Danghyang Angsoka (disebut juga Ida Angsoka atau Mpu Angsoka) adalah seorang pandita Buddha dari Kerajaan Majapahit. Ia memeluk agama Buddha aliran Mahayana serta menyusun sebuah karangan yang diberi nama Smara Rancana. Karangan tersebut dikirim kepada Danghyang Nirartha yang sudah berada di Bali, yang selanjutnya ganti mengirim sebuah karangan berjudul Sarakusuma kepadanya.[1] Putranya yang bernama Danghyang Astapaka merupakan brahmana Buddha pertama yang datang ke Bali.[2]

SilsilahSunting

Danghyang Angsoka adalah keturunan dari Mpu Tantular. Mpu Tantular berputra Danghyang Siddhimantra, Danghyang Panawasikan, Danghyang Kepakisan, dan Danghyang Smaranatha. Danghyang Smaranatha berputra Danghyang Nirartha dan Danghyang Angsoka.[3] Danghyang Angsoka merupakan ayah dari Danghyang Astapaka.[4]

Undangan raja BaliSunting

Dalem Waturenggong, raja kerajaan Gelgel di Bali, hendak melaksanakan upacara Podgala dan berguru (nabe) kepada Danghyang Angsoka di Jawa. Danghyang Angsoka memberikan mandat kepada adiknya, Danghyang Nirartha, untuk menggantikan dirinya. Saat itu, Danghyang Angsoka menciptakan tembang Smara Racana dan Danghyang Nirartha menciptakan tembang Sarakusuma.[5]

Kidung Pamancangah menceritakan undangan kedua kepada Danghyang Angsoka. Pada tahun 1578, Dalem Waturenggong di Samprangan (Klungkung) melaksanakan upacara homa yajna dalam rangka upacara Eka Dasa Rudra di Besakih. Upacara homa ini dipimpin dua orang pendeta, yaitu pendeta Buddha dan pendeta Śiva. Pendeta Śiva dipercayakan kepada Danghyang Nirartha, sedangkan dari pendeta Buddha diwakili oleh Danghyang Astapaka. Pada mulanya, Dalem Waturenggong meminta Danghyang Angsoka untuk mewakili pendeta Buddha dalam memimpin upacara homa tersebut, bahkan mengirim utusan ke Majapahit. Namun, setelah bertemu dengan Danghyang Angsoka, utusan itu diberi tahu bahwa putranya, Danghyang Astapaka, yang lebih ahli dalam homa yajna, sudah ada di Bali. Karena itu, ia menyarankan supaya putranya itu diminta untuk memimpin homa yajna tersebut. Utusan Dalem Waturenggong kembali ke Bali dan Dalem Waturenggong memutuskan bahwa pemimpin homa yajña dari pihak Buddha diwakili oleh Danghyang Astapaka.[6]

Kultur populerSunting

  • Nama Danghyang Angsoka digunakan sebagai nama Angsoka Hotel, Bina Ria Beach, Jalan Kalibukbuk, Lovina 81113, Pantai Lovina, Bali.[7]

ReferensiSunting

  1. ^ Ktut Soebandi. 1998. "Babad warga Brahmana: Pandita Sakti Wawu Rawuh: asal-usul, peninggalan, dan keturunan Danghyang Nirartha", hal. 48. Penerbit: Pustaka Manik Genih.
  2. ^ Margaret J. Wiener. 1995. "Visible and Invisible Realms: Power, Magic, and Colonial Conquest in Bali". USA: The University of Chicago Press, Chicago. ISBN: 0-226-88582-8. (Inggris)
  3. ^ Putu Setia. Sutasoma.
  4. ^ Bali Post, Berita Kota. 04 September 2011. Pura Tamansari, Pemujaan Dang Hyang Astapaka.
  5. ^ Babad Dalem. Koleksi: I Gusti Gede Sangka. Bahasa: Jawa Kuno. Huruf: Bali. Halaman: 75 lembar. Selesai ditulis pada hari Jumat Paing, Wara Pahang, tanggal (bulan hidup) ke-6, sasih ke-7 ( Januari) rah 9, tenggek 5, Çaka 1859 (1937 Masehi).
  6. ^ I Ketut Widnya. 2008. "Pemujaan Śiva-Buddha Dalam Masyarakat Hindu di Bali", Journal of Religious Culture No. 107. ISSN 1434-5935-.
  7. ^ Angsoka Hotel.