Baba Daud Al-Jawiy adalah salah satu murid dari Syekh Aminuddin Abdurrauf bin Ali Al Jawiy Al Fanshuri seorang pengarang kitab Turjumanul Mustafid yaitu sebuah kitab tafsir yang sangat terkenal dan mengakar di daerah Timur Tengah dan Timur Jauh.[1]

Biografi SingkatSunting

Baba Daud Al-Jawiy memiliki nama lengkap Baba Daud Al-Jawiy bin Ismail bin Agha Mustafa bin Agha Ali Ar Rumiy[2]. Ada beberapa perbedaan pandangan mengenai status kelahirannya, apakah ia datang dari Turki atau ia lahir dari seorang ayah yang berasal dari Turki dan ibu yang berasal dari Aceh. Perbedaan pandangan ini timbul karena penulisan namanya yang memiliki sedikit keganjilan karena biasanya penulisan nama tempat asal seseorang diletakkan di bagian ujung namanya seperti Syekh Aminuddin Abdurrauf bin Ali Al Jawiy Al Fanshuri yang menandakan bahwa beliau berasal dari tanah Jawi dan lebih spesifik lagi dari Fansur. Tapi pada nama Baba Daud, tempat asalnya terletak di dua tempat yang pertama adalah di nama utama yaitu Al Jawiy dan di belakang nama keturunannya diletakkan juga sebuah nama tempat yang lainnya yaitu Ar Rumiy. Kemungkinan bahwa Baba Daud lahir dan besar di Jawi dan memiliki garis keturunan dari orang-orang Rum atau Turki.

Selain itu juga dapat diamati bahwa nama ayahnya tidak diawali dengan gelar Agha yang memiliki beberapa variasi makna antara lain ketua, panglima, kepala suku, atau pelayan yang dikebiri. Agha juga merupakan gelar yang digunakan untuk para komandan pasukan elit infanteri Dinasti Utsmaniyyah yang disebut dengan Janissary (al-Inkasyariyyah; bala tentara baru). Sepertinya ayahnya adalah seorang putra dari komandan Janissary yang telah berhijrah dan bermukim di Aceh.

Nama Baba Daud sendiri memiliki unsur keunikan tersendiri. Di dalam Bahasa Persia, Baba dapat diartikan dengan ayah atau dapat juga dimaknakan sebagai kakek. Makna dan artian ini serupa juga di dalam Bahasa Urdu dan Turki. Di sebagian kawasan Islam, Baba adalah sebuah peristilahan untuk menyebut tokoh sufi besar. Di dalam tarekat Al-Baktasyiah (Bektashi Order), Baba atau Bab sendiri adalah peringkat syaikh yang hanya dapat dicapai seorang darwis dalam kurun waktu yang lama. Gelar ini didapatkan setelah ia dapat memahami dan mengerti simbol-simbol (rumuz). Penyebaran tarekat ini berhubungan erat dengan Janissary dan banyak didapati di daerah Turki.

Baba Daud juga dikenal dengan panggilan Teungku Di Leupu. Panggilan ini melekat pada dirinya karena ia juga salah satu pengajar di dayah yang berlokasi di Leupu, sekarang ini berada di dalam kawasan kota Banda Aceh.

Peranannya Di Dalam Penerjemahan Turjumanul MustafidSunting

Kitab Turjumanul Mustafid adalah sebuah kitab tafsir Al Quran yang dituliskan dalam bahasa Jawi (Pasai/Melayu). Kitab ini sangat terkenal di kawasan Asia Tenggara karena ini adalah salah satu tafsir pada masa awal Islam masuk ke Asia Tenggara. Pengarang kitab ini adalah ulama terkenal dan terkemuka di zaman Kerajaan Aceh Darussalam, Syaikh ‘Abdur Ra’uf bin ‘Ali Al-Jawiy Al-Fanshuriy, yang bergelar Al-Watsiq bi Al-Malik Al-Jaliy. Ia wafat pada 1105 H/1693.

Adapun nama Baba Daud tampil pada halaman akhir dari kitab tafsir ini dengan tulisan:

1. وقد كمل تفسير القرآن المجيد المسمى ترجمان المستفيد ترجمة شيخنا

2. وقدوتنا إلى الله تعالى العالم العلامة والولي الفاني في الله أمين الدين

3. عبد الرؤف ابن علي الجاوي الفنصوري رحمه الله تعالى وشكر سعيه [و] نفعنا

4. بعلومه في الدنيا

(Tulisan Arab ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Jawiy. Trankripsinya:)

1. Telah sempurnalah tafsir Qur’an yang amat mulia yang dinamai dengan Turjumanul Mustafid yang dijawikan akan dia oleh oleh Syaikh kita

2. dan ikutan kita kepada Allah Ta’ala yang ‘alim lagi ‘allamah lagi waliyullah yang fani fillah Amin Ad-Din (Aminuddin)

3. ‘Abdur Ra’uf anak ‘Ali Jawiy lagi Fanshuriy dikasihan Allah Ta’ala jua kiranya akan dia dan diterima-Nya usahanya dan diberi Allah manfaat jua kiranya akan kita

4. dengan barakah ilmunya dalam dunia dan dalam akhirat perkenankan olehmu hai Tuhanku


5. ويزيد عليه أصغر تلامذه (كذا) وأحقر خدامه باب داود الجاوي ابن

6. إسماعيل ابن أغا مصطفى ابن أغا علي الرومي غفر الله لهم قصصه

7. المأخوذ أكثره من الخازن وبعض روايته في القراءة بأمره

5. dan menambah atasnya sekecil muridnya dan sehina-hina khadimnya yaitu Baba Dawud Jawiy anak

6. Isma’il anak Agha Mushthafa anak Agha ‘Ali Rumiy diampun Allah jua kiranya sekalian mereka segala qisahnya

7. yang diambil kebanyakan daripada Khazin dan setengah riwayatnya pada khilaf qira’ah dengan suruhnya


8. ولله الحمد والمنة وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وآله و

9. وصحبه أجمعين  

8. dan bagi Allah segala puji dan anugerah dan rahmat Allah dan sejahteranya atas Muhammad penghulu kita dan atas segala keluarganya dan segala shahabatnya

9. sekalian tammat.

Dari keterangan di atas, ada beberapa keterangan yang dapat dipahami yaitu:

Pertama, Syaikh ‘Abdur Ra’uf telah meminta muridnya, Baba Daud, untuk menambahkan kisah-kisah ke dalam Turjumanul Mustafid serta qira’ah-qira’ah yang diriwayatkannya.  Oleh karena itu ungkapan “sekecil muridnya” tidak harus dipahami bahwa Baba Daud merupakan murid termuda di kalangan murid-murid Syaikh ‘Abdur Ra’uf tetapi ungkapan “sekecil muridnya dan sehina-hina khadimnya” dapat dikatakan sebagai pengungkapan sikap rendah hati (tawadhu’) yang selalu menghiasi perilaku seorang ulama. Oleh karena itu, Baba Daud bisa dikatakan sebagai murid sekaligus sahabat bagi gurunya, Syaikh ‘Abdur Ra’uf.

Kedua, Baba Daud menambahkan kisah-kisah itu dari berbagai tafsir, namun yang terbanyak diambilnya adalah kisah-kisah yang terdapat dalam tafsir Al-Khazin.

Ketiga, Syaikh ‘Abdur Ra’uf juga seorang yang ahli dalam qira’ah (ilmu Al- Qira’ah), dan Baba Dawud menambahkan qira’ah-qira’ah yang diriwayatkan gurunya itu.

Keempat, berdasarkan permintaan Syaikh ‘Abdur Ra’uf kepada Baba Daud dapat menjadi suatu pertanda bahwa Baba Daud telah mencapai tingkat keilmuan yang  tinggi di masa hidup gurunya. Hal itulah yang membuat dia layak untuk melakukan tugas besar tersebut. Sang guru pun, boleh jadi, telah mengamati serta mengakui kelebihan muridnya dalam bidang ilmu tafsir sehingga tugas tersebut diserahkan kepadanya. Selain itu tidak tertutup kemungkinan pula, Turjumanul Mustafid yang telah disempurnakan dengan penambahan-penambahan dari Baba Daud telah dibacakan pula di depan gurunya dan direstui olehnya. Jika benar, maka naskah manuskrip (makhthuthah) Turjumanul Mustafid yang berakhir dengan halaman-halaman yang memuat teks di atas dapat dikatakan sebagai naskah Turjumanul Mustafid yang telah disempurnakan di zaman pengarangnya.

Kitab Masailal MuhtadiSunting

Kitab Risala Masailal li Ikhwanil Muhtadi adalah salah satu karya Baba Daud yang masih dicetak hingga kini di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Kitab ini menggunakan Bahasa Melayu Jawi dan metode tanya jawab. Kitab ini mengajarkan pengetahuan dasar agama Islam bagi murid-murid yang tidak bisa berbahasa Arab, selain itu juga memberikan ruang untuk membahas masalah akidah dan ibadah serta masalah-masalah lainnya.[3]

Lokasi MakamSunting

Makam Baba Daud terletak di Jalan Kuta Lampanah, Gampong Mulia, Kuta Alam, kota Banda Aceh. Makam ini telah dipugar oleh Pemerintah Kota Banda Aceh dan diresmikan pada tanggal 25 September 2018.[4][5]

ReferensiSunting

  1. ^ "Baba Dawud Al-Jawiy dan Tafsir Al-Qur'an di Aceh Abad ke-17 M - Dari Samudra Pasai menuju Kebudayaan Islam Asia Tenggara". misykah.com. Diakses tanggal 2019-07-01. 
  2. ^ "Baba Daud al-Rumi: Sosok Ulama Turki di Aceh". Diakses tanggal 2019-07-01. 
  3. ^ Admin. "Melihat Makam Baba Daud Rumi, Pengarang Kitab Masailal yang Masyur". Charming Banda Aceh (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-07-01. 
  4. ^ "Penuhi Janji Masa Kampanye, Aminullah Pugar Makam Baba Daud Ar-Rumi - PORTALSATU.com". portalsatu.com. Diakses tanggal 2019-07-01. 
  5. ^ "Peresmian Bangunan Makam Sejarah dan Peresmian Balee Baca Tgk. Dileupu (Syech Baba Daud Ar-Rumi) di Gampong Mulia – Kesbangpol Kota Banda Aceh". kesbangpol.bandaacehkota.go.id. Diakses tanggal 2019-07-01.