Buka menu utama
Brontotheres
Rentang fosil: 56–34 jtyl
Eosen
Brontotherium hatcheri.jpg
kerangka Brontotherium hatcheri
National Museum of Natural History, Washington, DC
Klasifikasi ilmiah
Kingdom: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Perissodactyla
Famili: Brontotheriidae
Marsh, 1873
Genera
See Text

Brontotheriidae, disebut juga Titanotheriidae, adalah sebuah familia mamalia dari ordo Perissodactyla yang sudah punah, ordo yang juga termasuk kuda, badak, dan tapir. Sekilas penampilan mereka sangat menyerupai badak, tetapi mereka tidak benar - benar badak dan sebenarnya lebih berkerabat dekat dengan kuda. Mereka hidup sekitar 56-34 juta tahun yang lalu, melalui keseluruhan dari Eosen dan sampai ke bagian terawal dari Oligosen.

Ciri-ciri dan evolusiSunting

 
Tengkorak Rhinotitan

Para Brontothere memiliki empat jari pada kaki depan mereka dan tiga jari di kaki belakang mereka. Gigi mereka berfungsi untuk memotong tumbuhan yang relatif lunak.

Sejarah evolusi hewan ini cukup dikenal, karena catatan fosil mereka di North America.[1] Brontothere awal, seperti Eotitanops, ukurannya tergolong kecil, dengan tinggi tidak lebih dari satu meter, dan tanpa tanduk. Kemudian tubuh brontothere berevolusi menjadi ukuran yang lebih besar, walaupun spesies berukuran kecil, misalnya Nanotitanops mengalami hal yang sama pada zaman Eosen. beberapa genera, seperti Dolichorhinus, memiliki bentuk tengkorak memanjang. Kemudian brontotheres berkembang menjadi ukuran raksasa, dengan tinggi mencapai 2.5 meter, dan memiliki senjata yang berbentuk tanduk di kepala mereka. Contohnya brontothere asal Amerika Utara, yakni Megacerops memiliki sepasang tanduk pada hidung mereka yang berukuran berbeda tergantung jenis kelamin mereka. Tanduk yang berbeda menurut kelamin ini memberi kemungkinan bahwa brontothere adalah makhluk sosial dan jantannya mungkin memiliki kebiasaan mengadu kepala dalam kompetisi demi mendapatkan pasangan. Namun, tidak seperti badak, tanduk milik brontothere terbuat dari tulang, tulang frontal dan tulang nasal, dan terletak dari sisi-ke-sisi, bukan depan-ke-belakang.

Brontothere mungkin saja menjadi punah karena tidak dapat beradaptasi dalam kondisi kering bersamaan dengan tumbuhan yang lebih tangguh (misalnya rerumputan) yang menyebar dalam masa Oligosen.[2]

ReferensiSunting

  • McKenna, M. C, and S. K. Bell. 1997. Classification of Mammals Above the Species Level. Columbia University Press, New York, 631 pp.
  • Mihlbachler, M.C. 2004. Phylogenetic Systematics of the Brontotheriidae (Mammalia, Perissodactyla). Ph.D. Dissertation, Columbia University. 757 pp.
  • Mihlbachler, M.C., S.G. Lucas, and R.J, Emry. 2004a. The holotype specimen of Menodus giganteus, and the “insoluble” problem of Chadronian brontothere taxonomy. In S.G. Lucas, K. Zeigler, and P. E. Kondrashov (eds.), Paleogene Mammals. Bulletin of the New Mexico Museum of Natural History 26: 129-136.
  • Mihlbachler, M.C., S.G. Lucas, R.J. Emry, and B. Bayshashov. 2004b. A new brontothere (Brontotheriidae, Perissodactla, Mammalia) from the Eocene of the Ily Basin of Kazakhstan and a phylogeny of Asian "horned" brontotheres. American Museum Novitates 3439: 1-43.

Pranala luarSunting