Balai Arkeologi Yogyakarta adalah salah satu unit pelaksana teknis (UPT) bidang arkeologi di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dengan wilayah kerja tiga provinsi: D.I. Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Balai yang berkantor di kota Yogyakarta ini bertugas untuk melakukan penelitian arkeologi di wilayah kerja tersebut dengan fungsi[1] terutama adalah pencarian benda-benda arkeologi, pelaksanaan analisis dan interpretasi benda-benda arkeologi, perawatan dan pengawetan benda arkeologi hasil penelitian, dan publikasi serta dokunemtasi hasil penelitian benda-benda arkeologi.

Cakupan benda-benda arkeologi yang ditangani Balai ini sangat luas rentangnya, mulai dari masa pra-manusia sampai era kolonial Belanda. Di wilayah kerja ini terdapat dua Warisan Dunia UNESCO, yaitu Candi Borobudur dan Kawasan Purbakala Sangiran. Penemuan fosil-fosil manusia dan vertebrata lain dari kala Pleistosen juga banyak terdapat di wilayah ini. Peninggalan tradisi megalitik misalnya terdapat di Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Gunungkidul. Barangkali yang paling dikenal orang dari kawasan kerja Balar Yogyakarta adalah ratusan candi dan naskah dari era sejarah Indonesia masa Klasik Hindu-Buddha, peninggalan sejak abad ke-7 sampai abad ke-15. Dari masa Klasik perkembangan Islam di Jawa juga banyak ditemukan peninggalan bangunan dan naskah, sejak masa Kesultanan Demak sampai Kesultanan Mataram dan pecahannya. Peninggalan dari era kolonialisme VOC, Inggris, dan Belanda meninggalkan banyak bangunan, naskah, dan tradisi lainnya. Selain benda-benda, Balai juga menangani aspek non-benda, seperti arsitektur, sistem kepercayaan, tradisi, teknologi, tulisan, dan ikonografi. Aspek kajian yang relatif baru adalah arkeologi bawah air, mengingat Laut Jawa pernah menjadi medan pertempuran dan perniagaan, sehingga banyak pula ditemukan benda-benda arkeologi yang terpendam di dasar laut.

RujukanSunting

  1. ^ Sumber: Brosur Balai Arkeologi Yogyakarta.