Zaidiyah

salah satu mazhab fikih Islam Syiah

Zaidiyah, Zaidiyyah atau Zaidisme (Arab: الزيدية az-zaydiyyah, kata sifat dari Zaidi atau Zaydi) adalah salah satu Madzhab Syi'ah, dinamakan menurut Imam Zaid bin 'Alī. Pengikut fiqih Zaidi dinamakan Zaidis (atau kadang dikenal pula dengan Lima Imam di dunia barat). Akan tetapi ada pula satu grup yang dinamai Zaidi Wasītīs yang merupakan pengikut Dua Belas Imam. Penganut mazhab Syi'ah ini banyak terdapat di Yaman. Pada 2014, Zaidiyah merupakan sekitar 0,5% dari populasi Muslim dunia.

Zaidiyah
الزيدية
az-zaydiyyah
Istana Darul Hajar di Sana'a, tempat imam-imam Zaidi tinggal
JenisCabang Islam
PenggolonganSyiah
TeologiMonoteisme
BahasaBahasa Arab Klasik
DaerahMinoritas di:
 Yaman (Sana'a)
PendiriZaid bin Ali
Didirikanca  740 M
Kufah, Kekhalifahan Umayyah
Umatca 8 juta[1]

Imam Zaidi

sunting

Pengikut fiqih Zaidi menerima empat Imam Imamiyah pertama tetapi mereka menerima Zaid bin Ali sebagai Imam kelima daripada saudaranya Muhammad al-Baqir. Setelah Zaid, orang-orang Zaidiyah menerima keturunan Hasan atau Husain lainnya sebagai Imam. Imam Zaidiyah lainnya yang cukup dikenal adalah Yahya bin Zaid, Muhammad al Nafs az-Zakiyah, Ibrahim bin Abdullah dll.

Tokoh Zaidi Kedudukan
Muhammad Nabi terakhir
Ali bin Abu Thalib Imam pertama
Hasan bin Ali Imam kedua
Husain bin Ali Imam ketiga
Ali bin Husain Zaynal Abidin Imam keempat
Zaid bin Ali asy-Syahid Imam kelima

Zaidiyah tidak percaya pada kemaksuman imam mereka dan tidak menganggap mereka memiliki kualitas supranatural apa pun, hanya mempromosikan kepemimpinan imam-imam mereka.[2] Mereka juga menolak gagasan nash imamah yang terdapat dalam Syiah Imamiyah dan Syiah Isma'iliyah. Zaidiyah percaya bahwa Zaid ibn Ali di saat-saat terakhirnya telah dikhianati oleh orang-orang di Kufah.

Dalam hal fikih, Zaidiyah mengikuti ajaran Zaid bin Ali yang didokumentasikan dalam bukunya Majmu' Al-Fiqh (bahasa Arab: مجموع الفِقه). Fikih Zaidiyah memiliki kemiripan dengan mazhab fikih Hanafi dalam Sunni,[3] serta denominasi Ibadi dalam Khawarij. Bahkan Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafi, memberikan dukungan kepada Zaid bin Ali untuk memenuhi tujuannya.[4] Zaidiyah menolak penyamaran agama atau taqiyyah.[5] Zaydiyah tidak terlalu bergantung pada hadits dan lebih sering mengandalkan Al-Qur'an. Meski begitu, Zaidiyah memiliki sikap yang terbuka untuk hadits. Beberapa sumber berpendapat bahwa Zaidiyah hanyalah sebuah filsafat politik yang membenarkan penggulingan penguasa yang zalim dan mengutamakan mereka yang berasal dari Bani Hasyim.[6]

Teologi

sunting

Dalam masalah teologi, Zaidiyah dekat dengan pemikiran Muktazilah, meskipun mereka tidak sepenuhnya persis dengan Muktazilah. Ada beberapa masalah di antara kedua aliran tersebut, terutama doktrin Zaidi tentang Imamah yang ditolak oleh kaum Muktazilah. Dari sekte Syiah, fikih Zaidiyah merupakan fikih yang paling mirip dengan Ibadi, karena Zaidiyah sendiri berbagi doktrin dan pendapat hukum yang sama dengan para ulama tersebut.[7]

Literatur teologis Zaidiyah menekankan keadilan dan tanggung jawab manusia serta implikasi politiknya. Setiap muslim memiliki kewajiban secara etis dan hukum oleh agama untuk bangkit dan menggulingkan setiap pemimpin yang tidak adil termasuk sultan dan khalifah yang tidak benar.[8]

Keyakinan

sunting

Dalam konteks keyakinan Syi'ah terhadap kepemimpinan spiritual atau Imamah, Zaidiyah meyakini bahwa pemimpin umat haruslah berasal dari keturunan Muhammad melalui anak perempuan satu-satunya yang masih hidup Fatimah. Kepemimpinan tersebut pada akhirnya dipegang oleh putra-putra Fatimah seperti Hasan ibn Alī dan Husain ibn Alī serta anak cucu mereka. Syiah ini menyebut diri mereka Zaidiyah untuk membedakan diri mereka dari Syiah lain yang menolak mengangkat senjata bersama Zaid bin Ali untuk memberontak Kekhalifahan Umayyah yang zalim.

Zaidiyah percaya bahwa Zaid ibn Ali adalah penerus yang sah untuk Imamah karena dia memimpin pemberontakan melawan Kekhalifahan Umayyah, yang dia yakini sebagai kepemimpinan yang zalim dan korup. Muhammad al-Baqir tidak terlibat dalam aksi politik dan para pengikut Zaid percaya bahwa Imam sejati haruslah berperang melawan penguasa yang zalim.[9]

Ahli hukum Muslim terkenal Abu Hanifah, yang dengan mendirikan mazhab Hanafi, menyampaikan fatwa atau pernyataan hukum yang mendukung Zaid dalam pemberontakannya melawan pemerintah Bani Umayyah. Dia juga mendesak orang-orang secara rahasia untuk bergabung dalam pemberontakan dan mengirimkan dana ke Zaid.[10]

Berbeda dengan Syiah Dua Belas Imam dan Isma'iliyah, Zaidiyah tidak percaya pada kemaksuman para Imam[11][12] dan tidak percaya bahwa jabatan Imamah harus diwariskan dari ayah ke anak melainkan jabatan itu bisa dipegang oleh siapa saja yang menjadi keturunan Hasan atau Husain bin Ali.

Zaidiyah menolak pemikiran tasybih dan tajsim (antropomorfisme sifat-sifat Allah) dan sebagai gantinya, mereka mengambil pendekatan rasionalis terhadap sifat-sifat Allah, seperti yang diilustrasikan dalam karya-karya seperti "Kitāb al-Mustarsyid" oleh imam Zaidiyah abad ke-9, yaitu Al-Qasim Ar-Rassi.[13]

Status Para Sahabat dan Khalifah

sunting

Terdapat perbedaan pendapat di antara para pendamping serta pendukung Zaid bin Ali mengenai status tiga Khalifah pertama yang menggantikan otoritas politik dan administratif Nabi Muhammad, seperti Abu al-Jarud Ziyad ibn Abi Ziyad, Sulaiman ibn Jarir, Katsir al-Nawa al-Abtar dan Hasan ibn Salih. Kelompok paling awal, disebut Jarudiyah (dinamai dari Abu al-Jarud Ziyad ibn Abi Ziyad), menentang pendapat dari para Sahabat. Mereka berpendapat bahwa ada penjelasan yang cukup yang diberikan oleh Nabi bahwa umat Muslim harus mengakui Ali sebagai khalifah yang sah. Oleh karena itu mereka menganggap para Sahabat telah salah karena gagal mengakui Ali sebagai Khalifah yang sah dan menolak legitimasi Abu Bakar, Umar dan Utsman. Akan tetapi, kelompok Jarudiyyah menghindari untuk mengkafirkan para sahabat.

Jarudiyyah aktif selama akhir Kekhalifahan Umayyah dan awal Kekhalifahan Abbasiyah. Pandangannya, meskipun dominan di kalangan Zaidi saat itu, terutama di Yaman di bawah sub-sekte Hadawi, kemudian mengalami kepunahan di Irak dan Iran karena ada pemaksaan konversi sekte agama saat itu ke keyakinan Syiah Dua Belas Imam oleh dinasti Safawi.[14][15]

Kelompok kedua, Sulaimaniyyah, dinamai dari Sulaiman ibn Jarir yang berpendapat bahwa Imamah harus diputuskan melalui musyawarah. Mereka merasa bahwa para sahabat, termasuk Abu Bakar dan Umar, telah melakukan kesalahan karena tidak menjadikan Ali sebagai Khalifah, tetapi itu tidak termasuk perbuatan dosa.

Kelompok ketiga dikenal sebagai Tabiriyyah, Batriyyah atau Salihiyyah untuk pengikut Katsir an-Nawa al-Abtar dan Hasan ibn Salih. Keyakinan mereka sebenarnya identik dengan keyakinan Sulaimaniyah, kecuali mereka memandang Utsman juga melakukan kesalahan yang sama meski tidak dianggap dosa.[3]

Laporan dari orang-orang di luar Zaidiyah menyatakan istilah Rafidhah adalah istilah yang digunakan oleh Zaid bin Ali pada mereka yang menolak mengikutinya di saat-saat terakhir karena Zaid menolak untuk mengutuk dua khalifah pertama Islam, Abu Bakar dan Umar.[16] Zaid dengan getir menegur para "penolak" (Rafidhah) yang meninggalkannya, dan sebutan tersebut kemudian digunakan oleh orang-orang Salafi untuk menyebut Syiah Imamiyah hingga hari ini.[17]

Lihat pula

sunting

Pranala luar

sunting

Referensi

sunting
  1. ^ "Zaydi Shi'a". Minority Rights Group International (dalam bahasa Inggris). Januari 2018. Diakses tanggal 27-06-2023. 
  2. ^ Robinson, Francis (1984). Atlas of the Islamic World Since 1500 . New York: Facts on File. hlm. 47. ISBN 0871966298. 
  3. ^ a b Article by Sayyid 'Ali ibn 'Ali Al-Zaidi, At-tarikh as-saghir 'an ash-shia al-yamaniyeen (Arabic: التاريخ الصغير عن الشيعة اليمنيين, A short History of the Yemenite Shi‘ites), 2005
  4. ^ The Princeton Encyclopedia of Islamic Political Thought, Page 14, Gerhard Böwering, Patricia Crone, Mahan Mirza - 2012
  5. ^ Regional Surveys of the World: The Middle East and North Africa 2003. London, England: Europa Publications. 2003. hlm. 149. ISBN 978-1-85743-132-2. 
  6. ^ MAYSAA SHUJA AL-DEEN. "Yemen's War-torn Rivalries for Religious Education". Carnegie Endowment for International Peace. Diakses tanggal 7 June 2021. 
  7. ^ McLaughlin, Daniel (February 2008). Yemen: The Bradt Travel Guide - Daniel McLaughlin - Google Books. ISBN 9781841622125. Diakses tanggal 30 November 2013. 
  8. ^ Abdullah, Lux (Summer 2009). "Yemen's last Zaydi Imam: the shabab al-mu'min, the Malazim, and hizb allah in the thought of Husayn Badr al-Din al-Huthi". Contemporary Arab Affairs. 2 (3): 369–434. doi:10.1080/17550910903106084. 
  9. ^ Islamic Dynasties of the Arab East: State and Civilization during the Later Medieval Times by Abdul Ali, M.D. Publications Pvt. Ltd., 1996, p97
  10. ^ al-Razi, Abu Bakr al-Jassas (1994). Ahkam al-Quran. Beirut: Dar Al-Fikr Al-Beirutiyya. hlm. 100. 
  11. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama ReferenceA2
  12. ^ "Zaidiyyah". The Free Dictionary. 
  13. ^ Abrahamov, Binyamin (1996). Anthropomorphism and interpretation of the Qurʼān in the theology of al-Qāsim ibn Ibrāhīm: Kitāb al-Mustarshid. E.J. Brill. ISBN 9789004104082. 
  14. ^ Iran Modern: Akar dan Hasil Revolusi. Nikki R Keddie, Yann Richard, hlm. 13, 20
  15. ^ Immortal: A Military History of Iran and Its Armed Forces. Steven R Ward, hal.43
  16. ^ Menurunnya Kekhalifahan Umayyah oleh Tabari, Carole Hillenbrand, 1989, p37
  17. ^ The Encyclopedia of Religion Vol.16, Mircea Eliade, Charles J. Adams, Macmillan, 1987, p243. "They were called "Rafida by the followers of Zayd...the term became a pejorative nickname among Sunni Muslims, who used it, however to refer to the Imamiyah's repudiation of the first three caliphs preceding Ali..."
  18. ^ 'Memudarnya kekhalifahan Umayyah oleh Tabari, Carole Hillenbrand, 1989, p37, p38
    The Encyclopedia of Religion Vol.16, Mircea Eliade, Charles J. Adams, Macmillan, 1987, p243.