakhir ialah bahwa definiens merupakan sebuah sinonim yang didahului kata ialah.[1] Misalnya Pria ialah laki-laki.[1]

KlasifikasiSunting

Definisi nominalSunting

Definisi nominal berupa pengertian singkat. Definiens pada definisi jenis ini terbagi menjadi ada tiga macam.[1] Pertama, sinonim atau padanan, seperti kata manusia yang bersinonim dengan kata orang, maka jika ditulis hasilnya adalah Manusia]] ialah orang.[1] Selanjutnya terkait dengan terjemahan dari bahasa lain, contohnya Kinerja ialah performance.[1] Asal usul sebuah kata dalam definisi nominal juga merupakan hal yang penting, contoh: Psikologi berasal dari kata "psyche" berarti jiwa, dan "logos" berarti ilmu, psikologi ialah ilmu jiwa.[1]

Definisi nominal menjelaskan suatu kata dengan kata lain yang umum dimengerti. Defisi nominal terutama dipakai pada permulaan suatu pembicaraan atau diskusi. Terdapat enam jenis definisi nominal, yaitu definisi sinonim, definisi simbolik, definisi etimologi, definisi semantik, definisi stipulatif, dan definisi denotatif.[6] Definisi stipulatif merupakan definisi yang digunakan ketika menentukan pemakaian istilah. Definisi stipulatif harus dinilai bukan sebagai benar atau salah melainkan sebagai berguna atau tidak berguna. Definisi ini menentukan arti yang akan digunakan untuk istilah tersebut dalam arti lain menciptakan kosa kata teknis. Bisa juga disebut sebagai definisi klarifikasi yang menetapkan mana lebih jelas untuk istilah yang tidak jelas. Misalnya, pengadilan yang menetapkan definisi lebih tepat tentang “kematian” untuk menyelesaikan sengketa hukum tertentu.[7]

Definisi formalSunting

Definisi formal disebut juga definisi terminologis, yaitu definisi yang disusun berdasarkan logika formal yang terdiri tiga unsur.[1] Struktur definisi ini berupa "kelas", "genus", "pembeda" (deferensiasi).[1] Ketiga unsur tersebut harus tampak dalam definiens.[1] Struktur formal diawali dengan klarifikasi, diikuti dengan menentukan kata yang akan dijadikan definiendium, dilanjutkan dengan menyebut genus, dan diakhiri dengan menyebutkan kata-kata atau deskripsi pembeda.[1] Pembeda harus lengkap dan menyeluruh sehingga benar-benar menunjukkan pengertian yang sangat khas dan membedakan pengertian dari kelas yang lain.[1] Contoh kalimat yang merupakan definisi formal adalah Mahasiswa adalah pelajar di perguruan tinggi.[1]

Definisi formal mempunyai syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar sesuai dengan aturan yang ada.[1] Di antaranya, definiendium dan definiens bersifat koterminus, mempunyai makna yang sama.[1] Kemudian, definiendium dan definiens bersifat konvertabel, dapat ditukarkan tempatnya dan definiens tidak berupa sinonim, padanan, terjemahan, etimologi, bentuk populer, atau pengulangan definiendium.[1] Perbandingannya:

  • Manusia adalah orang yang berakal budi (salah)
  • Manusia adalah insan yang berakal budi (salah)
  • Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna (benar)

Selanjutnya definiens bukanlah kiasan, perumpamaan, atau pengandaian.[1] Contonya kalimat Manusia adalah bagaikan hewan yang tidak pernah merasa puas (salah), kata bagaikan dalam kalimat ini merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan dalam definisi formal.[1] Contoh yang benar berada dalam kalimat Manusia adalah ciptaan Tuhan yang diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya.[1]

Syarat berikutnya yaitu definiens menggunakan makna pararel dengan definiendium, tidak menggunakan kata dimana, yang mana, jika, misalnya, dan lain-lain, definiens juga harus menggunakan bentuk positif, bukan kalimat negatif; tanpa kata negatif; tidak, bukan.[1] Misalnya bentuk kalimat negatif Pendidikan kewarganegaraan "tidak lain" adalah pembinaan pelajar agar menjadi warga negara yang baik sehingga mampu hidup bersama dalam masyarakat, baik sebagai anggota keluarga, masyarakat, maupun warga negara, sedang yang benar adalah Pendidikan kewarganegaraan adalah pembinaan pelajar agar menjadi warga negara yang baik sehingga mampu hidup bersama dalam keluarga, masyarakat, dan negara.[1]

Lagi, pembeda (deferiansi)pada definiens harus mencukupi sehingga menghasilkan makna yang tidak bisa (samar)dengan kelas yang lain.[1]

Definisi RiilSunting

Definisi nominal bukanlah definisi dalam arti sesungguhnya, maka perlu penjelasan tentang konsep dengan cara menyebutkan unsur-unsur pokok atau ciri-ciri utama konsep yang disebut dengan definisi riil. Definisi yang termasuk ke dalam definisi riil yaitu: definisi hakiki, definisi yang menyebutkan genus proximum dan pembeda spesifiknya; definisi gambaran, definisi yang dibuat dengan menyebutkan semua ciri konsep yang dimaksud; definisi sebab-akibat, definisi yang dibuat dengan menggunakan hubungan sebab-akibat. Contoh: Banjir adalah bencana alam yang terjadi karena meluapnya air sungai; definisi tujuan, definisi yang dibuat dengan menyebutkan tujuan. Contoh: Komputer adalah teknologi cnggih yang digunakan untuk menyimpan dan mengolah data.[8]

Definisi operasionalSunting

Definisi operasional adalah batasan pengertian yang dijadikan pedoman untuk melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan, misalnya penelitian.[1] Oleh karena itu, definisi ini disebut juga definisi kerja karena dijadikan pedoman untuk melaksanakan suatu penelitian atau pekerjaan tertentu.[1] Definisi ini disebut juga definisi subjektif karena disusun berdasarkan keinginan orang yang akan melakukan pekerjaan.[1]

Yang merupakan ciri-ciri definisi operasional ialah mengacu pada target pekerjaan yang dicapai, berisi pembatasan konsep, tempat, dan waktu, dan bersifat aksi, tindakan, atau pelaksanaan suatu kegiatan.[1]

Definisi paradigmatisSunting

Definisi paradigmatis/personal bertujuan untuk mempengaruhi pola berpikir oranglain.[1] Definisi jenis ini disusun berdasarkan pendapatan nilai-nilai tertentu.[1]

Ada empat ciri-ciri definisi paradigmatis, yakni; disusun berdasarkan paradigma (pola pikir) nilai-nila tertentu, berfungsi untuk mempengaruhi sikap, perilaku, atau tindakan orang lain, bertujuan agar pembaca mengubah sikap sesuai dengan definisi, berhubungan dengan nilai-nilai tertentu, misalnya: bisnis, etika, budaya, ajaran, falsafah, tradisi, adat istiadat, pandangan hidup.[1]

Adapun fungsi definisi paradigmatis dapat dikategorikan menjadi empat bagian: pertama, untuk mengembangkan pola berpikir; kedua, mempengaruhi sikap pembaca atau pendengar; ketiga, mendukung argumentasi atau pembuktikan dan memberikan efek persuasif.[1]

Definisi luasSunting

Definisi luas adalah batasan pengertian yang sekurang-kurangnya terdiri atas satu paragraf.[1] Definisi ini diperlukan pada konsep yang rumit yang tidak dapat dijelaskan dengan kalimat pendek.[9]

Ciri-cirinya adalah dalam definisi tersebut hanya berisi satu gagasan yang merupakan definiendium, tidak menggunakan kata kias, setiap kata dapat dibuktikan atau diukur kebenarannya, dan menggunakan penalaran yang jelas.[1]

Contohnya dalam kalimat berikut Konsep ketahanan nasional tidak dapat hanya didefinisikan dengan kemampuan dinamik suatu bangsa yang berisikan keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan dari luar maupun dalam, langsung tidak langsung yang membahayakan identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan negara untuk mencapai tujuan nasional.[9] Karena itu konsep tersebut harus diberi definisi luas agar diketahui perkembangan konsep, unsur-unsurnya, pengembangannya di dalam semua aspek kehidupan bangsa dan negara.[9]

Teknik-Teknik menyusun definisiSunting

Teknik-teknik menyusun definisi bisa dikualifikasikan berdasarkan dua macam arti, yakni arti intensional dan arti ekstensional.[10]

Definisi ekstensional atau denotatifSunting

Dengan menunjukkan kelas yang ditunjukan oleh definiendium, maka suatu definisi ekstensional akan bisa menetapkan arti dari suatu kata. Paling tidak ada tiga cara menunjukkan anggota-anggota dari suatu kelas, yaitu menunjuk pada mereka, menamai mereka secara individual, menamai mereka menurut kelompok. Misalnya kalimat Kursi adalah ini dan ini dan ini- seraya Anda menunjuk ke arah sejumlah kursi satu per satu.[10]

Definisi dengan contohSunting

Cara yang paling jelas untuk mendefinisikan suatu kata adalah untuk mengidentifikasi objek yang ditunjukan oleh kata yang didefinisikan. Teknik ini memiliki batas yang sangat banyak. Tidak mungkin untuk menyebutkan seluruh objek yang terkait, maka permasalahannya adalah definisi untuk istilah yang umum menjadi tidak pasti. Teknik denotatif mendefinisikan suatu kata dengan menyebutkan contoh yang diketahui yang dipakai oleh kata tersebut. Misal, burung adalah sesuatu seperti angsa, ayam, dan elang. Biasanya, meskipun contoh yang diberikan tidak lengkap, pembaca dibiarkan menyimpulkan konotasi yang mendasarinya dengan mengabstraksikan konsep sehingga contoh yang sebelumnya tidak dituliskan dapat diklasifikasikan.[11]

Definisi ostensifSunting

Definisi ostensif disebut juga dengan definisi demonstratif.[12] Definisi ostensif dilakukan dengan cara melakukan kontak langsung (menunjuk atau gestur lainnya) terhadap objek dari kata yang didefinisikan. Misal, kata "meja" adalah ini, disertai gerakan menunjuk meja.[13] Definisi ini memiliki batasan lebih awal, gestur memiliki batasan geografis sebab hanya dapat mengindikasikan apa yang terlihat. Kata "laut" tidak dapat didefinisikan di ruang kelas. Hal lainnya, gestur akan selamanya ambigu, untuk menunjuk suatu objek, meja misalnya, seluruh karakter yang dimiliki objek tersebut akan ikut tertunjuk, ukuran, warna, bentuk, dan materi.

Definisi kuasi-ostensifSunting

Definisi ostensif dapat menimbulkan keambiguan terhadap objek yang ditunjuknya, hal ini terkadang dapat diatasi dengan menambahkan penjelasan deskriptif untuk kata yang didefinisikan. Teknik ini disebut dengan kuasi-ostensif.[14] Definisi kuasi-ostensif atau definisi semi denotatif meliputi hal yang lebih dari indikasi non verbal dari kata yang akan didefinisikan.[15]

Definisi intensionalSunting

Suatu definisi menentukan arti suatu kata dengan menunjukkan kualitas-kualitas atau ciri-ciri yang terkandung dalam kata itu.[10] Sebagai contoh kalimat Es adalah air yang membeku.[10]

Definisi sinonimSunting

Definisi sinonim memberikan kata lain yang artinya sudah dipahami dan memiliki arti sama dengan kata yang didefinisikan. Sinonim berarti dua kata yang bermakna sama. Seseorang mempelajari kosa kata bahasa asing dengan mempelajari definisi menggunakan sinonim. Tetap definisi sinonim sangat terbatas serta banyak kata yang tidak memiliki sinonim tepat. Definisi sinonim berbeda dengan definisi analitik yang memiliki gaya definisi lebih panjang.[16] Masalah untuk definisi ini yaitu biasanya terdapat pada tantangan antara definien dan definiendum. Untuk sinonim dengan bahasa asing, terkadang satu kata dapat berarti banyak untuk bahasa lainnya. Dengan demikian, definisi sinonim menjadi kurang efektif sebagai ekstensional dan sebagai definisi kognitif.[17]

Definisi operasionalSunting

Definisi operasional digunakan ketika mencoba menjelaskan maksud istilah dengan mengikat definiendum pada serangkaian operasi yang dapat digambarkan dengan jelas. Definisi operasional dari suatu istilah menyatakan bahwa istilah tersebut diterapkan secara benar pada suatu kasus jika dan hanya jika kinerja operasi tertentu dalam kasus tersebut membuat hasil yang ditentukan.[18]

Definisi operasional pertama kali dipakai oleh P.W. Bridgeman dalam bukunya The Logic of Modern Physics. Dalam bukunya, ia menjelaskan ketika berhadapan dengan kondisi di luar awal definisi dari suatu konsep, mungkin akan terdapat hambatan menentukan operasi definisi asli yang tepat sehingga operasi harus diganti. Operasi yang baru ditentukan sedemikian rupa hingga memberikan hasil yang sama. Pada prinsipnya dalam mengubah operasi berarti mengubah konsep.[19] Misalnya, sejak Einstein mengeluarkan teori relativitas, ruang dan waktu tidak lagi didefinisikan secara abstrak seperti yang dilakukan Newton. Untuk mendefinisikan istilah seperti itu perlu dilakukan secara operasional, melalui operasi yang benar-benar dilakukan ketika mengukur jarak dan durasi. Nilai yang diberikan dapat didefinisikan secara operasional dengan mengacu pada hasil pengukuran.

Definisi operasional atau analisis operasional merupakan analisis ke dalam kejadian, berbeda dengan definisi yang lebih biasa untuk suatu objek. Definisi operasional tidak bersifat final dan meskipun tidak memberikan penjelasan yang lengkap, tetapi diperlukan sebab pemahaman tentang suatu situasi tidak akan lengkap kecuali dapa dianalisis dalam istilah operasional.[20]

Definisi genus dan differenceSunting

Dari teknik-teknik definisi lain, yang paling berlaku luas serta paling umum digunakan adalah definisi dengan genus dan differentia. Dengan menggunakan genus dan differentia, definisi dapat menjadi lebih mudah dan sederhana.[21] Aristoteles menyatakan bahwa definisi adalah “an account which signifies what it is to be for something”. Untuk membuat definisi, Aristoteles menggunakan genus proximum dan differentia spesifica, yang sesuai dengan konsep superordinat (generik) dan karakteristik pembatas.[22] Secara umum, bukan individu yang memiliki esensi melainkan spesies. Suatu spesies didefinisikan dengan memberikan genus dan perbedaannya, genus adalah jenis kategori spesies tersebut berada dan perbedaan atau differentia menjelaskan apa yang menjadi ciri khas spesies dalam genus tertentu.[23]

Bangsa/macam (nau’, species) ialah kelompok kesatuan yang mempunyai persamaan hakikat. Seperti yang dikelompokan dengan nama; manusia, lembu, kuda dan seterusnya. Satuan pada nama-nama tersebut adalah sama hakikatnya, yaitu hewan. Sedangkan jenis (Genus, Jins) ialah kelompok kesatuan yang berlainan hakikatnya. Seperti yang digolongkan dengan nama-nama “hewan” meliputi manusia, kuda, kera, dan seterusnya. Maka, hubungan genus dan species adalah genus meliputi species. Pemisah atau differentia yaitu sifat yang membedakan satu species dengan species lainnya dalam satu genus yang sama. Seperti kata-kata “berakal” adalah differentia manusia yang membedakannya dari macam-macam satuan hewan lainnya.[24] Definisi umum akan berlaku untuk semua hal tetapi tidak secara khusus untuk spesies apa pun.[25] Genus harus memisahkan definiendum dari hal-hal pada umumnya dan differentia dari hal-hal lain yang dicakup oleh genus.[26]

Ada pendapat yang mengatakan bahwa differentia menyatakan hal esensial dari suatu hal. Pada pemahaman seperti ini, genus harus dipisahkan dari differentia dengan menerapkan titik tolak dasar, yaitu bahwa genus memiliki cakupan lebih luas daripada differentia, dalam menyatakan esensi dari suatu benda, lebih tepat untuk menyatakan genus daripada differentia karena memanggil seorang pria dengan “binatang” akan menunjukan esensi yang lebih baik daripada memanggilnya “pejalan kaki”, serta pdifferentia selalu menunjukkan kualifikasi genus dan bukan sebaliknya.[27]

Definisi  menggunakan jenis dan pembeda terbagi menjadi empat macam: pertama, definisi sempurna (perfect definition), definisi yang menggunakan genus dekat dan differentia dekat. Misal, manusia adalah hewan yang berakal; kedua, definisi tidak sempurna (imperfect definition), definisi yang menggunakan genus jauh dan differentia dekat atau hanya menggunakan differentia. Misal, Manusia adalah benda hidup yang berakal atau manusia adalah yang berakal; Ketiga, deskripsi sempurna, definisi yang menggunakan genus dan aksidental khusus. Contoh, manusia adalah hewan yang tertawa; Terakhir, deskripsi tidak sempurna, definisi yang hanya menggunakan aksiden khusus. Contoh, manusia adalah yang tertawa.[28]

Aturan Membuat DefinisiSunting

Membuat definisi yang baik menggunakan genus dan differentia bukanlah hal yang mudah, perlu pembeda spesifik yang paling tepat untuk kata yang didefinisikan. Agar definisi yang dibuat terhindar dari kekeliruan sehingga menghasilkan definisi yang tepat, maka perlu diperhatikan beberapa aturan-aturan berikut:

  1. Definisi harus menyatakan hal yang esensial dari kata yang didefinisikan. Untuk mendefinisikan suatu kata dengan perbedaannya, beberapa hal mungkin tidak diketahui secara umum meskipun merupakan maksud objektif dari kata tersebut, hal ini akan melanggar peraturan, sebab definisi harus menyatakan maksud konvensional dari kata yang didefinisikan. Maksud konvensional tersebut tidak selalu berupa karakter intrinsik yang terdapat pada maksud kata, tetapi bisa juga merupakan asal-usul dari suatu hal atau hubungan antara kata yang didefinisikan dengan hal lain.[12] Contohnya, Biola Stradivarius tidak didefinisikan secara karakter fisik tetapi lebih didefinisikan kepada asal-usulnya, yaitu biola yang dibuat di ruang kerja Cremona milik Antonio Stradivari. Contoh lain, hal esensial dari "gubernur" bukanlah karakter fisik maupun mentalnya, tetapi relasi khusus yang dimilikinya terhadap masyarakat lain.
  2. Definisi tidak boleh lebih luas atau sempit dari konotasi kata yang didefinisikan. Aturan ini adalah aturan yang mudah tetapi sering kali sulit untuk diterapkan. Contoh definisi yang terlalu luas: Merpati adalah burung yang dapat terbang cepat (Banyak burung yang dapat terbang cepat tetapi bukan merpati). Contoh definisi yang terlalu sempit: Kursi adalah tempat duduk yang dibuat dari kayu dan berkaki empat (Banyak kursi yang tidak dibuat dari kayu dan berkaki empat).
  3. Definisi tidak boleh menggunakan kata yang didefinisikan. Jika kata yang didefinisikan terdapat pada definisi, maka hanya dapat menjelaskan untuk orang-orang yang sudah mengerti kata tersebut. Definisi yang melanggar aturan ini disebut definisi sirkuler, berputar, atau tautologi, contohnya: orang adil adalah orang yang adil dalam mengambil keputusan. Terdapat pengulangan kata yang dibolehkan dalam membuat definisi, seperti: ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari upaya manusia dalam mencapai kemakmuran. Pada definisi tersebut kata 'ilmu' sudah diangap diketahui dan yang menjadi fokus adalah kata 'ekonomi'. Penggunaan sinonim dan antonim juga harus dihindari.[29]
  4. Definisi tidak boleh memakai penjelasan yang membingungkan. Kata yang mengandung arti ganda tidak dapat menjelaskan kata yang didefinisikan, begitu pun dengan kata yang tidak jelas. Definisi yang melanggar aturan ini disebut obscurum per obscurius yang artinya menjelaskan sesuatu dengan keterangan yang lebih tidak jelas. Ketidak jelasan menjadi hal yang lebih biasa, apa yang tidak jelas untuk kalangan umum dimungkinkan menjadi hal yang biasa untuk kalangan ahli. Bahasa yang digunakan tidak sesuai dengan konotasi dan denotasi sesungguhnya atau menggunakan istilah yang terbatas dimengerti dalam kalangan ahli.[30] Contoh definisi yang menggunakan bahasa plastik, kehidupan adalah sepotong keju. Contoh definisi yang hanya dimengerti ahli, evolusi adalah perubahan terus-menerus dari homogenitas yang tidak menentu dan tidak serasi kepada heterogenitas yang menentu dan serasi dalam susunan dan kegiatan melalui diferensiasi dan integrasi sambung-menyambung.
  5. Definisi tidak boleh menggunakan bentuk negatif dengan menggunakan kata tidak atau bukan. Terlalu banyak hal yang tidak dimiliki oleh kata yang didefinisikan daripada yang dimilikinya. Misalnya, miskin adalah keadaan tidak kaya. Terdapat beberapa kata yang pada dasarnya mmerlukan bentuk negatif. Pada kata seperti ini, genus pertama harus disebut secara afirmatif, lalu karakter pembeda digunakan untuk menolak seluruhnya. Misal, anak yatim piatu adalah anak yang tidak memiliki orang tua.

Istilah dengan Banyak DefinisiSunting

Dalam setiap bahasa sering ditemukan adanya hubungan makna atau definisi yang dikenal dengan relasi semantik antara satuan bahasa dengan satuan bahasa lain. Relasi makna adalah hubungan yang terdapat antara satuan bahasa yang satu dengan yang lain.[31] Ambiguitas biasanya muncul ketika sebuah kata atau frasa memiliki beberapa kemungkinan interpretasi yang berbeda.[32]

HomonimSunting

Homonim merupakan kata yang ejaan dan lafalnya sama namun maknanya berbeda karena berasal dari sumber berlainan. Homonim adalah salah satu kata ambigu yang pengertiannya berbeda jauh satu sama lain dan tidak terikat dengan cara apapun. Kasus homonim merupakan kebetulan.[33] Misalnya, saya tahu bahwa tahu sumedang itu enak dan legit. Kata ‘tahu’ pertama bermakna mengetahui atau mengerti, sedangkan kata ‘tahu’ kedua bermakna jenis makanan khas Sumedang.[34]

PolisemiSunting

Polisemi adalah sebuah kata atau satuan ujaran yang memiliki makna lebih dari satu. Polisemi merupakan kondisi ketika sebuah kata memiliki beberapa pengertian yang erat hubungannya.[35] Polisemi berkaitan dengan banyak pengertian dari kata fonologis yang sama sehingga perlu analisis untuk memilih makna mana yang terkait.[36] Misalnya, kata korban dapat bermakna pemberian untuk menyatakan kebaktian, orang yang menderita kecelakaan karena sesuatu perbuatan, dan orang yang meninggal karena tertimpa bencana. Ketiga kata ini memiliki makna yang berdekatan satu sama lain.[37]

ReferensiSunting

  1. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa ab ac ad ae af ag ah ai aj ak al am an ao Widjono (2007); Bahasa Indonesia, Jakarta:PT Grasindo. hal. 117-121. Cet. 2
  2. ^ Departemen Pendidikan Nasional(2008);Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Hal 303. Cet Pertama Edisi IV
  3. ^ Parera, J.D.(2004);Teori Semantik.Jakarta:Penerbit Erlangga.Hal 200- Cet. 2
  4. ^ Widiawati, Nani (Februari 2021). Pengantar Logika: Sebuah penelusuran jejak awal (edisi ke-Cetakan Keempat). Tasikmalaya: Pustaka Ellios. hlm. 112. ISBN 978-602-60842-0-0. 
  5. ^ Mushthofa (2021). Informatika untuk SMA Kelas X. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan. hlm. 245. ISBN 978-602-244-506-7. 
  6. ^ Kusbandrijo, Bambang (Oktober 2016). Dasar - Dasar Logika. Jakarta: Prenada Media. hlm. 64. ISBN 978-602-422-788-3. 
  7. ^ Gensler, Harry J. (2010). Introduction to Logic (edisi ke-2nd). New York: Routledge. hlm. 41. ISBN 978-0-203-85500-3. OCLC 609858999. 
  8. ^ Sidharta, B. Arief (2010). Pengantar Logika: Sebuah Langkah Pertama Pengenalan Medan Telaah (edisi ke-Cet. 3). Bandung: Refika Aditama. hlm. 25. ISBN 979-1073-49-X. OCLC 958848822. 
  9. ^ a b c Rahayu, Minto (2009).Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi.Jakarta:PT Grasindo .Hal 73
  10. ^ a b c d Raga Maran, Rafael(2007).Pengantar Logika.Jakarta:PT Grasindo. Hal 42-48
  11. ^ Cregan, Anne M. (2005). "Towards a Science of Definition". Proceedings of the 2005 Australasian Ontology Workshop. 58: 25–32. 
  12. ^ a b Copi, Irving M.; Cohen, Carl; McMahon, Kenneth (2014). Introduction to Logic. Pearson Education Limited. hlm. 115. ISBN 978-1-292-02482-0. 
  13. ^ Goldstein, Irwin (1996-03). "Ontology, Epistemology, and Private Ostensive Definition". Philosophy and Phenomenological Research. 56 (1): 137. doi:10.2307/2108470. ISSN 0031-8205. 
  14. ^ Thomas, Susan (2005). The Importance of Being Earnest About Definitions (dalam bahasa Inggris). Gesellschaft für Informatik e.V. hlm. 560–577. ISBN 978-3-88579-394-6. ISSN 1617-5468. 
  15. ^ Caws, Peter (1959-07-01). "The Functions of Definition in Science". Philosophy of Science. 26 (3): 201–228. doi:10.1086/287675. ISSN 0031-8248. 
  16. ^ Geeraerts, Dirk (2003). Meaning and Definition (PDF). België. hlm. 5. 
  17. ^ Riemer, Nick (2010). Introducing Semantics (PDF). Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 66. ISBN 978-0-511-67746-5. 
  18. ^ Efendi, A’an; Susanti, Dyah Ochtorina (2020-08-01). Logika & Argumentasi Hukum. Jakarta: Prenada Media. hlm. 56. ISBN 978-623-218-515-9. 
  19. ^ Bridgman, Percy Williams (1927). The Logic of Modern Physics (dalam bahasa Inggris). ASC - York University Libraries. New York: Macmillan. hlm. 23. 
  20. ^ Bridgman, P. W. (1959). "P. W. Bridgman's "The Logic of Modern Physics" after Thirty Years". Daedalus. 88 (3): 518–526. ISSN 0011-5266. 
  21. ^ Fadly, Ahmad (2018-12-17). "PENGEMBANGAN KAMUS PEMELAJAR BAHASA INDONESIA BAGI PENUTUR ASING TINGKAT DASAR DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA". Pena Literasi (dalam bahasa Inggris). 1 (2): 74–80. doi:10.24853/pl.1.2.74-80. ISSN 2614-8226. 
  22. ^ Löckinger, Georg; Kockaert, Hendrik J.; Budin, Gerhard (2015). "Intensional Definitions". Handbook of Terminology. 1 (5): 60–81. doi:10.1075/hot.1. ISBN 978-90-272-6956-0. ISSN 2352-1821. 
  23. ^ Smith, Robin (2020). Zalta, Edward N., ed. Aristotle’s Logic (edisi ke-Fall 2020). Metaphysics Research Lab, Stanford University. 
  24. ^ Machendrawaty, Nanih (2019). Ilmu Mantik Pintu Utama Berpikir Logis (PDF). Bandung: CV. Mimbar Pustaka. hlm. 65. ISBN 978-623-90521-5-7. 
  25. ^ Lloyd, A. C. (1962). "Genus, Species and Ordered Series in Aristotle". Phronesis. 7 (1): 67–90. ISSN 0031-8868. 
  26. ^ Granger, Herbert (1983-08-01). "Aristotle on Genus and Differentia in the Topics and Categories". The Society for Ancient Greek Philosophy Newsletter. 
  27. ^ de Rijk, Lambertus Marie (2002). Aristotle Semantics and Ontology. Brill. hlm. 522. ISBN 90-04-12324-5. OCLC 874941374. 
  28. ^ Fadli, Abdul Hadi (2015-11-19). Logika Praktis: Teknik Bernalar Benar. Jakarta: Sadra Press. hlm. 47–49. ISBN 978-602-9261-53-0. 
  29. ^ Mundiri (Juni 2017). Logika. Depok: Rajawali Pers. hlm. 39. ISBN 978-979-769-938-3. 
  30. ^ Stebbing, L. S. (1942). A Modern Introduction to Logic, Third Edition. London: Methuen & Co. hlm. 425. 
  31. ^ Aruan, Linda (2015). "Relasi Makna (Beziehungsbedeutung) dan Contoh dalam Bahasa Jerman". BAHAS (e-Journal). 26 (1): 97–101. doi:10.24114/bhs.v26i1.5544. ISSN 2442-7594. 
  32. ^ DeLancey, Craig (2017). A Concise Introduction to Logic (PDF). New York: Open SUNY Textbooks. hlm. 14. ISBN 978-1-942341-42-0. OCLC 992976856. 
  33. ^ Dwi Mulyasendi, Ajeng (2020). "Aspek Fungsiolek Leksikal pada Acara ILC (Indonesia Lawyers Club) Bulan Januari 2020 (Kajian Semantik Homonim)". Skripsi. STKIP PGRI Sumenep. 
  34. ^ Pantow, Johanna B. S. (2019). "Teaching Indonesian Ambiguous Words on BIPA". Proceedings of the 2nd Konferensi BIPA Tahunan. EAI Publishing: 215–221. ISBN 9781631902482. 
  35. ^ Hurford, James R.; Heasley, Brendan (2003). Semantics: A Coursebook. Cambridge: Cambridge University Press. hlm. 123. ISBN 0521289491. 
  36. ^ Faiqatul, Azizah (2016-08-16). "Lexical Relation Found in "An Education" Movie Script By Nick Hornby". Skripsi (dalam bahasa Inggris). UIN Sunan Ampel Surabaya: 14. 
  37. ^ Keraf, Gorys (2007). Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. hlm. 36. ISBN 978-979-22-2657-7.