Buka menu utama
Jangan gunakan templat {{kembangkan}}!
Gunakan {{subst:kembang}}.

Templat {{kembangkan}} hanya boleh digunakan untuk artikel-artikel yang dibuat sebelum tahun 2007.

Bintang,adalah sebuah tabloid yang isinya termasuk tentang film, tokoh, musik, dll, diterbitkan oleh PT Media Bintang Indonesia. Tabloid ini pertama kali terbit pada tahun 1991. Tabloid ini umumnya menyediakan informasi tentang film, musik, tokoh, televisi, dll. Tabloid ini diterbitkan setiap Senin.

Bintang
Tipemingguan
FormatTabloid
PenerbitPT Media Bintang Indonesia
DidirikanMaret 1991
BahasaBahasa Indonesia
Berhenti publikasiApril 2019
Situs webwww.tabloidbintang.com

Sejarah

Akhir tahun 80-an Tabloid Monitor yang dipimpin Arswendo Atmowiloto menjadi fenomena dalam industri media cetak.

Tabloid terbitan grup Kompas-Gramedia yang semula banyak dicibir itu, mencetak angka penjualan fantastis. Kalau digabung dengan Monitor Minggu dan Monitor Anak yang terbit kemudian, oplahnya tembus angka 1 juta eksemplar.

Saat syukuran ulang tahun pertama, Jakob Oetama, pendiri Grup Kompas, menyebut kesuksesan Monitor sebagai instan. Begitu terbit langsung sukses.

Di awal terbit Monitor di akhir 80-an, TVRI punya beberapa acara populer. Salah satunya opera sabun dari Australia, Return to Eden. Dan, Monitor menjadi satu-satunya media cetak yang membahasnya. Hanya dengan menulis sinopsis yang akan tayang minggu itu, Monitor sudah ditunggu banyak pembacanya.

Sayangnya, seperti sejarah kemudian mencatat, Monitor tidak berumur panjang. Survei pembaca yang dilakukan tabloid ini berujung pada demo besar-besaran, dan akhirnya Monitor dibredel pada akhir 1990. Tabloid yang sering dikritik vulgar tapi juga acap dipuji menawarkan jurnalisme gaya baru itu pun harus mengakhiri perjalanannya.

Cerita sukses Monitor, dan pasar besar yang ditinggalkan, ini secara tidak langsung yang menjadi momentum kelahiran Tabloid Bintang Indonesia.

Sebelumnya Bintang sudah terbit dengan manajemen berbeda. Dulu, di zaman Orde Baru, mengurus SIUPP (Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers) bukan perkara gampang. Ketimbang mengurus izin baru yang makan waktu lama, banyak penerbit yang memilih bekerjasama atau mengakuisisi penerbitan yang sudah ada.

Beberapa wartawan baru eks Monitor yang membidani kelahiran Bintang, yang mulai beredar awal Maret 1991. Dengan konsep meniru persis, Bintang mencoba mengambil pasar yang ditinggalkan Monitor.

Apakah dengan jurus itu Bintang serta merta bisa menyamai oplah Monitor? Jawabannya, tidak. Bisa dikatakan, kehadiran Bintang yang berambisi menggantikan Monitor, disambut dingin oleh publik. Angka penjualan jauh dari harapan.

Masalah bisnis yang tak semulus bayangan, pada akhirnya berpengaruh pada suasana kerja redaksi. Konflik antarpersonel mulai terjadi. Tim redaksi yang semuanya masih berusia muda dan belum berpengalaman, tak adanya visi yang dirumuskan dan dipahampi seluruh anggota tim, sering jadi pemicu perdebatan. Bujang Pratikto, pemimpin redaksinya, keluar saat Bintang baru berusia beberapa bulan.

Bintang yang terbit dengan konsep sama persis, setidaknya begitu semangatnya, ternyata tak berhasil mengambil pasar yang ditinggalkan Monitor.

Mungkin saja ketika itu kami hanya tahu luarnya, tidak benar-benar faham filosofi di baliknya. Mungkin juga terjadi pergeseran cepat antara masa sebelum dan setelah Monitor dibredel.

Setelah dua tahun tak mencapai target, tahun 1993 (atau 1994) Arswendo Atmowiloto diminta bergabung menjadi konsultan oleh manajemen Bintang. Sebelumnya, Harry Tjahjono, wartawan senior yang juga pengarang populer, lebih dulu bergabung.

Alih-alih meneruskan jurus lama, memasang foto lher (baca: seksi) dan judul yang bisa diasosiasikan dengan hal-hal berbau mesum, Arswendo menawarkan pendekatan yang sama sekali berbeda. Tampilan cover Bintang pun berubah total. Artis melahirkan, menikah, pacaran, dan hal-hal membahagiakan lain dalam kehidupan artis, itu yang ditampilkan di kover.

Pendekatan baru ini ternyata mujarab. Oplah Bintang bergerak naik. Pada perkembangan selanjutnya, Mas Wendo, begitu kami menyapanya, memperkenalkan istilah baru sebagai gimmick. Yaitu Jurnalisme Kasih Sayang. Dengan tagline ini Bintang sekaligus menegaskan identitasnya sebagai tabloid yang punya semangat berbeda.

Meski tidak dirumuskan dalam satu konsep, Jurnalisme Kasih Sayang kami pahami sebagai sikap ketika menuliskan berita. Selain berpegang pada teori jurnalisme baku dan dipakai semua media, Bintang tidak ingin menghakimi dan cenderung memilih menggunakan kata-kata yang lebih fair pada semua narasumber.

Dua Kali Eksodus, Tetap Survive

Tahun 90-an bisa dibilang sebagai era kejayaan media cetak. Bisnis media cetak berkembang pesat, banyak media bertiras tinggi dengan pemasukan besar dari pengiklan. Tahun-tahun itu banyak pengusaha tertarik terjun ke bisnis media cetak.

Tahun 1999, Mas Wendo dan beberapa kawan memilih keluar dari Bintang untuk mengelola penerbitan di bawah naungan grup lain.

Enam bulan setelah Mas Wendo keluar, kembali terjadi eksodus besar-besaran di Bintang. Erwin Arnada, pemimpin redaksi ketika itu, hengkang dan menerbitkan Tabloid Bintang Milenia.

Ini masa-masa sulit bagi Bintang. Selain karena baru ditinggalkan banyak anggota timnya, saat itu krisis moneter sedang melanda negeri ini.

Bisakah Bintang survive setelah terjadi dua kali eksodus dalam satu tahun? Pertanyaan ini menggelayut di benak manajemen. Meski kualitas produk mengalami penurunan, nyatanya Bintang tetap bisa bertahan. Tim yang tersisa, perlahan mencoba bangkit dan membenahi Bintang.

Tahun 90-an infotainment belum sebanyak sekarang, dan media online belum jadi pilihan banyak pembaca. Bintang yang sejak awal memberi perhatian pada acara-acara TV, beberapa kali mendapatkan manfaat dari kesuksesan satu acara TV.

Oplah Bintang melejit setiap kali ada acara TV yang sukses besar; entah itu telenovela (Wild Rose, Maria Mercedes, Kassandra, Cinta Paulina, dll), serial Mandarin ( The Return of the Condor Heroes, Putri Huan Zhu, Meteor Garden, dll), Korea (Boys Before Flowers, dll), juga acara-cara produk lokal seperti sinetron, dan banyak lagi.

Lalu, datanglah era digital. Lanskap bisnis media cetak berubah drastis dan selamanya. Era dotcom mengguncang kemapanan bisnis media cetak di seluruh dunia. Media online yang bisa diakses dengan gratis, pertumbuhan pengguna internet setelah datang era smartphone, terjadilah migrasi besar-besaran pembaca media cetak ke online.

Bintang, seperti media cetak mana pun dunia, dipaksa menyesuaikan diri dengan perubahan. Meski agak terlambat, tahun 2010 Bintang mulai serius menggarap media online, www.tabloidbintang.com.

tabloidbintang.com adalah “adik” tabloid Bintang Indonesia versi cetak.

Cikal bakalnya sudah ada sejak akhir 1998, kala itu masih menggunakan nama domain bintang.com dan menjadi sub domain dari detik.com.

Bermula ketika detik.com merasa perlu menambahkan konten berita hiburan, kemudian bekerja sama dan mengambil konten dari tabloid Bintang Indonesia.

Ketika detik.com sudah memproduksi konten hiburan sendiri--belakangan menjadi sub domain detikhot--kerjasama dengan Bintang Indonesia berakhir.

Nama domain bintang.com didaftarkan oleh perusahaan yang mengelola detik.com dan menjadi milik mereka.

Ketika Bintang Indonesia membuat website awal tahun 2000, digunakan nama domain bintang-indonesia.com. Dikelola oleh beberapa orang awak redaksi, kontennya juga berbeda dari versi cetak.

Setahun kemudian bintang-indonesia.com terbengkalai, kontennya hanya memindahkan dari Bintang Indonesia versi cetak. Hal ini berlangsung hingga pertengahan 2009.

Pertengahan 2009, bintang-indonesia.com offline.

Beberapa bulan kemudian tepatnya 11 Januari 2010, kembali online dengan nama domain bintang.co.id. Berjalan beberapa bulan kemudian berubah menjadi tabloidbintang.com. Kontennya 90 persen berbeda dengan tabloid Bintang Indonesia versi cetak.

11 Januari ditetapkan sebagai hari lahirnya tabloidbintang.com hingga sekarang.

r tahun 2000-an saat terjadi gelombang web pertama di Indonesia, kami sudah mulai, tapi ketika itu masih ada keraguan soal masa depan media daring. Tapi sekarang, media digital, online, menjadi pilihan yang tersedia untuk survive. Mengikuti saran pakar, terjun ke media online sebagai strategi inovasi, bukan exit strategy. Menutup versi cetak dan hanya terbit versi online, terbukti tak menyelesaikan masalah.

Kami memilih tetap mempertahankan versi cetak dan pada saat bersamaan menggarap serius media online, sambil terus mencari model bisnis yang lebih relevan bagi perusahaan media seperti Media Bintang Indonesia ini.

Sebagai bagian dari strategi untuk tetap eksis, kini grup Bintang bermitra dengan grup penerbit majalah Tempo. Dengan beberapa langkah strategis ini, kami optimis Bintang akan tetap berkilau di era digital.

Sejak April 2019, Tabloid Bintang secara resmi menghentikan penerbitannya selama 28 tahun

SloganSunting

  • Jurnalisme Kasih Sayang
  • Berkilau Bersama Bintang

CoverSunting

  • Aku kan punya pacar, dan Indra Naksir Vonny (Februari 2000)
  • Dari Heboh Soal Heroin, Pram Perceraiannya, Hingga Hubungannya dengan Dewa Budjana (Mei 2000)
  • Sekarang Saya Sudah Siap Mental (Juni 2000)
  • Hubungan Kami Sedang Seindah-indahnya (Juni 2000)
  • Jangan Salahkan Angel kalau Hubungan Kami Renggang (November 2000)
  • Ferry Irawan Digugat Cerai Audrey Saya Nggak Menyangka (Januari 2001)
  • Nia Daniaty-Toha Abidin Kami Ingin Menikah (Maret 2001)
  • Vonny Cornelia Saya lagi dekat seseorang (Mei 2001)
  • Apapun yang terjadi rasa sayang itu gak berubah (Juni 2001)
  • Sembara menemukan Cinta Nada (Juli 2001)
  • Cut Keke Saya tidak menikah diam-diam (September 2001)
  • Cobaan membuat kita belajar sabar & rendah hati (September 2001)
  • Ada ketidakcocokan yang bisa kami jelaskan (Oktober 2001)
  • Ingin segera menikah kapan? Secepatnya! (Desember 2001)
  • Hidup terasa lebih indah setelah dijalani berdua (Desember 2001)
  • Adjie Pangestu-Anisya Tribanowati Rasa rindu & Cinta (Desember 2001)
  • Penjelasan versi Masing-masing (Desember 2001)
  • Kalau tak mungkin bahagia, Saya tak mungkin memaksa (Januari 2002)
  • Dilangkahi Adik bukan masalah besar bagi Saya (Januari 2002)
  • Gosip tentang Ine Dulu sering membuat kami merasa terpojok (Januari 2002)
  • Ada apa dengan Mereka? Ada Teman Biasa! (Februari 2002)
  • Saya Ini Ibunya (Februari 2002)
  • Bintang Idola dari Masa ke masa (Maret 2002)
  • Banjir serial remaja dari produk lokal hingga telenovela (April 2002)
  • Ananda Novi-Attar Syah Saya akan tetap setia (April 2002)
  • Pernikahan tidak diam-diam Roy Suliwa Jordy-Yuni Sulistyawati (April 2002)
  • Meteor Garden cerita lucu, mengharukan dari lokasi syuting (Mei 2002)
  • Endless Love & Booming serial korea (Juli 2002)
  • Wawancara Khusus bintang-bintang penyemarak Meteor Garden (Juli 2002)
  • Siapa Takut Cinta Lokasi? (Agustus 2002)
  • Seramnya Jadi pocong dan memandu Kismis (Agustus 2002)
  • Sering ribut berarti rumah tangga retak (September 2002)
  • Geliat para duda (November 2002)
  • Tak sempat sahur bersama keluarga (November 2002)
  • Lebaran pertama pengantin baru (Desember 2002)
  • Pongky Jikustik-Sophie Menikah Bulan Juni (Januari 2003)
  • Meg ryan-nya Indonesia (Januari 2003)
  • Geliat ABG di TV dan kehidupan sehari-hari (Februari 2003)
  • Cinta-cintaan ala anak SMP (Februari 2003)
  • Teruslah Bernyanyi dan Bergoyang, Inul (Februari 2003)
  • Julia, Rohaye & Juleha Menggeser Popularitas Sinetron Remaja (Maret 2003)
  • Sensasi Adegan Perkosaan teater Extrim (Maret 2003)
  • Melabrak 3 jam sampai gemetaran (Juni 2003)
  • Tolong masa lalu jangan dikait-kaitkan (Juli 2003)
  • Suzanna ratu misteri yang belum tertandingi (Agustus 2003)
  • Cerita Seru Somad & Badrun di Rumah Susun (Agustus 2003)
  • Saya Nyaris tak mengenali diri sendiri (Maret 2004)
  • Rasanya seperti terbang ke langit ke tujuh (Maret 2004)
  • Lho kok ada gosip menikah diam-diam (Maret 2004)
  • Gosip tidak membuat cinta kami terusik (Mei 2004)
  • Kalau demi popularitas, paling bertahan 2 bulan aja (Juli 2004)
  • Perkawinan ini bukan boong-boongan (Agustus 2004)
  • Kualitas atau popularitas yang bakal menang? (Agustus 2004)
  • Pada siapakah Indonesia akan menentukan pilihan? (Agustus 2004)


Pranala luarSunting