Ampek gonjie limo gonop

Ampek gonjie limo gonop adalah salah satu tradisi dari Desa Muaro Kibul, Kecamatan Tabir Barat, Kabupaten Merangin, Provinsi Jambi. Tradisi ini sudah ada sejak lama, yang diturunkan dari nenek moyang dan sudah diwariskan dari generasi ke generasi selanjutnya. Tradisi ini merupakan suatu kegiatan berbalas pantun antara laki-laki dan perempuan yang diselenggarakan mulai dari malam hingga menjelang pagi.

Pada saat berlangsungnya pantun tersebut harus ada yang menemani, biasanya dari pihak keluarga perempuan agar tidak buruk dipandang mata dan untuk menjaga hal yang tidak baik. Posisi duduk pada saat berbalas pantun yaitu dengan saling berhadapan.

Bagi masyarakat desa, remaja yang berpasangan atau berdua-duaan dianggap tidak baik, apalagi saat mereka belum menikah karena akan menimbulkan fitnah. Maka dihadirkan pihak ketiga, biasanya ibu dari perempuan menemani mereka agar menjadi genap dan yang menemani pun biasanya dapat mengontrol sifat atau pantun yang akan disampaikan. Hal itu agar etika dalam pergaulan dan sikap yang tidak pantas dapat dihindari.[1]

Ampek gonjie limo gonop ini diselenggarakan pada saat masa panen yang biasanya disebut dengan ketalang petang (panen hasil ladang atau sawah). Biasanya dilakukan pada keesokan harinya. Pada malam hari sebelum panen akan diselenggarakan kegiatan Ampek gonjie limo gonop ini karena pada zaman dulu mata pencaharian masyarakat Desa Muaro Kibul mereka bertani dan bercocok tanam di sawah .[1]

ReferensiSunting

  1. ^ a b Dwiari Ratnawati, Lien (2018). Penetapan Warisan BudayaTakbenda Indonesia. Jakarta: Direktorat Jendral Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI.